Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Wednesday, 30 April 2014

Gue dulu agak pesimis dengan kekompakkan kelompok tutorial gue, mereka adalah kelompok B.1 ruang 3.13. Entahlah, gue ngerasa ada aja yang kurang di kelompok ini. Sedikit acuh tak acuh, mungkin. Kalau kelompok ini begini terus, sempat mikir pengen pindah ke kelompok lain (Tapi pasti tak mungkin), apalagi denger-denger dari senior, ketika nyusun skripsi, temen-temen tutorial kalian lah temen skripsi kalian. Emm, bukan merasa sok hebat atau gimana, tapi gue ngerasa Down To Earth aja. Skripsinya susah, mikirin temen satu doping (dosen pembimbing) lagi. Oke mending gue ngerayap didinding.
Sebentar, aku perkenalkan satu per satu:

Novia Giovani (211 210 002)
Fransiska Sinaga (211 210 004)
Mona Liany Sinaga (211 210 006)
Iwan Petrus Tampubolon (211 210 008)
Joab Abigail Sitompul (211 210 010)
Meri Bidani Damanik (211 210 012)
Gracia Medina Pinem (211 210 014)
Ika Agustinawati Siahaan (211 210 016)
Inrinogro (211 210 018)
Agus Chandra Sembiring(211 210 020)
Raskami Perangin-angin(211 210 022)
Sri Reninta Sembiring (211 210 024)
Mutia Sari Bangun (211 210 026)

Beginilah kami waktu awal-awal masuk Kuliah:
 
Ini baru-baru siap di ospek broo..
Yah, bersyukur deh pernah foto di jembatan ini. 
Sekarang jembatannya udah jadi lift.


Terus, ini pas skill lab:
ini apa yaa? pemeriksaan lab apaaa gitu..

 
kayanya sih ini Imunisasi BCG

Kalo enggak salah skill lab pemasangan NGT

Yah, kami berevolusi dan lama kelamaan kami makin tua:
entah tutorial blok berapalah ini..

ini mau resusitasi jantung paru anak (expresiku, entahlah ya wee)

ini mau resusitasi pada bayi. duh, adeknya kejepit dua algojo ini mah~

ciyeee, jarang-jarang foto awak yaa :P

Ini udah selesai skill labnya..

Ini skillab Pemindaian kaki dan tangan.. 


Ya, semakin lama waktu ya semakin nyadari kami, hargailah moment sebelum moment itu hilang percuma. Iya, kami mulai saling mencintai. Mencintai dengan segala ketidakacuhan, ketidakpedulian, ketidakpekaan, dan segala kekekurangan yang ada. Kami tak sadar, kami sudah lama tumbuh bersama di kelompok ini. Dan itu berawal dari Siska. Kami mempunyai segudang rencana. Makan bareng, hangout bareng, photo studio bareng, dan sempat mau jalan-jalan jauh bareng. Iya, untuk mengawali itu semua, kami butuh namanya duit. Kami pun mulai menabung. Siska bagian penagihan dan aku bagian penyimpanan uang. Namun, itu tak berlangsung lama, karena lama kelamaan tak banyak yang menabung. Kami pecahkan tabungan kami itu. Ya, lumayanlah. Untuk pertama kalinya kami makan bareng. HAHAHAHA *BANGGA GUEE BANGGAAA~*
Usul si cia, nama kelompok tutorial ini adalh CHIX. *menn, jangan tanya kenapa. itu nama dadakan.*

#butfirstletmetakeaselfie mbuahaha

jadi orang kaya sehari..

muka-muka kenyang di akhir bulan

ya, giginya manaa..

Ya, begitula kira-kira perjalanan kuliah yang hampir 3 tahun ini. enggak terasa udah mau selesai, enggak terasa udah mau pisah. Tapi kita belum terlambat untuk kebersamaan.
Mari kita bicarakan lagi tentang hal yang bisa buat orang bahagia enggak ketulungan dan bisa buat orang bunuh-bunuhan. Simplenya kit memanggilnya UANG atau DUIT atau HEPENG (bahasa Batak) atau SEN (bahasa Karo) atau PITI (bahasa Minang).

Gue pernah melihat acara MetroTV, entah apa namanya, tapi pas disitu membahas tentang cara mengatur keuangan. Salah satunya tentang investasi. Biasanya investasi itu bisa berupa emas, saham, tanah, atau apapun yang kira-kira barangnya tahan lama dan harganya tidak akan pernah turunnya drastis. Biasanya kalo mamak-mamak menginvestasi uang suaminya dengan perhiasan, tapi tak jarang juga dengan tas bermerek, sepatu bermerek, atau kain-kain tradisional. Jadi, sambil berinvestasi, bisa bergaya juga. Gaya oke, kece teteupp! Tapi Meeeeen! Gue masih anak kostan. Uang bulanan aja pas-pasan. Yasalaam~ sekali-sekali aja dikirimin uang agak berlebih. 

