Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Thursday, 29 January 2015

Entahlah, mungkin ini terdengar lucu kalo diceritakan. Atau mungkin, tidak dipercaya kalo didengar sama orang.
Tapi kan, dengan kejadian ini, aku percaya, kekuatan doa ga cuman terjadi di kehidupan sosial, ekonomi atau pergumulan yang kelihatan jelas dan yang dirasakan. Namun, doa juga bekerja di dalam sel-sel tubuh kamu. Serius.
Jadi begini, badanku itu dulu kan. Beratnya ya Tuhann, kaya anak gadis bawa 1 ekor babi. Hahaha... Gendut kali. Emm, ga gendut maksudku sih. Cuman kalo diukur, ga sesuai dengan tinggiku yang sedikit boncel. Wkwk.. Ayah juga udah ketok palu, "mesti 50kg". Mungkin karena cuman 1 anak gadisnya, jadi ga ada yang bisa diharapkan lagi untuk dijadikan anak gadis yang badannya proporsional.
Lalu, aku juga mikir, aku kuliah kedokteran, masa aku nanti edukasi pasienku untuk jaga pola makanan, tapi aku sendiri, bantet-obese-lalala yeyeye gitu deh.
Selain itu, aku juga sadar, penampilan itu penting untuk menunjang kepercayaan orang untuk menjalin komunikasi, seperti di pekerjaan, kegiatan sosial (dan, kita ga menutup mata, asmara juga memilih berat badan yang pas, biar PD gitu).
Oke, aku mulai menghitung berat badanku, 69kg. Entah angka apa itu. Mau serangan jantung juga ngelihatnya. Ampuun! Ini berat badan, atau barang logistik, berat kali. Hahaha, itu aku ukur waktu aku mulai masuk kuliah. Lalu, aku atur makanan.
Sok-sok ga makan malam, terus besok paginya mual-mual, masuk angin, muka pucat datang ke kampus. Haha..
Sok-sok makan sedikit, tapi ujung-ujungnya nambah juga.
Sok-sok ngegym, kemudian kram sana sini, encok sana sini. Nampak kali ga pernah olahraga.
Sok-sok beli alat ini alat itu, tapi angin-anginan makenya.
Sok-sok ikut diet mayo. Asli, kalo emang hobby garam, jangan coba. Lemes. Makanan cuman yang direbus-rebus. Dan masih banyak lagi upaya yang aku lakukan. Tapi kalo ga gagal, ga sanggup. Kadang sempat turun, tapi waktu pulang kampung atau orangtua kesini, makab ga bisa direm. Semacam ada yang menginjak pedal gas di badanku, jadinya makan terooos. Terus kalo udah naik berat badan, barulah menyesaaaaaaall...
Hahahahaha. Sedih sob yang mau turunkan berat badan ini.
Sampai akhirnya, entah ilham darimana, setiap aku mau makan, aku berdoa "ya Tuhan, terimakasih buat berkat hari ini. Semoga ini jadi energi buat badanku, tidak menjadi lemak di badanku."
Terus kalo malam, pas aku doa, aku doa,"Tuhan, bantu aku turunkan berat badanku, idealkan ya Tuhan..".
I believe, doa yang niatnya baik, pasti dinyatakan. Dan, berdoalah seakan-akan doa itu sudah nyata (kamu sudah menerimanya).
Kini, puji Tuhan berat badanku sudah 59kg, pengaturan makananku juga udah lebih baik, lebih bugar juga. Cuman, masalah jam tidur aja yang masih berantakan. Lebih sering tidur diatas jam 1. Ckckck.. Jam tidur juga mempengaruhi berat badan dan juga kesehatan kita secata menyeluruh. Kalo aku lihat sih karena aku terlalu banyak mengkhawatirkan sesuatu hal. Makanya sekarang berusaha, berserah aja sob, berserah Tuhan mau membentuk kita sebagai apa? Apa rencanaNya?
Toh, aku mulai merasakan Tuhan mengalirkanku ke air yang tenang, lebih pemikiran yang positif dan lebih mengerti rencana Tuhan. Berharap pun tidak terlalu muluk-muluk ketika kita bisa bersyukur dengan apapun itu yang dikasih dan dijadikan Tuhan di dalam hidup kita. Gitu.
Btw, Happy Sunday ya. Tuhan Yesus memberkatimu disegala aspek!!

Wednesday, 28 January 2015

Aku pernah sekuat tiang listrik depan kostku, ketika aku mencintaimu.

Aku pernah seindah taman bunga di Berastagi, ketika aku mencintaimu.

Aku pernah sesejuk lemari es, ketika aku mencintaimu

Lalu
Kemudian
Seterusnya

Aku pernah sehancur guci opung yang pernah aku pecahkan, ketika aku kehilanganmu.

Aku pernah serapuh kerupuk jangek, ketika aku kehilanganmu.

Aku pernah sekurus anak-anak yang kena diare persisten yang telat dapat penanganan, ketika aku kehilanganmu.

Tapi
Namun

Aku pernah sekuat pahlawan dengan bambu runcing waktu melawan penjajah dengan meriam, ketika aku mulai menerima.

