Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Saturday, 20 December 2014

Kedua

..Sesampainya di sana, dia mengetuk pintu rumahnya. Iya, rumah yang di depannya ada lampu pintu berwarna kuning temaram, sedang di samping pintu rumah ada pohon Natal kecil berlampu hias yang indah.
Untuk beberapa kali ketukan, Perempuan dirumah itu, yang menjadi tujuannya untuk datang, tidak kunjung membukakan pintu. Dia beberapa kali melihat kotak kecil yang ada digenggamannya, dan sekali dibukanya memastikan cincin itu memang ada di dalamnya. Beberapa kali dia melihat sekelilingnya, mungkin perempuan itu sedang di luar.
Tiba-tiba, Ponselnya berbunyi, dia pikir kerjaan kantor yang ditinggalkannya (demi perempuan ini) tadi kembali menelpon.

Nama perempuan yang dinantikannya muncul di layar handphone.

"Hai, sorry menunggu lama. Aku tadi pergi sebentar membeli makanan di luar. Tapi aku sudah di simpang. Kurang dari semenit aku akan menepuk pundakmu. See you!"

Dia tidak berbicara apa-apa. Dia hanya tersenyum dengan kebawelan perempuannya itu, yang kadang-kadang menyebalkan, tapi tetap dirindukannya. Malah kalau tidak begitu, dia merasa kikuk.

"Hai! Kurang dari 1 menit kan?", kata perempuan itu sambil menempuk pundaknya.
Senyum kurang lebih jadi kalimat singkat, cara dia mengatakan kebahagiaannya.

"Yuk masuk?"
"Ga usah, di sini aja."
"Walah kenapa? Serius  banget. Haduh, laper lhoo.. Jangan serius serius banget wajahnyaaa. Mau ngomong apa emangnya? Rapih banget, baru pulang kantor langs..."
"Ssstt, bisa aku minta diskon dari panjangnya bicaramu..?"
"Hahaha, iya iya cup cup. Enggak banyak ngomong. Nih, aku mingkem."
"Duduk dulu yuk. Masih bisa tahan lapernya kan?"
"Iyaa iyaa bisa.."

Kemudian, dia mengambil handphonenya, mencari lagu kesukaan perempuan itu, Mama Mia - ABBA. Lagu berjalan setengah, dia menunjukkan sebuah photo di layarnya.
"Hahahaha, haduh culun kali aku disitu! Kamu lagi, belah tengah gitu rambutnya. Kacamataku itu, kacamata pantat botol. Ya ampun, aku aja kayanya udah ga punya photo ini. Dapat dimana?"
"Aku menyimpannya."
"So sweet kali kamu. Tumben. Biasanya, ya gitu.."
Dia cuman tersenyum. Tangannya meraih kotak isi cincin tadi dari saku jaketnya. Dia membuka dan memberikannya ke perempuan itu.

"Apa ini? Kamu baru dapat Bonus? Atau THR?", perempuan itu sontak terkejut, ditambah lagi dengan tatapan hangat dan seriusnya dia.
"Kamu tahu, aku punya keinginan, kita berdua punya foto di tempat yang sama dengan yang ada di foto ini. Cuman, aku pengen, rambutku disitu memutih, wajahku mengkerut, leherku ditutupi syal, badanku bungkuk, dan memegang tangan kamu."
"Kamu sekali ngomong kok ya sedih gini ya? Terharu. Ya kan kalo reuni reuni gitu kan bisa foto kaya gitu", kata perempuan itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Iya, apa ada yang menjamin kamu akan datang waktu itu? Setidaknya kalo kita hidup bersama, kita bisa mempunyai rencana yang lebih matang", dia sambil tersenyum.
Suasana masih terkesan ramai dengan lagu yang diputar tadi. Perempuan itu sebentar-sebentar menatap kerlap-kerlip lampu Pohon Natal itu. Dia juga begitu, detak jantungnya tak berirama yang bagus lagi.
"jadi? maksud kamu gmn? aku takut keGRan ini lhoo..", tanya perempuan itu yang tertawa kecil.
"Jadilah wanita terpenting kedua, setelah ibuku..."

Perut yang lapar tadi mendadak kenyang, entahlah mungkin produksi gas lambungnya meningkat. Bibir perempuan itu tidak terkoordinir lagi, mau senyum atau menangis terharu. Tapi, apa yang dilakukan perempuan itu kemudian, menjadikan dia tersenyum bahagia, lebih dari alasan apapun sebelumnya, sepanjang hidupnya.

No comments:

Post a Comment