Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Friday, 8 May 2015

Bisa - Bisa Saja


"Eh, sudah nampak pelangiku?", Alona memakan ujung ice creamnya.
"Lah, membahagiakanmu super mudah", Frans membuka ice cream yang rasanya sama dengan punya Alona.
"Haha, bisa-bisa kau saja", Alona tetap fokus pada ice creamnya.
"Serius loh aku. Cuman kemarin-kemarin kau baru merasakan sesuatu yang baru, yang enggak pernah kau rasakan. Patah hati", Frans menghisap bagian ice cream yang mulai meleleh.
Alona tetap fokus ke ice creamnya dan tidak menggubris perkataan Frans.
"Iya, perasaanmu terkejut diputusin gitu. Kau kan udah lama enggak patah hati..".
"Hahaha, mungkin sih. Duh, males lho buka hati lagi, mengenal orang baru lagi, mendalami sifat orang lain. Capek.."
"Siapa yang tahu, kau mesti menjadi playgirl dlu sampai pada akhirnya kau menemukan sosok yang pas.."
"Wuidih, doamu bah. Jangan sampai deh.."
"Ya kan, mungkin sih.."
"Emang indikator seseorang yang pas itu seperti apa?"
Frans diam, mikir dan terus memakan ice creamnya.
"Toh aku rasa mereka yang sudah menikah saja kadang tidak merasa puas dengan keadaan pasangannya.."
"Nah itu maksudku, orang yang pas untuk dimaklumi kekurangan pasangannya. Bagiku, pas atau cocok berarti ketika Tuhan menganugrahkan sebuah cinta kasih sayang yang lebih besar dari ego mereka masing-masing..", Frans memberhentikan makan ice creamnya dan membiarkannya meleleh hampir tumpah. Matanya tertuju pada Alona.
"Bahasamu rumit.. Aku jadi mau beli ice cream lagi. Mau berapa episode kau cerita, Frans? Hahaha...", jawab Alona cuek dan tetap menghabiskan ice creamnya. Dihatinya sekarang, cinta adalah omong kosong. Tapi kalo ada yang mencintai dirinya, dia juga luluh juga. Percaya cinta juga.
"Serius? Gapapa, biar aku belikan lagi yaaa..", Frans buru-buru menghabiskan ice creamnya dan bergegas menuju abang-abang jualan ice cream.
Alona terheran, Frans baik banget? Ah tapi sepertinya Frans kan baru gajian, jadi ya mau nraktir gitu.
"nih ice cream trip keduanya. Lagian aku juga lagi pengen sih tadi.. Hahaha..", Frans menyodorkan ice cream cup rasa vanila.
"eh kau bukannya ga suka rasa vanila, Frans?", Alona mengernyitkan dahinya.
"Suka-suku dong, kenapa? Mau melarang?", Frans membuka tutup cup ice creamnya.
"Hahaha, ga lho nanya aja. Biasanya kau kan suka coklat. Sensi amat.. Lanjutlah ceritamu tadi.."
"Gini lho. Someday, kau dapat laki-laki yang pas nih. Laki-laki itu mau menerima kebrutalanmu ketika ketawa...", ucapan Frans dipotong Alona.
"ketawaku brutal?"
"I mean, kau kalo ketawa lepas sejadi-jadinya. Kalo cewe, biasanya kan agak diatur ketawanya.."
"oh, gitu.. Terus.."
"Makanya kalo kau ada masalah, trus kau diam, pasti orang sekitarmu bertanya. Atau kadang, kalo kau update status yang jauh dari ketawa, pasti orang disekitarmu tanda tanya samamu. Karena pada dasarnya kau itu cewek periang, lucu, bawaannya bahagia aja.."
"Ah bisa-bisa kau saja..."
"Aku sebagai cowok normal, aku menilaimu seperti itu. Aku lanjutin yaaa..."
Alona mengangguk, tanda setuju.
"Menerima keras kepalamu, menerima kecuekkanmu dalam berpakaian. Tapi, cintanya lebih besar. Dia bisa menerima itu semua. Dia tidak menuntutmu untuk berubah, tapi menasehatimu dengan kasih sayang. Bukannya cinta kasih itu lemag lembut?", Frans ngomong serius.
"Mak, udah dewasa Frans. Udah bisa menasehati orang tentang cinta. Maaap pak, udah punya pacar?"
"hahaha, itu sih yang kucari sekarang. Pacar yang serius. Yang bener-bener mau diajak ke masa depan.."
"oops, curcol diaaa.. Jadi kau yang galau sekarang?"
"ga sih. Aku lagi deket sih sama cewek. Cuman dia masih terbayang masa lalu kayanya.. Aku ga berani untuk deketin dia lebih lanjut.."
"cewek itu, suka diperjuangkan. Kalo kau emang suka, kau merasa pas dengan dia, perjuangkan.."
"Aku sedang udah perjuangkan dia. Mendengar dia curhat, disakiti pacarnya yang dulu, hatiku panas, mungkin lebih panas dari apa yang dirasakannya. Kok pacarnya tega?"
"fix, cewek kalo sedang sedih, lalu ada cowok yang perhatian. Dia akan luluh. Ya tapi yang paling pasti, tidak cepat luluh. Dia pasti lebih protecting ke perasaannya. Sebagai cowok yang mau memperjuangkannya, harus sabar. Harus tidak melakukan kesalahan sedikitpun. Sedikit saja cowok itu melakukan kesalahan, dia akan terbayang-bayang mantannya. Yang tadinya udah mau diberikannya cintanya ke cowok itu, akan bulat-bulat ditariknya kembali dan paling fatal, cewek itu menutup perasaannya ke cowok tadi.."
