Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Saturday, 30 May 2015

Pria di Secarik Kertas


Seperti biasa, aku Ibadah sore dengan beberapa kawanku. Aku siap-siap, padahal jam sudah menunjukkan pukul empat kurang sepuluh menit, tapi aku masih santai mengeringkan rambutku dengan kipas. Aku jarang sekali memakai hairdryer untuk mengeringkan rambutku, karena bagiku panas dari hairdryer itu benar-benar mengeringkan rambut sampai ke akar-akarnya, akhirnya terlihat seperti ijuk serta mudah rontok dan ngembang, membuat mukaku jadi kelihatan bulat sekali. Duh, itu benar-benar failed dan bad hair day buatku. Aku memakai hairdryer kalo emang udah waktu yang mepet banget. Kalo masih ada waktu, mending mengeringkannya pakai kipas atau bela-belain tangan pegal ngipasin rambut pakai Koran.

Hari ini, aku memilih memakai kebaya kutu baru yang baru sampai seminggu yang lalu dan dipadupadankan dengan rok span hitam, warna sejuta gaya. Ya, dengan dandanan yang ala kadarnya: pelembab Pond’s + Lipstick IShine nomor 9 “Rose Corail” yang berwarna lembut + Eyeline MyDarling (sungguh formasi yang tidak pernah ku ganti-ganti, kecuali merek lipstick) aku bergegas ke Gereja, bertemu Kekasih Hatiku. Tapi sebelumnya aku harus menjemput temanku itu.

Mengarahkan pandangan ke arah jam tangan, kami menginjakkan gas ke Gereja yang biasa kami datangi setiap hari Minggu. Mungkin, hanya cewek Medan yang mengerti bagaimana caranya mengendarai motor dengan kecepatan “agak” tinggi ketika menggunakan rok span dan sepatu higheels. Ditambah lagi kemacetan di Medan yang malesin dengan angkot yang sesuka hatinya ngetem, what a complex day deh! Dan sore itu, aku wajib berperilaku seperti itu.

Mau marah enggak bisa, karena ini memang kesalahan kami, lupa kalau Minggu ini tidak ada ibadah sore jam setengah 5. Minggu ini ada acara apaaa gitu di Gereja, aku pun lupa. Ya sudah, kami memilih Ibadah di Gereja yang lain, yang kebetulan mulai Ibadahnya itu jam 5 sore. Kami memutuskan untuk ibadah di sana.

Jam lima kurang sepuluh menit, kami sampai di sana. Kami mendapati Gereja sudah mulai penuh oleh remaja dan anak kuliahan seperti kami. Kami pun masuk dan seperti biasa, kami memilih bangku ke 5 dari depan, lalu melakukan tata ibadah seperti biasa, diawali dengan Saat Teduh. Setelah itu ya mencari ayat khotbah yang dipilih untuk ibadah Minggu ini. Saat itu, bangku tepat di belakang kami masih kosong. Ketika ibadah hampir dimulai, beberapa orang memenuhi bangku tersebut, tapi aku tidak terlalu memperhatikan siapa, sampai ibadah selesai.

Ibadah pun selesai, sesi Salam Selamat Hari Minggu di mulai. Tapi mungkin karena alasan tidak kenal, atau segan untuk bersalaman, aku tidak menyalam orang yang duduk dibelakangku tadi. Aku hanya sepintas melihat wajahnya, dan kemudian dia pergi.

Sudah malam, aku dan kawan-kawanku lapar. Kami bergegas ke McD (maklum bulan muda). Aku mau memesan duluan. Aku mengambil dompet dari tas kecilku. Dan, aku menemukan secarik kertas kira-kira berukuran 8x11 cm (barusan beneran aku ukur, hahahaha..), terselip di dekat dompetku. Aku kira ntah struk belanja apaaa gitu, aku berniat langsung buang. Tapi setelah ku lihat, tulisannya bukan tulisan mesin. “Ini tulisan tangan..”, pikirku. Isinya sebuah nama, nomor handphone, akun instagram dan pin BB. Entah siapa ini. “Kurang kerjaan.. ibadah pun masih sempat-sempatnya buat begini..” ucapku lagi dalam hati.

