nopipon

Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Friday, 7 September 2018



Sebuah cerita dari saya, salah seorang nasabah Bank Mandiritentang transaksi online yang ga melulu untuk berbelanja yang kita inginkan, melainkan kebutuhan untuk kebaikkan.

---

Rentetan gempa di daerah Lombok dan sekitarnya sudah mulai usai. Gempa susulan perlahan mereda, masyarakat Lombok kembali bangkit dengan bantuan dan semangat dari Sabang sampai Merauke. Bukan kah memang seharusnya begitu semestinya? Bersatu untuk saling membantu.

Namun setiap musibah akan tetap meninggalkan efek trauma, tak terkecuali bagi mereka yang tumbuh di daratan yang terkenal dengan pesona wisatanya. Salah satu dari mereka adalah saya. Saya bukanlah warga tetap di kawasan Lombok, tepatnya di Pulau Sumbawa. Saya hanyalah pendatang untuk bekerja di sini selama 1 tahun ke depan, sejak dari Februari kemarin. Saya mendapatkan banyak pengalaman terutama di bidang medis. Apalagi saat gempa bumi melanda. Ya, memang nyatanya setiap kejadian pasti memberi pengalaman-pengalaman baru.

Baiklah, menoleh lagi ke belakang, saat gempa bumi 7 SR yang menggoncang Lombok Timur. Untuk pertama kali saya berlari ke luar rumah hampir terkena reruntuhan bangunan. Saya panik dan takut. Begitu rupanya rasanya berdiri di atas tanah namun rasanya seperti di atas kapal speedboat. Terhuyung ke sana ke mari. Melihat mobil bergerak tanpa pengemudi, menjadi terasa aneh. Ya, kali ini mungkin saya dilatih untuk berserah.

Sesudah mengingat Yang Maha Esa, hal ke dua yang saya ingat adalah orangtua. Saya tidak ingin mereka khawatir pada anak gadis semata wayangnya ini. By the way, ketika saya memilih merantau agak jauh, orangtua merasa berat untuk memberi izin. Banyak keraguan yang melingkupi mereka. Kekhawatiran akan hal-hal yang tidak baik. Tetapi tekad saya untuk jadi mandiri, terlalu kuat. Saya punya pemikiran, semakin saya berada di zona aman, semakinlah masa depan saya tidak aman. Saya akan jadi manja sejadi-jadinya. Saya takut untuk terlalu lama berpangku tangan. Takut susah move on.

Memang kepanikkan membuat kita berpikir secara short cut, tanpa memikirkan cara yang paling efisien. Ya, saya lupa terlebih dahulu membeli paket saat saya akan menelpon orangtua. Yes, well done, pulsa saya hampir habis. Percakapan antara ibu dan anak yang agak lama untuk memastikan anaknya baik-baik saja, membuat saya mendadak boros pulsa. Mau bergegas untuk membeli pulsa di counter, sepertinya bukan pilihan yang tepat, mengingat baru gempa dan hari sudah larut juga. Saya membiarkan ponsel hanya bermodalkan paket internetan. Tetapi, karena post gempa, jaringan internet masih hilang timbul. Jadi tidak begitu berguna saat itu. Dan tidak terlalu jadi masalah.

Saya dan beberapa teman berdiam sejenak untuk beberapa waktu di luar kost dengan menggelarkan tikar. Bertahan hingga gempa susulan mulai reda. Begitu rupanya rasanya berada di luar karena alasan gempa. Khawatir dan dingin. Sembari kami bersenda gurau, mengilangkan rasa takut, salah satu pihak dari rumah sakit menelfon kami. Isi telfon itu, bisa dikatakan, negeri ini memanggil kami.

Salah satu kecamatan di daerah Sumbawa Besar, yaitu Kecamatan Alas, mengalami kerusakan yang paling parah. Banyak bangunan roboh dan beberapa orang jadi korban gempa. Sebelumnya, untuk informasi, Kecamatan Alas berjarak tidak begitu jauh dari tempat kami, hanya 1-1,5 jam. Mengingat belum adanya rumah sakit di sana, tenaga medis juga belum mencukupi, kami diutus ke sana. Sekitar hampir jam dua pagi, dengan membawa beberapa peralatan, kami pun berkumpul di rumah sakit.

Saya masih ingat, pulsa ponsel belum terisi. Saya bingung mau beli dimana. Di sekitar rumah sakit juga tidak ada tempat isi pulsa. Untung, wi-fi rumah sakit masih bisa menyala. Saya menghubungi salah satu teman dekat saya yang berada di Medan. Saya meminta tolong dia untuk mengirimkan pulsa. saya menyarankan menggunakan Bank Mandiri online. Dengan sigap, dia mengisikan pulsa saya lewat Bank Mandiri. Sungguh, malam itu Bank Mandiri salah satu penolong saya.


Selain praktis, di saat-saat seperti ini, adalah sebuah kebutuhan primer memakai produk  Bank Mandiri untuk bayar belanja online. Stigma bahwa dengan bayar belanja online memupuk kita menjadi berwatak boros, tidaklah benar. Nyatanya tidak semua keadaan bisa dilakukan dengan cash. Boros atau tidak, semua tergantung bagaimana kita berperilaku bijak dalam mengatur keuangan. Keinginan dan kebutuhan itu, kita yang memutuskan. Kemudahan transaksi menggunakan Mandiri Online untuk mencapai kebutuhan adalah salah satu penyokong kelancaran sebuah tujuan baik. Ya, seperti yang saya alami ini.

Memang pada akhirnya, malam itu kami tidak jadi berangkat, karena beberapa pertimbangan. Tapi, rasanya itu bukalah keputusan yang salah, karena para korban gempa dibawa ke rumah sakit kami. Beberapa teman yang laki-laki tetap di rumah sakit, membantu untuk memberi penanganan pertama pada korban gempa.

