Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Wednesday, 29 April 2015


Aku disini bercerita bukan karena bangga dideketin beberapa lelaki. Tapi, tentang memilih pilihan. Sama seperti mau membeli sepatu. Terlalu banyak pilihan yang tersaji di etalase toko sepatu. Di mulai dari pita dibagian ujung sepatu, tinggi hak sepatu, bahan bakunya, warna yang cantik dan apalagi kenyamanan di kaki. Namun, tidak semua bisa kita miliki. Cuman pada akhirnya, kita akan memilih salah satu dari semua pilihan itu, yang menurut penglihatan dan rasa  kepercayaan kita, itulah yang terbaik. Entah nanti akan kotor, sol sepatunya akan lepas atau bahkan bisa-bisa hilang, itu urusan belakangan Tergantung kita yang menjaga dan merawatnya.

Dia, yang dulu, pernah bilang,
"Kamu kalo lepas dari aku, pasti langsung cepat dapatkan penggantiku..".
Sekarang, kami sudah selesai. Episode aku dengan dia, sudah kami lewati. Kini kami berjalan masing-masing dan kurasa kehidupan kami terasa jauh lebih baik, lebih baik untuk sendiri-sendiri. Time will take us to the right moments.

Beberapa bulan setelah berpisah, tidak banyak yang tahu aku sudah menyandang status "single". Waktu itu mungkin masih berharap untuk kembali padanya. Cuman menyadari, tak semua harapan itu baik adanya untuk kita. Menurut Tuhan, lebih baik aku bersedih dulu, jatuh dulu. Dengan begitu, iman dan kedewasaanku bisa tumbuh lebih matang. Nah, ketika aku bisa tegar dan kuat, aku menjadi pribadi yang ku rasa, lebih bijak dan mandiri.

Kira-kira sejak 2-3 bulan yang lalu, sudah beberapa lawan jenis yang tahu akan kenyataan tadi. Jujur, sampai sekarang, entah apa yang dilihat mereka dari diriku. Kadang kalo aku bercermin, yang ku dapati adalah sesosok perempuan subur dan bantet, pipi menggembung, gigi berbehel, lasak, sering ngupil dan sendawa sembarangan, berkacamata dan sangat kelihatan nerd, bukan fashionable lah pokoknya. Makanya aku heran, big why? Big how?

Tapi, apakah ketika kita diberi banyak pilihan, berarti kita mesti memilih? Apakah Tuhan menghadirkan mereka, hanya untuk mempercepat proses move on ku? Mungkin.
Apakah Tuhan menghadirkan mereka hanya untuk menyemangatiku saat skripsi? Mungkin.
Apakah aku yang terlalu baper? Mungkin. Apakah aku mencari pelampiasan? Mungkin (jahat banget yaa..)
Apakah? Apakah? Itu yang jadi pertanyaan terbesarku sekarang.

Hahaha, mungkin aku adalah seonggok jiwa yang kaget, yang sudah lama tidak merasakan yang namanya "i am single and happy" dan kemudian ada beberapa lelaki yang datang mencoba mendekat, lalu tidak tahu bagaimana bersikap. Akulah itu.

Yaps, aku tidak mau gegabah. Aku bukan tipe yang mudah menjalin komitmen. Soalnya walaupun tomboy dan cuek gini, perasaanku itu kadang lebih-lebih balon sabun, ketika disentuh, mudah pecah.
Dalam doaku sih ya, aku lebih menyerahkan hatiku kepada Penciptaku, tapi tetap ku selipkan kriteria yang ku harapkan.

Aku lelah untuk menuntut Tuhan mengabulkan doaku. Aku sadar, aku ga boleh sok-sok tahu, hal apa bisa yang bisa buat aku bahagia. Mutlak sekali, cuman Tuhan yang tahu cara membahagiakan anak-anakNya, asalkaaann anak-anakNya mau dekat padaNya.

Kembali dalam hal, memilih. Aku cuman berharap, Tuhan memberikan aku kebijaksanaan. Harus memilih atau tidak? Kalau memang harus memilih, aku harap aku bisa lebih bijak dalam memilih. Kalau memang tidak, mungkin Tuhan sedang menginginkan aku fokus pada tujuanNya yang diberikanNya padaku.

Dan, kalian tahu?
Ini benar-benar ku rasakan.
Ketika aku benar-benar berserah, aku membawa Tuhan dalam setiap kondisiku, tetap mempersilahkan Tuhan membentuk hidupku sesukaNya, Tuhan benar-benar melancarkan dan memberi apa yang tidak pernah terbayangkan olehku. Kedamaian melingkupi, sukacita melebihi dari materi, keringanan dan ketenangan dalam menghadapi masalah.

