Nopipon

Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Tuesday, 12 June 2018

Background: Sekongkang, Sumbawa Barat, West Nusa Tenggara, Indonesia

Wooops! Before I write so much things, let me tell you, HAVE A LONG GREAT VACATION! PLEASE SEND MY GREETINGS TO YOUR AROUND!!

Agaknya frekuensi liburanku berlipat ganda, belakangan ini. Memang banyak destinasi wisata yang sedang ingin ku datangi, mumpung sedang bertugas di Nusa Tenggara Barat yang kurang lebih setahun. Setidaknya, tanpa ada mall atau bioskop, aku bisa mendapat hiburan alam, which is literally I need it most! Actually, I prefer outdoor than indoor. Alamnya itu loh, bisa ngasih kesan dan inspirasi bermacam-macam. 

As we know, Nusa Tenggara Barat salah satu pusat aset Indonesia yang punya sumber daya Wisata yang nge-hits, dari sekian banyak tempat! (Makanya, aku memilih internship di sini, hahaha..). Nah, kayanya sayang sekali kalau dilewatkan begitu saja.

Setelah beberapa kali pergi ke destinasi, yang infonya ku tahu cuman kulit-kulitnya aja, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan agar perjalanan kalian memuaskan, apalagi yang mau ngisi hari libur panjang ini dengan explore destinasi yang baru pertama kali kalian kunjungi. Let's see!


Kalo merasa insecure banget atau pernah ngalamin sakit yang parah, boleh juga medical check up (tapi menurutku, agak lebay sih, wkwkwk..). Tapi, kalian memang mesti kenalin diri kalian. Jangan maksa, yang ada nanti malah celaka. Kalo misalnya kaya aku, udah tau paling rentan enggak bisa kena panas lama dan kena angin yang kuat, aku selalu bawa minyak kayu putih dan obat sakit kepala. Menurutku, lebih baik mencegah daripada mengobati. Kalau selama perjalanan badan mulai enggak bersahabat, segera konsumsi air hangat atau vitamin atau obat apa saja yang kalian bawa. Enggak asyik liburan kalo sakit.


Hampi kebanyakkan orang ketipu dengan foto yang ada di sosmed. Hahaha.. Ya iyalah, apalagi jaman sekarang banyak banget aplikasi yang bisa ngerubah warna langit, mengubah efek cahaya, mengubah angle dan banyak macam cara agar foto terlihat jauh lebih menarik. Memang enggak sedikit juga pada kenyataannya, keindahan foto sama dengan keindahan alam aslinya. Cuman, saran sih, untuk tempat-tempat yang memang belum terlalu banyak review-nya atau baru dibuka, kudu nyiapin hati yang lapang, mana tahu nanti enggak sesuai ekspektasi kita, apalagi kalo akses menuju ke tempat tujuan lumayan berat. Alam mengajarkan kita, bersabar tidak selalu membuahkan hal manis, tapi kita belajar untuk "Yaudah, terima saja". 


Masalah tanggal untuk pergi dan pulang, mesti diancang-ancang dari awal. Karena untuk liburan yang rada jauh, harga tiket enggak jarang bisa jadi penyebab gagalnya rencana liburan. Lebih baik siapin budget yang lebih untuk beli tiket dan saran sih, langsung beli tiket pulang-pergi, biar lebih aman. Kalo misalnya di situ mau pulang, di situ baru beli tiket, biasanya rawan enggak dapat tiket sih. Nambah biaya penginapan lagi, biaya hidup yang lain lagi. Hemmm... Liburan boleh, tekor jangan.
Eh tapi, percaya enggak percaya, hampir semua yang terencana secara mendadak, itu yang terlaksana dengan baik. Wkwkwk..


Ini kudu dipikirkan banget. Ah, enggak perlu repot nonton ramalan berita di televisi. Jaman udah cukup memudahkan kita. Kalau aku sering ngecek ramalan cuaca di weather.com. Bahkan kita bisa tahu ramalan cuaca dalam sebulan ke depan dengan detail. Kalau mau langsung tau perkiraan cuaca di tempat kita, tinggal ketik keywords "weather" di Google. Jadi menunda pergi liburan secara mendadak hanya karena perubahan cuaca, bukan alasan lagi. You have to enjoy your vacation!