Selang beberapa hari, kami diberangkatkan untuk jadi tim relawan menuju Kecamatan Alas. Perlu menghubungi beberapa pihak untuk mengkoordinasi kegiatan di sana, agar tidak tertumpuk di satu posko saja. Untung, sisa pulsa saya masih cukup.


Saat itu memang banyak korban gempa yang tinggal di tenda, mulai terjangkit penyakit dan tidak sedikit juga yang membutuhkan pengobatan rutin untuk penyakit yang mereka derita. Anak-anak juga kekurangan hiburan. Saya mengitari beberapa desa yang rata-rata rumah penduduknya mengalami kerusakan, dari yang retak-retak saja, pondasinya miring sampai yang rata dengan tanah. Kalau saya rasa, lebih aman sekalian roboh dan dibangun  bangunan baru. Mereka lebih memilih untuk berdiam dengan memasang tenda di ladangnya. Debu dan panas tidak mengapa, asal ketika gempa susulan, mereka jadi terlindung dari ancaman bahaya bangunan runtuh.


Untuk menghadapi bencana gempa, bukanlah hal yang mudah. Ada trauma, kehilangan,  dan kerugian akan mengikuti. Semua berharap pulih. Semua mengharapkan Lombok bangkit kembali, tersenyum manis dan berdiri gagah dengan semua panoramanya. Sosoknya yang dikenal dunia, akan kembali. Sang primadona akan kembali mempertunjukkan pantai-pantai terindah dengan sajian matahari yang romantis. Terimakasih Bank Mandiri, saya bisa jadi mandiri dan lebih mudah untuk melancarkan tugas negara ini.

Friday, 31 August 2018




Saya termasuk dalam barisan warga Negara Indonesia yang awalnya tidak terlalu mempunyai ekspektasi tinggi terhadap bidang olahraga dan apalagi mengenai atlet-atletnya. Saya tidak punya alasan yang spesifik untuk mengikuti perkembangann prestasi pertandingan dan perlombaan di bidang jasmani. Mungkin karena saya sudah terlanjur tertunduk malu dengan kekacauan di Indonesia. Bagi saya, yang membuat saya mampu berdiri di tengah-tengah warga Negara lain, hanya karena pesona alam budaya serta keramah-tamahan orang Indonesia yang masih diacungi jempol oleh negara-negara tetangga. Apakah menurut anda, saya termasuk generasi muda yang sudah patah hati pada negaranya? Mungkin. Bahkan, saya pernah mempunyai angan-angan, jika ada kesempatan, saya ingin pindah kewarganegaraan suatu saat nanti. Bisa dibilang, ini adalah salah satu gambaran kekecewaan anak muda akan tanah ibu pertiwinya.

Saat Bapak Presiden mengundang para Influencer Indonesia untuk men"demam" 18th Asian Games 2018

Sempat saya melihat video bapak presiden mengundang beberapa influencer Indonesia untuk men”demam”kan 18th Asian Games 2018. Saya tidak begitu memperhatikan, apakah sudah mendekati hari H pun, Asian Games 2018 tidak menjadi hal yang menarik untuk warga Indonesia, sampai butuh memanggil para influencer? But well done, menurut saya cara Bapak Presiden adalah tepat. Beliau cukup peka terhadap sosial media, sehingga dalam waktu cukup singkat, ”demam” 18th Asian Games 2018 mendadak menyebar di kalangan masyarakat.

Saya adalah golongan anak muda yang tidak terlalu suka tayangan televisi jaman sekarang. Youtube jauh lebih menarik buat saya. Namun, berawal dari ketertarikkan akan creative director Opening Ceremony 18th Asian Games 2018, Pak Wishnutama, yang saya rasa seorang yang punya ide-ide yang out of the box, saya bersedia untuk menyaksikan acara Opening Ceremony 18th Asian Games 2018. Bahkan, saya memberi tanda di kalender ponsel saya. Begitulah harapan saya pada acara tersebut. Sederhananya, saya ingin menumbuhkan rasa nasionalisme saya yang hampir terkubur. Saya pun berharap, ini bisa jadi batu loncatan agar generasi muda bangsa Indonesia semakin percaya diri dan optimis pada negaranya sendiri.

Bapak Presiden dengan Performance untuk Opening Ceremony 18th Asian Games 2018

Benar, saya tidak menyesal untuk menonton Opening Ceremony 18th Asian Games 2018. Malam Minggu saya jauh lebih berarti. Namun yang sayang sesali, saya tidak bisa menyaksikan pertunjukkan yang megah dan begitu harmonis itu secara langsung. Saya sesedih itu. Dengan menonton siarannya di televisi saja, saya sudah merinding. Saya terharu. Saya bangga. Saya tidak menyangka Indonesia sanggup menyajikan pertunjukkan yang dipuji-puji oleh hampir seluruh warga Benua Asia, bahkan dari benua lainnya. Indonesia kita dielu-elukan, teman…

“Indonesia, buat sahabat dari Negara tetangga, susah move on dari Indonesia. Indonesia itu sebuah Negara yang candu tuk merindu #OpeningCeremonyAsianGames2018”, isi tweet saya saat Indonesia menjadi trending topic world wide di twitter. Indonesia menjadi buah bibir yang terlalu manis di setiap pasang mata. Energi Indonesia benar-benar tercurah saat itu. Ini adalah moment yang membuktikan bahwa kita sedang Menuju Indonesia Maju. Indonesia yang jauh lebih kuat, akan bangkit. Saya tidak bisa membayangkan, akan beberapa kali lipat rasa merinding saya jika saya punya kesempatan duduk di Stadion Utama Gelora Bung Karno waktu itu.

