Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Saturday, 30 May 2015


Seperti biasa, aku Ibadah sore dengan beberapa kawanku. Aku siap-siap, padahal jam sudah menunjukkan pukul empat kurang sepuluh menit, tapi aku masih santai mengeringkan rambutku dengan kipas. Aku jarang sekali memakai hairdryer untuk mengeringkan rambutku, karena bagiku panas dari hairdryer itu benar-benar mengeringkan rambut sampai ke akar-akarnya, akhirnya terlihat seperti ijuk serta mudah rontok dan ngembang, membuat mukaku jadi kelihatan bulat sekali. Duh, itu benar-benar failed dan bad hair day buatku. Aku memakai hairdryer kalo emang udah waktu yang mepet banget. Kalo masih ada waktu, mending mengeringkannya pakai kipas atau bela-belain tangan pegal ngipasin rambut pakai Koran.

Hari ini, aku memilih memakai kebaya kutu baru yang baru sampai seminggu yang lalu dan dipadupadankan dengan rok span hitam, warna sejuta gaya. Ya, dengan dandanan yang ala kadarnya: pelembab Pond’s + Lipstick IShine nomor 9 “Rose Corail” yang berwarna lembut + Eyeline MyDarling (sungguh formasi yang tidak pernah ku ganti-ganti, kecuali merek lipstick) aku bergegas ke Gereja, bertemu Kekasih Hatiku. Tapi sebelumnya aku harus menjemput temanku itu.

Mengarahkan pandangan ke arah jam tangan, kami menginjakkan gas ke Gereja yang biasa kami datangi setiap hari Minggu. Mungkin, hanya cewek Medan yang mengerti bagaimana caranya mengendarai motor dengan kecepatan “agak” tinggi ketika menggunakan rok span dan sepatu higheels. Ditambah lagi kemacetan di Medan yang malesin dengan angkot yang sesuka hatinya ngetem, what a complex day deh! Dan sore itu, aku wajib berperilaku seperti itu.

Mau marah enggak bisa, karena ini memang kesalahan kami, lupa kalau Minggu ini tidak ada ibadah sore jam setengah 5. Minggu ini ada acara apaaa gitu di Gereja, aku pun lupa. Ya sudah, kami memilih Ibadah di Gereja yang lain, yang kebetulan mulai Ibadahnya itu jam 5 sore. Kami memutuskan untuk ibadah di sana.

Jam lima kurang sepuluh menit, kami sampai di sana. Kami mendapati Gereja sudah mulai penuh oleh remaja dan anak kuliahan seperti kami. Kami pun masuk dan seperti biasa, kami memilih bangku ke 5 dari depan, lalu melakukan tata ibadah seperti biasa, diawali dengan Saat Teduh. Setelah itu ya mencari ayat khotbah yang dipilih untuk ibadah Minggu ini. Saat itu, bangku tepat di belakang kami masih kosong. Ketika ibadah hampir dimulai, beberapa orang memenuhi bangku tersebut, tapi aku tidak terlalu memperhatikan siapa, sampai ibadah selesai.

Ibadah pun selesai, sesi Salam Selamat Hari Minggu di mulai. Tapi mungkin karena alasan tidak kenal, atau segan untuk bersalaman, aku tidak menyalam orang yang duduk dibelakangku tadi. Aku hanya sepintas melihat wajahnya, dan kemudian dia pergi.

Sudah malam, aku dan kawan-kawanku lapar. Kami bergegas ke McD (maklum bulan muda). Aku mau memesan duluan. Aku mengambil dompet dari tas kecilku. Dan, aku menemukan secarik kertas kira-kira berukuran 8x11 cm (barusan beneran aku ukur, hahahaha..), terselip di dekat dompetku. Aku kira ntah struk belanja apaaa gitu, aku berniat langsung buang. Tapi setelah ku lihat, tulisannya bukan tulisan mesin. “Ini tulisan tangan..”, pikirku. Isinya sebuah nama, nomor handphone, akun instagram dan pin BB. Entah siapa ini. “Kurang kerjaan.. ibadah pun masih sempat-sempatnya buat begini..” ucapku lagi dalam hati.

