Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Sunday, 6 December 2015


Sebut saja namanya Tatang (aku ambil namanya ini hasil undian, biar kesannya ga dipilih-pilih, biarlah alam yang menentukan nama samarannya, apaan sih?). Aku ketemu dia pas pada hari pertama aku nge-follow up pasien paru. Aku semangat kali lah pokoknya, masih di awal stase baru, stase ke tigaku, stase paru.
Aku masih ingat dia mengenakan baju kaos putih, aku lupa tulisannya apa, dan celana batik. Dia masih tertidur pulas. Wajar saja, aku follow up itu jam 6an pagi. Aku lupa, entah bapaknya atau ibunya yang menemani disitu. Haduh, antengnya dia terlelap. Mau ngebangunin, tapi kasian sih. Oh ya, untuk informasi, aku pas mau nge-follow up, aku belum baca status pasien dia. Aku cuman tau namanya, itu pun dari papan nama yang tergantung di bawah tempat tidurnya.
"pagi bang, Tatang...", sapaku seraya membuka tirai pembatas antara tempat tidurnya dengan tempat tidur pasien disebelahnya.
Dia terbangun. Entah gimana, aku fokus ke senyumnya. Haduh, aku geregetan.
"Sebentar ya ditensi dulu. Apa keluhannya bang?", aku memakaikan manset di lengan kirinya dan stetoskop ku cantolkan ke telingaku. Aku mulai memompa spigmometer dan mendengar denyut nadinya.
"Cuman agak sesak aja, masih mencret juga..", katanya sambil senyum.
"110/80 yaa.. Normal kok.. Semalam tidurnya nyenyak? Ada demam?", aku terpesona dengan senyumnya. Aku mengecek semua vital sign dia. Setelah selesai, aku pun pergi. Senyumnya kayanya terpatri di hatiku -preet bahasa gua-.
Aku mencari status pasien Tatang. Ya, dia memang terkena Tuberkulosis paru, dan... Sumpah, aku sulit mengatakan diagnosa penyerta penyakitnya Tatang. Otakku pusing, dimana dia bisa kena HIV/AIDS? A calm smile keeps something out of my mind. Oh man, sayang sekali. Apa ya? Kecewa? Iya. Sedih? Iya. Kok bisa? Entahlah.
Aku menuliskan statusnya dan menurunkan obatnya dari Supervisorku. Masih terotak (ga habis pikir.red) kok bisa? Hahahaha...
Keesokan harinya, aku masih tetap follow up dia. Masih tetap salah fokus, fokusku ke senyumnya yang hangat gitu (honestly, i am a "baper" person haha..). Aku cuman kagum sama senyumnya aja kok. Hehe..
Setelah dua hari di rawat, aku tidak menemukan dia lagi. Dia sudah pulang. Kadang-kadang aku menemukan ayahnya datang ke poli untuk menyambung obatnya.
Hemm, mungkin belum terlalu terlambat aku nge-blog tentang si Tatang ini.
HIV/AIDS?
Jujur saja, awal koas, aku paling takut menangani pasien berpenyakit yang satu ini. Tapi lama kelamaan, banyak cerita dibalik HIV/AIDS. Enggak bisa kita men-judge mereka langsung suka "jajan" atau Sex bebas, Pemakai narkoba, suka tindik atau tato. Almost all, emang iya. Tapi, tranfusi darah, penyaluran dari ibu ke anak, bisa jadi penyebabnya.
Gimana ya? Semua penyakit percuma diusahakan sembuh, kalo si penderita udah pasrah (beda pasrah, beda berserah), keluarga pasien ga nyemangatin dan enggak peduli, atau bahkan sekelilingnya menjauh. Cobalah pikirkan? Udahlah sakit, enggak dipeduliin, dijauhi? Fisik udah sakit, jiwa juga jadi lelah.
Mereka, ODHA (Orang Dengan Hiv/Aids) mesti didukung penyembuhannya. Kita, yang sehat ini, enggak tau gimana perasaan mereka.
Pasti selalu dengar "Jauhi penyakitnya, Bukan penderitanya..". Itu sudah pas kok. Just do it, guys.
1st December 2015
WORLD Aids Day

Monday, 16 November 2015

Anak gadisnya yang berumur 10 tahun adalah pasienku, tepatnya pasien ujian post test THT ku. Dia (anak gadis) datang dengan menggunakan masker, maklum saja hidung dan pipinya membengkak, mungkin dia malu. Dia tidak tau apa-apa kecuali menahan sakit dan risih terhadap jaringan yang muncul disekitar hidung dan mulutnya.

Dia cantik, tapi bernapas pun susah. Dia bernapas seperti orang ngorok dan ketika dia bernapas, tulang rusuknya benar-benar terlihat. Sepertinya penyempitan saluran nafas itu membuat dia menderita, sangat menderita. Ngomong pun terbata. Duh, dik, aku kasihan sekali ngelihat kamu.

Dia dikonsul ke poli radiologi, takut-takut dia juga ada TB paru atau udah ada metastase ke paru. Sekali lagi, dia tidak tau apa-apa tentang penyakitnya. Dia cuman tau sakit dan untungnya dia tidak rewel atau takut dengan alat-alat medis itu. Dia ngikutin saja apa perintah kami.

Sebelum difoto, aku iseng bertanya pada mamanya:
"Adeknya ada penurunan berat badan bu?".

"Iya, dulunya dia 25 kg, sekarang 18 kg", jawab mamanya santai.

Aku cuman mengangguk dan bergumam dalam hati, "Mak, lumayan juga ya?"

Tiba-tiba papanya datang dan menunjukkan foto dia waktu kecil, ketika dia TK, "Ini dia waktu TK".

"Astaga tembem banget dianya. Imut gitu..", jawabku spontan sambil mataku membanding dia yang dulu dan sekarang.

Baiklah, sejenak mama dan papanya keluar dan aku berada di ruangan itu. Kira-kira kurang dari 10 menit, foto pun selesai.

Kata temanku, daritadi ketika aku di dalam ruangan bersamanya, papanya dia menangis, bolak balik menghapus air matanya. Memang, aku sudah melihat mata merah agak berlinang air mata, muka lelah, dahi tua yang mengkerut, mungkin memikirkan, apanya sakit gadisku ini?

Padahal di depan kami, dia begitu bahagia menceritakan gadisnya, menggebu-gebu membawa berobat gadisnya, mengalihkan pandangan dengan membaca koran sambil mengelus-elus kepala gadisnya. Apa ya? Directly, i remember my daddy.

Laki-laki, apalagi yang sudah jadi ayah, begitu pandai menyembunyikan rasa sedihnya, sesedih apapun itu. Dia tetap ingin menjadi garda terdepan ketika hal buruk terjadi pada anak-anaknya, tetap menjadi superhero yang tidak terkalahkan, menjadi laki-laki yang tak'kan menyakiti anak gadisnya, agar anak gadisnya pun mengerti harus laki-laki seperti apa untuk dijadikan teman hidup.

Ahh, aku benar-benar terharu dengan papanya dia. Pasti papanya begitu mencintai dia. Kutekankan, pasti.

Tuesday, 27 October 2015

Emang perlu kita sadari, kita itu enggak jauh beda sama namanya kerbau, yang mesti dicambuk biar jalan. Atau seperti kucing yang mesti dipancing sama ikan asin baru mau mendekat.

Why did i say that?

Ini stase ke dua ku, stase THT (Telinga Hidung Tenggorokan). Boleh aku zuzur? Aku dulu agak sepele dengan materi THT. Apaan sih? Yang dipelajari cuman telinga hidung tenggorokan? Ga ngaruh-ngaruh banget kooookk.. Kalo tenggorokkan ga enak, banyak aja minum air putih. Atau kalo lagi batuk, kasih aja antibiotik. Kalo ada asap? Pake aja masker. Atau kalo kuping agak-agak mendengung? Biarin aja, entar sembuh sendiri. SEPELE!

Di stase ini aku benar-benar di-push, i mean, disuruh ngerjain tugas, disuruh nguasai bahan, diresponsi pas bimbingan atau bahkan bakalan di-mop pas salah ngediagnosa pasien. Never mind, dengan begitu akunya bakalan sadar kalo aku belum apa-apa, otakku masih pas-pasan, terlebih aku bukanlah seorang yang tekun banget membaca buku pelajaran.

Teori? Apalah teori kalo praktek nihil. Praktek kerja dilapangan lebih menantangaku jadi terpacu untuk lebih pengen belajar. Dan the push-maker nya adalah supervisor.

Aku bersyukur banger dapat supervisor yang begini. Efeknya positif ke aku pribadi sih, hehehe.. Aku memang tipe orang yang mesti dituntut atau dipaksa untuk melakukan sesuatu hal, kalo enggak aku bakalan hidup seselooow mungkin atau masa bodo dengan suatu hal. Dan pada akhirnya bakalan enggak tau apa-apa. Dengan di-push begini, aku punya pemicu untuk ingin tahu dan ingin tidak disepelekan.

Secapek apapun itu, sepenat apapun itu, sepalak apapun itu, selalu ada celah untuk bersyukur. Puji Tuhan, sejauh ini aku ditempatkan di stase yang memang aku dambakan. Kadang aku ngerasa, aku pengen tapi aku takut dan aku melama-lamakan untuk menjalaninya. Tapi, Tuhan tau kebutuhanku kok. Kemarin aku pengennya masuk stase anastesi, tapi dapatnya stase THT. Aku rasa, Tuhan nyuruh aku untuk lebih bisa ngatur waktu dan memanfaatkan waktu lebih efisien aja.

