Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Thursday, 9 April 2015

Tjakap-Tjakap Rindu

Perhatikanlah.
Yang kau rindu mungkin tak akan kau miliki dan yang tak kau rindu, bisa jadi merindukanmu, tapi dia tidak berucap.
Kau rindu padanya
Kau rindu padanya
Oh cantik, semesta tak memberikan dia padamu
Tapi, hati yang sangat cantik telah merindumu
Tidakkah kau tahu?
Kenapa hatimu menunggu yang tak berangan padamu?
Kasihan kamu, kasihan.
Terlalu bahagia dia untuk kau rindukan.
Ayolah
Hati yang cantik itu mulai menampakkan diri di depan matamu.
Harus berapa rindu yang dia rasakan, baru kau membuka hatimu untuk siperindumu?
Apa nanti, ketika rindunya padamu,
Mengendap, Bocor dan habis?
Tidak harus seperti itu untuk menyadarkanmu kan?
Rindu?
Tidak ada tempat untuk membuang rindu. Dan bahkan tempat sampah saja tidak bersedia untuk menampungnya.
Tapi, kau bisa menghapusnya.
Menghapusnya ke udara.
Mudah atau tidak?
Bohong kau akan beria-ria ketika menghapusnya.
Pastilah satu titik molekul air hujan, bersumber dari air matamu yang jatuh ke tanah.
Tenanglah, rindu akan menemukan siapa perindunya yang abadi.
Rindu ketika tak nampak.
Rindu ketika tiada kabar.
Menjadikan kabarmu sebagai kebutuhannya sehari-hari,
Bukan harapanmu akan dirinya.
Ah rindu, rasakanlah.
Sekali lagi rasakan.
Sampai rindu padanya adalah hadiah yang kau paling indah, walau kau menyadarinya, terlalu lambat.

No comments:

Post a Comment