Di jaman Instagram lebih nge-hits daripada album foto, memotret dengan Outfit of The Day (#OOTD) adalah kewajiban. Rasanya sayang sekali kalo enggak update. But, it's back to your own selves, sih. Ada memang orang yang enggak begitu suka update. Tapi kalo niatnya untuk mengabadikan moment, pakailah pakaian yang menunjang penampilanmu di foto. Payung? Topi? Selendang? Tas? atau bahkan sendal jepit sekali pun bisa jadi penunjang penampilanmu. Ya, cukup pinter-pinter memadupadankan warna dan materialnya, kalian bisa mengkolaborasikannya secara ciamik! Jadi enggak perlu ngeberat-beratin tas dengan banyak aksesoris dan material yang berlebihan. Maap, aku bilang begini karena aku termasuk tim yang enggak mau ribet kalo jalan-jalan.


Aku termasuk di barisan yang rada khawatir kalo batrai handphone atau kamera mulai habis. Rasa useless sekali aku pergi tapi aku enggak bisa mengabadikan tempat yang ku kunjungi. Apalagi, kalau kita lagi beruntung, kita bisa saja menemukan tempat yang menggemaskan lainnya. Jadi aku bener-bener nyiapin powerbank dan mengisi full batrai handphone. Karena beberapa tempat wisata rada susah menemukan tempat yang nyediain tempat nge-charge. So, prepare for the worst ya guys!


Apalagi untuk tempat liburan yang belum banyak didatangi atau dari review-nya rada rawan, harus cari teman yang memang sejiwa sama kalian. Sejauh tempat wisata yang pernah aku datangi, rata-rata adalah tempat yang perdana aku kunjungi. Maka, dari akses, suasana, dan lingkungannya cuman aku ketahui dari travel blogger yang udah pernah ke sana. Hemm.. kadang, enggak semua tempat yang tampaknya menarik itu, sesuai ekspektasi. Kita harus nyari teman berlibur yang bias nerima ketidakpuasan dan enggak ngeluh dengan kondisi yang ada.

Sebenarnya akan banyak perintilan yang mungkin sepele yang kita enggak kita sadari kita butuh, cuman akan kita tahu ketika sedang berlibur. Enggak ada liburan yang sempurna, pasti ada aja salah. But, travelling with teach you everything. Travelling will show, who you are actually. Kamu orangnya cuek? Kamu orangnya sabaran? Kamu orangnya rempong dan riweh? Kamu orangnya peduli sama sekitar?

Banyak-banyaklah liburan. Agaknya, kamu mesti sediakan budget khusus untuk liburan. Karena, sadar atau enggak, liburan adalah salah satu investasi ilmu dan pengalaman yang muantep! Let’s get lost!

Sunday, 22 April 2018



Key menepikan motornya. Hujannya cukup lebat, tidak ada alasan untuk menerjang jalanan sore itu, walaupun jika dia bawa mantel hujan. Satu-satunya tempat untuk berteduh, hanya ada sebuah kedai kopi tanpa nama. Key bukanlah penikmat kopi. Berulang kali dia gagal menikmatinya. Dia berharap sama seperti yang orang-orang lain rasain. Cuman, daripada dia duduk termangu di depan kedai itu, sementara orang lain berada di dalamnya. Key pun berencana masuk.

"Mbak, neduh di dalam saja. Di dalam juga ada minuman lain kok selain kopi", tukang parkir datang sambil bawa payung,"Biasanya, orang yang lama di depan kedai ini, karena ga begitu suka kopi. Nanti biar saya yang susun motor mbak", tambahnya lagi, ramah.

"Oooh iya pak, makasih", Key melangkah dan membuka pintu kedai itu. Lonceng selamat datang pun berbunyi. Tampaklah kedai kopi itu cukup ramai, apalagi sedang hujan. Godaan kopi hampir sama dengan godaan hangatnya mie rebus dengan telur setengah matang.

Key melihat daftar menu yang ditulis dengan kapur, terpampang di atas kasir. Huruf-hurufnya unik dan klasik. Kedai ini menyuguhkan banyak jenis kopi yang pasti tidak begitu familiar di lidah Key. Di list terakhir menu, Key mendapati teh sereh madu favoritnya. Masih terbilang jarang tempat nongkrong yang menawarkan teh sereh madu. Tanpa berpikir panjang, Key memesannya. Key mencari tempat duduk yang belum ada orangnya. Agak di sudut dan sedikit lebih gelap daripada meja yang lain.

"Sendirian aja?", Cokro, resident Bedah yang sudah akan sumpah dokter minggu depan. Cokro kebetulan praktek di satu rumah sakit yang sama dengan Key.