Intinya, manusia harus di-push untuk mencapai sesuatu. Kalo enggak, hidup lo enggak asik! :D

Sunday, 18 October 2015

Enggak terasa masa koas internaku udah hampir selesai, minggu depan juga mau ujian post test -aku ambil topik malaria. Dan enggak lupa, umur memasuki masa dimana undangan teman-teman sepermainan, menikah. Kok salah fokus? Ah, sudah lupakan.

Mumpung minggu besok adalah minggu terakhirku di interna, aku akan duduk manis di poli nefrologi, poli terakhirku dengan dokter baik, ramah, pintar dan tidak lupa kumis yang membuatnya menggelegar. Beliau adalah gambaran dokter padi, I mean Semakin Berisi Semakin Merunduk. Entahlah, diinspirasi banget. Someday, i wish i will be like him lah, hahaha, tapi dengan cara belajarku yang begini, seemed impossible. Let it flow, maybe.

Beberapa waktu yang lalu, aku ikut beliau visite pasien di ruang HD (Hemodialisa Darah) atau cuci darah. Diruangan itu dipenuhi pasien-pasien yang harus cuci darah, entah itu karena Diabetes Melitus, Glomerulonefritis kronik, yang berujung dengan Penyakit Gagal Ginjal (PGK). Disebut PGK kalo LFG (Laju Filtrasi Glomerular) udah kurang dari 60ml/menit/1,73 m3 dan sudah dalam 3 bulan. Normalnya LFG itu 125-130ml/menit/1,73 m3. Ada beberapa indikasi untuk cuci darah, antara lain LFG nya kurang dari 15ml/menit/1,73m3. Dan frekuensi dari cuci darahnya sendiri tergantung berapa ukuran ginjalnya. Bayangkan 2 buah ginjal mengecil tapi harus menyaring darah yang volumenya sama dengan volume ketika ginjal dalam kondisi normal. Wajib sekali harus cuci darah.

Aku selalu beranggapan kalau pasien sudah masuk ruang hemodialisa adalah orang-orang hebat. semangat hidupnya lebih dari orang-orang normal biasanya. Gimana enggak? Udalah sakit, mesti cuci darah, dan biaya cuci darah bukan murah. Kebanyakan kalau udah begini, pasien-pasien banyak yang give up and let God take them sooner.

"Mereka ini adalah pahlawan keluarga, semangat hidupnya tinggi", kata dokter supervisor itu.

Mengapa pahlawan? Dari diri mereka sendiri, entah apapun itu motivasinya, mereka masih berkeinginan untuk tetap hidup. Oh man! Kadang kita aja sakit sedikit langsung malas mau ngapa-ngapain, terlalu mengikuti maunya badanku. Cobalah? Jujur aja, ketika melihat seperti itu, apalagi orang yang sudah sangat lansia masih bersedia dicuci darahnya, aku merasa tertampar hebat. Aku masih sehat, bugar, dan kuat, aku masih berpangku tangan? 
Aku hidup ini tujuannya untuk apa? Duh! Let's break the world!

This is the machine


 

Wednesday, 30 September 2015

Selamat Pagi Bapak, Ibu.. Apa keluhannya? Udah berapa lama?
Kali ini aku mau cerita tentang masa co-ass (Co Assistant - Asisten dokter). Koas (gini aja tulisannya biar gampang) pertamaku, Interna - Ilmu Penyakit Dalam (nyari lap keringat). Selama koas stase ini, aku akan menganamnesa pasien sebelum masuk poli, berdiri tegak dibelakang dokter ketika dokter spesialis visite pasien, namaku tertera didaftar jaga ruangan, pagi-pagi (paling lambat jam 6 pagi) mesti follow up pasien, mendekati perawat-perawat agar aku bisa nyuri ilmunya kaya pasang infus, ngebolus, skin test, pasang kateter, pasang NGT, dll.  Over all masa koas itu senang, sedikit bangga, kadang-kadang hampir sering menyebalkan.

Awal aku koas ini, paling takut ketemu sama orang TBC dan SIDA (nama lain ODHA), walaupun sudah pake masker double dan handscoon double. Entahlah, mungkin Syndrome takut awal masuk stase interna. Aku masih terlalu awam terhadap penyakit yang masih merajalela di Indonesia itu. Mungkin, kita terlalu mudah mengatakan "yang dijauhi itu penyakitnya, bukan orangnya", prakteknya sulit.

Sejauh ini, sudah beberapa orang yang ku saksikan kepergiannya, dan mereka rata-rata berumur yang sudah sangat lanjut dan dengan penyakit yaaa yang sudah menahun-lah. Kata teman-temanku sih, bawaan badanku itu Folket. Folket itu adalah follow ketat, means pasiennya sedang emergensi atau bahkan dalam fase terminal, jadi perlu di-follow perkembangannya tergantung advice dari dokter jaganya, kadang ada yang per1 jam atau per2 jam. Adalah lucky ketika pasiennya gawat langsung disarankan masuk ICU, ruang ICU masih ada yang kosong dan keluarga pasien menyetujui saran itu. Officially Folket Ga Jadi. Hahaha.. Kadang, banyak pertimbangan keluarga untuk masukkin pasien ke ICU kaya misalnya: Ga ada duit (kebanyakkan gitu) atau udah pasrah dengan kondisinya (ikhlas sajalah). Sejauh ini, aku udah lebih dari 3 kali folket. Kadang mungkin kesal atau kok ya menyedihkan gini nasip aku, bawaan badan kok ya folket? Kok mereka pergi pas aku folket? Sejelek itu apa yaa? Tapi, aku positive thinking aja, mungkin ini jalan Tuhan agar aku terlatih untuk tidak panik atau gugup menangani pasien yang kritis, bisa belajar bicara pada keluarga pasien, dan yaaaaa, semoga setelah aku benar-benar jadi dokter nanti, pasienku jadi sehat-sehat semua. Aminnnnn...
Jaga Malam lah dulu... *kalo ga salah, setelah foto inilah kami follow ketat*
Jadi anak koas itu memang tergantung diri kita, keingintahuan kita gimana, inisiatif kita gimana jalanin koas itu gimana. Ya, ada yang ngejalan koas, asal lewat aja. Ada yang aktif nanya-nanyain keadaan pasien, memantau perkembangannya. Ada yang mangkir dari jadwal jaganya. Ada yang ketika jadwal jaganya udah kelar, dia main-main ke IGD. For you to know, banyak pengalaman di IGD. IGD itu gerbang pertama atau pelayanan primer untuk pasien-pasien darurat yang kemudian diputuskan akan rawat jalan atau rawat inap. Kaya gimana nanganin pasien korban kecelakaan, bayi asfiksian berat, hipertensi urgensi, ibu-ibu mau melahirkan, kejang demam, dan lain-lain. Disamping itu, bisa kita main-main ke poli lain. Ya sekedar ngobrol-ngobrol kasus apa aja yang sering masuk ke situ, supervisornya gimana, dan lain-lain.
Anak Interna kesasar ke Pediatric. Ucok, kamu ganteng badhay banget...
nyusup ke paviliun anak karena ada adek ganteng ini
Pas kita koas juga kita bakalan ketemua kawan-kawan dari fakultas kedokteran lain, nambah-nambah kawan, nambah-nambah kontak Line, nambah-nambah kemungkinan dapat jodoh *lho, kok salah fokus gini? haha..


Selfie halal kok pas koas, apalagi di ruang poli spesialis haha...
Sejauh ini, koas itu bukan hal yang memberat-memberatkan kali, tergantung pembawaan kita aja gimana. Paling kerjaan koas itu jaga ruangan, ngecek pasien baru, tugas, pretest, post test, dan tugas. Kata senior-senior sih, pas udah jadi dokter nanti, masa koas itu bakal dirindukan banget gimana jatuh bangunnya. Tapi enggak perlu diulang.
Abaikan si mata panda ini...
Ngumpulin 100 merek obat untuk tugas akhir, tidak ada  ini, tidak ada ujian..
But first take me a selfie
Akhir bulan itu sah buat anak-anak koas ngumpul di satu rumah kawan,
temu ramah kemudian nutupi uang makan..
We heal your body, We heal you soul, We worship Him.

Saturday, 26 September 2015

Aku percaya, setiap anak perempuan akan menemukan cara dan waktunya tersendiri untuk tumbuh, bersikap dan berpikir layaknya perempuan dewasa yang lebih siap menghadapi dunia. Banyak cara Beliau untuk membentuk kita, anak perempuan, menjadi sosok kuat, berani, tegar, kokoh, mandiri, bertanggung jawab dan bijaksana.

Kalo beberapa tahun lalu aku terus tunduk pada ketakutan dan tidak memberanikan diri dioperasi gigi, aku akan terus jadi pribadi yang penakut dan berakhir dengan penyesalan.

Kalo aku kemarin tidak beranjak dari kesedihan karena harus merelakan hubungan yang teramat ku sayang, aku akan terus bertopang dagu dan merenung, tanpa berpindah. Kini, rasionalku lebih jalan, hatiku lebih kuat.

Kalo aku terus dimanjakan fasilitas, ini dan itu terus ada, mungkin aku tidak akan jadi pribadi yang mandiri dan lebih berinisiatif.

Kalo dulu aku tetap bertumpu pada pengertianku, terus mengikuti kegoyahanku, terus menangisi kegagalanku atas harapan yang tidak tercapai dan aku tidak berjalan bersama Tuhanku, mungkin aku tidak menjadi pribadi yang lebih kokoh.