“Wei? Lihatlah. Siapalah yang punya kerjaan ini..”, langsung aku kasih tahu sama Lala, kawanku. Kawanku langsung ambil kertas itu dan membacanya.

“Hahahaha, dimana kau dapat?”, Lala tertawa.

“Mbooh. Aku dapat di tas pas mau ambil dompet.”

“Apaa itu wei?”, kawanku si Risa mengambil kertas itu dari Lala.

“Ga tau aku nemu pas ambil dompet. Aku apain lah itu?”

“Ah, naksir dia samamu ini…”, celetuk Risa.

“Masih ada ya jaman sekarang nulis nama dan nomor di kertas terus masukkin ke dalam tas..”, komentar Lala sambl mengaktifkan handphonenya.

“Entah, aneh-aneh aja..”, aku mengangkat bahuku.

“Kau lihat tadi siapa yang duduk dibelakangmu tadi?”, Lala nanya sambil melihat menu yang terpampang di atas kepala kasir tapi malas bergerak ke meja order karena ngantrinya panjang bener.

“Enggak sih sepintas aja. Yang ku tahu dia berkacamata. Tapi ngapai coba dia bikin begini, sepenglihatanku, tadi dia sama cewek sih..”, aku juga masih melihat menu, memilih yang mana yang pas.

“Hahahahaha…”, dua kawanku yang tepat berada di depanku ini, tertawa berbarengan. Entah memang merasa lucu atau mengejek aku.

“Ku apain lah?”, tanyaku memberhentikan tawa mereka berdua.

“Coba kau searching Instagramnya..”, Lala member saran dan kemudian pergi memesan makanan, si Risa juga mengikutinya dari belakang.

Aku pun langsung men-searching akun yang tertulis di kertas itu. Loading lama membuat aku semakin penasaran, siapa dia. Beberapa kali gagal karena jaringan yang lelet sekali. Finally, muncullah sebuah foto close up bernuansa black and white dan dia berkacamata. Ya, memang ada akun bernama “@pa…….” lalu aku lihat isi instagramnya. Foto-foto didalamnya sepertinya memang orang yang sepintas terlihatku yang duduk di belakangku tadi. Aku lihat dia sepertinya sudah bekerja.

Kemudian aku mendapati satu foto yang kurasa aku kenal, tapi wajah itu tidak mendominasi isi instragram. Aku membaca caption-nya. Itu foto tentang adiknya ulangtahun. Di foto itu, adiknya memakai baju berwarna orange kebanggaan Fakultas Teknik di salah satu universitas di Medan (udah ketebaklah yakan?). Dan aku tahu siapa adiknya itu, dia adalah mantan pacar kawan kuliahku.

“Woi, dunia ini sempit..”, ucapku mendadak.

“Apaan?”, Risa menjawab aku dengan kondisi mulut penuh cheese burger.

“Ini adiknya. Ini mantannya Vinny..”, jelasku.

“Vinny kelasmu? Kawan kostmu?”, tanya Lala, karena kami sesungguhnya beda kelas.

“Iya.. wait aku tanya bentar sama Vinny”, aku langsung ambil bbmku dan menghubungin Vinny.

“Vin, selamat hari Minggu…”, aku sapa dia.

“Iya Nop, selamat Hari Minggu juga..”

“Vinny, si Pedro punya abang namanya Dion ya?”

“Iya, kenapa? Dia pdkt samamu? Hahahaha..”