"Eh? Ya ampun ngagetin aja kamu bang", Key berbalik badan setelah mengambil laptopnya untuk menyelesaikan beberapa bagian thesisnya yang sudah direvisi.

"Iya maaf. Sendirian aja?", Cokro mengulang pertanyaan yang sama. Cokro langsung duduk saja tanpa minta permisi pada Key. Karena memang tidak ada lagi meja yang kosong. Mumpung Cokro agak kenal dengan Key, dia pun menarik kursi. Dia duduk pas di depan Key.

"Iya, kebetulan tadi aku kehujanan, soalnya ga bawa mobil", Key menghubungkan kabel laptopnya ke colokkan yang berada dibawah kursinya.

Suasana yang dingin dikelilingi oleh canda tawa orang-orang di kedai itu. Entah mereka memang sengaja janjian nongkrong atau tak sengaja bertemu seperti Key dan Cokro. Alunan musik indie dari penyanyi dalam dan luar negeri mengalir seraya segala pesanan mulai hilang kehangatannya. 

Seorang pelayan datang dan mengantarkan pesanan Key. Langsung Key cicip teh sereh madunya. Alis matanya naik, menandakan tubuhnya tidak begitu dingin lagi seperti sebelum masuk kedai ini. Diaduknya teh itu dengan batang serai, memastikan kembali madunya benar-benar menyatu sambil menunggu laptopnya restart.

"Lucu kamu", Cokro juga membuka laptopnya, bukan mau mengerjakan tugas, tapi mau numpang wi-fi untuk downlod film-film terbaru. Dia sudah lama vakum nonton film-film baru karena sibuk mempersiapkan ujian kompetensi.

"Apa yang lucu dengan aku?", Key memperhatikan penampilannya, kali saja ada kancing baju yang tidak tertutup atau rambutnya yang lepek karena hujan.

"Masa ke kedai kopi, mesannya teh gituan?", Cokro mulai nge-search website download film.

"Teh sereh madu?"

"Iya, itu maksudku."

"Orang kan beda-beda sih favoritnya apa".

"Kenapa? Pernah punya pengalaman buruk dengan kopi?"

"Enggak sih kayanya. Emang mesti ada pengalaman buruk dulu baru menjauh?"

"Biasanya gitu. Orang biasanya menjauh dari cinta karena pengalaman buruk."

"Cinta sama dengan kopi? Gitu maksudnya?"

"Iya..

Sebelum melanjutkan percakapan mereka, Key kembali menyeruput dua sampai tiga tegukkan teh sereh madunya. Sementara Cokro, belum berniat memesan. Selain mendownload film, Cokro sedang mencari website komik online.

"Emang contoh pengalaman buruk yang pernah abang rasakan?"

"Banyak wanita ga ngerti arti kata menunggu. Padahal yang pria lakukan juga buat dia".

"Wait, further explain, please.. Biar aku sebagai cewek ga salah menanggapinya"

"Gue ditinggal ditinggal, sebulan sebelum cincin lamaran yang gue pesan kelar",

"Kapan kejadiannya?"

"Tadi sore, sebelum hujan sederas ini."

"Hahahaha, mungkin ini karena abang, eh sorry.."

"Iya, gapapa. Biar langit saja yang mewakili. Dia ga ngerti arti berjuang sepertinya. Hidupnya terlalu dangkal, jadi ga pernah ngerasain bertahan dengan posisi mengambang dan dalam kondisi panik, itu bagaimana. Susah jadi pria", Cokro mau nangis, tapi malu karena ada Key.

"Dia pasti punya alasan atau abang ga ngasih kepastian", Key mencoba menebak alasan mengapa hubungan Cokro harus kandas begitu saja.

"Entah kepastian seperti apa yang diharapkan wanita. Apa karena orangtua mengharapkan dia segera menikah, lalu iya iya saja dengan pria lain pilihan orangtuanya, dia membumi hanguskan semua usaha?"

"Gue ga bisa mengomentari apa-apa. Rumit memang. Tapi pesan gue cuman satu bang, sesuatu yang sudah diambil, percaya saja akan digantikan dengan hal yang jauh lebih baik", "Btw, kok kita nyambung pula. Tadi awalnya ngomongin apa sih?"

"Itulah kopi. Banyak hal yang kita dapat dari kepahitannya", Cokro mulai berniat memesan minum.