Aku pernah setegar ibu malin kundang, ketika aku mendoakanmu, memaafkan segalanya.

Aku pernah sesemangat albert einstein untuk mengerjakan skripsiku, ketika otakku mulai jenuh dan berharap kamu yang menyemangati aku. Tapi, untunglah aku sadar, kamu tak terharapkan lagi.

Kamu pernah berkata, Dia tempat berdoa meminta harapan. Apapun yang kamu lakukan, aku tidak melupakan hal-hal positif yang sudah kamu tularkan ke aku. Setidaknya itu sudah jadi vaksin buatku.

Tapiii, vaksin itu kaaaann ada booossterrnyaaaa....? Wkwkwk..

Saturday, 24 January 2015

Malam ini
Mungkin, aku sedang sangat merindukanmu. Kamu yang dulu, yang penuh kasih sayang. Ingat, hanya kasih sayangmu yang ku rindu.

Mungkin, beberapa teman mengetahui aku sedang hancur. Namun aku percaya, serpihannya masih tetap sama. Jadi jika suatu saat nanti, Tuhan berkehendak untuk memperbaikinya, kamu masih disitu. Atau mungkin bisa saja, kamu digantikan dengan orang lain, yang menurut Tuhan, dialah yang terbaik untuk masa depanku.

Mungkin, beberapa teman juga berkomentar,"bagaimana kalian bisa berakhir?" kalian serasi. Aku tetap bersyukur pernah dipertemukan dengan kamu. Satu-satunya ayat yang bisa menggambarkan kehadiranmu dalam hidupku "Filipi 1:3  Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu."

Mungkin, beberapa teman juga bertanya," bagaimana kau bisa ketawa dan tidak kelihatan sedih? Kau bisa konsen skripsi?". Dari dulu 1 hal yang paling ku percaya, Tuhan tidak pernah meninggalkanku (tapi aku sendiri malah sering melupakannya. Sering aku mengabaikannya.). Adapun aku ceria, itu karena Tuhanku. Enggak kemana kekuatan dariNya. "ketika kamu mengetuk. Kamu akan dibukakan", setidaknya itu yang kuingat ketika aku meminta pertolongan sejak aku jatuh dn meminta semangat dan penyertaan dimasa-masa pentingku, skripsi.
Kadang, ada yang tak terucap dari bibir dan hatiku lagi, tapi aku yakin Tuhan mengenal hatiku. Dia lebih lebih lebih tahu isi hatiku 😄😄
Terlebih lagi, kamu pergin tapi meninggalkan obat. Obat itu, buku yang kamu kasih ketika aku berulang tahun. Itulah mengapa aku bersyukur mengenal kamu.

"hati yang gembira, adalah obat~"

Friday, 23 January 2015

Ya seperti apapun keadaan kita, kita mesti bisa nyemangatin diri sendiri. Kita sadar, kita itu lemah. Cuman kalo kita berserah (berserah bukan berarti lemah, malas, putus asa. Truly, not like that!), kita dikasih jalan sama Tuhan, termasuk cara untuk menyugesti diri sendiri untuk semangat.

Mungkin Tuhan bisa tiba-tiba buat kita pesimis, semangat kita tiba-tiba turun drastis. Tapi inget, ada ajaaaa cara Tuhan nyemangatin kita. Kaya aku sekarang nih, lagi skripsi. Kadang tuh ya, teman-teman seperjuangan sedoping, bikin palak. Tapi mungkin aku dipilih Tuhan untuk membuat mereka lebih mengerti tentang skripsi. Kadang tuh ya, aku mau kesel. Udah permasalah ga cuman skripsi, hati masih berantakan, yang bbman orangnya pada absurd semua, keuangan lagi gitulah, ditambah lagi tingkah mereka. Tapi entahlah, Dia sangat pintar untuk menyelipkan kata-kata "semangat anakKu, kamu yang aku pilih", berarti aku dianggap mampu olehNya. Kemudian aku ya mikir, "lakukanlah segalanya untuk Tuhan". Otomatis dong aku ga boleh mengecewakanNya. Dan aku tidak menemukan alasan yang tepat untuk menolaknya. Dari itu aku menyadari, ada kekuatan, kesabaran, kebijakan baru disetiap fase kehidupan. Walaupun aku sedang tidak begitu baik keadaannya, aku masih dipercayai Tuhan untuk menerima berkat, menolong teman-temanku.
Disisi lain, dengan menolong orang lain, kita bisa mengungkapkan rasa terimakasih kita kepada Tuhan dan menyatakan kasih Tuhan itu nyata pada diri mereka yang ditolong. Kita adalah perpanjangan tanganNya. Bersiaplah, Tuhan memakaimu!

Oh ya,bersyukur juga dimasa-masa seperti ini, aku dipertemukan dengan film emergency couple. Iya, persiapan untuk koas juga. Nambah ilmu juga. Menyadari masih banyak yang aku ga tau. Selain itu, lee pil mo masuk dalam pikiranku. Apa ya, mungkin rasa kagumku itu akan karakter, kepandaian dia dalam menyelamatkan pasien, buat aku WOW. Jadi kalo lagi penat gitu, aku buat meme tentang dia seakan-akan menasehatiku supaya semangat ngerjain skripsi, cepet koasnya. Terus kagum juga sama karakter oh chang min, walaupun papanya dokter, dia tetep mau berusaha sendiri, ga mau numpang nama di kedudukan papanya. Dan karakter utama, oh jin he, seorang cewek yang berasal dari keluarga pas-pasan, yang ga putus asa walau kena marah terus sama residen, mau belajar, mau mencoba, murah hati.