Slogan #AyoIndonesia untuk 18th Asian Games 2018

“Kami menyebutnya Bhineka Tunggal Ika atau Unity in Diversity, Welcome to Indonesia, the energy of Asia, the land of diversity”, isi pidato pembukaan bapak Erick Thohir selaku ketua panitia pelaksanaan INASGOC 2018. Sontak satu stadion, bahkan saya yang di rumah, merasa ini adalah salah satu pidato terbaik yag pernah ada. Begitu hangat dan menyatukan. Tidak bisa kita pungkiri bahwa, Indonesia sendiri terbentuk dari berbagai macam etnis dan budaya. Pagelaran Opening Ceremony 18th Asian Games 2018 memberikan pesan bahwa Indonesia terlalu kaya untuk diremehkan, terlalu besar untuk dipecahkan, terlalu kuat untuk dijatuhkan, dan terlalu hebat untuk diacuhkan.

Satu waktu yang semakin membuat terharu ketika ada sesi hening untuk berdoa atas kejadian gempa yang terjadi di Lombok dan sekitarnya. Moment dimana kita tidak hanya berbahagia akan dibukanya 18th Asian Games 2018, tapi ikut merasakan duka yang mendalam bagi para korban. Saya pribadi merasakan energy positif yang luar biasa. Kebetulan saya termasuk yang merasakan rentetan gempa tersebut.

Presiden Jokowi bersama pemimpin Korea Utara dan Korea Selatan

Presiden Jokowi bersama Ketua Komite Olimpiade Palestina, Jibril Mahmoud Muhammad Rajoub, di Istana Negara.

Banyak hal-hal yang terbilang menakjubkan sejak pertandingan dimulai. Saat Opening Ceremony 18th Asian Games 2018, kita melihat hal yang manis antara Korea Selatan dan Korea Utara bersatu mengirimkan delegasi mereka. Ketika delegasi Palestina berjalan, gemuruh dukungan mengalir deras buat mereka. Selain itu, beberapa Negara juga tidak hanyak mengibarkan bendera negaranya sendiri, tapi juga bendera Negara Indonesia. Mungkin karena sangat megahnya Opening Ceremony 18th Asian Games 2018, tidak sedikit yang bersemangat mengabdikan moment ini langsung di sosial media mereka. Saat Jonathan Christie merain medali emas dan cara selebrasinya menjadi viral. Saat Hanifan Yundani meraih medali emas, Pak Jokowi dan Pak Prabowo saling beperlukan. Entah sihir apa yang ada di 18th Asian Games 2018, Indonesia benar-benar terasa damai dan penuh cinta.

Presiden Jokowi - Hanifan - Pak Probowi

Target kita peringkat 10 besar dengan torehan 17 medali emas”, sesederhana itu harapan Pak Jokowi, kepala Negara Indonesia. Tidak muluk-muluk, yang penting ada peningkatan dari Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan. Sampai saya mengirimkan tulisan ini, Indonesia telah menyabet 30 medali emas, 23 medali perak, 37 medali perunggu, dengan total 90 medali. Sangkin semangatnya para kontingen Indonesia, tidak ingin mengecewakan apalagi sudah menjadi tuan rumah, Indonesia mampu bertengger di urutan ke-4 perolehan medali dari semua Negara. Saudara-saudara sekalian, saya mencium aroma Menuju Indonesia Maju.

Defia Rosmaniar, peraih medali emas pertama untuk Indonesia, berfoto dengan Presiden Jokowi.

Tim bulu tangkis pria Indonesia.

Kita bisa melihat dari beberapa atlet kita yang berjuang sampai mengorbankan kepentingan mereka, seperti Defia Rosmaniar yang tidak bisa menghadiri pemakaman ayahnya, Anthony Ginting yang berusaha sangat kuat saat bertanding padahal kakinya sudah mengalami cedera, Lalu Zohri yang tanah kelahirannya masih berduka karena gempa di Lombok, pasangan suami istri yaitu Iqbal Candra dan Sarah yang harus tetap berlatih walaupun baru menikah dan hampir semua atlet yang kehilangan momen-momen berharga dalam hidup mereka. Memang benar apakata pepatah, tidak ada kesuksesan dengan kenyamanan. No pain no gain.

Tim Atletik Indonesia Estafet 4x100m putra meraih medali perak.

Show the world, You are as bright as sun”, lirik salah satu theme song 18th Asian Games 2018. Coach melatih kontingen, supporter memberi dukungan, dan kontingen bermain. Mau berhijab, mau meneriakkan Halleluya, dan apapun itu, nyatanya semangat tidak muncul berdasarkan suku, agama ras, dan antargolongan. Berbeda bukan alasan. Contoh paling sederhananya, dengan bersatu kita bisa meningkatkan perolehan medali kita. Kita tidak perlu curang untuk meraih kemenangan. Kita tidak perlu terpecahbelah untuk Menuju Indonesia Maju. Jadi, nikmat mana lagi yang harus kita dustakan, saudaraku?

Menteri PANRB bersama atlet-atlet Taekwondo.

Bisa saya simpulkan, terselengaranya 18th Asian Games 2018 adalah hadiah atas ulangtahun Indonesia, sekaligus pengobat duka para korban gempa di Lombok dan sekitarnya. Sebagai suara yang nyaring bahwa Indonesia itu Negara kokoh, kuat, dan patut diperhitungkan. Semoga semangat kedamaian dan kebersamaan ini tidak berakhir walaupun esok adalah Closing Ceremony 18th Asian Games 2018. Buatlah Indonesia dikenang untuk waktu yang panjang. Buatlah Indonesia menjadi Negara yang paling dicandu untuk merindu, untuk Menuju Indonesia Maju.

Sumber photo: www.setkab.go.id

Tuesday, 28 August 2018



Aku lanjutkan cerita ya...