Tuhan, hanya sejauh doa. Tuhan ingin kita mendekat padaNya. Tuhan rindu pada anak-anakNya. Datanglah padaNya, Dia akan menjamahmu. Selamat malam :)

Saturday, 25 April 2015

Kemarin, aku bertemu salah seorang ppds forensik, yang notabene juga salah satu senior alamamater kedokteran umum. Singkat cerita, aku ga sengaja bertemu beliau di instalasi forensik di salah satu rumah sakit di Medan. Beliau sedang menjalani PPDS (Program Profesi Dokter Spesialis). Nah, aku ke tempat yang sama karena mau mengambil data untuk sample skripsiku. Oh ya, ku nyatakan semalam adalah what a tiring day lah! Hahaha...

Di sela-sela aku ambil data, seniorku tadi tiba-tiba datang menghampiri dan ngomong

"Kau kenapa mau ambil kedokteran?"
Aku memberhentikan pekerjaanku dan mulai mendengar pertanyaannya.

"Pengen aja bang. Pengen mengabdi."

"Menjadi dokter itu, harus punya jiwa dokter.."
Aku mengangguk, tanda setuju. Beberapa anak koas disitu juga mendadak memperhatikan beliau.

"Bapakku dulu cuman tukang ngangkot, mamaku cuman jualan di pasar. Aku dulu coba masuk FK *** (negeri), tapi ga jebol. Di suruh bapakku, aku masuk hukum, aku ga mau. Aku tetap kekeuh mau jadi dokter. Dibilang mamakku, kalo masuk swasta, kami ga sanggup biayai sekolahmu. Cemanalah dibuat? Aku bersikeras, aku coba FK swasta. Lolos. Akhirnya aku merantau kuliah di FK ******** dan aku jadi supir angkot. "

"Serius bang?", aku menyipitkan mataku, seolah-olah tak percaya.

"Iya. Untuk nambah2 uang kuliah. Kata bapakku, kalo mau jadi orang kaya, jangan jadi dokter, jadilah pengusaha. Kalo mau jadi orang baik, jadilah dokter. Jangan jadi dokter yang patokannya duit. Jadilah dokter yang bener-bener mau melayani. Nanti kalo kau benar-benar melayani, pasien-pasienmu sehat dan bahagia, mereka akan merekomendasimu ke orang lain. Tengoklah aku, dokter miskinnya aku. Kemana-mana masih pake motor. Sementara kalian masih koas pun udah pake mobil. Ya kan?"

Aku cuman nyengir. Hehehe...

"Ini lagi, kalian itu kurang mau berkorban, banyak takutnya, dan komunikasi kalian itu juga. Kurang sekali. Aku, 8 tahun di IGD nya rsud.***, udah terlalu banyak jenis manusia aku temui. Dari yang datang mengeluh sakit perut sampai yang tiba-tiba datang bawa pistol atau parang. Di situlah kita dituntut untuk komunikasi yang baik dengan pasien dan keluarganya. Aku kalau ketemu mahasiswa FK, ga ilmu yang ku kasih, ilmu bisa klian cari di buku kan? Tapi pengalaman itu yang membuat jiwa dokter kita tumbuh. Jadi dokter, bukan ilmu dulu yang ditumbuhkan, tapi jiwamu sebagai dokter, jiwa ingin membantu.dan melayani, jiwa berkorban itu yang penting. Kalau udah itu kau pegang, yakinlah uang akan datang dengan sendirinya..".

Keadaan mulai hening, otakku berfikir dengan kata-kata senior yang satu ini. Memotivasi dan inspiratif lah. Lalu tiba-tiba dia melanjutkan wejangannya lagi.

"Kau tengoklah, sekarang banyak dokter-dokter numpuk di kota kan? Kenapa coba?"

"Biaya kuliah kedokteran mahal bang, jadi beberapa dari mereka punya pemikirian untuk balik modal dulu. Makanya bertahan di kota, nyari duit. Kalo di desa kan ga pala gajinya, kayanya sih gitu bang", jawabku spontan.

"Nah, itulah dia. Kalian jadi dokter bukan itu tujuannya, tapi melayani".

Aku menganggung dan tersenyum tanda setuju.
Sedikit banyaknya, begitulah kira-kira isi percakapan kami. Sepanjang beliau bercerita, aku bener-bener memberhentikan pengerjaan mengambil data-dataku.