Pokoknya, berdoa, berusaha, berserah, itu wajib hukumnya. Sugesti diri itu penting walau sedang seburuk apa keadaan kita.

Thursday, 22 January 2015

Hoaah, kemarin malam aku iseng-iseng melihat instagram. Ya nyaru hal-hal lucu yang bisa buat ketawa, soalnya kepala udah penat bangettt..
Lalu enggak sengaja, aku melihat satu barang, yang ku kira sama barangnya cuman terupload sama pemiliknya 2x. Rupanya enggak. Alih-alih kaya mencari perbedaan diantara 2 gambar, aku pun gitu. Dan ternyata apa yang ku temukan perbedaannya adalah 1. Tidak bermerek. 2. Ada ditempelkan merek yang lagi nge-hits. Ckckck, gegara merek itu jadi beda harganya. Apa segitunya efek merek itu? Sehingga harga tidak memandang kegunaan atau fungsi, tapi memandang merek. Haedeeh..
Jangan-jangan dunia ini udah memasuki masa Nabi Nuh, yang suka berfoya-foya, mengutamakan kebahagiaan dengan hal-hal semacam itu. Karena banyak kok sekarang, karena menang merek, jadi mahal harganya tapi fungsi dan kualitas belum sesuai dengan harga. Aku bukan pakar pasar atau ekonomi, tapi Apa segitunya efek merek/logo/brand?

Aku pernah dapat godaan, kala itu aku baru dapat keuntungan dari jualan kaosku. Ya ga begitu besar, hehe.. Tapi ada kebanggaan tersendiri sih, hehe.. Beberapa teman menyarankan beli ini beli itu yang lagi ngetrend. Cuman ya aku ga perlu barang itu, dan lagi pula aku udah komitmen, sebagian dari keuntunganku, aku kasih ke Gereja utk ucapan syukur wdan sebagian aku tabung. Hehe..
Semua..mua..muanya itu tergantung iman kita. Sekuat apa? Seselektif apa kita melihat hal-hal yang disajikan dunia ini.

Ibrani 13:5 - Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." 

Wednesday, 21 January 2015

Iya, aku lagi ke semsem sama drama korea, khususnya berbau kedokteran. Belakangan ini suka korea karena si Icak kawanku, lagi demam Korea juga. Iseng sih, mau nyoba seberapa hebat rupanya drama korea itu, sampai-sampai dia menggilai kali. Oke, aku coba The Master Sun. Asli, bas banget awal-awalnya, ga masuk hitunganku nonton film yang sedih, romantis, manja gitu. Rupanya zonk! Aku ketagihan. Aku cari-cari soundtracknya malah. Aku cari artinya. Aku jadi tertarik bahasa korea. Uwaaaa~
Aku tidak tertarik dgn boyband atau girlbandnya. Aku lebih suka soundtrack dramanya. Haha..

Lalu, aku ditawarkan drama Emergency Couple, mumpung jadwal juga ga lagi banyak, aku ambil aja. Mungkin, menyukai drama ini adalah hal yang bersifat "TOO LATE" di kalangan pecinta drama korea. Drama ini, tentang medisnya oke, cinta-cintaannya juga pas. Dan aku tertarik pada pemerannya si dokter emergency itu, si Lee Pil Mo. Aku jarang2 suka sama aktor korea. Sampai sekarang ya yang ku suka sih Kim Hyun Joong (Best Before Flower), Kang Wo (The Master Sun), Lee Pil Mo (Emergency Couple). Tapi entah kenapa, semua orang itu di drama yg dimainkannya pasti patah hati, pasti ga dapat cinta yang diharapkannya dan punya karakter sedikit dingin, sudah ditebak, mencintai diam-diam. Kadang jadi gemeeees sendiri. Hahahaha..

Selain itu, ada film korea yang buatku asli nangis sejadi-jadinya, bahkan sampai di daftar pemain-pemainnya itu masih nangis,bahkan kawan kost sampai buka pintu, "kau kenapa nangis?
Coba deh The Miracle In Cell No. 7. Temanku yang notabene cowok, anak teknik elektro, yang biasanya kuat, ga punya alasan untuk menangis, bisa nangis gara-gara film itu. Aku ga lagi promosi yaaa..

Thats some of my daily film. Jangan anggap enteng dengan alur ceritanya drama korea. Kita bisa nangis, bisa gembira, seperti di dalam film itu. 😂😂

Bentar lagi Emergency Couple kelar. Mau lanjut lagi ke doctor stanger, good doctor, doctor team, greys anatomi. Nonton sekalian belajar buat koas 😎😎.

I have told you, its unreplaceable.