Karena untuk gempa kali ini, pusatnya cukup dekat dengan Pulau Sumbawa, lumayan banyak bangunan yang retak dan tidak sedikit juga yang roboh. Saat malam itu juga, pasien-pasien di rumah sakit tempat aku internship, langsung diungsikan ke lapangan kantor bupati. Beberapa korban gempa yang berasal dari Kecamatan Alas, juga dilarikan ke rumah sakitku. Rata-rata mereka terkena patah tulang. Aku tidak tau mesti bersyukur atau bagaimana, aku mempunyai peluang untuk ikut operasi bedah ortopedi dalam keadaan gempa ini. Selain itu, aku juga diizinkan Sang Gusti mendengar cerita-cerita pasien yang dirawat inap.





“Bu, anaknya belum boleh pulang yaaa…”
“Iya, gapapa dok. Lagian saya lebih aman di tenda. Kalau mau pulang pun, rumah saya sudah roboh di Alas”.

“Gimana ya dok, saya kemarin trauma terus-terusan gempa di Lombok. Mau tidur, goyang, kami keluar. Mau makan, goyang, kami tinggalkan makanan kami..”



“Iya dok, tidak apa-apa. Padahal ibu ini baru melahirkan sekitar 10 bulan yang lalu. Bayinya masih ada di pengungsian Alas.”

Dan berbagai macam cerita-cerita di dalam tenda pengungsian yang buat perasaanku sedih. Begonya aku, aku hampir ikutan nangis di depan pasien. Wkwkwk.. Cengeng kali aku bah.



Di lain kesempatan, aku diizinkan pergi sehari, sebagai relawan di beberapa desa daerah Alas, yang kekurangan tenaga dokter. Aku melihat banyak rumah roboh dan rata dengan tanah, rumah yang sudah miring dan tidak layak huni. Melihat mereka memasang tenda-tenda pengungsian di ladang. Dengan beberapa bentuk bantuan yang mudah-mudahan cukup.

Kami melakukan bakti sosial untuk warga sekitar. Sebenarnya untuk keadaan emergency, sudah lewat waktunya. Kami datang untuk memberikan pengobatan gratis, tentang penyakit-penyakit yang mudah tertular selama di tenda pengungsian. Selain itu, juga mencoba bermain dengan anak-anak  sekitar untuk mengurangi rasa takut mereka.









Kini, hampir sebulan lah gempa terjadi Bali dan Nusa Tenggara Barat. Aku cuman masyarakat awam yang ga ngerti sama sekali dengan pergeseran lempeng bumi sehingga rentetan gempa bumi terjadi. Aku cuman salah satu dari sekian ribu manusia yang ngerasain gempa yang lumayan besar dan cukup lama dihantui rasa takut gempa susulan yang tak menentu kapan datangnya. Di Pulau Sumbawa saja, begini. Bagaimana di Pulau Lombok? Takut, sedih, khawatir, dan panik, diblender jadi satu.



Aku pribadi semakin sedih dan ga tau bagaimana jalan pikiran orang-orang yang seenaknya berkomentar dengan keadaan yang seperti ini. Padahal sejauh ini rasaku penanggulangan bencana sudah cukup bagus. Kenapa tidak lebih baik diam dan memperhatikan apa yang dibutuhkan para pengungsi? Mencoba berempati dengan apa yang dirasakan mereka yang ditinggalkan anggota keluarga? Aku rasa, bencana ini adalah hal untuk menguji pola pikir kita, kekompakkan bangsa kita, dan rasa bahu membahu kita. 

Terimakasih buat semua pihak yang sudah berkenan memberikan sebagian materi, tenaga dan waktunya untuk menolong korban gempa. Tidak ada yang menjadi doa, kecuali kebaikan kalian semua pasti dikembalikan olehNya.






Aku tutup cerita ini kali ini dengan lagu We Are The World - Michael Jackson

Send Them your heart so they'll know that someone cares
And their lives will be stronger and free

Sunday, 26 August 2018



Wait, I recommend you to read post this while you listening Heal The World – Michael Jackson.

There's a place in your heart
And I know that it is love

Seperti yang kita tahu, sejak tanggal 29 Juli 2018, Pulau Lombok dan sekitarnya mengalami rentetetan gempa. Saat terjadi pertama kali gempa, aku sedang berdiri dan menutup mata untuk berdoa di Gereja, menyelesaikan rangkaian ibadah Minggu subuh. Tiba-tiba aku ngerasain goncangan, awalnya aku kira vertigoku kambuh karena belum sarapan. Aku membuka mataku dan mendapati dua vas bunga di dekat altar Gereja, bergoyang. Dan, memang pada saat itu, tidak aku saja yang menyadari bahwa itu gempa, bukannya vertigo berjamaah. Goyangan itu terjadi dua kali, semakin keras dan berdurasi agak panjang. Sepertinya, iman kami diuji satu per satu. Kalo Tuhan bisa berbicara saat itu, mungkin Dia akan bilang,"Hayooo, iman kalian kuat ga? Percaya ga samaKu, kalau Aku melindungi kalian sampai akhir jaman?". Enggak, imanku belum sekuat itu. Aku takut. Aku masih mikirin hal-hal duniawi, masih mikirin dosa-dosaku yang kayanya jadi tembok penghalang buatku untuk sampai ke surga.

Panik, ya aku panik. Aku langsung ambil tas dan Alkitabku, kalau-kalau bangunan runtuh, aku bisa lari secepat yang ku bisa. Cuman, malu juga sama jemaat-jemaat lain karena mereka belum berniat keluar dari Gereja. Tapi kami sudah saling lihat-lihatan. Kalian pergi, aku juga akan lari. Tanganku dingin, jantungku juga seakan mau beranjak duluan dari badanku. Wkwkwk.. Gempa mereda sampai ibadah selesai. Sepanjang doa syafaat, aku ga sadar air mataku ternyata jatuh. Cengeng aku ya? Dan semenjak saat itu, gempa-gempa kecil mulai menghantui kami.