Monday, 16 April 2018


"Peng, kau internship atau ga sih? Itu daftar liburan mu ngalah-ngalahin jadwal jaga", beberapa teman nge-dm aku, tidak lama setelah aku update instastory tempat-tempat wisata di sekitar Nusa Tenggara Barat. Wait, sebelum aku cerita banyak, aku mau kasih tau kalo aku memang dipanggil Nopeng (panggilan sejak di kuliah) atau Nopiporn (Plesetan dari username instagramku). Gitu.


Sesampainya aku di sini, kehidupan sedikit berubah. Bertemu dengan banyak karakter-karakter baru yang mau ga mau harus ku kenali kalau tidak manalah bisa aku beradaptasi. Menyesuaikan dengan tata krama, kebiasaan dan bahasa daerah Sumbawa. Bahkan, cuaca di sini yang belakangan sudah lama tidak ada hujan. Hampir ku kira, Sumbawa adalah bagian dari Timur Tengah yang nyasar tercipta di Indonesia.


Aku bersyukur ditakdirkan sementara di sini, ya walau dengan konsekwensi agak lebih jauh dari orangtua. Tapi, jauh-jauh hari memang sudah pasti dipikirkan matang segala dampak yang ada. Dari mulai kalo sakit, siapa yang ngurus? Kalo ada apa-apa, minta tolong sama siapa karena di sini memang ga punya kenalan? Mungkin tidak pulang selama setahun karena budget tiket yang lumayan dalam ngerogoh kocek. Tapi, satu kalimat film Ngenest ku bawa ke sini,''Tidak semua yang kita inginkan akan terwujud dan tidak semua yang kita takutkan terjadi". Yes, sometimes we need go with the flow.


"Gimana kemarin minta izin sama orang tua?".

"Aku dulu sebenarnya ga dibolehin jauh-jauh".

Itulah kira-kira pembuka cerita ketika ngobrol dengan teman-teman yang memang bukan asli Lombok atau Sumbawa. Wkwkwk. Mungkin nanti, ketika punya anak pun aku, melepasnya agak jauh, buat aku sedikit bimbang. Tapi, memang berkompromi adalah jalan yang paling baik ketika melawan kekhawatiran orangtua. 

Tentang internship di sini. Sampai aku bercerita di blogpost ini, aku sudah dua setengah bulan di sini. Dengan segala kemudahan yang tiba-tiba datang, seakan Tuhan tidak begitu membuatku pusing untuk hidup di sini. Yang sempat ku khawatirkan, nyatanya tidak terjadi seperti yang kubayangkan. Ini mungkin bukti "Tuhan mencukupkanmu. Tuhan memberi yang kau butuhkan". Tidak risau-risau amat, kok.



Lingkungan internship yang baik dan welcome sekali. Aku suka dengan lingkungan kerjaku. Punya hubungan partner kerja yang saling ngingetin dan berbagi pengalaman. Waliau kadang kesal dengan kedisiplinan  yang ada, toh lambat laun aku sadari, malah itu buatku jauh lebih baik. Lah, bukannya besi lebih berguna dan berharga setelah dibentuk? Ah, aku bersyukur berada di sini. Aku sesungguhnya benar-benar membutuhkan pengalaman yang begini. Hidupku sudah lama bertapa di zona nyaman. Hehehe.. 

Tapi, memang bawaan badanku sejak koas tidak berubah. Pasien banyak dan pasti ada saja pasien yang sangat gawat. Wkwkwk. Apa ini tanda aku cocok kerja di IGD? Kata kawanku, aku kaya patung kucing yang ada di tokok cina, manggil-manggil pelanggan. Hahaha. Mbuh, sakarep Gusti wae. pokok'e semoga Dia semakin menunjukkan dulu dimana aku bekerja dengan baik, kan gitu. Sejauh ini emang karakterku agak malas bekerja dikeadaan sangat genting, walau sering dilatih Gusti untuk menghadapi hal yang mendadak. Hahaha..



By the way, kurang dari sepuluh bulan lagi aku tinggal di sini, tapi sudah cukup banyak cerita yang ku bawa pulang nanti. Senang, lucu, sedih, kesal, deg-degan, bangga. Sumbawa, adalah keluarga baru yang entah bagaimana alasan aku bertemu mereka lagi nanti setelah aku kembali ke tempat asalku. Dua setengah bulan yang ajaib, yang kukira aku bakal kalah karena inilah pertama kali merantau beda pulau, beda zona waktu dari keluarga, atau bahkan banyak yang meragukan aku untuk pergi sejauh ini. 