Tuesday, 20 January 2015

Aaaaakk..! Puji Tuhan sekali, akhirnya setelah luntang lantung pakai tabletku yang lama ini, aku akhirnya mendapat gadgetku yang baru. Sebenarnya ga ngebet banget beli gadget baru, cuman karena kemarin tab mati total dan aku sedang dalam masa skripsi, internet jadi kebutuhan primer untuk skripsi. Mau nangis, palak kali, huuuufffftnya banget.
Hehehe.. Untunglah tabunganku cukup dan ditambahi sama donasi orangtuaku.

Kejadian ini menyadarkanku, waktu Tuhan itu pas, tidak cepat atau lambat, dalam kondisi yang tepat, dan kebetulan tabunganku juga udah cukup. Jadi, ga begitu memberatkan orangtuaku. Makasiiih Tuhan Yesus..

Ya, dari kejadian simple ini juga aku sadar tentang ayat Tuhan.
Lukas 16:10  "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.

Perkara? Bagiku perkara di sini bisa masalah / pekerjaan. Ketika kamu tidak lari dari masalah / pekerjaan, tapi kamu menyelesaikannya (ingeet lhoo God never left youuu..), kamu akan dapat upah dan diberikan masalah / pekerjaan yang lebih besar, disitu kamu akan diuji dn ketahanan, kesabaran, keteguhan, kekuatan kamu akan ditambahkan, jika kamu meminta padaNya.

Perkara bisa juga berkat / talenta. Mama juga sering bilang, siapa yang bisa bersyukur atas berkat-berkat kecil dan memanfaatkannya dengan baik, dia juga akan dipercayakan untuk memiliki berkat yang besar. Aku rasa, Tuhan mau melihat seberapa baik, seberapa maksimal kita bisa menggunakan berkatNya.

Ucapan syukur atas sesuatu berkat bisa ditunjukkan dari bagaimana kita mempergunakannya. Aku baru aja baca artikel rohani semalam dan pas timingnya (mungkin Tuhan sedang ngasih petunjuk buatku, ihihiyy..). Intinya itu, hiduplah agar Tuhan tersenyum. Iya pula kan, Tuhan udah kasih berkat, udah buat kita merasa senang, masa ga kita ga buat Dirinya senang. Ya kan? Disitu diuraikan sih beberapa caranya kaya mengasihiNya, mempercayaiNya, menaatiNya, bersyukur dan memuji atas namaNya, dan menggunakan talenta kita.
Mungkin disini aku disuruh untuk makin percaya, waktu Tuhan adalah tepat. Bersyukur udah dikasih gadget baru. Kemudian, aku bisa bercerita lewat hobby ngeblogku tentang perbuatanNya yang hebat ini..

Uwuuuu~ semoga semakin banyak yang bisa kuceritakan tentang Dia. Terimakasih Tuhan.

Thursday, 15 January 2015



Nenek itu melakukan hal yang sama seperti biasa, memutar piringan hitam lagu kesukaannya. Kemudian menempatkan badannya pas di sandaran kursi goyang, memakai kacamatanya, lalu dengan antengnya mulai merajut baju untuk calon cucunya yang lahir kira-kira dua bulan lagi. Benang-benang cantik mulai dirajutnya lagi sambil memperkirakan ukuran baju yang pas. Sekejap dia melihat rangkaian baju itu dari kejauhan. Sudah pas tidak? Mungkin didaerah ketiak agak perlu dilonggarkan agar nanti cucunya leluasa bergerak. Kebahagiaan itu terlihat dari semangatnya merajut baju itu, walau kadang-kadang kacamatanya terpeleset dari batang hidungnya, kadang-kadang harus menyipitkan matanya untuk memasukkan benang ke jarum kala benang sudah habis.
Tiba-tiba bayangan tongkat muncul dari pintu depan, disusul oleh dua pasang kaki tua dari badan seorang pria yang sudah menemaninya kira-kira 42 tahun.

“Jadi, ini baju ke berapa yang kamu buat?”, kata kakek itu yang mencoba duduk di samping kursi goyangnya. Cahaya matahari sore yang remang-remang mulai menghilang dibalik bukit.

“Entahlah, aku lupa menghitungnya. Aku tidak mau terlalu banyak membuatnya. Anak-anak terlalu cepat besar, nanti baju buatanku cuman sebentar dipakainya”, jawabnya yang masih asik merajut.

“Haha, iya sayang. Kaya sweater yang kamu buat untukku ini. Cuman satu, tapi ya awet”.

“Mbok ya sadar umur. Udah bungkuk aja masih manggil-manggil sayang. Udah, minum itu jahe angetnya biar ga masuk angin”.

Kakek itu tersenyum. Ya, seperti baru pacaran saja. Perlahan diambilnya teh itu lalu menyeruputnya. Lega rasanya. Rasa hangat dan segar mengalir di badannya.

“Jadi, tadi kemana aja?”, tanya si nenek.

“Aku tadi jalan, ngelihat ayam-ayam di belakang rumah. Ngelihat kost-kostan kita, ada yang rusak atau ga. Sekalian ngelihat anggrekmu itu, udah mulai kuncup”.

“Iya, aku tadi ga sempat menyiramnya. Besok saja. Mungkin seminggu lagi bunganya muncul. Apa kabar ayam-ayammu? Kost-kostan ada yang rusak?”