Tepat seminggu kemudian, gempa besar terjadi, sekitar 7 SR. Saat itu aku sedang siap-siap mau jalan bareng sama teman-teman, mumpung lagi tidak jaga. Ya, aku baru siap mandi. Untungnya udah siap mandi ya guys! Wkwkwk.. Gempa yang cukup kuat terjadi. Hanya memakai handuk dan terpaksa pake jacket, aku keluar dari kamar kostan. Daripada aku jadi pemandangan non halal, ya kan? Hehehe.. Ketika gempa mereda, aku kembali masuk dan bergegas memakai pakaian lengkap. Misalkan pun bakalan ada gempa lagi, aku bisa bebas mengungsi sejauh mungkin. Aku menyalakan televisi dan melihat hampir semua stasiun tv menyiarkan berita yang senada. Ditambah lagi dengan peringatan waspada gelombang tsunami. Ketakutan dan kepanikan semakin sempurna terjadi. “Tuhan, aku suka laut. Tapi aku ga pintar berenang. Tenggelamlah aku ini nanti..”, aku dan sisi overthinking-ku. Aku menelfon orangtuaku, dan untungnya orangtuaku masih mengkhawatirkanku, menyarankanku untuk membeli persediaan makanan. Aku mencoba menenangkan mereka dengan tetap menjaga komunikasi dengan mereka. Begitupun aku dan teman-teman terdekatku. Setidaknya, walau sekarang hatiku masih betah single, masih ada yang memperhatikan kondisiku (Edisi pengen dikasihani, tapi ga usah dikasihani ya weee, nanti manja, wkwkwk..).

Jalan-jalan pun gagal, yang ada kami hanya pergi ke supermarket mencari cadangan makanan kalau nanti ada gempa lagi dan membuat macet pendistribusian makanan. Ketika pergi itu pun, kami sedang berada di mobil, dan kami terasa gempa susulan. Sungguh, kami sudah sensitif dengan gempa ya..

Tetap jaga walaupun di tenda pengungsian ya gengs!
Awalnya, aku belum pernah nge-download aplikasi info BMKG, ya karena dulu waktu di Medan, gempa tidak begitu sering, cuaca pun tidak begitu panas. Semenjak di Sumbawa, aku sedikit penasaran dengan suhu lingkunganya yang buatku kalo bisa di kost itu cuman pake daleman aja. Wkwkwk... Tapi semakin sah-lah aplikasi info BMKG di ponselku sejak gempa bertubi-tubi ini. Setiap ada getaran sedikit, pasti langsung cek kekuatan gempanya, potensi tsunami ga?

Ini Posko Tanggap Darurat di kantor Bupati Sumbawa
Hari-hari kami belum tenang sempurna. Sedikit goyang, kami keluar. Sampai-sampai kami sering tidak mengunci pintu kostan. Wkwkwk.. Ketika di rumah sakit pun, saat sedang poli pagi, gempa itu suka-sukanya datang. Saat aku sedang menunggu hasil ronsen pasien, aku sedang meletakkan kepalaku di atas meja, sambil memantau perkembangan gempa. Ga lupa juga, saat itu sudah mau jam pulang, waktu dimana seharusnya makan siang. Tiba-tiba, seperti ada yang mendorong aku dari belakang cukup kuat. Aku kira, aku yang mulai hipoglikemi karena udah laper. Aku lihat air di dalam gallon, bergoyang sendiri. Aku bilang gempa, serentak satu poli keluar. Dan rupanya satu rumah sakit keluar juga. Keras dan lebih lama. Aku langsung buka aplikasi info BMKG, ternyata belum update. Sesuai dengan kebiasaan jaman now, kalo ada apa-apa, update dulu baru bertindak, aku cek di twitter, dengan keyword “gempa”. Yes, ada gempa. Dan kalau ga salahku, pusat gempanya dekat dengan Pulau Sumbawa. Wajar terasa agak kuat.


Ini beneran candid, wkwkw.k... Sebenarnya udah takut juga kalo gempa lagi.

Rentetan gempa itu rasanya belum selesai. Masih ada kadang gempa-gempa susulan yang rata-rata kekuatannya sekitar 5 SR. Kadang, kalau malam sedang tidur, aku terbangun hanya goncangan. Ku cek info BMKG, rupanya bukan gempa, cuman tempat tidur yang goyang karena aku berubah posisi tidur. Kadang, kalau lagi mandi pun, takut tiba-tiba ada gempa dan tanpa sadar keluar, lupa pake handuk. Kadang juga, langit-langit kostan bunyi-bunyi, kirain karena retak-retak, tapi rupanya suara tikus lewat. Wkwkwk… Se-parno itu aku.


Semua pasien langsung dievakuasi keluar dari gedung.

Kondisi pagi hari.
Hingga suatu malam, dan itu hari Minggu juga, aku sudah siap tidur. Malam itu, aku terhitung agak cepat tidur daripada hari-hari biasanya. Memang karena aku kurang istirahat belakangan ini. Baru saja aku mencoba tidur, memeluk guling dan menutupi semua badanku dengan selimut, aku merasakan goyang yang agak keras. Awalnya ku kira teman sekamarku yang ketawa-ketawa sambil nonton drama korea, tapi dia bilang gempa. Aku yang setengah sadar, lompat dan mencampakkan selimutku. Kami berdua rebutan ingin membuka kunci kamar. Saat kami keluar, goncangan semakin kuat. Ada beberapa bagian teras kostan yang runtuh dan untung tidak mengenai kepala saat kami lari ke arah parkiran kostan. Aku terus nyebut,"Tuhan Yesus..Tuhan Yesus..”. Tapi ada juga kawan kostanku yang tetep main PUBG. Sungguh hebat iman kawanku ini.