Mungkin, ini awal aku merantau lebih jauh nantinya. Atau mulai berpikir, dekat keluarga adalah rindu yang tidak bisa ku obati dengan apapun walaupun kecanggihan teknologi merasa membuatku  tetap dekat dengan mereka. Pada akhirnya, semua keinginan, kriteria dan keegoisan akan kalah ketika kenyamanan hati menjadi tiang paling kuat. 

Tuesday, 3 April 2018


Salah satu destinasi terbaik di kawasan Nusa Tenggara Barat dan lumayan tersohor sampai ke luar negeri adalah Pulau Moyo. Awalnya, mungkin kita lebih familiar dengan Pulau Lombok dengan banyaknya pantai eksotis dan pulau-pulau ciamik di sekitarnya. Nyatanya, dari kawasan Pulau Sumbawa masih tersimpan Pulau Moyo yang diam-diam bisa buat kita terpesona. Hemm... Ya setelah beberapa drama sebelum berangkat untuk liburan singkat ini, akhirnya aku dan beberapa teman berhasil untuk memijakkan kaki di Pulau Moyo.


Berawal dari promosi Open Trip Pulau Moyo untuk 50 orang dari seorang teman, kami ga nyia-nyiain kesempatan itu. Harganya cukup terjangkau dibanding dengan Trip Agency lainnya, yaitu Rp 170.000/orang dengan fasilitas kapal PP, guide, sarapan dan makan siang, biaya masuk desanya, ojek jaga-jaga ketika nge-tracking. Spot tujuannya yaitu: Air Terjun Mata Jitu, Kolam Lady Diana, Kolam Biru, Takat Segele (Tempat Snorkeling).


Kami disarankan sampai di pelabuhan Jempol sekitar jam 7.30 WITA karena kami diberikan sarapan terlebih dahulu. Unfortunately, seharusnya berangkat jam 08.00 WITA, tapi ngaret jadi jam 09.00 WITA. Hal itu dikarenakan air lautnya masih agak surut sehingga kapal susah merapat ke dermaga. Then, start dari Pantai Jempol naik kapal.



Dari Pulau Sumbawa ke Pulau Moyo memakan waktu sekitar 1,5-2 jam. Selama perjalanan, kita ga akan bosan, karena bakalan disuguhin pesona alam yang cantik. Dari sisi kiri, kita dimanjakan dengan pemandangan laut lepas yang tidak nampak satu pulau pun jadi batas dan makin ke tengah airnya semakin biru. Dari sisi kanan, penampakkan sepanjang pesisir Pulau Sumbawa dan padang rumut hijau dengan beberapa pohonnya atau ladang jagung yang menguning. Selama perjalanan, cuaca cukup terik dan ombak juga ga terlalu tinggi. Oh ya, kira-kira setelah sejam perjalanan, kita juga bakal nampak menara Tanjung Menangis. Di saat bersamaan, ada ikan-ikan yang lompat.



Sampai di Pulau Moyo, dasar laut semakin terlihat jelas. Airnya berwarna biru terang karena tidak begitu dalam. Duh, ku kira warna biru itu cuman efek kamera saja, rupanya memang sejernih itu, genks! Nah, begitu merapat, kita disediakan rumah singgah kalau mau ganti baju atau buang air sebelum tracking ke spot-spot tujuan. Di awal mau pergi, yang ga mau ikutan tracking, juga disediakan ojek, tapi di luar biaya trip, kalo ga salah sih Rp 100.000/ orang. Nah, itu berlaku cuman untuk 2 jam setelah kita sampai di spot tujuannya. Kalo menurutku sih, sayang banget, kita ga puas nanti. Lebih baik kita jalan kaki aja dulu, nanti kalo capek, baru naik ojek deh, toh kan ada ojek jaga-jaga.


Untuk sinyal internet, di Pulau Moyo masih dapat sinyal 3G atau H+ Telkomsel. Tapi pas masuk spot-spotnya, sinyal internet lenyap. Wkwkwk.. Ya tapi ada hikmahnya kok, kita ga melulu update sehingga kita bisa bener-bener nikmatin suasana alam. Update-nya entaran aja deh, hehehe...