Kalo hidupku hanya diliputi canda dan tawa, semua keinginanku terpenuhi, mungkin aku tidak jadi pribadi yang lebih bijaksana menghadapi segala hal.

Kalo aku tidak ditegur caraku berjalan, berpakaian, bersikap, dan etika apapun itu, aku tidak akan jadi pribadi yang lebih anggun dan akan terus bertingkah seenak otakku saja.

Kalo aku tidak pernah diberi tanggung jawab dari hal kecil sampai hal yang besar, mungkin aku akan jadi pribadi yang tidak peduli terhadap apapun dan tidak akan jadi sosok yang bertanggung jawab.

Benar sekali kata - kata "hidup itu adalah belajar sampai mati". Untuk menulis surat, menggiling cabai, memotong rambut, mengatur keuangan, mengerti kelelahan pria, menggantikan popok bayi, bahkan memperbaiki aki mobil, kita, perempuan perlu belajar. Untuk segala hal harus kita coba dan pelajari. Jadi perempuan itu harus serba bisa, tahan banting dan tidak mudah. Tapi jadi perempuan adalah anugerah Tuhan yang tidak terganti. Jadilah perempuan yang cerdas dan berguna.

Sunday, 20 September 2015

Dia pelan-pelan mencari masalah
Membarakan apa yang tenang
Marusak apa yang indah
Membuyarkan apa yang rapi

Dia awalnya tidak mau matang
dan bahkan sampai sekarang
Dia diawal saja girang
Kini menciptakan perang

Berusaha membentuk benci
Mengumpulkan kehancuran
Meletakan rasa di tepi
Akan ada jiwa tertekan

Jahat?
Iya.

Monday, 17 August 2015


Resident Medical Officer 
Pemalu, kadang ga tau malu bahkan malu-maluin
Around Cardiologist - Obstetrician - Dermatologist
God's property as your smile maker Est. 1993, 9 months after Valentine Day.
Oldies' devotee. Indie-Country soul.

A part of God's man, soon :)

Saturday, 1 August 2015

Coba buka ini:
1. Mazmur 37 : 1-40:
"Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang;
sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau...dst..."

2. Yeremia 17: 5-8
"Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!
Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.
Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah."

Aku belakangan ini mulai benar-benar merasakan bagaimana kehidupan yang sebenarnya, yang memang keras. Udah berusaha pun, tapi hasilnya ga sesuai harapan. Aku sempat iri, ntah kenapa mereka-mereka yang "kurasa usahanya tidak lebih berat daripadaku", begitu lancar prosesnya, lebih cepat mendapatkan apa yang menjadi tujuan. Faktor "X" apa yang buat mereka selancar itu? Aku salahnya dimana? Apa aku kurang baik ke Tuhan? Apa Tuhan ga lihat usahaku ya? Apa Tuhan ga dengar dan malah berpaling dari anaknya yang sebijik ini? Apa Tuhan ga sayang samaku? Sedih kali lah pokoknya. Tapi aku sekarang sadar, itu adalah pikiran orang yang pikirannya "dibawah orang bodoh". Ya, putus asa.

Lalu, Tuhan mengubah pikiranku.

Waktu itu, aku nangis sejadi-jadinya, mataku bengkak, suaraku sengau. Aku merengek-rengek dalam doa. Mengeluh seperti orang tidak punya pusat kehidupan, Tuhan. Hingga hatiku mengajakku untuk mengambil Alkitab, dekat bantal tidurku, tapi jujur aja masih jarang ku buka. Jahat aku kan? Di saat genting, tersesak begini baru mau dekat sama Tuhan.
Entah gimana, langsung terbukaku ayat-ayat diatas. Aku tambah nangis, terharu. Ditengah kegalauanku itu, aku masih sangat percaya, janji di Alkitab tidak pernah bohong. I got the key.

Entah bagaimana pun cara mereka mendapatkan impiannya, itu urusan mereka. Entah faktor "X" apa yang mempengaruhinya, itu mutlak rezeki mereka. Aku sempat iri hati, mengutuki, dan mengesampingkan -sangat jauh- pekerjaan Tangan Tuhan. Aku berpusat pada manusia, bukan pada Tuhan. Bodoh kan?
Jadi sadar, akunya aja yang salah, kurang berserah, menuntut waktu-waktu yang canangkan, mesti terjadi. Aku disitu salah, sangat salah. Egoisku memang keterlaluan untuk sesuatu yang aku targetkan. Aku lupa, "Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu." (Ams 16: 3).

Setelah ini terlewati, aku sadar, memang cuman Tuhan tempat berpengaharapan. Tuhanlah andalan kita.
That's why in every calling and sharing with mommy, daddy, you and close friends, i was reminded that Praying is the best power ever.
Kalo kita lagi ada masalah, kita sedang diuji agar kita lebih tekun, tahan uji dan berpengharapan terus sama Tuhan. (Roma 5:4).

Friday, 24 July 2015

"Yaudah, istirahatlah kita, besok kau panum jam 8 kan?"

"Okay, selamat malam, weell..."


.........diam sejenak...........


"Wait, aku mau mencoba romantis kali ini.."

"Hahaha, jangan. Aku bisa ga bisa tidur nanti. Kau ga cocok romantis.."

"No..no.. sekali ini dengerin aku..."

"Hahahahahha, No.. aku bisa gugup nanti hahaha...

"I am serious.."

"Hahaha, oke..oke well.. Apa itu?"

"Pernah denger lagu Firehouse yang Here For you?"

"Aku suka itu firehouse, tapi ga semua aku tau lagunya. Yang gimana itu lagunya? yang ku tau I live my life for you aja.."

kemudian dia melantunkan beberapa lirik, dengan suara yang sedikit.. Tak perlulah aku jelaskan mendetail. Yang penting dia bernyanyi, indah.

"Coba aku searching ya.."

"Noo, tidur aja kita dulu. udah malam kali. kau besok telat panum pula.."

"Oke..oke aku cari wi-fi dulu untuk download itu lagu.."

................percakapanpun berhenti.

Emang dasar aku sedikit keras kepala, aku cari liriknya, aku suka dan akhirnya aku hampir telat panum dikeesokan harinya :)

"And you know you've found someone that caresAnd if you ever need somebody to help you outWell you know I will always be there..."

Tuesday, 14 July 2015

Amsal 3:6
Akuilah Dia dalam segala lakumu,
maka Ia akan meluruskan jalanmu

Hei night, don't you know I am so blessed? Aku belum tidur karena masih kepikiran, aku bisa sampai didetik ini dan udah dapat gelar S.Ked? Pasti, tanpa Tuhan Yesus yang super duper hebat, orangtua yang pol-polan nyemangatinnya, adek-adekku yang selalu punya cara untuk membangkitkan semangatku, teman-teman yang entah darimana saja datangnya bisa nyemangatin aku. Sure, tanpa kalian, aku cuman kaleng-kaleng nyaring bunyi tangisnya, terlempar sana-sini dan hampir nyerah ngadepin dosen pembimbing dan segala prosesnya. Gimana galaunya aku waktu dosen pembumbingku bolak-balik pergi ke luar kota, pembimbingku ngurus kasus jatuhnya pesawat air asia dan pesawat angkata udara kemarin, dan segalanya. Hampir nyerah, bolak-balik beberapa kali dipanggil mau sidang, tapi batal karena kesibukkan mereka. Semua ini terjadi hari Selasa, tanggal 7 bulan July 2015

Amsal 17:17
Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu,
dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran

Di sini aku mau ngucapin makasihku buat orang-orang yang tak terucap. Baca ya, mungkin nama kalian ada di sini:
1. Sebut saja namanya Bawel. 
Dia, laki-laki yang ribut kali kalo aku lupa makan atau tidur subuh karena ngerjain skripsi, Contohnya gini:

Aku: iyaaa, jam 1 aku tidur yaa. Nanggung ngolah datanya. Kau tidur duluanlah, besokkan kerja.
Bawel: janji? Lapor yaa..
Aku: iya aku janji..
*Kemudian, jam 1 dia nelpon*
Bawel: kok belum tidur? Tadi udah janji..
Aku: sorry well, tinggal dikit lagi kok. Ini udah 120an data kok..
Bawel: dari berapa?
Aku: deadline, besok mesti kasih ke dosen. 154 kasus hehehehehe..
Bawel: ya ya diampuni. awas kau sakit, istirahat dulu. Jangan dipaksain.
*begitulah seterusnya*

Waktu galau-galaunya aku sama dosen, sumpah ini lebih galau dari diputusin pacar, sampai bengkak mata dan hidung mampet. Kemudian dia nelpon, ketahuan suara kodok. Dia bela-belain datang tengah malam, cuman untuk nyemangatin cewek yang gayanya preman tapi sering kali mudah patah semangat. Yaps, he was there when I felt so down. Gimana aku mau sidang, malah dia yang degdegan, gimana dia nyemangatinnya serius kali, gimana dia khawatir aku sakit karena apapun itu. Thankyou ya, bawel. Cerewet sih, tapi itu memang ku butuhkan kali disaat-saat seperti ini.

2. Somebody
Seseorang yang membuat aku percaya tentang kalimat "show must go on" di kehidupanku. Faktor yang membuktian kalimat yang pernah dia bilang ke aku, "aku wanita yang kuat". Sekian.