Tenda pengungsian untuk pasien #1

Tenda pengungsian untuk pasien #2


Aku merasakan gempa terkeras dan terlama sepanjang hidupku. Aku lihat mobil bergoyang tanpa ada orang di dalamnya, hahaha… Aku lihat, tanah bergoyang. Aku lihat pohon bergoyang tanpa ada angin. Aku lihat, bahwa dengan cara seperti ini saja Tuhan menegur, kami sudah takut dan gemetar. Apalagi kalau sangkakala ditiup? Aku ingin memeluk orangtua, tapi apa daya jarak terlalu jauh. Ga ada yang bisa ku mintai ketenangan. Yang pertama kali dicari adalah Tuhan. Aku masih manusia yang takut dengan hal-hal seperti ini. Tapi, aku juga ga punya cara lain, selain pasrah.



Tenda pengungsian untuk pasien #2

Gempa susulan dengan ukuran besar masih terasa beberapa kali, kami masih enggan untuk masuk ke dalam kostan. Untuk beberapa jam, kami menggelar tikar di parkiran. Bersenda gurau sebisanya untuk menghiraukan rasa panik karena gempa.


To be continue...

Friday, 20 July 2018


Berbicara tentang Indonesia agaknya kita tidak akan habis-habisnya dan terus merindu. Indonesia mempunyai kadar candu yang cukup tinggi. Menarik segala penjuru untuk mendatanginya. Hidup rasanya percuma tanpa menatap betapa menakjubkannya tanah ibu pertiwi ini. 

Salah satu yang aku syukuri, ketika pemilihan wahana Internship, Lombok tidak begitu menarik untuk dipilih. Kalau tidak, aku tidak ada keinginan untuk menjalani Pulau Sumbawa. Sumbawa? Ya, yang awalnya ku kira salah satu bagian dari propinsi NTT atau paling tidak, dekat dengan Pulau Komodo. Tapi, sepertinya sejauh ini, menyesal tidak ada di kepalaku. Pulau Sumbawa punya kekayaan alam yang masih "gadis". Tidak begitu seterkenal Nusa Penida, Lombok, Labuhan Bajo. Pulau Sumbawa, si cantikk yang diam-diam begitu mempesona. Dan sepertinya Pulau Sumbawa membentuk mind set ku akan tempat kerja yang wajib dekat dengan tempat travelling. Huowoyooooow! 


Sebelum kita ke pelabuhan, Poto Tano sendiri mempunyai keadaan yang ciamiiiik! Padang savana yang kering dan gersang, pasir yang terbang-terbang, membuat Poto Tano terlihat lain dari beberapa pelabuhan yang pernah aku temui. Bahkan Pelabuhannya saja bisa jadi tempat wisata. Menurut ngana? Wkwkwk..



Banyak pulau di sekitar Pulau Sumbawa memberikan kesan private island. Salah satunya adalah 3 pulau yang baru beberapa hari yang lalu aku datangi yaitu, Pulau Paserang, Pulau Belang, dan Pulau Kenawa. Cantik, murni dan belum banyak turis. Aku bisa sebebas-bebasnya merasakan bahwa Tuhan terlalu baik mengizinkan aku menginjakkan tanah ini. Aku bisa menghirup wangi matahari yang menyengat di pori-pori kulitku. Dan sangkin menikmatinya, aku lupa mengoleskan sunblock, so dalam sehari penampakkanku sudah gelap dibeberapa bagian. No matter how, I might be enjoy it.



Sebelum terlalu jauh aku bercerita, waktu terbaik untuk naik kapal menuju Pulau Kenawa dan lainnya, adalah sekitar jam 10-11 siang. Kami ambil start jam 8 dari Sumbawa Besar menuju Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat. Perjalanan itu membutuhkan waktu sekitar 1,5-2 jam. But, I'm telling you, during due to Poto Tano you should be the witness of Indonesia's land in Sumbawa. Kanan kiri banyak ladang dan perbukitan yang sayang untuk ditinggal tidur. Hahaha... Di sana masih ada supermarket dan ATM kok, jadi kehidupan masih bisa dikondisikan.




Sebenarnya sempat beberapa kali gagal mau ke Pulau Kenawa dari alasan receh seperti telat bangun, jadwal jaga yang padat merayap, sampai memang ga punya kendaraan, membuat aku dan teman-teman menunda. Hahaha, But God's time is always better than your wants, guys. Ya, awalnya yang termasuk the highest curiosity of my bucket list selama internship adalah hanya Pulau Kenawa. Nyatanya, ketika merealisasikan liburan pendek ini, aku dan teman-teman ditawaran tiga pulau untuk sekali jalan. I never known Paserang island and Belang Island. It's totally out of my expectation. Dengan biaya IDR 550K untuk pulang-pergi pulau dan IDR 25K untuk penyewaan alat snorkeling, kami bisa langsung menikmatinya, tanpa batas waktu dalam sehari. Oh ya, biasanya kapal yang digunakan maksimal berisi 10 penumpang. Cuman, karena kami hanya 6 orang dan 1 nahkodanya, kami memakai speedboat. Sesampainya di sana, kami tidak bertele-tele, ketemu sama bapak nahkodanya, cocok harga, langsung pergi menuju 3 pulau itu.


In other side, there's another important reason actually. Jadi menurut pengakuan bapak nahkodanya setelah kami selesai menyelesaikan perjalanan, alasan naik speedboat karena ombak cukup besar dan kalau pakai kapal yang agak besar, susah untuk melewati ombaknya dan sebenarnya lebih bahaya. Nah, selain naik speedboat, kami juga dari awal udah disaranin memakai baju pelampung.