Aku menceritakan kejadian itu semua, dan Vinny kebanyakkan ketawanya. Merasa lucu dengan kondisi aku sekarang. Diajak kenalan melewati kertas, tanpa bersalaman selamat Hari Minggu. Kalau dia memang ingin kenalan, dia seharusnya berinisiatif dan gentle untuk memulai pembicaraan, walau hanya dengan,”Hai! Selamat Hari Minggu yaa..”, dan tidak hanya jadi Pria di Secarik Kertas.

Saturday, 9 May 2015

Jadi, ini malam minggu ke berapa tanpa jalan-jalan sama pacar?
Tanpa telponan yang putus karena pulsa habis terus bela-belain ke Indomaret ngisi pulsa lalu disambung lagi?
Tanpa senyum-senyum digodain pakai sms gombalan gebetan kalian?
Tanpa kata-kata,"Lho kok ngemilmu banyak kali? Tapi katanya mau diet? Habis popcornku samamu semua. Padahal mau ku bawa kian untuk adekku di rumah". Lalu kita sebagai cewekk, tertunduk malu. 

Ah mainstream, sangat mainstream sekali malam minggu kalian itu!! (pembelaan diri banget karena jomblo ini, hahaha..)

Aku malam ini lebih mengutamakan penyelesaian olah data skripsi forensik yang sudah deadline ini. (sebenarnya ga juga sih, karena ga ada yang ngajak jalan, ga ada mau diajak jalan dan ga niat jalan-jalan. Zzzzzzzzz...)
Aku memilih menghabiskan malam mingguku kali ini dengan mencoba mengerti pacar baruku berinisial SPSS. Iya, sebuah aplikasi olahan data SPSS For Windows 17.0. Dia terlalu banyak kode, dia terlalu banyak proses untuk dimengerti. Aku, yaaaaa sabar aja. Oke fix, ndak kemana-mana. Aku milikmu malam ini, SPSS.
Sebenarnya sebelum dapat data, aku sudah diajarkan kawanku dari universitas sebelah mengenai SPSS ini. Cuman, karena ga dilatih, aku jadi lupa-lupa mengoprasikannya. Ckck, maklumlah udah usia lanjut. -____-"
Karena ga tau mengoprasikannya, aku bantik stir memasukkan data ke Ms. Excel dulu. Yang penting, masuk dulu lah data-dataku ini. Masalah bisa di export ke SPSS, dipikirinnya belakangan. hahaha..
Ya, aku akui, ketika kita kuliah, kita sendiri yang harus berinisiatif untuk mencari, untuk berusaha mendapatkan. Lanjut atau tidaknya skripsi ada ditangan kita. Kalo ga, matilah udah. Yang kecewa orangtua dan orang sekeliling kita. Yang masa depannya terancam mentok adalah masa depan kita. Kuliah emang ga semudah TK-SMA. We should be struggle, guys! 
Aku download modul SPSS dari internet, tapi setelah aku coba-coba, makin tergulung-gulung otakku. Akhirnya aku belajar lagi dari kawanku yang lain. Dan taraaaaaa!! Aku bisaa. Jangan tanya aku tentang mengolah data analitik atau sekedar mem-valid-kan kuesionair. Nanti pasti ujung-ujungnya ajaran sesat yang ku ajarkan ke kalian. Aku hanya bisa mengolah data deskriptif. 
Coding - Masukkan data - Analyze - Keluarlah table dan Chart nya. 
Ternyata sesingkat itu. Lebih susah kayanya membuat Dessert Red Velvet Cake dengan kelembutan yang pas *astagaaaa, aku jadi kepengeeenn woiiiii!!!*
Oh ya, masalah meng-export data dari Ms. Excel ke SPSS. Aku googling dan aku dapat. Tapi entah bagaimana, terus-terusan FAILED.. Akhirnya istilah "pandai-pandailah" itu, aku praktekkan. Agak sulit ku ceritakan bagaimana "pandai-pandai" versiku untuk hal satu ini, tapi yang jelas, I have done my task! 
Jadi tugasku tinggal pembahasan, kesimpulan dan saran. Tapi malam mingguku, ku lanjutkan saja untuk mengambil kesimpulan dan saran. Pembahasan, nantilah itu. Soalnya itu mesti nyari pembanding yang pas dan teori yang memperkuat hasil dataku.
Sekianlah weee perkembangan skripsiku. Siapa aja deh yang baca tulisan ini, aku mohon doanya untuk kelancaran meja hijauku nanti yaaa.. 
Ga muluk-muluk, dilancarkan saja dan aku lulus dengan nilai yang memuaskan, aku sangat berterima kasih sama kalian. Aku mencintai kalian. Makasih yaaa *love you to the moon and not back hahaha*
SPSS DATA FORENSIK 1