“Iya, aku senang rumahku dikelilingu bunga. Tenang rasanya. Ayam-ayamku mulai bertelur. Nanti sebagian kubiarkan menetas, sebagian lagi ku suruh jual saja. Kost-kostan paling cuman ada beberapa pipa yang bocor. Nanti bisa kok diberesin”.

“hem, iya iya. Kakimu enggak apa-apa? Masih nyeri?”

“Sedikit saja. Apalagi kalau mau berdiri, lututku agak nyeri. Tapi gapapa, menggendong kamu pun masih kuat”, sahut si kakek yang menyolek dagu si nenek.

“Haha gombal. Kalo aku suruh gendong juga bakalan jatoh. Dasaaar, kebiasaan gombal mbok ya dihilangin..”

“Aku serius lhooo...”

“Huuush! Jangan buat aku GR”, kata si nenek yang pergi hendak mengambil gunting di laci dekat kursi goyangnya kakek, kemudian mematikan piringan hitamnya.

“Dih, dari dulu ga pernah bisa bedain mana aku gombal mana aku serius”, si kakek mengambil remote tv dan memilih channel yang ada siaran beritanya.

“Orang kamu aja jarang natap aku kalo lagi bicara. Antara malu-malu dan bohong itu susah dibedakan”, wajah si nenek mendekati wajah si kakek. Kemudian mencium kening si kakek. Si kakek terkejut. Jantungnya hampir ya seperti biasa kata orang, hampir copot.

“Sukaaaa banget ya tiba-tiba spontan gitu”. (coba kalian bayangkan kakek kalian mukanya memerah karena malu).

“Yaaaaa, nanti kalo aku ga gitu, aku dikira lagi marah. Aku ga seperti biasanyaa”, goda nenek.
Si kakek malu-malu gimana gitu. Emang dari dulu si kakek jagonya gombal –tapi cuman sama si nenek lho yaa-. Nah beda dengan si nenek, jarang ngegombal tapi aktif. Ya semacam itu tadi.

Sejenak mereka konsentrasi dengan kegiatan masing-masing, si kakek menonton berita dan si nenek merajut baju untuk cucunya.

“Nah, sudah jadiii!!”, si nenek memecahkan suasana.

“Bagus. Aku pengen dibuatin juga satu baju hangat ya sayang...”, pinta si kakek.

“Sudah, beli saja. Aku sudah tak tahu ukuranmu..”

“Buatin saja seperti yang ku pakai ini. Bukan baju ini yang menghangatkanku, tapi cintamu saat membuat ini.”

“hedeeeehh....”, kalimat yang ga punya arti, yang sejak dulu ga berubah, tandanya si nenek merasa gombalan si kakek cuman untuk merayunya agar membuatkannya baju lagi,

“Mom, i am serious.”

Kalau kakek sudah berkata seperti itu, itu berarti memang serius. Nenek tidak bisa mengelak. Sesungguhnya nenek bahagia untuk membuatkan kakek baju hangat seperti itu. Baju hangat itu pertama kali dibuatnya saat mereka sedang membangun perekonomian keluarga. Mereka berkomitmen, berkeluarga haruslah mandiri. Lalu, waktu itu, si kakek harus menyelesaikan proyek kantornya yang sudah deadline, sementara cuaca sedang dingin-dinginnya. Jadi si nenek berinisiatif untuk membuatkan kakek baju (Mau beli tapi ga punya duit. Harus hemat kala itu). Dan sampai sekarang baju hangat itu masih awet, mungkin hanya disebagian rajutan yang mulai lepas-lepas termakan usia.

That’s! That’s how we need in the time when we can not do so much things we used to did. Percakapan di hari tua, sampai entah siapa diantara kita diambil lagi sama Dia. Dimana kita tidak bosan, dimana kita saling merangkul, saling menjaga, saling melengkapi, saling dan saling. Semuanya saling.

Bercerita, itulah hal yang bisa kita lakukan saat kita ga bisa ngapa-ngapain lagi. Menemukan sosok yang seru, nyambung, asik diajak berbicara.

Berceritalah apa yang terjadi hari ini. berceritalah tentang nafas pertama untuk hari ini. berceritalah sampai dengkuranmu tidak didengar lagi.

Tuesday, 13 January 2015

Hoaah! What a hectic day!
Ini nulis dalam keadaan keringatan dan nunggu bak mandi penuh. Dan sudah jam 9 malam. Zzzzz...

Satu kalimat hari ini, Ribet yang Diberkati. Why?
Pagi-pagi aku disms doping 2 ku (yg jarang kali ngangkat telpon), dan smsnya kayanya salah nomor. Dikiranya beliau ada ngajar di tempat kami. Tapi mungkin itu jalan Tuhan untuk mempertemukan kami. Ku telpon beliau bahwasannya kami ga ada kuliah dengannya. Dan aku selipin pertanyaan "kapan kami bisa ambil revisi skripsi kami dok?"
I got a shock answer..
"KALIAN ANTARLAH LAGI PROPOSAL KALIAN. UDAH HILANG PROPOSAL SKRIPSI KALIAN".
Saat itu juga aku baru teringat, daftar pustaka, daftar isi belum kelar. Tapi gapapa deh dalam hatiki, biar sekalian semua diperiksanya.
"Jadi dok, kapan diantar?"
Another shock answer hit me.
"Nanti sore jam 6".