Yup, setelah dipikir-pikir memang ombaknya cukup besar. Cuman, bapaknya heran, ini tamunya pada ketawa-ketawa aja kapalnya loncat-loncat membelah ombak. Memang antara bahagia dan bodoh ga tahu kenyataan bahwa sebenarnya resiko kapal terbalik, beda tipis. But well, walau sebenarnya dua-duanya bahaya, bukan takabur, aku bukan orang yang pandai berenang, tapi ketakutanku ketika naik pesawat jauh lebih tinggi daripada naik kapal. Wkwkwk... 

1. Pulau Paserang




Aku tidak begitu jelas kenapa Pulau Paserang menjadi tujuan pertama. Selama perjalanan, kami disajikan langit yang sangat cerah, beberapa pulau kecil yang ditumbuhi rerumputan dan ada karang-karang putih. Ombak yang cukup besar kadang-kadang menghantam speedboat. Naik turunnya kaya naik roller coaster. Semacam ga ada takutnya, kami tetap ketawa-ketawa. Belum apa-apa kami memang sudah basah di jalan. Cuman dalam 10-20 menit, kami merapat di dermaga kecil Pulau Paserang. Semakin dekat, semakin nampak degradasi warna biru gelap-biru agak gelap (hahaha) - biru agak muda (hahaha) - biru muda - putih pasir. Sorry mendesktripsikannya begitu.



Pulau indah dan tidak berpenghuni, akan benar-benar menarik untuk para pengabdi travelling yang tenang dan masih belum begitu tersentuh oleh tangan manusia, Pulau Paserang bisa jadi destinasi kalian. Rerumputan coklat yang kering mendominasi dan sebuah bukit panjang menjadi icon-nya.


Sedikit cerita mengenai Pulau Paserang. Pulau Paserang disebut juga Pulau Pasaran, karena konon katanya di sini sering dijadikan tempat transaksis jual beli ikan. Letaknya berada di Selat Alas, pemisah Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok.


Di sini, kami sempat snorkeling. Menurut arahan bapak nahkodanya, di sini juga ada karang-karang cantik, tapi ikannya ga begitu banyak macamnya. Dan kami pun membuktikannya. Tapi maaf, aku ga ada foto bagaimana keadaan di dalam air, soalnya aku lupa nge-charge batrai GoPro. Biarlah, kami saja yang menikmatinya. Kalian mau juga? Yuk datang ke sini.




Semua pemandangan hanya laut biru dan perbukitan pulau-pulau kecil yang tidak berpenghuni. Ada juga beberapa spot yang memaparkan puncak Rinjani.


Oh ya, di Pulau Paserang juga bisa menginap kok. Jadi, di sini ada beberapa rumah yang disewakan, cuman aku kemarin lupa nanya, berapaan harganya per malam. Sorry, membuat kalian jadi penasaran, hehehe..




2. Pulau Belang


Setelah puas merasakan alam Pulau Paserang, kira-kira setelah 1 jam lebih, Target perjalanan ke dua adalah Pulau Belang. Kami menempuh waktu sekitar 10 menit untuk mencapai Pulau Belang, dengan gelombang ombak yang cukup besar. Aku sempat khawatir, kalau-kalau sangkin besarnya ombak, bisa memecahkan bagian bawah speedboat. Apalagi, bapak nahkodanya sempat mengatur posisi duduk kami. Yang punya bobot tubuh paling besar, diletakkan di depan. Dalam pikiranku, mungkin agar speedboat-nya tidak mudah terbang ketika membelah ombak. Sempat speedboat-nya meloncat atau tidak seimbang, ya kami bisa terbalik saat itu juga. But, some with last shipping, kami kayanya menolak takut dengan teriakan. And for you to know, asumsi itu baru aja muncul ketika aku menulis postingan ini. Hahaha..



Sebelumnya aku juga ga begitu tau gimana Pulau Belang ini. Namanya tidak sefamiliar Pulau Kenawa. Aku juga ga sempat mencari tahunya. Tapi, memang selama perjalanan menuju Pulau Belang, kita akan mendapati banyak pulau-pulau kecil dan hutan mangrove. Bisa ku simpulkan, Pulau Belang ini adalah gugusan pulau yang membentuknya menjadi kelihatan lebih luas daripada Pulau Paserang dan Pulau Kenawa. Ya memang, setelah aku browsing, menurut situs pemeerintahan Sumbawa Barat, luas Pulau Belang sekitar 492 ha. Besar juga yaaa...


Dari 3 pulau yang ku datangi, memang yang agak sedikit membingungkan untuk dijalani adalah Pulau Belang. Mungkin karena banyaknya pulau-pulau kecil yang jadi bagiannya. Tapi hutan mangrove terbesar ada di sini. Airnya di sekitarnya seperti kaca, benar-benar jernih. Langsung nampak bebatuan karang kira-kira 20 meter sebelum nyampai pesisir pantainya. Pemandangan pulau-pulau kecilnya menjadi daya tarik tersendiri buat para pendatang. Saran buat pemerintah sih dariku, bisa sepertinya dibangun semacam mercusuar atau menara pandang, agar tamu-tamu tidak hanya melihat lautan birunya, namun bisa lebih puas juga memandang gugusan Pulau Belang. Woyoooowww!!


Sepanjang mata memandang, di Pulau Paserang sepertinya tidak ada pondok ataupun penginapan. Jadi kalaupun mau bermalam, bisa kok memasang tenda di sini. Kami tidak terlalu lama di sini bukan karena waktu yang ga cukup tapi gelombang ombak yang cukup besar, sehingga setelah sekitar tidak sampai 1 jam bapak nahkodanya mengajak ssegera menuju Tujuan utama kami, Pulau Kenawa.


3. Pulau Kenawa


Guys, I am telling you, Pulau Kenawa itu beda dengan Pulau Kanawa. Pulau Kenawa berada di NTB, sementara Pulau Kanawa berada di NTT. Butuh waktu sekitar 15-20 menit kami menuju Pulau Kenawa dari Pulau Belang. Saat perjalanan ini, kami bisa melihat gugusan Pulau Belang. Airnya jernih sekali.