3. Upay (udik payah)
Personilnya: 
1. hokage jadi-jadian: bang Peter Sitompul, bang Haposan Simatupang, bang Alex Sihaloho, bang Bram Simanungkalit.
2. Junior sangat upay: Rohadi, Alfian, Pratiwi, Ome, Merilin, Ica, Leli.
Sekelompok manusia yang entah apa namanya. Kalian itu kocak weeee! Ini ya, pas aku lagi nulis ini, aku rindu kalian. Duh, tempat awak mengadu sejadi-jadinya, walaupun kadang percuma, ga dapar solusi tapi malah dibully. Aku bahagia kalo kalian bahagia. Terimakasih weeee!!

4. Pesongers (yaa pesong, pesonglah pokoknya)
Personilnya: flo, aryo, alfian, ame, icak, tere, prina, sondang
Kelompok kacau, seru, dan kadang-kadang bikin palak. Entah weee, makasihh banyak udah nolongin itu dan ini. Gilak kalian, gilaaaaak!!

5. Siska
Khusus point aku tujukan sama kawan sedopingku. Gimana jatuh bangun. Gimana sama-sama jatuh terus tolong-tolongan untuk bangun. Gimana senangnya besok sidang terus malamnya nyari makanan dosen pas hujan-hujan, hidup emang keras. Gimana nangis pas dosen pergi ketika waktu udah mepet. Finally, kita sidang juga. Praise The Lord kali.

6. Spicy Girl (ga berarti cabe-cabean yaa)
Personilnya: eva, cs, yenni, tika, anggota timbul tenggelam, maria.
Speechless sama kalian. Semangat kalian itu woi, doa kalian itu woi, Kalo curhat ke mahkluk-makhluk ini, banyakkan ga dapat solusi, tapi dapat ngakaknya. Setidaknya mereka bisa mengubah moodku. makasih kali woi.

7. Adiguners (kawan sekostan)
Personilnya: esna, fitri, karina
Kalian yang tahu pertama kali, gimana senangnya aku pas di-acc dosen dan kalian yang tahu gimana gilaknya aku pas aku pulang dari tempat dosen tanpa mendapatkan apa-apa. Terus, paling sering terlontar dari kalian"sabar pi, semangat ya.."

8. Grup bbm "Doping 1nya dr. Surjit"
Personilnya: siska, mona, iwan, angel, veny, hisar.
Backsound yang cocok untuk kita "Tetes air mata, mengalir disela gelak tawa.. Selamanya kita, tak akan berhenti mengejar, matahari.."

9. Banyaklah teman-teman, tak tersebut namanya ini: bang amsal, aaron, indra wawan, agnes, agustri, manda, nona, guntur, fandri, jonny, jenny, tio, elvis, remy, hizkia, rama, valdo, jimmy, andri, you, you, you and all of you..
Aku sadar, kebanyakkan temanku bukan orang yang terlalu serius, banyak konyolnya, banyak becandanya. But, honestly, disini aku tahu mana kawan sekedar kawan, mana ga.

10. Kak Ella
Kakak ini yang selalu ku tanyain, entahlah aku lebih-lebih dari wartawan, sukanya maksa,ngotot kalo ngomong sama kakak itu, sampai-sampai kadang buat kakak itu naik darah dan kakak itu sampai tanda samaku. Hahaha.. Waktu dosen ga bisa sidang, aku merepet-merepet sama kakak ini. Ya Ampuuun, maafin daku kakak.Ella. Aku ga akan menghantui kakak lagi kok. Makasii kakak Ella, maafin aku yang udah suka cerewet ke kakak. Maklumlah kak, jiwa mahasiswa tahun terakhir emang gitu. Tapi cukup kan kak kue Amanda nya? Atau ku kirim lagi lah nanti? Hahaha...

11. Kepala ruangan dan PPDS Forensik Ketjeh!
They are: dr. Desi Harianja, Sp.F dr.Nasip Situmorang, dr. Doaris Marbun, dr Monang Siahaan, dr.Rita. Meeeen! Mereka tidak seseram spesialis mereka. Mereka itu baik, welcome banget waktu aku ambil data di sana. Sharing kehidupan rumah sakit, ngasih pelajaran dengan suka rela, ngasih referensi dengan tangan terbuka. Walaupun cuman 2 minggu aku bolak-balik ke sana, aku ngerasa punya lingkungan yang baru, yang baik. Duh, semoga cepat-cepat kakak abang mendapatkan gelar Sp,F nya yaaa.. Manatau adekmu ini mau ambil itu juga, hehehe...

12. Bang Tigor, bang Munter, bapak penjaga kamar mayat (ga tau namanya) dan Tulang (ga tau namanya juga, pokoknya dipanggil tulang, gitu)
Seperangkat orang yang berjasa membuatkanku surat balasan, membukakan kamar rekam medis, bela-belain nungguin aku ngecek data. Maaf yaaa, aku ngerepotin kalian,hehehe..

13. yang benar-benar tak tersebutkan
Kak rajmi dan abang-abang yang ngurus slide waktu aku sidang.
kakak-kakak perawatnya dr.Surjit di praktek, selalu legowo ngelihat kami bolak-balik nganter revisi, hahaha.. kadang jadi kawan cerita juga.
Supirnya dr. Surjit Singh, Bapakke baik banget yak, ramah pulak. 
abang-abang tukang parkir RSUP Pirngadi, 
abang-abang tukang fotocopi dan ngejilid proposal dan skripsi, 
kakak-kakak yang di Indomaret yang udah kenal akrab karena aku sering beli cemilan untuk ngerjain skripsi, 
kakak-kakak tukang jual pulsa yang selalu mendadak aku datang karena mau nelpon dosen pembimbing. Pokoknya, semua-semua-semua-semua-semua-semuanyaaaaa..
Mauliate Godang!

Ya, seperti kata-kata orang, lulus dari perkuliahan bukan berarti akhir dari segalanya, telah puas karena selesai dari segala kewajiban. Big No! Ini adalah awal untuk berdiri sendiri, mengupayakan hal yang terbaik dari diri sendiri. Berdoa, Berusaha dan Berserah adalah kunci utama. Segala pekerjaan lakukan layaknya untuk Tuhan, dan selalu bawa Tuhan dalam pekerjaan kita. Semoga, segala yang terbaik melingkupi langkah kita. 

Amsal 3: 9
Muliakanlah Tuhan dengan hartamu
dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu

Monday, 29 June 2015

Aku sadar, aku belum pantas dilamar...
Jangan ketawa ya.

Jujur aja, kadang pagi-pagi aku sengaja memanjangkan jam tidurku semalam, entah karena ngerjain tugas atau kelamaan lihat onlineshop atau sekedar nonton film Korea. Kemudian aku melupakan merapikan tempat tidurku. Aku langsung loncat ke kamar mandi dan siap-siap ke kampus. Pasti, kalau aku begitu padamu sekarang, aku tidak merapikan tempat tidur, membuatkanmu sarapan dan mengantarmu pergi kerja, mungkin sebulan pernikahan kita, akan terbesit dipikiranmu untuk mengembalikan aku pada orangtuaku. Jangan sampai! Membayangkannya saja aku merinding.

Aku masih ingin bebas. Entah itu jalan-jalan dengan teman-temanku sampai malam, dimana seharusnya aku menyiapkan makan malammu. Atau aku masih ingin menimba ilmu, dimana seharusnya aku lebih fokus pada pertumbuhan anak kita.
Aku berjanji, aku sadar kamu adalah sosok yang perlu aku semangati, aku mengerti dan aku layani, agar kamu merasa lega ketika pulang ke rumah, menanggalkan segala kericuhan otakmu karena pekerjaan. Aku, wanitamu yang akan menjadi garda terdepan untuk tempat peraduanmu. Tapi, itu bukan sekarang.
Aku sadar, ovum-ovumku akan semakin menua, dan kita perlu punya anak-anak lucu, untuk investasi keabadian di masa tua. Tapi, Aku belum siap untuk mengorbankan waktuku dengan kerewelan mereka, aku belum pintar memandikan bayi, aku belum siap mengasah kesabaranku ketika mengajar mereka belajar membaca. Aku belum siap. Aku pribadi pun ingin sekali menjadi ibu terhebat mereka, tempat mereka bersandar, belajar, mengadu dan menjadi apapun yang mereka butuhkan. Aku tidak mau mengecewakan mereka, apalagi kamu.

Mengenai dapur, tempat ter-sensitif untuk kamu dan anak-anak kita nanti. Aku buka-bukaan aja yaa..
Aku mengiris bawang saja masih tebal-tebal. Menggeprok kunyit saja masih kadang kunyitnya loncat kemana-mana. Aku aja bingung apakah daun seledri sama dengan daun sop? Atau ga, membedakan antara jahe dan lengkuas aja kadang masih silap. Gimana bisa aku meyakinkan mamamu bahwa aku bisa memasak masakan kesukaan kalian, menjaga gizi kalian, dan membuat kalian rindu akan masakan rumah? Tenang, aku pun tahu cara membahagiakan pria yang paling utama dengan memasak makanan kesukaannya.

Sabar ya, aku masih belajar untuk membahagiakan kalian.

Friday, 12 June 2015

Bagaimana Penghapusku menghapusmu, jelas kamu tidak ada lagi, walau ada bekasnya. Tapi aku telah menulis kalimat yang baru di tempat yang sama, di tempat kamu pernah menulis. bagaimanalah, tempatnya cuman satu. cuman satu.

Tempatnya cuman satu, di satu relung yang memang disiapkan untuk siapapun orang yang tidak ku kenal sebelumnya, untuk cuman singgah atau mendiaminya selamanya.