SPSS DATA FORENSIK 2

Friday, 8 May 2015


"Eh, sudah nampak pelangiku?", Alona memakan ujung ice creamnya.
"Lah, membahagiakanmu super mudah", Frans membuka ice cream yang rasanya sama dengan punya Alona.
"Haha, bisa-bisa kau saja", Alona tetap fokus pada ice creamnya.
"Serius loh aku. Cuman kemarin-kemarin kau baru merasakan sesuatu yang baru, yang enggak pernah kau rasakan. Patah hati", Frans menghisap bagian ice cream yang mulai meleleh.
Alona tetap fokus ke ice creamnya dan tidak menggubris perkataan Frans.
"Iya, perasaanmu terkejut diputusin gitu. Kau kan udah lama enggak patah hati..".
"Hahaha, mungkin sih. Duh, males lho buka hati lagi, mengenal orang baru lagi, mendalami sifat orang lain. Capek.."
"Siapa yang tahu, kau mesti menjadi playgirl dlu sampai pada akhirnya kau menemukan sosok yang pas.."
"Wuidih, doamu bah. Jangan sampai deh.."
"Ya kan, mungkin sih.."
"Emang indikator seseorang yang pas itu seperti apa?"
Frans diam, mikir dan terus memakan ice creamnya.
"Toh aku rasa mereka yang sudah menikah saja kadang tidak merasa puas dengan keadaan pasangannya.."
"Nah itu maksudku, orang yang pas untuk dimaklumi kekurangan pasangannya. Bagiku, pas atau cocok berarti ketika Tuhan menganugrahkan sebuah cinta kasih sayang yang lebih besar dari ego mereka masing-masing..", Frans memberhentikan makan ice creamnya dan membiarkannya meleleh hampir tumpah. Matanya tertuju pada Alona.
"Bahasamu rumit.. Aku jadi mau beli ice cream lagi. Mau berapa episode kau cerita, Frans? Hahaha...", jawab Alona cuek dan tetap menghabiskan ice creamnya. Dihatinya sekarang, cinta adalah omong kosong. Tapi kalo ada yang mencintai dirinya, dia juga luluh juga. Percaya cinta juga.
"Serius? Gapapa, biar aku belikan lagi yaaa..", Frans buru-buru menghabiskan ice creamnya dan bergegas menuju abang-abang jualan ice cream.
Alona terheran, Frans baik banget? Ah tapi sepertinya Frans kan baru gajian, jadi ya mau nraktir gitu.
"nih ice cream trip keduanya. Lagian aku juga lagi pengen sih tadi.. Hahaha..", Frans menyodorkan ice cream cup rasa vanila.
"eh kau bukannya ga suka rasa vanila, Frans?", Alona mengernyitkan dahinya.
"Suka-suku dong, kenapa? Mau melarang?", Frans membuka tutup cup ice creamnya.
"Hahaha, ga lho nanya aja. Biasanya kau kan suka coklat. Sensi amat.. Lanjutlah ceritamu tadi.."
"Gini lho. Someday, kau dapat laki-laki yang pas nih. Laki-laki itu mau menerima kebrutalanmu ketika ketawa...", ucapan Frans dipotong Alona.
"ketawaku brutal?"
"I mean, kau kalo ketawa lepas sejadi-jadinya. Kalo cewe, biasanya kan agak diatur ketawanya.."
"oh, gitu.. Terus.."
"Makanya kalo kau ada masalah, trus kau diam, pasti orang sekitarmu bertanya. Atau kadang, kalo kau update status yang jauh dari ketawa, pasti orang disekitarmu tanda tanya samamu. Karena pada dasarnya kau itu cewek periang, lucu, bawaannya bahagia aja.."
