Mungkin aku tak yakin waktu itu. ku tekan kan, sangat tak yakin.
Berbicara ketidaksanggupan untuk melepas, tapi tidak pernah berkaca pada ego sendiri.
Sejujurnya, aku sendiri kadang tak tahu apa alasanku untuk berdiam diri. seolah-olah sanggup tidak ada kabar darimu. Tidak mengetahui kamu sedang apa. Iya, mungkin berpura-pura. Tapi, siapa lagi yang bisa membuatku sok-sok bertahan dengan keadaan seperti ini. Ya, cuma kamu.

Aku yang takut untuk kehilangan. Kamu, aku tidak tahu. Tapi aku dan kamu yang egonya lebih besar dari tengkorak kepala. Entahlah.
Aku yakin, mungkin ada perasaan yang sedikit pupus. Bukan karena waktu yang terlalu panjang untuk berdua (kalau begitu, untuk apa ada pernikahan? Pernikahan membosankan? Ku harap tidak!) Tapi yang kuyakini adalah ada perasaan yang tergencet dengan ego masing-masing dan merasa tidak diabaikan. Kita yang salah, kita yang sangat menuruti ego. Dia lelah, dia capek di-bully ego.

Aneh. Disaat yang satu ingin lepas bebas, yang satu tak sanggup berhenti. Ada sakit yang memunculkan kata bertahan. Iya, aku ingin bertahan. Aku yakin, kita masih punya perasaan bahagia dengan sms ucapan selamat pagi, kita masih punya rasa penasaran dengan keadaan satu sama lain sehingga stalking lewat twitter, tenang ketika diingatkan untuk tidak lupa berdoa atau tersipu malu ketika teman-teman kita menyebut nama aku dan kamu.

aku ego dan kamu..
tiga hal yang tidak bisa dilepas. Tapi bertahanlah selagi kamu bisa merasakan rindu kepadaku.
Continue Reading