Jarak dari rumah singgah ke air terjun Mata Jitu sekitar 7 km, bisa ditempuh jalan kaki dengan memakan waktu sekitar 1 jam lebih atau menggunakan ojek sekitar 20 menit. Jalannya memang ada jalan semen, cuman lebih banyak jalan yang jelek dan naik turun. Aku awalnya memilih jalan kaki, cuman 3/4 perjalanan aku memilih naik ojek. Hahaha.. Ga kuat, shaay.. Nampak banget udah jarang olahraga. Sepanjang perjalanan kita bakalan disuguhin dengan pemandangan hutan dan perkebunan warga. Oh ya, di sini banyak kebun jambu mete, lho... Nah kalo mau pulang nanti, bisa naik ojek dengan harga Rp 30.000/orang langsung dari titik pertemuan.






Dari titik peretemuan semua peserta ke Air Terjun Mata Jitu dan Kolam Biru, kita mesti jalan lagi sekitar 150m. Ga bisa dilalui ojek karena jalannya menurun dan setapak. Tenang, ga secapek jalan kaki sebelumnya kok. Wkwkwk.. Sepanjang perjalanan perlahan-lahan kita bakalan dengar suara air terjun yang cukup deras dan mulai tampak aliran airnya. 





Sesampainya di sana kita bakalan nampak Air Terjun Mata Jitu dari atas. Wohoo! Lalu kita turun ke bawah dan tadaaaaa.. Nampak deh air terjunnya. Ketika sampai di Air Terjun Mata Jitu, capek kita hilang, apalagi kalau sudah berenang di Kolam Biru Alirannya berwarna biru kehijauan karena airnya memang cukup jernih dengan dasarnya masih banyak lumut dan tumbuh-tumbuhan air. Oh ya, hati-hati juga, kata temanku yang pernah ke sini, kadang ada ular muncul. Tapi, Puji Tuhan selama perjalanan, aku ga ada nemuin ular sih, hehehe..











Setelah kira-kira satu jam di Air Terjun Mata Jitu, kami beranjak ke Kolam Lady Diana. Kira-kira 15-20 menit, kita sudah sampai Kolam Lady Diana. Menurut info dari guide, alasan disebut Kolam Lady Diana, karena dulu di tahun 90-an Lady Diana pernah ke sini. Dan karena itu juga banyak turis yang lebih memilih ke Kolam Lady Diana dibanding Air Terjun Mata Jitu. Entah kenapa, Air Terjun Mata Jitu lebih menarik buatku.



Di samping kolam Lady Diana, ada kuburan orang Swiss yang katanya sangat jatuh cinta dengan alam Pulau Moyo, jadi dia ingin dikebumikan di Pulau Moyo. Setiap tahun, keturunan beliau datang ke Pulau Moyo untuk nyekar gitu. Waaah... Segitunya kalau sedang jatuh cinta ya.




Karena waktu sudah mulai petang, kami tidak begitu lama di Kolam Lady Diana. Hanya berenang sebentar dan makan siang. Kemudian kami kembali ke rumah singgah dan aku memilih langsung naik ojek, hahaha...



Kami bergegas naik kapal kembali dan sejenak menyempatkan waktu untuk berhenti di Takat Sagele. Katanya di Takat Sagale adalah tempat budidaya terumbu karang ke dua setelah Bunaken.  Sebenarnya cuaca kurang baik untuk snorkeling, cuman karena ditawarin, aku mencobanya. Ga sampai setengah jam, kami naik lagi ke kapal karena angin dan ombak lumayan besar. Hahaha... Karena buru-buru naik, aku juga mendapat luka memar di badan. wkwkwk.. Akhirnya kami pun langsung pulang menuju Pelabuhan Pantai Jempol sambil menikmati sunset. Pokoknya, kami basah dan kering di perjalanan.



Oh ya, sebelumnya kemarin sempat cerita dengan tukang ojeknya katanya sih di Pulau Moyo cuman punya Puskesmas, itu pun belum dimanfaatkan, belum punya dokter, perawat maupun bidan. Jadi kalau ada pasien, langsung dirujuk ke Pulau Sumbawa, Hemm.. Di Pulau Moyo pun listrik hidup hanya setengah hari dari jam 18.00-06.00. Waduh!

Saran: 
1. Jangan sampai ga sarapan, karena bakalan tracking. Oh ya, walaupun tetep ada air minum dari panitia, aku tetep nyaranin kita persiapan air minum pribadi.
2. Kalo bisa sempatkan tidur di kapal ya.
3. Bawa selendang karena rada panas. Dan ga usah bawa baju ganti, toh juga pas mau pulang, mau snorkling. Kan basah lagi. Jadi basah dan kering di jalan, hehehe..