Diam itu mungkin lebih baik.
Menghela nafas yang sempat tertunda saat aku benar-benar merasakan kata itu jauh lebih dalam

Itu rasa dan bukan aku yang merasakan
Tak bisa aku tolak, tapi kuterima.
Walaupun itu suatu hempasan emosi, aku tahu itu yang terpendam
Itu kejujuran yang pahit untuk nama yang dituju
Aku yang dituju.

Semua gelap, semua hitam
Aku berhenti sejenak memberi senyuman terbaik untuk senyuman terbaik yang pernah aku lihat
Lelah aku jika senyumku dinilai hanya sebatas itu
Ku kira akan ada mengerti, yang bisa membuatku senyumku lebih indah
Balikkan tangan kalian, dibawah itulah rasanya
Tamparan keras!

Aku tidak berhak marah, karena sumber senyumku tidak tahu apa-apa tentang perasaanku
bagaimana aku menetralkan rasa pahit yang sebelumnya diberikan kepadaku

Tenanglah wahai senyumku, suatu saat kamu akan benar-benar ada dilekukan wajahku
dan aku berharap sumbernya adalah orang pilihan terbaik buatmu.

Continue Reading