Ya, mendapatkan pengalaman dari senior itu, perlu sekali. Kita bisa mengintrospeksi diri dan lebih belajar lagi untuk lebih baik.

Perihal menjadi dokter. Ya, kehidupan seorang dokter akan berlimpah pada waktunya. Karena aku juga melihat, banyak dokter yang hidupnya lebih dari sejahtera ketika usia lanjut, bukan pada waktu muda.

Bener juga, seorang dokter itu, lama mandirinya, mahal sekolahnya. Jadi, siapa yang hidupnya pengen cepat sejahtera, janganlah ambil FK. Kalo pengen banget, coba ubah patokanmu, visi dan misimu. Intinya, jadi dokter itu musti melayani dengan ikhlas. Kepuasan pasien jauh lebih penting dari materi.

Aku pun belum jadi dokter, cuman mau berbagi nasehat dan wejangan dari senior. Semoga, kita yang mau ambil prodi kedokteran, sedang menjalani prodi kedokteran, sedang koas, sedang internship, sedang PTT, lebih semangat lagii untuk melayani. Tuhan memberkati.

Thursday, 16 April 2015

Aku sedang dalam perjalanan menuju satu hal yang bisa jadi tumpuan hidupku dan hidup beberapa orang sakit nantinya. Aku semakin mendekati check-point yaitu Gelar S.Ked. Jawaban yang ku maksud adalah, apa aku benar-benar dipanggil untuk menjadi salah satu perpanjangan Tuhan di dunia ini, untuk menyembuhkan orang sakit?

Sampai sekarang, belum terbayangkan samaku aku benar-benar berbicara sama pasienku, mengobati mereka dan mereka menjadi sembuh. Ku tekankan, sama sekali belum terbayangkanku. Entahlah, aku pun tidak mengerti -____-"

Salah satu jawaban yang paling menakutkan adalah "Maaf, kamu salah jalan. Panggilanmu tidak disini. Kamu gagal. Ulang lah dari awal."
Sekian lama, jatuh bangun, suka duka itu berakhir dengan jawaban sia-sia. Oh Tuhan, janganlah sampai.

Selelah-lelahnya aku sekarang, panduanku cuman ini:
"Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya" - Efesus 5:10.
Setelah itu, biarlah imanku, mengimaninya. Mengolahnya jadi sumber semangat. Dunia ini dipenuhi banyak ancaman, tidak ada yang terharap dari dunia ini. Tuhanlah sumber pengharapan.

Aku menjalani pendidikan sampai sedemikian lelahnya (namun lebih lelah lagi orangtuaku yang membiayai pendidikanku), terserah Tuhan mau memberi jawaban apa padaku. Yang ku tahun, aku bernafas hari ini saja, Tuhan punya tujuan atas hidupku. Apalagi meletakkan aku di prodi yang tidak main-main ini.

Bacalah ini:
"Karena kita buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaab baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup didalamnya" - Efesus 2:10

Ada makna dari setiap kehidupan.
Ada jawaban atas perjalanan
Ada keindahan di ujung lelah
Ada Tuhan untuk menunjukkan dan meraih itu semua.

Mendekatlah padaNya, perjalananmu akan lebih indah dari yang kau kira. Sehebat itulah kekuatan Bapa Yang Maha Cinta.

Wednesday, 15 April 2015

Malam ini aku rekomendasi lagu ini sambil baca tulisanku:
"Nikita - Tangan Tuhan"


Setelah beberapa kali menunda, akhirnya aku S c a l i n g gigi. Tau kan S c a l i n g gigi? Pembersihan gigi dari karang gigi dari sisa-sisa makanan yang mengendap di sela-sela gigi, yang tidak terbuang ketika sikat gigi. Itu lhooo, yang bunyinya ngiiiiikkk...ngiiikkk.. kaya lagi melicinkan ubin. Setiap orang pasti pernah denger deh. Dan jujur saja, aku itu paling ogah untuk mendengar suara itu, ngilu dan takut aja bawannya. Dan kenyataannya, aku hari ini telah menyelesaikan kejadian itu. Aku melewati episode perawatan gigiku yang sudah lama aku tunda-tunda.

Hari ini aku ragu mau ke dokter gigi, karena tiba-tiba hujan deras dan masih capek banget tadi pergi ke tempat penelitianku. Datangnya hujan seakan-akan kode dari Tuhan,"sudahlah anakku, besok saja kamu scaling giginya". Hahahahaha... Tapi tidak, kawanku yang punya mobil ngajak aku bareng ke praktek dokter gigi. Ah, ya sudahlah, mungkin sudah waktunya, aku menyerahkan gigiku diotak-atik pake alat scaling gigi itu. Aku pasrah.