Memang tidak ada tempat lagi untukmu. Apa kamu mau menyalahkanku? Silahkan. Tapi, apa salah aku melindungi tempatku itu? Salah aku memperbolehkan orang lain masuk dan memang dia membahagiakan aku?

Karena yang ku tahu, tempat itu hanya didiami oleh orang yang bisa membuatku bahagia. Hehehe...

Jangan datang lagi ya, percuma. Palingan kamu cuman bisa mengetuknya lagi, lalu diam berdiri termangu. Perasaanku bilang, kamu akan merenung di situ. Mungkin ini yang kamu renungkan, Kenapa harus ku ketuk lagi pintu ini? Padahal aku dulu sudah memelihara cinta didalamnya? 
Kalo perasaan ku ini salah, maaf ya..


Kini, di dalamnya sudah ada yang mendiami relungku, tempat terbahagia itu. Aku tidak menjagokannya, tapi aku rasa lebih nyaman bersamanya dan aku bisa bersyukur pada Tuhanku atas sosok kirimanNya ini. Kepergianmu menyadarkanku bahwa Tuhan tidak membiarkanku tergeletak lemas di tengah gurun. Kurasa tidak berlebihan aku menyebut dia Oasis kehidupanku sekarang. Dia adalah salah satu Oasis canda tawa, Sumber nasehat, Lumbung semangat.

Aku tidak berani menjanjikan apakah dia tidak akan keluar seperti yang kamu lakukan. Dia pun sama seperti kamu, lelaki, yang kadang murah bosan dan buru-buru pindah entah kemana. Ku sarankan, hati-hati dengan sifat kalian yang satu itu.

Aku tidak berani mendeklarasikan dia akan selalu membahagiakanku. Toh, kata orang, berani jatuh cinta, berani patah hati. Begitulah yang harus dirasa sebelum sampai menemukan seseorang terkunci di dalamnya.

Friday, 5 June 2015

"Masuk gih, asap dimana-mana itu", perintahnya kepada Ros, di sore hampir malam. Waktu itu, Poltak sedang mengajak kawan-kawannya dan Ros untuk ikut bbq-an di rumahnya. Tidak banyak yang dipanggang, cukuplah untuk perut, kira-kira 20 orang.
Ros tetap duduk di depan bara arang dan asap benar-benar merubah aroma harum rambutnya, yang tadi beraroma aloe vera, kini jadi ga jauh beda dengan bau asap sepeda motor.

"Si Poltak ini.. seakan-akan hidungku tidak punya bulu untuk menyaring asap panggangan", gerutu Ros dalam hatinya sambil menghalau asap yang mencoba masuk ke dalam pernapasannya.

"Hemmm, gapapa lhoo. Daripada aku di dalam rumah sendirian. Zzzz..", Ros masih menghalau asap-asap itu.

Poltak hanya melihat Ros dan menggeleng-gelengkan kepala. Ros tetap menatap kawan-kawan Poltak yang bermain bara api, seolah-olah mereka sedang beratraksi debus. Entah bagaimana, Poltak yang tadi menyuruh Ros untuk menghindari asap, dia malah mendekati asap dan ikut atraksi debus tadi. Ros hanya menatap dari kejauhan, menunggu kapan bara api itu mengenai Poltak. Paling ujung-ujungnya, Poltak melapor ke Ros. LAKIK!


Ya benar, tak perlu lama menunggu, lengan Poltak terkena bara api, dan kira-kira itu adalah luka bakar level 1.

"Wadooooh", teriak Poltak yang membuyarkan lamunan Ros. Ros anteng, tidak bergerak, tidak berinisiatif apa-apa.


"Rosss, tolongin..", Poltak memohon dari kejauhan.

"Bodooo amaaaattt..", Ros beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke dalam rumah.

Sementara kawan-kawan Poltak masih asik bermain bara api. Seolah-olah bara api adalah mainan. Entahlah LAKIK! Entah, bakal jam berapa lagi semua ayam dan ikan akan matang. Poltak merapat ke sebuah bale-bale di teras rumah sambil menghembuskan lukanya itu.

"Makanyaaa, jangan sok jago, kau anak muda, terbakar kan? Bandel sih..", ucap Ros yang membawa sebaskom air es dan kain lap berwarna kuning.

"Kok pake kain lap dapur sih?", Poltak protes.

"Mau pake apa aja boleh, asal bersih. Ini kan belum dipake untuk ngelap apa-apa toh? Masih bersih. Kalo kotor, bisa infeksilah lukamu. Ga lah aku bodoh-bodoh kali", jelas Ros yang mulai memeras kain itu. Poltak tersenyum malu dan meringis menahan sakit. Dia masih menghembus-hembuskan lukanya itu.

"Aaaawww.. Pelan-pelanlah Ross. Kau ibu dokter tapi gitu banget nekannya. Pedih lhoo..", muka Poltak memerah menahan sakit.

"Makanya jangan bandel. Tadi sok-sok nyuruh aku masuk ke dalam rumah karena asap. Tapi kau sendiri mendekati asap. Yaelaaaahh, enak kan?". Ros semakin menekan pas dibagian lukanya itu.

"Duuhh, pelan-pelan lhoo..."

"Kesal akuu. Kau kan jadi sakit begini"

"Kesal sih kesal, ini pedih lhooo.."

"Biarkan! Aturannya bisa senang-senang kita tadi..",tiba-tiba hati Poltak berdegup kencang. Hahaha, jelas saja tidak ada korelasi antara penekanan luka dengan peningkatan kecepatan degup jantung. Kalaupun mau ada infeksi atau sepsis, pasti udah terjadi dari awal. *maaaf, maaf, aku kok berasa lagi tutorial ~ kangeeen*

"Takut banget aku sakit..", suara Poltak mendadak biasa, tidak meringis seperti awal dia sakit tadi.

"Yaiyalah, kau kan kawanku. Kau juga yang punya acara ini..", Ros masih fokus mengelap lukanya Poltak.

"Sh*t! Teman? Friendzone!", Poltak merasa sial mendengar ucapan si Ros. Padahal, udah niat banget dia ngucapin perasaannya malam ini, Yaaaaaa...Walaupun rada takut.

Ros masih serius membasuh luka Poltak, manatau ada bagian yang kotor yang tersisa. Entah bagaimana, mendadak mulut Poltak sangat-sangat "out of control"

"Ros..", getaran suara Poltak yang merambata di udara, sangat pelan.

"Hem, iya? Mau protes apa lagi? Apalagi yang sakit?", jawab Ros sambil mengembuskan luka Poltak.

Poltak terhenyak, seperti baru melihat hantu. Dia mendadak sadar,

"Jangan sekarang!", perintah langsung dari hatinya.

"Apalagi sih Pol? Kok diem?", Ros mengarahkan pandangannya ke wajah Poltak. Wajah Poltak tidak memerah, cuman tatapan Poltak yang entah kemana, mencari fokus lain supaya mata tidak mata.

"Mau kamu jadi bu dokterku?", kini bola mata Poltak tidak bisa diatur. Poltak benar-benar menatap Ros, tapi Ros keburu menunduk dan menghembus luka Poltak.

"Halaaaah, baru segini aja pun udah lebay. Aku belum jadi dokter lhoo..", Ros membereskan kain lap dan segalanya tadi,"Udah mendingan kan? Entar kita beli salep ya, biar cepat sembuh lukamu itu.."

"Ros..", Poltak menahan tangan Ros ketika hendak mau masuk ke dalam. Benar-benar seperti FTV.

"Iya, ada apa?", Ros meletakkan baskom air tadi.

"Maksudku, ya jadi dokter dalam segala hal. Apalagi yang memelihara kesehatanku, yang ngomelin aku kalo aku lalai atau bandal atau keras kepala sekali pun.."

"Pol? Otakmu kenapa? Tadi kena api ya?", Ros memeriksa kepala Poltak. Tidak ada bekas terbakar kok.

"Ya Tuhaaaaan, Kau ini pura-pura bodoh atau beneran bodoh sih?", kesal Poltak sambil meluruskan tangannya yang terbakar tadi.

"Lah kau kalo ngomong ya to the point aja kali. Bertele-tele banget.."

"Hahahaha...", sontak Poltak tiba-tiba tertawa lepas.

"Anything funny, lek?", Ros menaikkan satu alisnya.

"Aku sayang samamu.", Poltak langsung mendiamkan dirinya, mengatur nafas untuk mengatakan 3 kata tadi.

"Hahahahaha..."

"Kok gantian ketawa? Ketawamu mingkem dikit deh. Kau itu cewek!!", Poltak terheran.

"Hahahaha, oke oke..", Ros tertawa sambil menutup mulutnya,

"Eh ga usah deh, lebih lucu yang tadi.. Aku lebih suka ketawamu yang tadi", Poltak senyum-senyum seraya menggaruk kepalanya padahal sama sekali ga gatal.

"Hahahahahahaha..", Ros masih lanjut tertawa.

"Hahahahaha...", Poltak juga ikut tertawa. Entahlah, aku penulis juga bingung kenapa percakapan ini cuman ketawa aja.

"Aku juga sayang samamu...", Ros menutup mulutnya yang tadinya ketawa dan tanpa sadar mengeluarkan kata-kata itu.

"Pardon me?", Poltak pura-pura tidak mendengar dan mengarahkan telinganya ke arah Ros.

"Nothing. Aku kebelakang dulu.."

"Kau juga sayang samaku kan? Hayo ngakuuu..."