Dari acara itu gue dapat pelajaran, investasikan duit bulananmu kira-kira 10%. Jadi misalnya, duit bulanan 1.000.000. Nah, kita hitung-hitung dulu ya..



Nah, sisa duit itu dicukup-cukupin deh buat kolekte, jalan-jalan sama pacar, beli keperluan bulanan dan kuliah, atau apalah yang buat hati senang. Huahahaha....

Disamping itu, kan percuma tuh uang investasinya teronggok enggak jelas, silap-silap bisa kepakai. Bagusan kita ikut arisan. Arisan itu identik banget sama mamak-mamak. Tapi, bapak-bapak juga ada lhoo. Arisan itu cocok buat kita yang pengen nabungnya lebih maksimal. Mungkin ada sistem arisan yang sistem kocok. Dimana uang yang udah terkumpul, akan diberikan ke orang yang namanya keluar dari hasil kocokkan tersebut.

Di lain posisi, anak sekolah dan kuliahan punya arisan juga, biasanya disebut jula-jula. Ini sistemnya, duit yang terkumpul diberi sesuai permintaan urutan nama. Urutan nama biasanya tergantung kapan dia butuh uang itu. Kalau aku sih biasanya suka berada di nomor urutan agak terakhir, jadi enggak terasa nabungnya. Biasanya sih, kami narik dua minggu sekali langsung dapat dua juta. Hehehe, tajir ya bro.. Jangan lupa ditabung lhoo...

Nah, begitulah kira-kira cara investasi ala anak perantauan. Harus sekreatif mungkin mengatur keuangan, apalagi untuk yang cewek-cewek.

Setidaknya, walaupun kita belum bisa menghasilkan uang, kita bisa menabung untuk masa depan :)

Saturday, 26 April 2014

Gue termasuk orang yang kadang-kadang lapar mata dan sekarang lagi belajar untuk lebih selektif membeli barang, mana yang berbau keinginan, mana yang emang benar-benar perlu. Karena, setinggi apapun nanti pendidikan gue, gue akan menjadi ibu-ibu. As always my mom's talking to me, mamak-mamak harus pinter ngatur duit. Sekecil apapu duitnya, mbok ya ditabung, susah nyari duit lho. Soalnya udah banyak contoh, makmur waktu muda, tapi pas tua enggak bisa menikmati. Karena apa? Enggak bisa me-manage keuangan.

Tapi, gue termasuk orang yang bahagia menerima uang recehan. Rasanya itu, akan ada masa depan yang lebih cerah, eh enggak maksud gajian pake uang recehan nantinya yaaa..

Listen to me! Ada keajaiban dibalik uang recehan, ada kehidupan dibalik koin Burung Garuda. Mungkin terlihat sepele dan bau. Yang memegangnya paling sering tukang parkir, pengemis, pengamen dan mereka-mereka yang lain. Tapi, kecil demi kecil lama jadi bukit. See?! Gue merasakannya. Mari kita mulai dari hal yang kecil ;)

Gue punya kebiasaan tidak membelanjakan uang 1000 kertas dan semua nominal uang  recehan (dulu sempat 2000 juga enggak dibelanjakan, tapi anak kost seperti gue, rupanya perlu juga). Gue meletakkannya di satu kaleng roti bekas seperti yang pernah gue posting dulu http://seruputtehsore.blogspot.com/2012/09/yuks-menabung.html

Nah, sekarang gue merasakan mereka sudah berat, sudah bisa disatu-satukan. Nih, begini caranya.

1.  Sediakan selotip dan gunting. Kalo kalian enggak tau yang mana barangnya, ini gue kasih gambarnya.

2.  Tentu, uang recehan yang dimau di satuin mesti ada.

3. Satukan nominal yang satu dengan yang lainnya, kalo gue biasanya 10 uang 100 = 1000. 10 uang 500 = 5000. 5 uang 200 = 1000. 5 uang 1000 = 5000. Awas silap menghitungnya ya.. Ini contohnya.


4. Kemudian gunting selotip sesuai keperluan. Lalu lengketkan secara keliling di koin recehan tadi.

5. Nah, kira-kira beginilah hasilnya.


Biasanya, gue membuka celengan 6 bulan sekali. Lalu gue menukar uang ini ke teman gue yang jualan pulsa elektrik atau ke kantin kampus atau ke swalayan. Karena biasanya mereka yang butuh uang recehan, dan mereka bahagia.

Uang recehan? Sepele bukan? Memang yang kecil sering terabaikan, terbuang. Paling banter cuman bisa beli air mineral gelas, atau permen, atau gorengan. Sering keselip di kantong celana. Tercampak dibelakang lemari. Jatuh di bawah meja. Atau bahkan kadang enggak diambil pas dikasih kembalian.

Tapi, coba dikumpulin. Mereka itu ajaib. Siapa tahu bisa beli iPhone 5 dari situ? Atau buat modal usaha? Apasih yang enggak mungkin dari hal-hal kecil seperti itu?
Berniat Mencoba?