Pulau Kenawa berada paling dekat dengan Pelabuhan Poto Tano, makanya itu jadi alasan kenapa dia menjadi target terakhir, agar tidak lama perjalanan pulang nanti. Di Pulau Kenawa kami mendarat paling lama.


Nama Kenawa itu diambil dari salah satu nama kayu bakau yang dominan tumbuh di Pulau Kenawa. Pulau Kenawa sendiri adalah pulau paling kecil dari 3 pulau yang kami kunjungi. Luasnya sekitar 13 ha. Tapi Pulau Kenawa pulau yang paling eksotis menurut kebanyakkan orang. Dan kalau kalian check di instagram, google atau situs lainnya, pasti akan banyak mendapati review tentang Pulau Kenawa. Ga heran, Pulau Kenawa sering menjadi sumber penasaran para traveler yang sedang ke Sumbawa. Rasanya ga sah ke Sumbawa kalo belum ke Pulau Kenawa. Dan ekspektasiku pun sama dengan traveler kebanyakkan.


Memang Pulau Kenawa dikelilingi pantai putih dan birunya laut. Di sini juga ada beberapa warung yang menyajikan makan siang. Dan kami pun makan di sini. Menunya didominasi ikan yang digoreng dan dipanggang. Ya, namanya juga sedang jalan-jalan, ya seadanya saja. Cukuplah untuk menghindarkan kita dari perut begah karena kena hempasan angin laut dan juga tidak membuat sakit perut. Tapi maaf, ketika aku sudah selesai makan, aku baru melihat, ibu-ibu warungnya mengambil cucian piring dari air laut. Ya sudahlah, tak mengapa. Saran sih, lebih baik sepertinya membawa makanan sendiri.







Setelah kenyang, kami pun melanjutkan perjalanan menikmati Pulau Kenawa. Ada bagian yang cukup luas, semacam savana yang sedang mengering. Di sini instagramable untuk mengambil foto ala-ala. Di tengah savananya ada bukit kecil, kemudian ada turunan lagi untuk mencapai puncak tertinggi di Pulau Kenawa. Namun sayang, saat kami ke sana, Pulau Kenawa sedang gosong, entah dibakar atau terbakar oleh orang yang ga bertanggung jawab. Aku saran sih, karena memang daratannya sangat kering dan angin sangat kencang, jangan merokok atau menghidupkan api. Keadaannya mudah untuk menyulutkan api. Tapi Puji Tuhan, ketika kami di sana kamk melihat rumput-rumput hijau mulai tumbuh di kaki bukit. Kira-kira 3-4 bulan dari sekarang, Pulau Kenawa akan indah semestinya.


Sudah ku bilang tadi, anginnya sangat kencang. Bahkan badanku saja yang agak subur ini, bisa goyang. Hahaha.. Jadi hati-hati kalau kalian sedang selfie, handphone kalian bisa jatuh. Atau sedang foto dengan selendang Sumbawa, awas terbang selendangnya. Di puncak bukitnya, kita bisa melihat sekeliling Pulau Kenawa. Di belakang bukitnya terdapat hutan mangrove yang cukup lebat.



Di pinggiran pulau Kenawa juga ada beberapa rumah penginapan yang bisa dihuni. Cuman aku tidak begitu mengetahu berapa harga dan fasilitasnya. Tadinya memang kami ada keinginan untuk bermalam di sini, tapi memakai tenda. Karena menurut pengalaman teman-teman yang udah pernah ke sini, lebih indah memandang langit malam di) Pulau Kenawa. Bintang-bintangnya terang dan rame. Jadi sesekali, boleh dong tidur langsung dibawah langit.




Tidak hanya ke puncak bukit, kami juga snorkeling di Pulau Kenawa. Ekosistem bawah lautnya cantik. Banyak terumbu karang dan bermacam-macam warna ikan. Kalian bisa memancing kedatangan mereka dengan memberi roti atau nasi sisa makanan kalian. It's worth it to be seen, guys. Cuman ya gitu, GoPro-ku habis batrai, jadi ga bisa foto alam bawah lautnya.


Setelah hampir 5 jam perjalanan, ga mungkin ga pengen buang air ya kan? Di sana ada WC sih. Untuk buang air kecil, dipatok harga IDR 5K dan buang air besar IDR 15K. Kenapa bayar? Karena airnya pake air bersih di tong gitu. But, unfortunately, WC nya itu (maaf) super duper jorok. (maaf) masih ada kotoran orang dan botol-botol yang menumpuk. Sangkin (maaf) jijiknya aku, aku juga ga sanggup fotoin. Astaga. Aku lebih baik menahan untuk tidak buang air kecil atau bahkan pergi ke air laut untuk pipis. Pemerintah, tolong ini untuk jadi perhatian yaaa.. Memang, kata ibu-ibu warungnya, ada lagi WC lain, tapi aku lebih baik menahannya. Hahahaha.. Tapi untunglah, masih ada inisiatif warga untuk mengumpulkan botol-botol bekas dan menumpuknya di satu tempat. Semoga cepat diangkut yaa...



Sebenarnya, 3 Pulau yang telah aku datangi tadi, merupakan 3 dari 8 pulau-pulau besar dan kecil yang disatukan, kemudian diberi nama Gili Balu. Gili Balu sendiri artinya Pulau Delapan. 5 Pulau lainnya adalah Pulau Ular, Pulau Kambing, Pulau Mandiki, Pulau Kalong dan Pulai Namo. Hanya saja, 3 pulau ini yang lebih menarik dari pulau-pulau lainnya. Berminat? Jangan ga ke Pulau Kenawa kalau lagi di Sumbawa yaaaa...