"Ah bisa-bisa kau saja..."
"Aku sebagai cowok normal, aku menilaimu seperti itu. Aku lanjutin yaaa..."
Alona mengangguk, tanda setuju.
"Menerima keras kepalamu, menerima kecuekkanmu dalam berpakaian. Tapi, cintanya lebih besar. Dia bisa menerima itu semua. Dia tidak menuntutmu untuk berubah, tapi menasehatimu dengan kasih sayang. Bukannya cinta kasih itu lemag lembut?", Frans ngomong serius.
"Mak, udah dewasa Frans. Udah bisa menasehati orang tentang cinta. Maaap pak, udah punya pacar?"
"hahaha, itu sih yang kucari sekarang. Pacar yang serius. Yang bener-bener mau diajak ke masa depan.."
"oops, curcol diaaa.. Jadi kau yang galau sekarang?"
"ga sih. Aku lagi deket sih sama cewek. Cuman dia masih terbayang masa lalu kayanya.. Aku ga berani untuk deketin dia lebih lanjut.."
"cewek itu, suka diperjuangkan. Kalo kau emang suka, kau merasa pas dengan dia, perjuangkan.."
"Aku sedang udah perjuangkan dia. Mendengar dia curhat, disakiti pacarnya yang dulu, hatiku panas, mungkin lebih panas dari apa yang dirasakannya. Kok pacarnya tega?"
"fix, cewek kalo sedang sedih, lalu ada cowok yang perhatian. Dia akan luluh. Ya tapi yang paling pasti, tidak cepat luluh. Dia pasti lebih protecting ke perasaannya. Sebagai cowok yang mau memperjuangkannya, harus sabar. Harus tidak melakukan kesalahan sedikitpun. Sedikit saja cowok itu melakukan kesalahan, dia akan terbayang-bayang mantannya. Yang tadinya udah mau diberikannya cintanya ke cowok itu, akan bulat-bulat ditariknya kembali dan paling fatal, cewek itu menutup perasaannya ke cowok tadi.."
"Sejauh ini, aku tidak melakukan kesalahan. Yang ku lihat cuman ketawa-ketawa saat samaku. Walaupun dia sedih saat curhat, ujung-ujungnya pasti dia tertawa lagi. Bahagia aku melihat senyumnya", Frans memandang Alona sangat dalam.
"Eh btw, aku aja yang dari kemarin curhat tentang aku putus. Kau ga cerita, siapa yang kau dekati sekarang.."
Frans hampir keselek mendengar pertanyaan Alona. Memutuskan haruskah dia kasih tau perasaannya ke Alona?
"heemm.. Ada deh.. Entar lagi dia lewat kok di depan...", ucap Frans melihat ice cream Alona yang hampir habis.
"Serius? Ga rame-rame kali orang disini. Hantu? Hahaha ngacoo aja kau ini Frans.."
"Serius aku. Eh udah berapa bulan kau putus?"
"udah sekitar 7 bulan lah aku menyandang status jomblo. Lagi.", Alona menekankan ucapannya sambil memakan suapan terakhir dari sendok ice cream itu, kemudian dia berdiri menuju tong sampah di dekat mereka duduk. Lalu kembali duduk di kursi taman itu.
"Ohh udah lama juga yaa.. Nah dia baru lewat, Al..", ucap Frans dengan penuh senyum.
"Eh siapa?", Alona menyeka bibirnya yang sedikit celemotan karena ice cream.
"yah, barusan lhoo.."
Alona melihat kesekitar mereka. Tidak ada seorang pun yang lewat. Matanya melihat Frans.