"Oke dok, makasih dok. Selamat pagi." Tuuut.. tuuutt..

Then, aku kuliah.

Masalah lain lagi, daftar komponen tidak lengkap, muncul di mading. Dan harus segera diselesain. Pulang kuliah aku nemuin dosen bagian skill lab gegara masalah administrasi. Aku sama sekali enggak tau apa salahnya aku. Perasaan log paperku terisi semua, dan beberapa temen juga ngelihat logpaperku.
Pas udah nunggu di depan kantornya, eh dianya makan siang. Nah aku dan beberapa anak yang bermasalah dianggurin. Udah mikir besok aja deh ngurusnya. Cuman berhubung kawan juga mau nyelesein hari ini, yowes hari ini. Jadinya, aku ikutan.
Pada saat itu aku pake celana jeans. Mesti ganti dulu pake rok. Haiss, udah macam setrikaan hari ini. Jalan sana jalan sini.
Finally, aku dapet giliran untuk menghadap beliau. Ah, Puji Tuhan, cuman fotoku yang ga ada. Kalo sempat log papernya yang hilang, atau aku lupa ngabsen pas skill lab, entah apa-apa aja hukumannya. Untung bisa besok aku bawa fotoku, soalnya ga ada persediaan foto yang sesuai ukuran di dompet.. haha..

Oke sampe kost, teringat proposal belum kelaaarr! mesti ngedit proposal lagi. Semuanya. Semua mua mua muanyaaaaa.... mata ku ngantuk, badan capek. Semalam lembur juga qaqaaaa... hahaha...
Sekitar beberapa jaaam gitu, selesai juga. Pas waktunya. Lalu pergi ke rumah doping 2 ku layaknya pengantar pizza delivery order. Whuiizzz... i am still alive.
Sok kenal sok dekat dah aku, ngucapin selamat tahun baru sama istrinya sekalian kasih oleh-oleh tak seberapa dari dumai. Wekawekaweka...
Satu per satu kami diresponsi.  Dan aku pertama diresponsi. Aku yang buyer karena kecapekan, agak blank juga. Ga yakin bakal ditanya-tanyain. Yasalaaam, Tuhaan tolong anakMu inii...

"COBA JELASKAN LATAR BELAKANGMU? TUJUANMU? KERANGKA KONSEPMU?"

Aku mulai menjelaskan dari level sedikit-sedikit tahu sampai yang sok-sok tahu. Haha..

"Baik, kamu udah lumayan menguasai bahan. Paling tinggal tambah disini sedikit. Pertemuan selanjutnya udah bisa bawa slide presentasi. Buat yang inti-intinya saja. Kalo udah bisa, hubungi saya.. udah itu acc.."

.... Yang inti-intinya saja... aku teringat slideku, baru bab 1 aja udah 10 halaman hahahahaha...

"Baik dok"
Begitu juga dengan kedua temanku. Masih ada perbaikan disana disini. Tapi Puji Tuhan, beliau senang dengan pekerjaanku. Capeknya langsung hilang.

Nah, itu bukti. Ribet pun dirimu, takut pun perasaanmu, Tuhan masih memberkati. Masalah-masalah dadakan mengajar dan membentuk kesiapanmu dan ketenanganmu.
whatever you do, you do for God. Gitu katanya. Ya namanya kuliah, direpetin ya biasa. Dibully-bully dikit ya gapapa, biar kita ingat. Dan yang pasti, dalam keadaan apapun, kamu enggak ditinggalkanNya. Ga percaya? Buktiin aja.

Ibrani 13:6  Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"

Oke beberapa malam ini aku rada penat dan jenuh. Ngekorea dulu bisa kali yaaa. Hehehe :D

Monday, 12 January 2015

"Kamu marah padaku?", pria mulai memecahkan suasana yang dingin itu. Yang terdengar hanya riuh kaki pejalan kaki di samping cafe itu. Mendadak semakin terdengar ramai ketika hujan mengguyur malam. Jalanan basah, baju-baju basah, tanaman disekitarnya mendapat berkat.

"Tidak kok..", ucapan singkat mengalir dari bibir wanita yang ada duduk di depannya. Wanita itu baru saja menyeruput cappucino hangat yang di pesannya kurang dari 5 menit yang lalu. Dia mengaduk-ngaduknya hingga lukisan yang ada diatas minuman itu melebur jadi satu.

"Jawaban singkat dan tatapan tidak mengarah kepadaku, pernah aku lihat. Aku tidak baru mengenalmu kemarin sore".

"Tidak kok..", wanita tadi menatap matanya. Tajam. Kemudian menundukkan kepalanya lagi dan menyeruput minumannya lagi, takug keburu dingin.

"Baiklah. Cappucino itu pacar kamu?"

Wanita itu berhenti memegang sendok. Lalu meluruskan badannya dan melipatkan tangannya didepan. Sambil tersenyum.

