Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Thursday, 26 February 2015

Filosofi Sate Padang


Beberapa hari ini aku gemar membeli sebungkus sate padang. Harganya sebungkus cuman 7ribu, tapi kadang-kadang ku minta ke bapak penjualnya untuk menggenapinya jadi 10ribu saja. Ya lumayan, tambahannya lumayan banyak. Ya, syukurlah lepas makan malam dengan uang 10ribu.

Beberapa hari yang lalu, aku ke toko buku. Soalnya bosen banget dikost, sekalian beli sketch book. Enggak tau, lagi hobby desain baju gitu (bukan karena mau wisuda kokkk). Lalu seperti biasa, aku mendekati rak novel. Terserahlah, mau novel terjemahan atau enggak.
 
Sesuai googling-twittering-instagram-ing semalam, aku nyari novel Koala Kumal. Yah, itulah enggak jodoh. Novel Koala Kumalnya udah sold out. Ckckck.. sedihlah Snow White~~~

Tapi, kemarin terlihatku novel karangan Dewi Lestari (Salah satu novelis Indonesia favoritku setelah Agnes Jessica). Novelnya yang terbaru, bejudul Gelombang, tidak begitu menarik perhatianku, karena aku enggak membaca kisahnya dari buku yang pertama. Otomatis, enggak nyambung dengan sel-sel otakku. Mataku tertuju pada "Filosofi Kopi". Aku membaca sinopsisnya. Novel ini berisi prosa-prosa beliau. Bahasanya ringan, langsung ngena' di hati.

Until, i saw and took a photo from a paper.. Isinya begini.

"Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tidak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tidak ada spasi?" (Spasi, Filosofi Kopi, 1998).

Terus aku denger-denger, ini bukunya mau dibuat film (dan aku kayanya wajib nonton, walaupun aku bukan penikmat kopi), aku lihat traillernya di instagram. Pokoknya isinya itu:

"Cinta kan datang tak diundang, pergi enggak pamit. 
Tolong dipelihara".

Ya, tanpa penjelasan, kalimat itu sudah terlalu sederhana untuk dicerna otak.

Lalu, aku adalah penikmat sate padang, belakangan ini. Padahal dulu, anti banget sama namanya sate padang. Tapi itulah, yang paling kau benci, kadang tiba-tiba bisa jadi yang paling kau cinta..
Filosofi sate padang. Enggak tau, aku menemukan kebahagiaan di sate padang berharga sepuluhrebu itu, di simpang kostan. Menemukan kalimat sederhana 

"Berbahagialah kamu, wahai yang jujur meluapkan air mata,
yang kuat menghapusnya sendiri, dan yang berani belajar untuk berserah."

Apalah adek bang, cuman kuah sate padangnya 

-Baru siap makan sate padang. Dagingnya masih sampai lambung, dikasih asam klorin biar enggak masuk bakteri-bakteri jahat-

No comments:

Post a Comment