"Nah itu dengar. Tadi pura-pura enggak dengar kau yaaaaa...", Ros menepuk luka Poltak tadi.

"Duh, sakit!"

"Makanya enggak usah sok-sok ga dengar.."

"Hahaha, iyaaa... So?"

"Hahaha, maybe I love you..", Ros mengangkat bahunya, gugup.

"Seeeeeh, udah pinter ngomong I love you diaa..."

"Tak, kau kapan seriusnya sih?"

"Sekarang!"

"Yaudah... Jalanin aja..."

"Jalan kemana kita?"

"Ke hatiku dan hatimu.."

"Sumpah, kau alay Ros..", Poltak mengalihkan pandangannya ke arah teman-temannya.

Ros beranjak dari kursi itu dan mengambil tas selempangnya..

"Aku pulang yaaaaa..."

"Kenapa? Janganlah, belum siap acara kita..."

"Hahaha, serius banget. Aku kan becanda.."

"Okay sayang, bagaimanapun aku ingin selalu membuatmu, tertawa...", Poltak berdiri.

"Yeeeeelaaaah, I wait..", singkat Ros.

Wednesday, 3 June 2015


Ray: "Aku rindu, menunggu esok terlalu lama. nanti sore pulang kerja aku mampir ke kostmu ya.."

Dee: "Ya ampun, nanti kau kecapekan..."

Ray: "Lebih capek lagi kalo memendam rindu.."

Dee: "Hehehe... Iya iyaaa deh.."

Ray: "Nanti sore mau nitip sesuatu?" 

Dee: "Apaan ya? Ga usah deh.."

Ray: "Jadi kita ngobrol di depan kost tanpa ada cemilan? Nanti kurus pula kau..."

Dee: "Terusssss ajaa kau ledek akuu ya Ray.. Hahahaha..."

Ray: "Hahahaha, kan kasian kaunya. Kau ini diperhatiin, malah begituuu.."

Dee: "Hemm.. Iya iyaa... Aku titip apaan ya? Perutku masih kenyang, tadi makan besar soalnya.. Hahaha.."

Ray: "Halah, nanti laper lagi itu..."

Dee: "Yaudah aku titip susu Ultramilk..."

Ray: "Hahaha, susu bah.. Yang mana? Yang low fat? Hahaha..."

Dee: "Yeee, mana ada yang low fat. itu kan yang Frisian flag sihh.."

Ray: "Tau akuu, becanda lhooo..."

Dee: "Heeeeh, dasaaaar.. Aku titip rasa coklat yaaa.."

Ray: "Oke deh ndutttt. Setengah jam lagi aku ke kostmu yaa..."

Dee: "Okayy.. Take care yaa.."

Setengah jam kemudian, Ray sampai di depan kost Dee lalu menelpon Dee. Dee pun keluar.

Dee: "Hai!"


Ray: "Hai"

Dee: "Yuk masuk, duduk di teras situ yukk"

Ray: "Ini titipanmu..", cuman tersenyum lalu duduk di teras rumah ibu kostnya Dee.

Dee: "Wah makasih banyak yaa.. Lho, kau beli jus juga?"

Ray: "Iya, agak migrain sih tadi.."

Dee: "Nah kan udah ku bilang jogaal (bahasa batak = Keras kepala dalam bahasa Indonesia)


Ray: "Udah denger alasan ku tadi kan?"

Dee: "Iya iyaa bawel.. Aku minum yaa.." Dee menyucukkan susu kotak itu dengan pipet lalu meminumnya.

Ray: "Huaaaah, capek banget seminggu ini. Banyak banget kerjaan. Hoalaaah.."

Dee: "Iya, daripada ga ada kerjaan? hayoooo..."

Ray sekali-sekali mencuri pandang ke Dee. Ray menjelaskan seminggu tanpa ketemu Dee karena mereka berdua sama-sama sibuk. hingga akhirnya Ray menyucukkan jus kesukaannya dan meminumnya.

Dee: "Eh, wait..", Dee memperhatikan apa yang dia minum dan apa yang diminum Ray.

Ray: "Kenapa emang?"

Dee: "Hahaha..."

Ray: "Eh, kok ketawa?"

Dee: "Dimana-mana, cewek yang minum jus dan cowok yang minum susu..."

Ray memperhatikan minuman mereka berdua. Ray tersenyum kecut, baru menyadari.

Ray: "Hahaha, sini-sini tukerrr..."

Dee: "Yee, ngapain? Punyaku juga udah mau habis..."

Ray: "Ah, bodo amat deh.."

Dee: "Hahaha..


Ray: "Iya pula yaa, minumanku jus jambu, pink pula kotaknya, minumanmu susu coklat yaa.. Lakik banget.."

Dee: "Iya terbalik yaaa.. Ckckck..Hahaha..."

Ray: "Yah ngakak dia. Yah, ngeledek dia..".

Dee: "Hahaha, lucu aja lhoo.."

Ray: "Ya, yang penting aku ga sayang sama cowok kok..." Ray mengacak-acak rambut Dee sangkin gemasnya.

Dee: "Lah kalo sama cowok, parah lah..."

Ray: "Ya makanya aku sayang samamu. aku kan ga homo.."

Dee hampir tersedak ketika menelan seruput minuman terakhir. Hampir dia mengalami aspirasi benda cair.

Ray: "Heh! Sempat tadi mulutmu penuh, tersembur lah itu.."

Dee: "Hehehe, maaff. I try to be calm yaaa.."

Ray: "Cobalah. Aku bikin stopwatch sampai berapa lama sih kau bertahan untuk kalem?"

Dee: "Hahahaha..."

Setelah itu memang nyatanya Dee tidak bisa kalem dan Ray suka itu. Mereka berdua ketawa ketiwi sampai matahari menyelesaikan tugasnya hari ini. :)

Saturday, 30 May 2015


Seperti biasa, aku Ibadah sore dengan beberapa kawanku. Aku siap-siap, padahal jam sudah menunjukkan pukul empat kurang sepuluh menit, tapi aku masih santai mengeringkan rambutku dengan kipas. Aku jarang sekali memakai hairdryer untuk mengeringkan rambutku, karena bagiku panas dari hairdryer itu benar-benar mengeringkan rambut sampai ke akar-akarnya, akhirnya terlihat seperti ijuk serta mudah rontok dan ngembang, membuat mukaku jadi kelihatan bulat sekali. Duh, itu benar-benar failed dan bad hair day buatku. Aku memakai hairdryer kalo emang udah waktu yang mepet banget. Kalo masih ada waktu, mending mengeringkannya pakai kipas atau bela-belain tangan pegal ngipasin rambut pakai Koran.

Hari ini, aku memilih memakai kebaya kutu baru yang baru sampai seminggu yang lalu dan dipadupadankan dengan rok span hitam, warna sejuta gaya. Ya, dengan dandanan yang ala kadarnya: pelembab Pond’s + Lipstick IShine nomor 9 “Rose Corail” yang berwarna lembut + Eyeline MyDarling (sungguh formasi yang tidak pernah ku ganti-ganti, kecuali merek lipstick) aku bergegas ke Gereja, bertemu Kekasih Hatiku. Tapi sebelumnya aku harus menjemput temanku itu.

Mengarahkan pandangan ke arah jam tangan, kami menginjakkan gas ke Gereja yang biasa kami datangi setiap hari Minggu. Mungkin, hanya cewek Medan yang mengerti bagaimana caranya mengendarai motor dengan kecepatan “agak” tinggi ketika menggunakan rok span dan sepatu higheels. Ditambah lagi kemacetan di Medan yang malesin dengan angkot yang sesuka hatinya ngetem, what a complex day deh! Dan sore itu, aku wajib berperilaku seperti itu.

Mau marah enggak bisa, karena ini memang kesalahan kami, lupa kalau Minggu ini tidak ada ibadah sore jam setengah 5. Minggu ini ada acara apaaa gitu di Gereja, aku pun lupa. Ya sudah, kami memilih Ibadah di Gereja yang lain, yang kebetulan mulai Ibadahnya itu jam 5 sore. Kami memutuskan untuk ibadah di sana.

Jam lima kurang sepuluh menit, kami sampai di sana. Kami mendapati Gereja sudah mulai penuh oleh remaja dan anak kuliahan seperti kami. Kami pun masuk dan seperti biasa, kami memilih bangku ke 5 dari depan, lalu melakukan tata ibadah seperti biasa, diawali dengan Saat Teduh. Setelah itu ya mencari ayat khotbah yang dipilih untuk ibadah Minggu ini. Saat itu, bangku tepat di belakang kami masih kosong. Ketika ibadah hampir dimulai, beberapa orang memenuhi bangku tersebut, tapi aku tidak terlalu memperhatikan siapa, sampai ibadah selesai.

Ibadah pun selesai, sesi Salam Selamat Hari Minggu di mulai. Tapi mungkin karena alasan tidak kenal, atau segan untuk bersalaman, aku tidak menyalam orang yang duduk dibelakangku tadi. Aku hanya sepintas melihat wajahnya, dan kemudian dia pergi.

Sudah malam, aku dan kawan-kawanku lapar. Kami bergegas ke McD (maklum bulan muda). Aku mau memesan duluan. Aku mengambil dompet dari tas kecilku. Dan, aku menemukan secarik kertas kira-kira berukuran 8x11 cm (barusan beneran aku ukur, hahahaha..), terselip di dekat dompetku. Aku kira ntah struk belanja apaaa gitu, aku berniat langsung buang. Tapi setelah ku lihat, tulisannya bukan tulisan mesin. “Ini tulisan tangan..”, pikirku. Isinya sebuah nama, nomor handphone, akun instagram dan pin BB. Entah siapa ini. “Kurang kerjaan.. ibadah pun masih sempat-sempatnya buat begini..” ucapku lagi dalam hati.