"How can i do? I cant do anything if you still quite."

"Aku lelah. Seharian bekerja. Kamu juga kan? Kita pulang saja. Ini sudah malam, hujan juga sudah berhenti. Lebih baik kita pulang."

Pria tadi melihat ke luar cafe. Rintik-rintik manja yang tinggal disekitaran jalan.

"Ga ada yang mau kamu bilang lagi?"

"Tidak ada, aku cuman lelah bekerja. Emosiku sedang tidak stabil. Tidak baik bicara serius ketika emosi tidak stabil. Bisa mengatakan hal yang tidak baik juga."

Pria itu pun mengangguk dan mengambil jaketnya. Segera dia dan wanitanya menuju parkir. Dia mengambilkam helm wanitanya, dan memakaikannya padanya.

"Thank you.", senyum yang selalu di rindunya pun muncul. Pria itu bahagia.

Sesampai di rumah, pria itu menurunkan wanitanya.

"Yakin ga ada lagi yang mau kamu bilang?"

"Perbaikilah komunikasi kita sama-sama. Sesibuk apapun aku, aku mengabari kamu. Kamu? Ku rasa kamu pria yang cukup peka. Wanita bisa melihat seberapa penting dirinya dalam hidup prianya, dari itu."

Pria itu kalem dan menunduk. Dia menyadari itu. Belakangan pekerjaan sangat menyita waktunya. Kalaupun ada waktu senggang, dia menghabiskan waktunya dengan teman-teman sekantornya.

"Maaf aku sedikit mengabaikanmu. Aku sangat bahagia ketik handphoneku berbunyi, aku dapat kabar dari kamu. Demi kamu, aku janji aku akan memperbaiki komunikasiku kepada kamu.."

"Ssst, jangan demi aku. Tapi demi kamu. Demi kebutuhan kamu akan kabarku. Dan jangan berjanji, cukup kamu simpan di hatimu".

"Iya. Maafkan aku. Aku menyesal. Jangan tinggalkan aku karena ini."

"Umur segini aku tidak dapat lagi mengambil keputusan mendadak. Aku lelah mengenal dan mendalami sifat orang. Cukup kamu. Kalau kamu mau dan bisa memperbaikinya, aku tidak akan apa-apa"

"How happy I am to be with you.", kata pria itu sambil senyum dan tanggannya mengacak-acak rambut wanitanya.

"Stop. Aku enggak anak-anak lagi. Rambuttku berantakaaaaan!"

"Thats how i love you damn much. I wont let you down"

"Alaaaah sudahlah. Gombalmu simpan saja. Nyatain dong brooow", sahut wanitanya sambil memperbaiki rambutnya..

Friday, 9 January 2015

I am just woken up! Masih posisi melata ini mah. Baru siap saat teduh akunya. Tentang saat teduh, aku udah mengenalnya sejak SMA kalo ga salah. Ya awalnya sering bolong-bolong, cuman makin ke sini, makin teratur. Ya Puji Tuhan banget... ihiiiy!

Yaps, everyday should be started by words in praying. You tell all give thanks. Kalo enggak karena kehendakNya, ya mungkin pagi ini kita udah terbujur kaku. Berarti, kehidupan kita masih dikehendaki Tuhan untuk menghasilkan suatu tujuan. Gitu.

Heeemm, masih ngantuk banget dah aku ni, semalam lembur mulai ngerjain slide presentasi seminar proposal (hy pembaca blog gueee, doain yaa biar lancar skripsi gueee). Tapi, seiring aku ngerjain itu semalam, aku menyadari sesuatu..

"Tuhan itu, kalo ga di depanku untuk melancarkan segalanya, pasti ada di belakangku untuk nyemangatin aku. And if sometimes i feel lonely, aku percaya Dia sedang merenda cerita yang indah buatku. Iya, kadang hidup tidak se-worry yang ku kira. Cukup berdoa, berusaha, berserah. Pull stop."

Terlebih aku yang sedang masa skripsi ini. Hem, ada sedikit kekhawatiran seperti...
Siapa ntar pengujiku nanti?
Gimana kalo aku blank pas presentasi?
Gimana kalo aku ngulang?
Gimana kalo dopingku ndak bantuin aku?
Gimana...
Gimana..
Dan gimana.
Too much worried. Aku malah jadi fokus ke khawatirnya aku, bukan ke penguasaan materi.

Tapi Puji Tuhan, salah satu doaku tentang skripsi ini terjawab. Aku lebih awal untuk disadarkan bahwa tidak yg perlu dikhawatirkan yang terlalu besar. Aku selalu menyugesti diriku sendiri,"siapapun pengujiku, itu emang Tuhan yang ngasih. Tuhan pasti udah ngelihat usahaku. Tuhan yang melancarkaaan. Gelar S.Ked pasti dapat."

1 Petrus 5:7 
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.

You will see..
Tapi sekali lagi, seberapa dekat kamu kepada Tuhan berbanding luua dengan kepekaanmu terhadap suaraNya dan rencanaNya.

