Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Wednesday, 20 November 2013

Iya, aku suka melihat sepasang ikan yang diberikan teman-teman pas aku ulang tahun kemarin. Enggak, bukan mau ngebicarain tentang kesenangan (tapi jujur, aku senang. setidaknya di kamar kost ini enggak cuman aku, nyamuk dan kadang-kadang kecoak serta laba-laba menghuni kediaman mungil ini). 

Sepasang ikan ini lucu. Perutnya gendut. Warnanya cantik. Kalo udah aku udah ngasih mereka makan dari atas, pasti mulutnya itu mengatup-ngatup sampai terbentuk balon-balon kecil, menambah keimutan mereka. aku enggak tahu mereka sama-sama betina atau sebaliknya atau malah sepasang. Tapi aku mengultimatum kalo yang ada warna hitamnya, itu yang jantan. Setelah diperhatikan, aku ngelihat sesuatu. 

Kemana yang betina pergi, kesitulah jantannya. Kemana yang jantan pergi, kesitulah betinanya. Tapi, mereka sering rebutan makanan. Pas aku ganti air aquariumnya, dimana pun dipindahin, mereka tetep deket. Kadang kejar-kejaran. Sirip-sirip mereka melengkapi keindahannya. Mungkin mereka sedang jatuh cinta, Hehe..

Entah bagaiman cerita, aku berniat kemarin beli ikan jenis lain. Aku membeli sepasang ikan yang kalo di film Nemo itu yang warna hitam putih. Ah, makin ramai saja penduduk di kamar ini.
Mereka cenderung diam di dekat kaca, jarang berenang ke sana ke mari. Jarang kulihat bersama. Mungkin salah satu mereka suka dengan yang lain, atau sama-sama suka, cuman malu dan enggan untuk mengatakan. Atau yang parahnya, sesungguhnya mereka terpisahkan dengan kekasih mereka di toko ikan hias kemarin, jadi masih sama-sama sedih. Atau lebih gilanya lagi, ketika mereka ditangkap, mereka terpisah dengan kekasihnya di batu-batu karang waktu itu.Ya, mereka belum move on. Hehe.. Mungkin mereka dalam kondisi pemulihan perasaan. Buktinya, kalo aquarium dibersihkan, mereka kompakkan ke sana ke mari supaya enggak dipindahkan (ini juga kemungkinan alasan mereka susah pindah ke lain hati). Iya, mereka ribet.

So, kamu kemungkinan ikan yang mana?


*Jam 23.54 waktu galau membumbung tinggi.
sambil memikirkan seseorang yang sama egoisnya dengan aku
tapi dalam egoisnya, dia masih kirim pesan
"Goog night, I love you.."
Barusan*

Sunday, 3 November 2013


Hem, sekali lagi gue tekankan bahwa menjadi cewek itu tidak mudah. Tidak hanya belajar tulus, belajar masak, belajar mengurus rumah, belajar memutar otak dengan berbagai keadaan keuangan. Ada satu hal yang perlu dipelajari. Kain. Benda sederhana itu juga bisa meningkatkan kepopuleran atau mengisyaratkan tingkat selera kita.

"Itu coba ambil", mama menunjuk kain yang ada disudut lemari.

"Ah, mana cocok itu. Kain gendong itu kan?", kataku, karena pas pulang ini gue niat banget menjahit baju desain sendiri (sebenarnya copy paste dari internet juga, wkwk).

"IIhhh, Enak aja kauuu, ini mahal. Apa pulak kain gendong? cantik gini", protes mama sambil buka kain itu. "Tengok ini motifnya. Susah buatnya ini. Batik tulis tangan. Kainnya halus lagi. Lihat posisi bunganya, susah ini buatnya makanya mahal. Makanya kau perlu belajar begini juga", tambah lagi si mama pengamat kain profesional.

"Ooohh... Cantik sih ma. Hahahaha.. Untuk aku aja yaaa..", hahaha, gue termakan kata-kata bungg! Setelah diamati emang cantik gitu motifnya.

"Tau aja kau yang cantik. Pilihlah yang mana biar di jahit", bukti mama selalu memberi yang terbaik buat anaknya. apa lagi anak cewek. hahahaha, yodah sih gue juga ga mau nyia-nyiain kesempatan itu. sambil diskusi dan nyocokin model yang pas, aku kepikiran.

"Hem, berapa pulak lah harganya ini ma?"

"Wooo, adalah...", entah karena murah atau mahal si mama mengalihkan pembicaraan. Tapi rasa-rasaku itu kainnya rada mahal.

"Brarti harus nyari suami yang kaya lah ya?", celetuk gue.. haha, keceplos gitu.

"Ya, ga mesti cari yang kaya. Percaya atau ga, rejeki itu tergantung bawaan dari sananya. Cari yang biasa, kerja. Yang penting, tengok keluarganya gimana. Dia itu gambaran dari keluarganya".

gue balik lagi nyari kain yang bagus.....