"Sejauh ini, aku tidak melakukan kesalahan. Yang ku lihat cuman ketawa-ketawa saat samaku. Walaupun dia sedih saat curhat, ujung-ujungnya pasti dia tertawa lagi. Bahagia aku melihat senyumnya", Frans memandang Alona sangat dalam.
"Eh btw, aku aja yang dari kemarin curhat tentang aku putus. Kau ga cerita, siapa yang kau dekati sekarang.."
Frans hampir keselek mendengar pertanyaan Alona. Memutuskan haruskah dia kasih tau perasaannya ke Alona?
"heemm.. Ada deh.. Entar lagi dia lewat kok di depan...", ucap Frans melihat ice cream Alona yang hampir habis.
"Serius? Ga rame-rame kali orang disini. Hantu? Hahaha ngacoo aja kau ini Frans.."
"Serius aku. Eh udah berapa bulan kau putus?"
"udah sekitar 7 bulan lah aku menyandang status jomblo. Lagi.", Alona menekankan ucapannya sambil memakan suapan terakhir dari sendok ice cream itu, kemudian dia berdiri menuju tong sampah di dekat mereka duduk. Lalu kembali duduk di kursi taman itu.
"Ohh udah lama juga yaa.. Nah dia baru lewat, Al..", ucap Frans dengan penuh senyum.
"Eh siapa?", Alona menyeka bibirnya yang sedikit celemotan karena ice cream.
"yah, barusan lhoo.."
Alona melihat kesekitar mereka. Tidak ada seorang pun yang lewat. Matanya melihat Frans.
"Cuman kita berdua lhoo..", Alona berpikir," lhooo? Aku?".
Frans mengangguk.
"Haha, bisa-bisa kau saja boss..", Alona mengalihkan pandangannya.
"Aku memang suka bercanda, tapi kali ini, big no, Al! Kau tau kan aku sangat gugup untuk nyatain cinta ke cewek", Frans memutarkan kepala Alona agar Alona memandang dia.
"Ah, bisa-bisa kau saja Frans..."
"Aku bahagia samamu. Mendengar ketawamu yang plong, rontok segala lelahku sepanjang hari. Mau seberapa berat pekerjaannku seharian, itu musnah pas denger suaramu. Makanya belakangan ini aku suka nelpon kau malam-malam, walaupun itu sebentar.."
"Frannss Fransss, kebanyakkan makan ice cream kau ini. Mabuk jadinya."
"Cinta ga ada alkoholnya. Aku serius. Kalo aku ga sayang samamu, aku ogah mendengar curhatmu, aku ogah membuatmu tertawa. Aku ogah makan ice cream rasa vanila yang sangat menjijikan ini. Tapi aku mau belajar menerimamu, apapun itu. Sakit, hobbi, kesukaannmu Aku ga butuh jawabanmu. Yang penting aku sudah jujur.."
Alona terkejut dan bahkan sangat terkejut. Perasaannya masih sedikit rapuh sih. Tapi otaknya juga masih waras, masih sadar kalau Frans inilah yang paling baik, yang mau mendengar segala curhatan dia. Alona takut? Iya.
Hingga Frans mengantarkan Alona pulang, tidak ada percakapan yang berarti.
"Ya udah, kita coba jalani aja.."
Frans yang tadi sedang menyambungkan tali pengaman helm, memberhentikan pekerjaannya itu. Diam. Dan menengadahkan kepalanya mengarah Alona. Tapi kembali menundukkan kepalanya lagi, dia malu.
"Hei Frans? Do you hear me?", Alona menaikkan dagu Frans. Didapatinya mata Frans berbinar.
"Are you serious?", suara Frans terdengar lirih.
"I am serious", Alona mencubit hidung Frans. Frans memainkan matanya, seakan tidak percaya.
"Pernahkah mukaku seserius ini?", tanya Alona.
Frans turun dari motor dan membuka helmnya.
"Aku akan sangat berusaha untuk tidak mengecewakanmu. Cukup dia yang terakhir yang membuatmu sedih. Bahagiamu itu, tawa dan senyummu, itu yang aku perlu..", ucapnya sambil mencium punggung tangan Alona.
"Haalaaaah orang kaya kau mau berpuisi pulaaaaak. Jangan sok romantis aaahh. Geli aku lihat kau.." Alona merangkul leher Frans seakan mau menyekik Frans.
"Haduh, bisa babak belur aku pacaran samamu kalo aku diginiin..", Frans tertawa kecil.
"Oh iyaa, ga ga, berubah jadi feminim deh akuu.."
"Haha it's not big thing, Al. Caramu itu yang buat aku jatuh cinta. Hehehe..."
"iyaaa iyaaa.. Yaudah, pulang gih, udah malem bangettt.."
"hehehe, iyaa, aku pulang yaa.."
"take care! Nanti kalo udah nyampe rumah, kabari yaa.."
"kalo aku ga mau?", tanya Frans main-main.
"males aaah.."
"Iyaaa, aku telpon pun, bye!!."
Alona melambaikan tangannya ke arah Frans. Di dalam hatinyaa
"Ini tidak bisa-bisanya kamu. Thankyou for today"

No comments:

Post a Comment