Thursday, 8 January 2015

Woots, udah tanggal 8 januari aja dah nih. Hows ur 2015? Still going well right? Let me tell me about His plan on my life in this new year..
Keluarga besar buatku pribadi adalah lingkungan yang luar biasa. Hebat atau tidak, beragam suku, besar kecil, tua muda, kami dipersatukan dalam label "POMPARAN HUTABARAT HANG JEBAT".
Sejak opung tiada, tidak ada tujuan yang benar-benar kami tuju mengenai "pulang kampung". Dulu opung adalah tujuan kami untuk pulang, untuk berbagi kasih, berbagi cerita. Bagaimana keluargamu? Sekolahmu? Kuliahmu? Pekerjaanmu? Pacarmu? Ayo kita ke gereja bareng, jalan-jalan bareng, main di teras opung, mijitin opung. Begitulah kira-kira.
Hingga, istilah pulang kampung tadi agak terlupakan karena tujuan kami tidak ada lagi, ditambah lagi kami semakin dewasa, makin banyak kesibukkannya masing-masing. Akhirnya, rumah opung sepi.
Lalu, jujur aja aku lebih suka kumpul sama keluarga besar daripada jalan-jalan ke luar kota. Mungkin aku (yg dulu termasuk golongan cucu-cucu kelompok usia muda), aku lebih merindukan saat rame-rame itu. Seru, asik rasanya. Dan mungkin yg lain juga rindu dengan masa-masa itu, cuman tertutupi dengan kesibukkannya dan keluarga barunya.
Awalnya iseng aja pengen ngumpul, manggang-manggang, terus ayah juga ngedukung dan suruh aku kasih tau sama sepupu-sepupu lain. Emm, iya, awalnya kurang ditanggepin sih. Cuman semakin mendekati tahun baru, semakin nyata rencana Tuhan itu, ehehe...
I believe, kalau niatnya baik, pasti dinyatain, pasti dikabulin dan dilancarin. See? Aku ingat banget tanggal 30 itu udah mulai banyak yang sampai di pekanbaru. Awalnya aku udah pesimis ini bisa dilaksanain. Cuman ada hal kecil yang terjadi waktu aku dan mama belanja. Waktu itu ada ibu-ibu jual arang.
"Arangnya bu, 20 ribu."
Mama langsung kontak
"Tuh arang. Jadi kakak mau buat manggang-manggang?"
Aku senang disitu, berarti mama ngedukung juga.
"Iya ma, ntar aku koordinasi dulu sama si rachel etha (sepupu terdekatku)".
Pulang dari pasar aku bbm rachel. Kami membicarakannya. Segala macam yang perlukan. Sesuai saran rachel dan mama, aku buka percakapan baru di grup bbm hang jebat untuk ngasih tau ke semua semuanya. Koordinasi juga sama cucu tertua. Aaak puji Tuhan dilancarin. Lalu, mulai mikir siapa beli ayam, jagung, ikan, bumbu, dll.
Iyaa!
Tuhan bekerja didalamnya. Ayah menghubungi uda Sakti, dia mau ngasih ikan dan bumbu-bumbunya. Bou katrin, ngasih ayam, arangnya. Uda Edi nyiapin panggangannya. Tugas aku dan orang mama cuman nyari jagung, mentega, santan, kuas. Rachel bawa buah-buahan. Sodara-sodara yang lain juga membawa apa aja yang bisa dirame-ramekan. Ihiiiy! Senangnyaaaaa..
Pas hari H, semuanya berjalan penuh sukacita, walaupun sedikit hujan waktu itu. Bahagia, senang, sukacita melimpah lah pokoknya. Ditambah lagi 2 ponakanku yang lucu-lucu main kemban api (lumayan, mengobati masa kecil yang ga dibolehin main kembang api sama opung waktu kecil haha..). Tawa canda, ledekan, ngakak, lawak, pembicaraan ringan sampai serius ada di dalamnya. Mungkin, kalo opung masih hidup, senang sekali dia, keturunannya bisa ngumpul-ngumpul begini. Tapi pasti lebih bahagia lagi dia kalo keturunannya masih kompak walau dia sudah tiada. Hihihi... (yaaa walaupun ga semua datang, kira-kira 80% ada).
Itu semua berlangsung sampai kami semua mengadakan ibadah sederhana di ruang tamu opung, yang kira-kira udah 3 tahun tidak kami lakukan di situ. Berasa opung ada di situ. Kami mandok hata. Menasehati satu sama lain. Mendoakan apa yang harus didoakan.
Sampai tanggal 4, kami satu sama lain mengunjungi rumah saudara yang ada di satu kota itu. Sukacita merata, sukacita ada di tiap-tiap rumah saudara kami.
Bahagia itu sungguh ada ketika Tuhan bekerja. Tuhan menunjukkan kerjaNya dari hal-hal dasar. Ini semua tidak terencana dengan semestinya kita, tapi dengan waktu-Nya. Tapi, ini pun tidak ada kalau tidak ada usaha. Setiap usaha pasti ada upah, walaupun usaha itu ada terselip kekecewaan. Dan dibalik kekecewaan pasti ada upah yang melebihi akal sehat kita.
Selamat tahun 2015 saudara-saudaraku.
Semoga kita semakin dibentuk dan diberkati sebagai berkat untuk banyak orang.
God is good. God bless.