“Wei? Lihatlah. Siapalah yang punya kerjaan ini..”, langsung aku kasih tahu sama Lala, kawanku. Kawanku langsung ambil kertas itu dan membacanya.

“Hahahaha, dimana kau dapat?”, Lala tertawa.

“Mbooh. Aku dapat di tas pas mau ambil dompet.”

“Apaa itu wei?”, kawanku si Risa mengambil kertas itu dari Lala.

“Ga tau aku nemu pas ambil dompet. Aku apain lah itu?”

“Ah, naksir dia samamu ini…”, celetuk Risa.

“Masih ada ya jaman sekarang nulis nama dan nomor di kertas terus masukkin ke dalam tas..”, komentar Lala sambl mengaktifkan handphonenya.

“Entah, aneh-aneh aja..”, aku mengangkat bahuku.

“Kau lihat tadi siapa yang duduk dibelakangmu tadi?”, Lala nanya sambil melihat menu yang terpampang di atas kepala kasir tapi malas bergerak ke meja order karena ngantrinya panjang bener.

“Enggak sih sepintas aja. Yang ku tahu dia berkacamata. Tapi ngapai coba dia bikin begini, sepenglihatanku, tadi dia sama cewek sih..”, aku juga masih melihat menu, memilih yang mana yang pas.

“Hahahahaha…”, dua kawanku yang tepat berada di depanku ini, tertawa berbarengan. Entah memang merasa lucu atau mengejek aku.

“Ku apain lah?”, tanyaku memberhentikan tawa mereka berdua.

“Coba kau searching Instagramnya..”, Lala member saran dan kemudian pergi memesan makanan, si Risa juga mengikutinya dari belakang.

Aku pun langsung men-searching akun yang tertulis di kertas itu. Loading lama membuat aku semakin penasaran, siapa dia. Beberapa kali gagal karena jaringan yang lelet sekali. Finally, muncullah sebuah foto close up bernuansa black and white dan dia berkacamata. Ya, memang ada akun bernama “@pa…….” lalu aku lihat isi instagramnya. Foto-foto didalamnya sepertinya memang orang yang sepintas terlihatku yang duduk di belakangku tadi. Aku lihat dia sepertinya sudah bekerja.

Kemudian aku mendapati satu foto yang kurasa aku kenal, tapi wajah itu tidak mendominasi isi instragram. Aku membaca caption-nya. Itu foto tentang adiknya ulangtahun. Di foto itu, adiknya memakai baju berwarna orange kebanggaan Fakultas Teknik di salah satu universitas di Medan (udah ketebaklah yakan?). Dan aku tahu siapa adiknya itu, dia adalah mantan pacar kawan kuliahku.

“Woi, dunia ini sempit..”, ucapku mendadak.

“Apaan?”, Risa menjawab aku dengan kondisi mulut penuh cheese burger.

“Ini adiknya. Ini mantannya Vinny..”, jelasku.

“Vinny kelasmu? Kawan kostmu?”, tanya Lala, karena kami sesungguhnya beda kelas.

“Iya.. wait aku tanya bentar sama Vinny”, aku langsung ambil bbmku dan menghubungin Vinny.

“Vin, selamat hari Minggu…”, aku sapa dia.

“Iya Nop, selamat Hari Minggu juga..”

“Vinny, si Pedro punya abang namanya Dion ya?”

“Iya, kenapa? Dia pdkt samamu? Hahahaha..”

Aku menceritakan kejadian itu semua, dan Vinny kebanyakkan ketawanya. Merasa lucu dengan kondisi aku sekarang. Diajak kenalan melewati kertas, tanpa bersalaman selamat Hari Minggu. Kalau dia memang ingin kenalan, dia seharusnya berinisiatif dan gentle untuk memulai pembicaraan, walau hanya dengan,”Hai! Selamat Hari Minggu yaa..”, dan tidak hanya jadi Pria di Secarik Kertas.

No comments:

Post a Comment