“Wei? Lihatlah. Siapalah yang punya kerjaan ini..”, langsung aku kasih tahu sama Lala, kawanku. Kawanku langsung ambil kertas itu dan membacanya.

“Hahahaha, dimana kau dapat?”, Lala tertawa.

“Mbooh. Aku dapat di tas pas mau ambil dompet.”

“Apaa itu wei?”, kawanku si Risa mengambil kertas itu dari Lala.

“Ga tau aku nemu pas ambil dompet. Aku apain lah itu?”

“Ah, naksir dia samamu ini…”, celetuk Risa.

“Masih ada ya jaman sekarang nulis nama dan nomor di kertas terus masukkin ke dalam tas..”, komentar Lala sambl mengaktifkan handphonenya.

“Entah, aneh-aneh aja..”, aku mengangkat bahuku.

“Kau lihat tadi siapa yang duduk dibelakangmu tadi?”, Lala nanya sambil melihat menu yang terpampang di atas kepala kasir tapi malas bergerak ke meja order karena ngantrinya panjang bener.

“Enggak sih sepintas aja. Yang ku tahu dia berkacamata. Tapi ngapai coba dia bikin begini, sepenglihatanku, tadi dia sama cewek sih..”, aku juga masih melihat menu, memilih yang mana yang pas.

“Hahahahaha…”, dua kawanku yang tepat berada di depanku ini, tertawa berbarengan. Entah memang merasa lucu atau mengejek aku.

“Ku apain lah?”, tanyaku memberhentikan tawa mereka berdua.

“Coba kau searching Instagramnya..”, Lala member saran dan kemudian pergi memesan makanan, si Risa juga mengikutinya dari belakang.

Aku pun langsung men-searching akun yang tertulis di kertas itu. Loading lama membuat aku semakin penasaran, siapa dia. Beberapa kali gagal karena jaringan yang lelet sekali. Finally, muncullah sebuah foto close up bernuansa black and white dan dia berkacamata. Ya, memang ada akun bernama “@pa…….” lalu aku lihat isi instagramnya. Foto-foto didalamnya sepertinya memang orang yang sepintas terlihatku yang duduk di belakangku tadi. Aku lihat dia sepertinya sudah bekerja.

Kemudian aku mendapati satu foto yang kurasa aku kenal, tapi wajah itu tidak mendominasi isi instragram. Aku membaca caption-nya. Itu foto tentang adiknya ulangtahun. Di foto itu, adiknya memakai baju berwarna orange kebanggaan Fakultas Teknik di salah satu universitas di Medan (udah ketebaklah yakan?). Dan aku tahu siapa adiknya itu, dia adalah mantan pacar kawan kuliahku.

“Woi, dunia ini sempit..”, ucapku mendadak.

“Apaan?”, Risa menjawab aku dengan kondisi mulut penuh cheese burger.

“Ini adiknya. Ini mantannya Vinny..”, jelasku.

“Vinny kelasmu? Kawan kostmu?”, tanya Lala, karena kami sesungguhnya beda kelas.

“Iya.. wait aku tanya bentar sama Vinny”, aku langsung ambil bbmku dan menghubungin Vinny.

“Vin, selamat hari Minggu…”, aku sapa dia.

“Iya Nop, selamat Hari Minggu juga..”

“Vinny, si Pedro punya abang namanya Dion ya?”

“Iya, kenapa? Dia pdkt samamu? Hahahaha..”

Aku menceritakan kejadian itu semua, dan Vinny kebanyakkan ketawanya. Merasa lucu dengan kondisi aku sekarang. Diajak kenalan melewati kertas, tanpa bersalaman selamat Hari Minggu. Kalau dia memang ingin kenalan, dia seharusnya berinisiatif dan gentle untuk memulai pembicaraan, walau hanya dengan,”Hai! Selamat Hari Minggu yaa..”, dan tidak hanya jadi Pria di Secarik Kertas.

Saturday, 9 May 2015

Jadi, ini malam minggu ke berapa tanpa jalan-jalan sama pacar?
Tanpa telponan yang putus karena pulsa habis terus bela-belain ke Indomaret ngisi pulsa lalu disambung lagi?
Tanpa senyum-senyum digodain pakai sms gombalan gebetan kalian?
Tanpa kata-kata,"Lho kok ngemilmu banyak kali? Tapi katanya mau diet? Habis popcornku samamu semua. Padahal mau ku bawa kian untuk adekku di rumah". Lalu kita sebagai cewekk, tertunduk malu. 

Ah mainstream, sangat mainstream sekali malam minggu kalian itu!! (pembelaan diri banget karena jomblo ini, hahaha..)

Aku malam ini lebih mengutamakan penyelesaian olah data skripsi forensik yang sudah deadline ini. (sebenarnya ga juga sih, karena ga ada yang ngajak jalan, ga ada mau diajak jalan dan ga niat jalan-jalan. Zzzzzzzzz...)
Aku memilih menghabiskan malam mingguku kali ini dengan mencoba mengerti pacar baruku berinisial SPSS. Iya, sebuah aplikasi olahan data SPSS For Windows 17.0. Dia terlalu banyak kode, dia terlalu banyak proses untuk dimengerti. Aku, yaaaaa sabar aja. Oke fix, ndak kemana-mana. Aku milikmu malam ini, SPSS.
Sebenarnya sebelum dapat data, aku sudah diajarkan kawanku dari universitas sebelah mengenai SPSS ini. Cuman, karena ga dilatih, aku jadi lupa-lupa mengoprasikannya. Ckck, maklumlah udah usia lanjut. -____-"
Karena ga tau mengoprasikannya, aku bantik stir memasukkan data ke Ms. Excel dulu. Yang penting, masuk dulu lah data-dataku ini. Masalah bisa di export ke SPSS, dipikirinnya belakangan. hahaha..
Ya, aku akui, ketika kita kuliah, kita sendiri yang harus berinisiatif untuk mencari, untuk berusaha mendapatkan. Lanjut atau tidaknya skripsi ada ditangan kita. Kalo ga, matilah udah. Yang kecewa orangtua dan orang sekeliling kita. Yang masa depannya terancam mentok adalah masa depan kita. Kuliah emang ga semudah TK-SMA. We should be struggle, guys! 
Aku download modul SPSS dari internet, tapi setelah aku coba-coba, makin tergulung-gulung otakku. Akhirnya aku belajar lagi dari kawanku yang lain. Dan taraaaaaa!! Aku bisaa. Jangan tanya aku tentang mengolah data analitik atau sekedar mem-valid-kan kuesionair. Nanti pasti ujung-ujungnya ajaran sesat yang ku ajarkan ke kalian. Aku hanya bisa mengolah data deskriptif. 
Coding - Masukkan data - Analyze - Keluarlah table dan Chart nya. 
Ternyata sesingkat itu. Lebih susah kayanya membuat Dessert Red Velvet Cake dengan kelembutan yang pas *astagaaaa, aku jadi kepengeeenn woiiiii!!!*
Oh ya, masalah meng-export data dari Ms. Excel ke SPSS. Aku googling dan aku dapat. Tapi entah bagaimana, terus-terusan FAILED.. Akhirnya istilah "pandai-pandailah" itu, aku praktekkan. Agak sulit ku ceritakan bagaimana "pandai-pandai" versiku untuk hal satu ini, tapi yang jelas, I have done my task! 
Jadi tugasku tinggal pembahasan, kesimpulan dan saran. Tapi malam mingguku, ku lanjutkan saja untuk mengambil kesimpulan dan saran. Pembahasan, nantilah itu. Soalnya itu mesti nyari pembanding yang pas dan teori yang memperkuat hasil dataku.
Sekianlah weee perkembangan skripsiku. Siapa aja deh yang baca tulisan ini, aku mohon doanya untuk kelancaran meja hijauku nanti yaaa.. 
Ga muluk-muluk, dilancarkan saja dan aku lulus dengan nilai yang memuaskan, aku sangat berterima kasih sama kalian. Aku mencintai kalian. Makasih yaaa *love you to the moon and not back hahaha*
SPSS DATA FORENSIK 1

