Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Wednesday, 8 April 2015

Mengeraskan Hati

Ini hampir lima bulan aku tidak bertegur sapa denganmu, seperti layaknya hampir lima bulan yang lalu.
Ada yang salah? Tidak, tidak ada yang salah. Kita cuman diajar untuk bangkit dari kepergiaan seseorang, kuat ketika hanya ada pilihan kuat yang disajikan Dia.
Ya, aku menangis. Menangisi lamanya dan kisahnya kita, kemudian bertanya
"kenapa harus bertemu, toh akhirnya berpisah. Setragis ini?"
Hahaha, kalimat naif yang terucap karena sudah lama tidak merasakan "putus".
Dulu, kamu yang mengakhiri. Dan selama hampir lima bulan, kamu selalu memulai komunikasi. Kamu tau apa yang ku pikirkan?
"apa dia mulai menyesal? Dan kemudian mulai mencari rasa simpatiku lagi?"
Haha, aku berspekulasi sendiri dan ujung-ujungnya hatiku yang berharap, lagi. Sedih lhoo begitu, hehehe...
Untunglah, akal sehatku masih berfungsi dengan baik dan hatiku masih berada dalam batas normal, tahu mana yang baik dan buruk.
Jadi, janganlah sedih ketika aku membalasnya sekedar saja.
Janganlah berfikir aku sombong.
Janganlah berfikir aku tidak mau berteman denganmu.
Aku hanya ingin memproteksi perasaanku yang keseringan lebih cepat GR dan ga tau diri. Karena aku tau, aku tidak bisa menganggapmu hanya sebagai teman. Aku tidak bisa, kemampuan hati kita berbeda.
Aku takut
Nanti aku sakit lagi
Nanti aku kecewa lagi
Nanti aku berharap lagi
Nanti aku jatuh lagi
Nanti aku pedih lagi
Nanti aku menangis lagi
Nanti aku tidak bisa bangkit lagi
Nanti aku terseok lagi
Dan tidak ada yang menolong, kecuali aku dan Tuhanku.
Kini aku sudah bertenaga lagi, tidak hanya menghabiskan malamku dengan isak, tidak membuang waktuku dengan cemburu. Tidak, aku sudah menyelesaikan episode cerita hidupku yang satu itu.
Mungkin dulu aku berfikir, kamu adalah satu-satunya, kamu adalah zona amanku, kamu adalah segalanya.
Tapi, dirimu sendiri yang meyakinkan aku bahwa itu hanya angan-anganku saja.
Aku harus mengeraskan hatiku untuk tidak memelas pada otakku, untuk mencari tahu
Apa kabarmu hari ini?
Jangan lupa makan siang dan tetap semangat.
Karena aku tahu, itu virus buat kehidupanku. Aku harus menjauhinya. Bukankah sebodoh-bodohnya manusia, dia pasti akan menjauhi rasa sakit, kan?

No comments:

Post a Comment