Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Tuesday, 2 September 2014

Terpanggil jadi Dokter?

"Roma 8:28  Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.."
Aku tadi enggak sengaja membaca ayat ini, dan aku merimang-rimanginya yang berpusat pada kata Terpanggil.
Aku mahasiswi tingkat akhir di fakultas kedokteran. Awalnya gimana ya aku bilang, prodi kedokteran bukan satu-satunya prodi tujuanku. Dulu awal-awalnya aku pengen jadi penulis, pianis, arsitektur/desain interior, desain grafis, desain baju atau psikolog. Pokoknya hal yang membutuhkan kreatifitas, bukan hal yang baku. Dokter adalah cita-cita yang hilang-hilang timbul di otakku. Aku merasa tidak terpanggil dan merasa tidak mampu.
Tapi Ya, Puji Tuhan aku terdaftar di salah satu perguruan tinggi swasta sebagai mahasiswa FKnya dan entahlah, aku ngerasa Tuhan menuntun aku. Serius yaa, stres, sedih, kecewa itu bener-bener ngetes aku banget. Pernah udah aktif di tutorial, tapi pas keluar nilai malah jeblok. Udah yakin bener ujian bloknya bakalan bagus, tapi nilaiku hampir lolos. OSCE yang entah dimana rimbanya aku bisa salah. Pernah disalip kawan, ditinggal kawan, ditusuk dari belakang sama kawan. Jujur aja, di semeter berapaaa gitu, sempat terpikir ingin pindah jurusan. Tertekan di sini, tertekan! Tapi gini, Tuhan mengajarkan kita tidak hanya untuk menerima, tetapi harus mengerti skenario hidup kita. Iya, aku tahu, kita sering baru mengerti kalo kita udah melewatinya.
Aku percaya, aku di sini dilatih untuk tidak cepat berpuas diri dan belajar untuk tetap kuat dan gigih. Aku pernah kecewe tentang hal di luar masalah kuliah, tapi Tuhan menuntun aku waktu ujian. Dan puji Tuhan, hasilnya lebih dari harapanku. Tuhan selalu menyediakan hal-hal terbaik di waktu yang tepat. Aku merasa dapat hadiah dari Tuhan, mungkin karena aku bisa menjalani hal itu tadi.
Dan sekarang, Kadang aku hampir tidak percaya, aku sudah di semester akhir dan sedang skripsi. Bisa aku melangkah sejauh ini? Yaps! Sure, I can. Aku selalu percaya, di depanku ada Tuhan. Dia yang memberi kesanggupan. Kadang mau mati menghapal anatomi itu, mengerti jalan cerita biokimia dan biomolekuler (ku mohon, keluarkan aku dari kelas!), haha..
Balik lagi dari kata terpanggil. Aku belum terpanggil menjadi dokter, aku sekarang hanya sedang semakin mendekati jawabannya, terpanggil atau aku yang salah mendengar. Tapi untuk segala sesuatunya, tidak ada yang sia-sia.
Skripsi dan koas akan ku hadapi di tahun 2015 ini. Kalo ditanya mendiagnosa, aku belum begitu bisa. Terapi, belum begitu paham. Maulah mungkin semua orang keluhan sakit perut, mual, muntah hanya aku kasih obat antasida trus sok sokan aku suruh endoskopi, haha.. Cuman kata-kata senior, justru di koaslah kalian baru belajar. YA, mungkin bakal lebih paham, lebih ingat, lebih terlatih ketika langsung ketemu dengan pasien.
Ya apapun itu nanti, Tuhan sudah merancangku sebagai apa. Batu besar pun dikeluarkan Tuhan dari dapur magma, pasti ada tujuannya. Apalagi manusia, ya kan? Ya, intinya berusah dan berserah, ora et labora. Gitu.

No comments:

Post a Comment