Sesampai di sana, dia dan adiknya duluan yang dicek giginya, karena notabene kami semua pakai behel, hahaha.. Hingga akhinya, waktuku datang. Singkat cerita, gigiku di s c a l i n g. Oh maaaan! 
You know Ngilu? 
You know sakit? 
You know bunyi-bunyi yang menyeramkan itu kini terdengar jelas ditelingaku? 
You know, aku sedang menghadapi ketakutanku?

Dengan sangat selooow, dokter gigiku berkata:
"Tenang saja, pasrah saja. No Pain No Gain. Kalau enggak karang gigimu makin banyak, gusimu makin bengkak".
Ketika dokter gigiku berkata begitu, aku sedang melihat gigiku di s c a l i n g dan berdarah. Aku memang calon dokter, tapi sedikit takut melihat darah (Sudahlah, positifnya, Tuhan memakai cara ini untuk membiasakanku melihat darah)

"Lah, itu apa dok? gigiku patah?", ketika aku melihat karang gigiku lepas.
"Itulah karang gigi. Batu-batu kecil. Untunglah enggak bisa dijadikan batu akik dia itu. hahaha"
Dan aku pun sontak "Hahahahahaha, batu akik pula ya dok hahaha...". 
tapi dalam hatiku,"Pulangkan aku!!!"

Dan pada saat udah kelar, dokterku bilang:
"Udah, kalo lagi s c a l i n g gitu, bayangin yang enak-enak aja. makan pangsit kek. Udah pernah makan di pangsit chionsgsim jalan selat panjang?"
"Belum dok, cuman pernah denger", kataku sambil mendep darah gigiku.
"Jangan mati sebelum makan itu. Enggak bisa tidur deh kalo udah makan itu. Mau lagi." 
dalam hatiku, "Apa dokter ini udah berubah jadi tukang endorse makanan?"
Begitulah kira-kira penutup pertemuan kami.

Sekilas info:
Karang gigi itu timbul dari sisa-sisa makanan yang ga terangkat ketika kita sikat gigi >> kemudian menumpuk di sela-sela gigi >> memancing bakteri datang >> kemudia gusi memerah + membengkak (itu adalah tanda adanya inflamasi dan infeksi >> Makanya enggak heran, ketika kita sikat gigi, mau kadang gusi berdarah. Dengan kejadian ini aku ngerti sakit, bakal nge s c a l i n g gigi minimal sekali setahun walaupun sakit. Demi kesehatan lhoo yaa..

Nah, aku mulai dari dulu, sejak perawatan gigi, aku dengan dokterku ini. Dulu sebenarnya udah sejak SMP aku disuruh untuk perbaiki gigiku ini, tapi KETAKUTAN masih mendominasi otakku. Maklumlah, mungkin karena masih anak-anak. Tapi setelah aku melihat, susunan gigiku enggak estetik banget, aku sendiri yang meminta pada orangtuaku. Aku sendiri yang memulai untuk melawan ketakutanku.

Kasus gigiku awalnya adalah gigi taring kanan atasku enggak keluar. Dia tertahan oleh sisa akar gigi susu. Aku kira emang enggak ada benihnya, tapi setelah di rontgent (Aku juga paling takut di rontgent, takut entah apa-apa yang enggak beres, kelihatan di hasil rontgentnya itu), rupanya ada benihnya. Terpaksa dioperasi, dan emang salahku yang lasak kali kalo makan, sempat putus kawat yang ditanam untuk menarik taringku itu, aku harus operasi lagi. Cobaklah edak bayangkan, aku 2 kali operasi gigi!!! AKU ITU TAKUT SAKIT. AKU ITU TAKUT SUNTIK. AKU ITU TAKUT DARAH. AKU ITU TAKUT RUANG BEDAH. AKU TAKUT HAL-HAL BERHUBUNGAN DENGAN GIGI. 
Aku mesti dibius 6x kali suntik. 
Langit-langitku mesti digergaji. 
Ketika sudah habis obat biusnya, sakit bekas operasi itu bagaikan Valentino Rossi di sirkuit balapan motor, sampai diotakku (Bahkan lebih cepat) dan memberikan sirene "INI SAKIIIIITZZZ.. KZL. ZBL, MLZ.". Ini karena letak operasinya kan di kepalaku, dekat dengan otakku, jadi cepat banget masuk impuls saraf sensorikku ke otakku. JELASLAH CEPAT, JELASLAH SAKIT KALI.
Kemudian bekas jahitan mesti dibuka, dan itu sangat sakit. 