SPSS DATA FORENSIK 2

Friday, 8 May 2015


"Eh, sudah nampak pelangiku?", Alona memakan ujung ice creamnya.
"Lah, membahagiakanmu super mudah", Frans membuka ice cream yang rasanya sama dengan punya Alona.
"Haha, bisa-bisa kau saja", Alona tetap fokus pada ice creamnya.
"Serius loh aku. Cuman kemarin-kemarin kau baru merasakan sesuatu yang baru, yang enggak pernah kau rasakan. Patah hati", Frans menghisap bagian ice cream yang mulai meleleh.
Alona tetap fokus ke ice creamnya dan tidak menggubris perkataan Frans.
"Iya, perasaanmu terkejut diputusin gitu. Kau kan udah lama enggak patah hati..".
"Hahaha, mungkin sih. Duh, males lho buka hati lagi, mengenal orang baru lagi, mendalami sifat orang lain. Capek.."
"Siapa yang tahu, kau mesti menjadi playgirl dlu sampai pada akhirnya kau menemukan sosok yang pas.."
"Wuidih, doamu bah. Jangan sampai deh.."
"Ya kan, mungkin sih.."
"Emang indikator seseorang yang pas itu seperti apa?"
Frans diam, mikir dan terus memakan ice creamnya.
"Toh aku rasa mereka yang sudah menikah saja kadang tidak merasa puas dengan keadaan pasangannya.."
"Nah itu maksudku, orang yang pas untuk dimaklumi kekurangan pasangannya. Bagiku, pas atau cocok berarti ketika Tuhan menganugrahkan sebuah cinta kasih sayang yang lebih besar dari ego mereka masing-masing..", Frans memberhentikan makan ice creamnya dan membiarkannya meleleh hampir tumpah. Matanya tertuju pada Alona.
"Bahasamu rumit.. Aku jadi mau beli ice cream lagi. Mau berapa episode kau cerita, Frans? Hahaha...", jawab Alona cuek dan tetap menghabiskan ice creamnya. Dihatinya sekarang, cinta adalah omong kosong. Tapi kalo ada yang mencintai dirinya, dia juga luluh juga. Percaya cinta juga.
"Serius? Gapapa, biar aku belikan lagi yaaa..", Frans buru-buru menghabiskan ice creamnya dan bergegas menuju abang-abang jualan ice cream.
Alona terheran, Frans baik banget? Ah tapi sepertinya Frans kan baru gajian, jadi ya mau nraktir gitu.
"nih ice cream trip keduanya. Lagian aku juga lagi pengen sih tadi.. Hahaha..", Frans menyodorkan ice cream cup rasa vanila.
"eh kau bukannya ga suka rasa vanila, Frans?", Alona mengernyitkan dahinya.
"Suka-suku dong, kenapa? Mau melarang?", Frans membuka tutup cup ice creamnya.
"Hahaha, ga lho nanya aja. Biasanya kau kan suka coklat. Sensi amat.. Lanjutlah ceritamu tadi.."
"Gini lho. Someday, kau dapat laki-laki yang pas nih. Laki-laki itu mau menerima kebrutalanmu ketika ketawa...", ucapan Frans dipotong Alona.
"ketawaku brutal?"
"I mean, kau kalo ketawa lepas sejadi-jadinya. Kalo cewe, biasanya kan agak diatur ketawanya.."
"oh, gitu.. Terus.."
"Makanya kalo kau ada masalah, trus kau diam, pasti orang sekitarmu bertanya. Atau kadang, kalo kau update status yang jauh dari ketawa, pasti orang disekitarmu tanda tanya samamu. Karena pada dasarnya kau itu cewek periang, lucu, bawaannya bahagia aja.."
"Ah bisa-bisa kau saja..."
"Aku sebagai cowok normal, aku menilaimu seperti itu. Aku lanjutin yaaa..."
Alona mengangguk, tanda setuju.
"Menerima keras kepalamu, menerima kecuekkanmu dalam berpakaian. Tapi, cintanya lebih besar. Dia bisa menerima itu semua. Dia tidak menuntutmu untuk berubah, tapi menasehatimu dengan kasih sayang. Bukannya cinta kasih itu lemag lembut?", Frans ngomong serius.
"Mak, udah dewasa Frans. Udah bisa menasehati orang tentang cinta. Maaap pak, udah punya pacar?"
"hahaha, itu sih yang kucari sekarang. Pacar yang serius. Yang bener-bener mau diajak ke masa depan.."
"oops, curcol diaaa.. Jadi kau yang galau sekarang?"
"ga sih. Aku lagi deket sih sama cewek. Cuman dia masih terbayang masa lalu kayanya.. Aku ga berani untuk deketin dia lebih lanjut.."
"cewek itu, suka diperjuangkan. Kalo kau emang suka, kau merasa pas dengan dia, perjuangkan.."
"Aku sedang udah perjuangkan dia. Mendengar dia curhat, disakiti pacarnya yang dulu, hatiku panas, mungkin lebih panas dari apa yang dirasakannya. Kok pacarnya tega?"
"fix, cewek kalo sedang sedih, lalu ada cowok yang perhatian. Dia akan luluh. Ya tapi yang paling pasti, tidak cepat luluh. Dia pasti lebih protecting ke perasaannya. Sebagai cowok yang mau memperjuangkannya, harus sabar. Harus tidak melakukan kesalahan sedikitpun. Sedikit saja cowok itu melakukan kesalahan, dia akan terbayang-bayang mantannya. Yang tadinya udah mau diberikannya cintanya ke cowok itu, akan bulat-bulat ditariknya kembali dan paling fatal, cewek itu menutup perasaannya ke cowok tadi.."
"Sejauh ini, aku tidak melakukan kesalahan. Yang ku lihat cuman ketawa-ketawa saat samaku. Walaupun dia sedih saat curhat, ujung-ujungnya pasti dia tertawa lagi. Bahagia aku melihat senyumnya", Frans memandang Alona sangat dalam.
"Eh btw, aku aja yang dari kemarin curhat tentang aku putus. Kau ga cerita, siapa yang kau dekati sekarang.."
Frans hampir keselek mendengar pertanyaan Alona. Memutuskan haruskah dia kasih tau perasaannya ke Alona?
"heemm.. Ada deh.. Entar lagi dia lewat kok di depan...", ucap Frans melihat ice cream Alona yang hampir habis.
"Serius? Ga rame-rame kali orang disini. Hantu? Hahaha ngacoo aja kau ini Frans.."
"Serius aku. Eh udah berapa bulan kau putus?"
"udah sekitar 7 bulan lah aku menyandang status jomblo. Lagi.", Alona menekankan ucapannya sambil memakan suapan terakhir dari sendok ice cream itu, kemudian dia berdiri menuju tong sampah di dekat mereka duduk. Lalu kembali duduk di kursi taman itu.
"Ohh udah lama juga yaa.. Nah dia baru lewat, Al..", ucap Frans dengan penuh senyum.
"Eh siapa?", Alona menyeka bibirnya yang sedikit celemotan karena ice cream.
"yah, barusan lhoo.."
Alona melihat kesekitar mereka. Tidak ada seorang pun yang lewat. Matanya melihat Frans.
"Cuman kita berdua lhoo..", Alona berpikir," lhooo? Aku?".
Frans mengangguk.
"Haha, bisa-bisa kau saja boss..", Alona mengalihkan pandangannya.
"Aku memang suka bercanda, tapi kali ini, big no, Al! Kau tau kan aku sangat gugup untuk nyatain cinta ke cewek", Frans memutarkan kepala Alona agar Alona memandang dia.
"Ah, bisa-bisa kau saja Frans..."
"Aku bahagia samamu. Mendengar ketawamu yang plong, rontok segala lelahku sepanjang hari. Mau seberapa berat pekerjaannku seharian, itu musnah pas denger suaramu. Makanya belakangan ini aku suka nelpon kau malam-malam, walaupun itu sebentar.."
"Frannss Fransss, kebanyakkan makan ice cream kau ini. Mabuk jadinya."
"Cinta ga ada alkoholnya. Aku serius. Kalo aku ga sayang samamu, aku ogah mendengar curhatmu, aku ogah membuatmu tertawa. Aku ogah makan ice cream rasa vanila yang sangat menjijikan ini. Tapi aku mau belajar menerimamu, apapun itu. Sakit, hobbi, kesukaannmu Aku ga butuh jawabanmu. Yang penting aku sudah jujur.."
Alona terkejut dan bahkan sangat terkejut. Perasaannya masih sedikit rapuh sih. Tapi otaknya juga masih waras, masih sadar kalau Frans inilah yang paling baik, yang mau mendengar segala curhatan dia. Alona takut? Iya.
Hingga Frans mengantarkan Alona pulang, tidak ada percakapan yang berarti.
"Ya udah, kita coba jalani aja.."
Frans yang tadi sedang menyambungkan tali pengaman helm, memberhentikan pekerjaannya itu. Diam. Dan menengadahkan kepalanya mengarah Alona. Tapi kembali menundukkan kepalanya lagi, dia malu.
"Hei Frans? Do you hear me?", Alona menaikkan dagu Frans. Didapatinya mata Frans berbinar.
"Are you serious?", suara Frans terdengar lirih.
"I am serious", Alona mencubit hidung Frans. Frans memainkan matanya, seakan tidak percaya.
"Pernahkah mukaku seserius ini?", tanya Alona.
Frans turun dari motor dan membuka helmnya.
"Aku akan sangat berusaha untuk tidak mengecewakanmu. Cukup dia yang terakhir yang membuatmu sedih. Bahagiamu itu, tawa dan senyummu, itu yang aku perlu..", ucapnya sambil mencium punggung tangan Alona.
"Haalaaaah orang kaya kau mau berpuisi pulaaaaak. Jangan sok romantis aaahh. Geli aku lihat kau.." Alona merangkul leher Frans seakan mau menyekik Frans.
"Haduh, bisa babak belur aku pacaran samamu kalo aku diginiin..", Frans tertawa kecil.
"Oh iyaa, ga ga, berubah jadi feminim deh akuu.."
"Haha it's not big thing, Al. Caramu itu yang buat aku jatuh cinta. Hehehe..."
"iyaaa iyaaa.. Yaudah, pulang gih, udah malem bangettt.."
"hehehe, iyaa, aku pulang yaa.."
"take care! Nanti kalo udah nyampe rumah, kabari yaa.."
"kalo aku ga mau?", tanya Frans main-main.
"males aaah.."
"Iyaaa, aku telpon pun, bye!!."
Alona melambaikan tangannya ke arah Frans. Di dalam hatinyaa
"Ini tidak bisa-bisanya kamu. Thankyou for today"