"Cuman kita berdua lhoo..", Alona berpikir," lhooo? Aku?".
Frans mengangguk.
"Haha, bisa-bisa kau saja boss..", Alona mengalihkan pandangannya.
"Aku memang suka bercanda, tapi kali ini, big no, Al! Kau tau kan aku sangat gugup untuk nyatain cinta ke cewek", Frans memutarkan kepala Alona agar Alona memandang dia.
"Ah, bisa-bisa kau saja Frans..."
"Aku bahagia samamu. Mendengar ketawamu yang plong, rontok segala lelahku sepanjang hari. Mau seberapa berat pekerjaannku seharian, itu musnah pas denger suaramu. Makanya belakangan ini aku suka nelpon kau malam-malam, walaupun itu sebentar.."
"Frannss Fransss, kebanyakkan makan ice cream kau ini. Mabuk jadinya."
"Cinta ga ada alkoholnya. Aku serius. Kalo aku ga sayang samamu, aku ogah mendengar curhatmu, aku ogah membuatmu tertawa. Aku ogah makan ice cream rasa vanila yang sangat menjijikan ini. Tapi aku mau belajar menerimamu, apapun itu. Sakit, hobbi, kesukaannmu Aku ga butuh jawabanmu. Yang penting aku sudah jujur.."
Alona terkejut dan bahkan sangat terkejut. Perasaannya masih sedikit rapuh sih. Tapi otaknya juga masih waras, masih sadar kalau Frans inilah yang paling baik, yang mau mendengar segala curhatan dia. Alona takut? Iya.
Hingga Frans mengantarkan Alona pulang, tidak ada percakapan yang berarti.
"Ya udah, kita coba jalani aja.."
Frans yang tadi sedang menyambungkan tali pengaman helm, memberhentikan pekerjaannya itu. Diam. Dan menengadahkan kepalanya mengarah Alona. Tapi kembali menundukkan kepalanya lagi, dia malu.
"Hei Frans? Do you hear me?", Alona menaikkan dagu Frans. Didapatinya mata Frans berbinar.
"Are you serious?", suara Frans terdengar lirih.
"I am serious", Alona mencubit hidung Frans. Frans memainkan matanya, seakan tidak percaya.
"Pernahkah mukaku seserius ini?", tanya Alona.
Frans turun dari motor dan membuka helmnya.
"Aku akan sangat berusaha untuk tidak mengecewakanmu. Cukup dia yang terakhir yang membuatmu sedih. Bahagiamu itu, tawa dan senyummu, itu yang aku perlu..", ucapnya sambil mencium punggung tangan Alona.
"Haalaaaah orang kaya kau mau berpuisi pulaaaaak. Jangan sok romantis aaahh. Geli aku lihat kau.." Alona merangkul leher Frans seakan mau menyekik Frans.
"Haduh, bisa babak belur aku pacaran samamu kalo aku diginiin..", Frans tertawa kecil.
"Oh iyaa, ga ga, berubah jadi feminim deh akuu.."
"Haha it's not big thing, Al. Caramu itu yang buat aku jatuh cinta. Hehehe..."
"iyaaa iyaaa.. Yaudah, pulang gih, udah malem bangettt.."
"hehehe, iyaa, aku pulang yaa.."
"take care! Nanti kalo udah nyampe rumah, kabari yaa.."
"kalo aku ga mau?", tanya Frans main-main.
"males aaah.."
"Iyaaa, aku telpon pun, bye!!."
Alona melambaikan tangannya ke arah Frans. Di dalam hatinyaa
"Ini tidak bisa-bisanya kamu. Thankyou for today"