Aku memang tipe yang jarang-jarang sakit. Tapi sekali sakit, langsung operasi. Dulu, waktu SD, aku terkena Usus buntu (medisnya: apendisitis) dan nyaris mati karena usus buntuku hampir pecah semuanya. Jadi kalo itu pecah, perutku mengalami peritonitis (Itupun aku tahu setelah aku kuliah ini), karena usus buntu itu mengandung banyak bakteri yang meradang (makanya dia dinamai Apendisitis). Bayangkan kalau itu menginfeksi seluruh saluran pencernaan? Aku tidak menulis ini lagi dan ayahku tidak punya Boru Panggoaran lagi. Huhuhuhu *sok merasa penting kali aku ini kadang-kadang*. Nanti deh, aku ceritakan lebih jelas lagi tentang apendisitisku ini.

Balik ke masalah gigi tadi. Seriuslah, hampir 3 tahun ini aku bergumul dengan ketakutan-ketakutanku sendiri, menciptakan rasa tidak nyamanku sendiri. Toh, rupanya bisa ku lewati. Sempat sih pengen menyudahi ini semua, AKU NYERAH MAK! AKU NYERAH DOKTEEEER!! INI SAKIT KALI!
Tapi aku bersyukur bertemu dengan dokter gigiku ini. Sangat komunikatif, sangat buat aku anteng, pintar menyugesti pikiranku agar tidak berpusat ke sakitku.

Ada hal yang bisa ku dapat dari ini semua..
1. Aku terlalu khawatir. Aku terlalu mendewakan ketakutanku. Padahal di Alkitab aja ditulis:
"Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu" (1 Petrus 5:7)

Aku semakin yakin, bahwa untuk hal baik, tidak ada yang perlu ditakutkan. Usahakan dan Berserah saja. Hidup kalau dipenuhi ketakutan, akan mati. Ingat, setiap langkahmu jelas dituntun Bapamu Yang Sangat Hebat itu..

2. Yang tahan uji itu yang baik, yang hidupnya lebih WOW! NO PAIN NO GAIN. Di Alkitab aja lhooo:
"Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan, dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita" (Roma 5: 3-5)

Bagiku, di dalam keadaan ini, aku tahan terhadap segala sakit, aku tidak terlena dengan rasa takutku terhadap segala proses perawatan gigiku, aku mampu melewatinya dan kini gigiku sudah mulai rapi, siap untuk memberi senyuman paling uwaaaaaawuuuuu untuk pasien-pasienku nanti, mhihihi... 

Begitu juga dengan kehidupan kita ini. Adanya masalah, bukan berarti kita sedang sial. 
Tuhan hendak menaikkan derajat kehidupanmu, Tuhan mau memberikan mahkota kehidupan padamu (Yakobus 1:12), 
Tuhan mau kamu selalu rindu padaNya, menyadari kamu adalah lemah tanpaNya (Matius 11:28)
Yakinlah, tidak ada Iman dan pengharapan yang tumbuh tanpa pergumulan dan masalah. (Roma 12:12)
Tuhan mau menyadarkan, bahwa Dia tidak akan meninggalkanmu. (Ibrani 13:5b).

Sudahlah, No Pain No Gain. Bahagia itu sama pentingnya dengan Sedih. Tanpa sedih, tidak ada yang kau sebut bahagia, begitu juga sebaliknya. Nikmati saja segalanya. 
The Main thing is, God Always Stay Around You


"Entah kenapa, kalo ngelihat kau pasti aku bawaannya mau ketawa", tiba-tiba dia muncul dari belakang dengan membawa ukulelenya.

"Ya mungkin karena kau lucu lhoo..", aku menjawab.

"Lah maksudnya?", dia memberhentikan permainannya.

"Ya, kau kan lucu, rame bawaannya. Makanya aku ketawa terus ngelihat kau..", aku memperjelas.

Dia mengambil posisi di sampingku dan menegakkan tulang punggungnya, "Kau itu salah dengar. Bukan kau yang ketawa, tapi aku yang ketawa kalo ngelihat kau lhoooo..."

"Ha? Iyanya? Salah dengar aku berarti?", aku pura-pura termangu.

"Heeeeeehhh...!", dia mengacak-acak rambutku yang sudah salah potong seminggu lalu.

"Weeeiii, rambutku susah diatur lhoo.. Jangan diacak-acak. Lihat? Kan susah kn ngaturnya", aku marah, tapi pura-pura, dalam hati gregetan, sambil memperbaiki rambutku. Rambutku ini susah membedakan mana poni, mana rambut yang lebih panjang.

