Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Monday, 12 January 2015

Rambutkuu berantakaaaaaann!

"Kamu marah padaku?", pria mulai memecahkan suasana yang dingin itu. Yang terdengar hanya riuh kaki pejalan kaki di samping cafe itu. Mendadak semakin terdengar ramai ketika hujan mengguyur malam. Jalanan basah, baju-baju basah, tanaman disekitarnya mendapat berkat.

"Tidak kok..", ucapan singkat mengalir dari bibir wanita yang ada duduk di depannya. Wanita itu baru saja menyeruput cappucino hangat yang di pesannya kurang dari 5 menit yang lalu. Dia mengaduk-ngaduknya hingga lukisan yang ada diatas minuman itu melebur jadi satu.

"Jawaban singkat dan tatapan tidak mengarah kepadaku, pernah aku lihat. Aku tidak baru mengenalmu kemarin sore".

"Tidak kok..", wanita tadi menatap matanya. Tajam. Kemudian menundukkan kepalanya lagi dan menyeruput minumannya lagi, takug keburu dingin.

"Baiklah. Cappucino itu pacar kamu?"

Wanita itu berhenti memegang sendok. Lalu meluruskan badannya dan melipatkan tangannya didepan. Sambil tersenyum.

"How can i do? I cant do anything if you still quite."

"Aku lelah. Seharian bekerja. Kamu juga kan? Kita pulang saja. Ini sudah malam, hujan juga sudah berhenti. Lebih baik kita pulang."

Pria tadi melihat ke luar cafe. Rintik-rintik manja yang tinggal disekitaran jalan.

"Ga ada yang mau kamu bilang lagi?"

"Tidak ada, aku cuman lelah bekerja. Emosiku sedang tidak stabil. Tidak baik bicara serius ketika emosi tidak stabil. Bisa mengatakan hal yang tidak baik juga."

Pria itu pun mengangguk dan mengambil jaketnya. Segera dia dan wanitanya menuju parkir. Dia mengambilkam helm wanitanya, dan memakaikannya padanya.

"Thank you.", senyum yang selalu di rindunya pun muncul. Pria itu bahagia.

Sesampai di rumah, pria itu menurunkan wanitanya.

"Yakin ga ada lagi yang mau kamu bilang?"

"Perbaikilah komunikasi kita sama-sama. Sesibuk apapun aku, aku mengabari kamu. Kamu? Ku rasa kamu pria yang cukup peka. Wanita bisa melihat seberapa penting dirinya dalam hidup prianya, dari itu."

Pria itu kalem dan menunduk. Dia menyadari itu. Belakangan pekerjaan sangat menyita waktunya. Kalaupun ada waktu senggang, dia menghabiskan waktunya dengan teman-teman sekantornya.

"Maaf aku sedikit mengabaikanmu. Aku sangat bahagia ketik handphoneku berbunyi, aku dapat kabar dari kamu. Demi kamu, aku janji aku akan memperbaiki komunikasiku kepada kamu.."

"Ssst, jangan demi aku. Tapi demi kamu. Demi kebutuhan kamu akan kabarku. Dan jangan berjanji, cukup kamu simpan di hatimu".

"Iya. Maafkan aku. Aku menyesal. Jangan tinggalkan aku karena ini."

"Umur segini aku tidak dapat lagi mengambil keputusan mendadak. Aku lelah mengenal dan mendalami sifat orang. Cukup kamu. Kalau kamu mau dan bisa memperbaikinya, aku tidak akan apa-apa"

"How happy I am to be with you.", kata pria itu sambil senyum dan tanggannya mengacak-acak rambut wanitanya.

"Stop. Aku enggak anak-anak lagi. Rambuttku berantakaaaaan!"

"Thats how i love you damn much. I wont let you down"

"Alaaaah sudahlah. Gombalmu simpan saja. Nyatain dong brooow", sahut wanitanya sambil memperbaiki rambutnya..

No comments:

Post a Comment