Tuesday, 5 May 2015

Aku share ini karena ada yang minta sharing ini. Sebenarnya udah pernah aku share, cuman yaudah sih gapapa. Biar lebih dalem lagi ya..
Apa udah yakin mau nurunin berat badan? Kalo ndak komit ya susah. Aku nyatakan, menurunkan berat badan adalah sulit. Cuman ya, hasil enggak pernah mengkhianati usaha. Sehat dan ideal adalah tujuan utama untuk program ini. Cantik dan mudah cari baju, cuman bonus sih menurutku. Karena kalo emang dasarnya cantik, mau gimanapun pasti cantik.

Inilah yang aku lakuin untuk penurunan berat badan:
1. Menghitung Berat Badanku yang Seharusnya
Rumusnya adalah (Tinggi Badan (cm) - 100) x 90% = berat badan idealmu.
Nah kaya aku, Tinggi badan 157 cm (boncel kaaaaaann?)
BB idealku = (157-100) x 90% = 51,3kg. Yaa paling banter 52 kg.
Nah, duluu berat badanku itu sekitar 68-69kg. Apa enggak syok kau melihatnya. Kalo secara BMI, aku itu dulu udah masuk Pra-obese. *aku mendadak kejang-kejangg qaqaaaaaaa..!!*
Oke, ini enggak benar lagi. Harus ada yang diubah.

2. Mengurangi Asupan Makanan
Onde mande tusdee, susah kali woi. Susah!!! Secara biasanya aku makan membabi buta, jadi tong sampah kalo ada makanan yang ga habis. Yasalam, setan apa yang merasukiku?
Aku coba diet mayo, turun sihh. Tapi setelah itu makan awur-awuran lagi, naik lagi berat badannya, lebih dari sebelumnya malah. Naik lagi, sedih lagi, menyesal lagi.
Aku coba diet OCD. Mati aku, ga kuat. Ga kuaaaaatt!!
Aku coba makan rebus-rebusan. Eeet dah, lidahku mati rasa. Lidahku memberontak. Wong biasanya lidahku berjodoh dengan asin dan pedas? Ga, ga kuat.
Sampai pada akhirnya, aku menemukan teh hijau. Awalnya itu pahit gilaa! Kasihan kalilah ku buat lidahku ini. Kalo bisa nangis, nangis dia. Tapi kali ini aku bertekat, harus bisa. Jadi gini sistemnya.

Pagi:
Kalo ada kegiatan: makan 2-3 keping crackers / selembar roti tawar beroles selai + 1 gelas teh hijau
Kalo ga ada kegiatan: 1 gelas teh hijau.

Siang:
Terserah mau makan apa aja. Tapi aku sarankan, makanlah 3/4 porsi kemudian perlahan-lahan kurangi jadi 1/2 porsi dari porsi makan biasa + 1 gelas teh hijau.

Sore:
Olahraga!
Minum air putih + 1 gelas teh Hijau.

Malam:
Makan buah / 2-3 keping crackers + 1 gelas teh hijau.
Sebelum tidur, aku biasanya:
10 x 2 set squat. Ini untuk memperkecil paha.
10 x 2 set sit up. Ini untuk membentuk otot perut, jadi lebih kecil deh perutnya.
4 x 5 detik jinjit kaki. Jadi sekali jinjit = 5 detik. Terus turun, lalu jinjit lagi sama kaya yang tadi. Ini untuk memperkecil betis. Maklum betisku hampir sama dengan betis pemain bola.
10 x 2 set menggerakkan tangan kaya mau tinju. Ini untuk memperkecil lengan.
Itu semua dilakukan ga sampai lah 20 menit. Olahraga ringan aja kok. Gapapa sebentar, yang penting teratur, yang penting setiap malam wajib.

Kenapa aku begitu sebelum tidur? Karena pada saat istirahat, badan kita terus melakukan metabolisme, malah lebih maksimal dengan dipancing untuk memecahkan kalori setelah olahraga kaya tadi. Lagian itu lebih berfokus pada pembentukkan otot, bukan membakar. Pas pagi-pagi agak pegal, ya gapapa lah ya. Namanya juga mau ideal.. Haha..