Dia tetap selooow melanjutkan permainan ukulelenya yang sebenarnya nada senarnya pun lari entah kemana-mana.

Monday, 13 April 2015

Apa kita mulai mencintai?
Apa kita mulai risau tanpa kabar?
Apa kita mulai saling menceritakan nama satu sama lain pada sahabat?
Apa kita mulai saling meminta pendapat sahabat kita ", Apa dia serius padaku? Apa kami cocok?"
Apa kita mulai memberikan jadwal kita satu sama lain? 
Apa kita mulai bercanda,"Iya, aku lagi makan sama pacar. Haha, becanda dink..", kemudian salah satu diantara kita merasa cemburu? 

Aku tidak mengingkari, dan bahkan tidak boleh mengingkari bahwa
Kamu pintar membuatku aku tertawa.
Kamu tiba-tiba datang, dan aku rasa ini tidak kebetulan.
Jujur aku tidak pernah mendoakanmu, karena aku pun tidak begitu mengenal kamu. 
Kamu siapa? Siapa kali kamu sehingga aku menyebut namamu dalam doaku?

Kita pernah berada dalam beberapa tahun dan tempat yang sama.
Tapi, ya begitu. Selama itu, aku tidak pernah bertemu kamu.
Kalaupun bisa seperti sekarang, itu hanya karena rencanaNya tidak tertebak oleh siapapun.
Siapa sangka, kamu hadir. Iya, kamu.
Memunculkan tawaku lagi.
Menyapaku pagi hari.
Mengecek aku malam-malam, apakah aku sudah tidur.
Tiba-tiba menelpon diwaktu-waktu tak tertebak.
Memaksaku untuk memakai jaket, karena aku agak keras kepala.

Ah, seperti biasalah. Cinta, manis diawalnya.
Tidak, tidak cinta yang seperti itu lagi yang kucari.
Hayuuuks, kita sama-sama memantapkan kualitas kita
Sebelum Tuhan benar-benar menunjukkan kamu dan aku adalah satu perangkat suatu saat nanti.

Janganlah takabur, kita harus siap-siap pada segala keadaan.
Kita mungkin bisa sedekat ini, tapi siapa tahu nanti jarak itu melebihi luas samudra.

Yuks, saling bertumbuh dalam Iman, saling menyemangati, saling mengingatkan, saling mengayomi, saling menyetiakan dan saling dalam hal-hal positif.
Sehingga jika suatu saat kita memang disuratkan untuk satu sama lain, kita sudah sepadan.
Sepadan dalam segala aspek.
Let God work on our relationship :)

Sunday, 12 April 2015

Untuk mencintai saja kita harus
Coba-coba meliriknya.
Coba-coba mendekatinya.
Coba-coba memperhatikannya.
Coba-coba mengutarakannya.
Dan bahkan untuk melepaskan kita harus
Coba-coba tidak peduli
Coba-coba tidak stalking
Coba-coba tidak ingin cari tau
Coba-coba mengikhlaskan
Coba-coba tidak acuh
Kalo tidak mencoba, kita ndak tau apa hasilnya.
Lalu, kalo udah bisa sekali, bukankah
" Ala bisa karena biasa?"

Thursday, 9 April 2015

Perhatikanlah.
Yang kau rindu mungkin tak akan kau miliki dan yang tak kau rindu, bisa jadi merindukanmu, tapi dia tidak berucap.
Kau rindu padanya
Kau rindu padanya
Oh cantik, semesta tak memberikan dia padamu
Tapi, hati yang sangat cantik telah merindumu
Tidakkah kau tahu?
Kenapa hatimu menunggu yang tak berangan padamu?
Kasihan kamu, kasihan.
Terlalu bahagia dia untuk kau rindukan.
Ayolah
Hati yang cantik itu mulai menampakkan diri di depan matamu.
Harus berapa rindu yang dia rasakan, baru kau membuka hatimu untuk siperindumu?
Apa nanti, ketika rindunya padamu,
Mengendap, Bocor dan habis?
Tidak harus seperti itu untuk menyadarkanmu kan?
Rindu?
Tidak ada tempat untuk membuang rindu. Dan bahkan tempat sampah saja tidak bersedia untuk menampungnya.
Tapi, kau bisa menghapusnya.
Menghapusnya ke udara.
Mudah atau tidak?
Bohong kau akan beria-ria ketika menghapusnya.
Pastilah satu titik molekul air hujan, bersumber dari air matamu yang jatuh ke tanah.
Tenanglah, rindu akan menemukan siapa perindunya yang abadi.
Rindu ketika tak nampak.
Rindu ketika tiada kabar.
Menjadikan kabarmu sebagai kebutuhannya sehari-hari,
Bukan harapanmu akan dirinya.
Ah rindu, rasakanlah.
Sekali lagi rasakan.
Sampai rindu padanya adalah hadiah yang kau paling indah, walau kau menyadarinya, terlalu lambat.

Wednesday, 8 April 2015

Ini hampir lima bulan aku tidak bertegur sapa denganmu, seperti layaknya hampir lima bulan yang lalu.
Ada yang salah? Tidak, tidak ada yang salah. Kita cuman diajar untuk bangkit dari kepergiaan seseorang, kuat ketika hanya ada pilihan kuat yang disajikan Dia.
Ya, aku menangis. Menangisi lamanya dan kisahnya kita, kemudian bertanya
"kenapa harus bertemu, toh akhirnya berpisah. Setragis ini?"
Hahaha, kalimat naif yang terucap karena sudah lama tidak merasakan "putus".
Dulu, kamu yang mengakhiri. Dan selama hampir lima bulan, kamu selalu memulai komunikasi. Kamu tau apa yang ku pikirkan?
"apa dia mulai menyesal? Dan kemudian mulai mencari rasa simpatiku lagi?"
Haha, aku berspekulasi sendiri dan ujung-ujungnya hatiku yang berharap, lagi. Sedih lhoo begitu, hehehe...
Untunglah, akal sehatku masih berfungsi dengan baik dan hatiku masih berada dalam batas normal, tahu mana yang baik dan buruk.
Jadi, janganlah sedih ketika aku membalasnya sekedar saja.
Janganlah berfikir aku sombong.
Janganlah berfikir aku tidak mau berteman denganmu.
Aku hanya ingin memproteksi perasaanku yang keseringan lebih cepat GR dan ga tau diri. Karena aku tau, aku tidak bisa menganggapmu hanya sebagai teman. Aku tidak bisa, kemampuan hati kita berbeda.
Aku takut
Nanti aku sakit lagi
Nanti aku kecewa lagi
Nanti aku berharap lagi
Nanti aku jatuh lagi
Nanti aku pedih lagi
Nanti aku menangis lagi
Nanti aku tidak bisa bangkit lagi
Nanti aku terseok lagi
Dan tidak ada yang menolong, kecuali aku dan Tuhanku.
Kini aku sudah bertenaga lagi, tidak hanya menghabiskan malamku dengan isak, tidak membuang waktuku dengan cemburu. Tidak, aku sudah menyelesaikan episode cerita hidupku yang satu itu.
Mungkin dulu aku berfikir, kamu adalah satu-satunya, kamu adalah zona amanku, kamu adalah segalanya.
Tapi, dirimu sendiri yang meyakinkan aku bahwa itu hanya angan-anganku saja.
Aku harus mengeraskan hatiku untuk tidak memelas pada otakku, untuk mencari tahu
Apa kabarmu hari ini?
Jangan lupa makan siang dan tetap semangat.
Karena aku tahu, itu virus buat kehidupanku. Aku harus menjauhinya. Bukankah sebodoh-bodohnya manusia, dia pasti akan menjauhi rasa sakit, kan?

Tuesday, 7 April 2015

Untuk mencintai saja kita harus
Coba-coba meliriknya.
Coba-coba mendekatinya.
Coba-coba memperhatikannya.
Coba-coba mengutarakannya.
Dan bahkan untuk melepaskan kita harus
Coba-coba tidak peduli
Coba-coba tidak stalking
Coba-coba tidak ingin cari tau
Coba-coba mengikhlaskan
Coba-coba tidak acuh
Kalo tidak mencoba, kita ndak tau apa hasilnya.
Lalu, kalo udah bisa sekali, bukankah
" Ala bisa karena biasa?"

Monday, 6 April 2015

Untuk beberapa minggu ini aku lebih banyak bergaul dengan cowok, semakin memunculkan naluri kejantananku *lhoo afa-afaan itu?*

Iya, aku belakangan ini lebih intern ngobrol sama teman-temanku yang cowok. Dari mulai urusan ban tubless, makan enggak teratur, sampai kenapa pria bisa menangis? Dan aku mendapat beberapa point, kenapa pria menangis.

1. IBU

Cowok A:
"sekali saja kau menyinggung mamakku, seumur hidupku enggak akan aku tengok kau lagi"

Itulah kalimat yang membuat aku hampir kehilangan fungsi pendengaranku ketika orang yang suka bercanda itu, berkata keras seperti itu. Banyak faktor yang buat  seorang cowok begitu jatuh cinta sama mamanya. Dari pinter masak, ngurus keuangan, ngurus rumah. Mungkin dia pribadi menyadari, itu semua tidak mudah. Mamanya pintar memanjakan keluarga. Mamanya lebih mengalah. Mamanya begitu penyayang.