3. Konsumsi Air Mineral-Infused Water
Dari dulu sampai sekarang, mama itu sering mengingatkan kami untuk banyak minum air mineral. Ya, air mineral itu pembuang racun dari tubuh dan memelihara kesehatan tubuh. Udah jadi kebiasaan, setiap pagi minum air mineral 2 gelas. Bagiku, ini untuk memperlancar BAB pagi hari.
Bosan minum air mineral yang itu-itu aja rasanya? Nah, pasti mulai sering dong denger istilah "infused water", ituloh yang air mineral dimasukkan buah atau sayur terus didinginkan di dalam kulkas kira-kira 2 jam, baru deh dikonsumsi. 
Sejauh ini, aku masih mengkonsumsi infused water pakai jeruk lemon. Asli, sueeegeer.. Dan disisi lain, kulitku jadi lebih cerah dan bebas jerawat. Jeruk lemon punya khasiat untuk membuang toxin. Amazing right? Aku sebisa mungkin, sesempat mungkin membuat infused water ini karena aku ngelihat manfaatnya hebat.
Air putih atau infused water juga membantu mengenyangkan perut sehingga mengurangi porsi makan kita. Keren ga sihh?

4. Olahraga
Ini olahraga yang untuk sore ya..
Dulu, aku olahraganya rada elit, ngegym. Tapi tunggu dulu, ngegym yang cmn ngeluarin duit 4000/ngegym kalo udah jadi member. Kalo belum, kena 6000. Ga rugi deh rasanya kalo cuman 4000 ya kan? Aku minimal 3x seminggu ngegym. Kalo lagi rajin bisa setiap hari, hahaha.. Sebelum ngegym, aku minum air putih dan makan pisang. Setelah ngegym makan pisang + jus buah.
Capek, berat, lapar, sakit emng terasa. Tapi aku sangat senang melihat keringat yang aku keluarin. Lagi pula, pembakaran lemak karena ngegym itu bisa berlangsung sampai 24 jam. Jadi ga heran, Dengan ngegym aku bisa nurunin berat badan 5 kg. Cuman ya gitu, aku orangnya bosenan, aku berhenti.
Aku juga pernah nyoba kelas aerobik. Asik kok. Cuman dengan alasan yang sama, aku berhenti.
Aku juga pernah coba lari2. Tapi badanku emang ga kuat sama namanya lari. I am give up aja bawaannya.

Aku sekarang olahragaku paling goyang-goyangkan badan di kamar kost, melakukan gerakan yang cepat dan berat untuk mengeluarkan keringat. Jadi kalo kamat kostku sudah pasang musik kuat-kuat, yakinlah aku sedang olahraga, atau ga, aku lagi galau. Mbuahaha...

Olahraga itu penting. Setelah ku perhatikan, mengurangi porsi makanan ga begitu ngaruh untuk penurunan berat badan tanpa olahraga. Olahraga jauh lebih mempengaruhi proses metabolisme tubuh.
Pengurangan porsi makanan bertujuan untuk melatih pencernaan kita agar tidak "manja" dengan makanan yang terlalu lama jadi kebiasaan kita. Lalu kita atur deh porsinya gimana. Disarankan lebih banyak mengkonsumsi makanan berserat dan berprotein tinggi. Ga hanya bentuk badan ideal, tapi juga meremajakan kulit jadi kitanya lebih awet muda.

Emang, dalam proses pengaturannya, ada banyak godaan. Tapi, tanamkan hal "aku mau sehat, aku mau merubah gaya hidupku". Sehat adalah point terpenting dalam pengaturan gaya hidup kita.
Yuks, sama-sama memperbaiki gaya hidup agar hidup kita lebih sehat ;)