"aku saja pernah menangis waktu mamaku sakit. Untuk ukuran cowok, aku termasuk cengeng kalo udah ngomongin tentang mamak. Kalo cari istri, ya aku bilang kaya mamaku ini".

Cowok B:
"mamakku baik sekali. Dia pertahankan keluarga kami. Aku sedih kali pas dia udah meninggal. Aku peluk-peluk dia, aku urus dia seorang diri, ngomong ke dia, aku janji ke dia, aku akan banggain dia".

Serius, orang yang sering chat "hahahahaha", "kam lucu. Aku konyol haha..", bisa juga buat aku terharu. Aku enggak tahu gimana perasaan dia waktu mamanya pergi. Secara dia anak bungsu, dia yang paling dekat sama mamanya dibandingkan abang kakaknya yang lain.
Aseeemmlah, ikutan nangis aku gara-gara dia. Tapi aku yakin, someday dia akan menjadi suami yang sangat sayang dengan keluarganya. Tuhan menyertai calon orang sukses seperti dia.

Cowok 3:
"cemanalah mamak paling tau aku. Walaupun cerewet tapi pas merantau gini, aku nyadar perintah dia yang paling pas".

Ya gimana ya, orang mamak yang ngurus kita dari kecil sampai udah mau jadi bapak mamak orang begini. Ya jelaslah mamak paling mengerti.

2. PELIHARAAN

"aku punya anjing dulu nop, cuman karena dia gigit orangtuaku, dipotong dia, dimasak dia. Serius, aku nangis. Baik kali anjingku itu. Penurut kali lah. Kalo aku pulang pasti disambutnya.
Sialnya aku makan pula dagingnya, nambah double sedihnya kannn.."

Itu aku no comment dah. Aku ga suka peliharaan, apalagi anjing. Zzz..

3. (Khusus orang Batak) TARITOK

Orang Batak itu ga bisa pacaran apalagi menikahi satu marganya atau marpadannya (teman gitu kalo ga salah) atau yang semarga sama mamanya karena jatuhnya jadi tulang.
Contohnya nih, aku Hutabarat dan mamaku Nainggolan. Aku itu udah dibilangi jangan pacaran sama marga Panggabean, Hutagalung, Tobing, Silaban, Hasibuan dan Nainggolan. Ya namanya adat ya, kalo enggak kita lagi yang melestarikan, siapa lagi?
Nah beberapa pengakuan kawan-kawanku yang cowok, mereka bisa nangis karena disuruh putus sama pacarnya perkara marga. Rasanya enggak adil aja. Hahaha..

4. KEKASIHKU, MENANGIS, KARENAKU

Oke, yang terakhir ini jarang sekali ditemukan. Kecuali kalo emang udah yakin, udah soulmate banget, udah klop banget sama cewenya. Aku baru tahu, setiap cowok ada sisi merasa sangat bersalahnya kalau ceweknya menangis karena dirinya. Dan dia diam-diam akab menangis, sembunyi-sembunyi. Ah meeen, so sweet kali yang satu ini. Boleh dikloning? Wkwkwk..

5. SAHABAT

"dirinya berubah, aku tidak mengenal dia lagi. Padahal aku sudah bersahabat lebih dari 10 tahun dengannya"

Lalu aku tertawa dia bisa menangis seperti itu. Dalam hatiku berkata

"bisa kau nangis karena sahabatmu? Karena cewekmu ga pernah. Yakin klian cuman sahabat?"

Lalu dia menjawab

"Aku serius. Aku tak pernah menangis, jika tidak darurat."

Oke meen, aku diam. Dengerin ceritanya aja deh.

6. FILM

Sejauh ini film The Miracle in Cell no.7, I am Sam, The Persuit Of Happines, bisa membuat mereka menangis. Pengakuannya sih gituu...

Itu sih sebagian yang ku dapet dari lelaki disekelilingku. Mataku jadi terbuka. Laki-laki bisa menangis.

Cowok menurutku wajar untuk menangis. Tapi tetaplah pada batas normal. Menangis kan bukan tanda lemah. Menangis itu sehat, meluapkan apa yang ada di hati. Daripada dipendam2? Hahaha...

Jadi, kamu cowok-cowok seumur hidupmu sudah menangis karena apa? Hihihi...