Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Monday, 29 June 2015

Aku sadar, aku belum pantas dilamar...
Jangan ketawa ya.

Jujur aja, kadang pagi-pagi aku sengaja memanjangkan jam tidurku semalam, entah karena ngerjain tugas atau kelamaan lihat onlineshop atau sekedar nonton film Korea. Kemudian aku melupakan merapikan tempat tidurku. Aku langsung loncat ke kamar mandi dan siap-siap ke kampus. Pasti, kalau aku begitu padamu sekarang, aku tidak merapikan tempat tidur, membuatkanmu sarapan dan mengantarmu pergi kerja, mungkin sebulan pernikahan kita, akan terbesit dipikiranmu untuk mengembalikan aku pada orangtuaku. Jangan sampai! Membayangkannya saja aku merinding.

Aku masih ingin bebas. Entah itu jalan-jalan dengan teman-temanku sampai malam, dimana seharusnya aku menyiapkan makan malammu. Atau aku masih ingin menimba ilmu, dimana seharusnya aku lebih fokus pada pertumbuhan anak kita.
Aku berjanji, aku sadar kamu adalah sosok yang perlu aku semangati, aku mengerti dan aku layani, agar kamu merasa lega ketika pulang ke rumah, menanggalkan segala kericuhan otakmu karena pekerjaan. Aku, wanitamu yang akan menjadi garda terdepan untuk tempat peraduanmu. Tapi, itu bukan sekarang.
Aku sadar, ovum-ovumku akan semakin menua, dan kita perlu punya anak-anak lucu, untuk investasi keabadian di masa tua. Tapi, Aku belum siap untuk mengorbankan waktuku dengan kerewelan mereka, aku belum pintar memandikan bayi, aku belum siap mengasah kesabaranku ketika mengajar mereka belajar membaca. Aku belum siap. Aku pribadi pun ingin sekali menjadi ibu terhebat mereka, tempat mereka bersandar, belajar, mengadu dan menjadi apapun yang mereka butuhkan. Aku tidak mau mengecewakan mereka, apalagi kamu.

Mengenai dapur, tempat ter-sensitif untuk kamu dan anak-anak kita nanti. Aku buka-bukaan aja yaa..
Aku mengiris bawang saja masih tebal-tebal. Menggeprok kunyit saja masih kadang kunyitnya loncat kemana-mana. Aku aja bingung apakah daun seledri sama dengan daun sop? Atau ga, membedakan antara jahe dan lengkuas aja kadang masih silap. Gimana bisa aku meyakinkan mamamu bahwa aku bisa memasak masakan kesukaan kalian, menjaga gizi kalian, dan membuat kalian rindu akan masakan rumah? Tenang, aku pun tahu cara membahagiakan pria yang paling utama dengan memasak makanan kesukaannya.

Sabar ya, aku masih belajar untuk membahagiakan kalian.

Friday, 12 June 2015

Bagaimana Penghapusku menghapusmu, jelas kamu tidak ada lagi, walau ada bekasnya. Tapi aku telah menulis kalimat yang baru di tempat yang sama, di tempat kamu pernah menulis. bagaimanalah, tempatnya cuman satu. cuman satu.

Tempatnya cuman satu, di satu relung yang memang disiapkan untuk siapapun orang yang tidak ku kenal sebelumnya, untuk cuman singgah atau mendiaminya selamanya.

Memang tidak ada tempat lagi untukmu. Apa kamu mau menyalahkanku? Silahkan. Tapi, apa salah aku melindungi tempatku itu? Salah aku memperbolehkan orang lain masuk dan memang dia membahagiakan aku?

Karena yang ku tahu, tempat itu hanya didiami oleh orang yang bisa membuatku bahagia. Hehehe...

Jangan datang lagi ya, percuma. Palingan kamu cuman bisa mengetuknya lagi, lalu diam berdiri termangu. Perasaanku bilang, kamu akan merenung di situ. Mungkin ini yang kamu renungkan, Kenapa harus ku ketuk lagi pintu ini? Padahal aku dulu sudah memelihara cinta didalamnya? 
Kalo perasaan ku ini salah, maaf ya..


Kini, di dalamnya sudah ada yang mendiami relungku, tempat terbahagia itu. Aku tidak menjagokannya, tapi aku rasa lebih nyaman bersamanya dan aku bisa bersyukur pada Tuhanku atas sosok kirimanNya ini. Kepergianmu menyadarkanku bahwa Tuhan tidak membiarkanku tergeletak lemas di tengah gurun. Kurasa tidak berlebihan aku menyebut dia Oasis kehidupanku sekarang. Dia adalah salah satu Oasis canda tawa, Sumber nasehat, Lumbung semangat.

Aku tidak berani menjanjikan apakah dia tidak akan keluar seperti yang kamu lakukan. Dia pun sama seperti kamu, lelaki, yang kadang murah bosan dan buru-buru pindah entah kemana. Ku sarankan, hati-hati dengan sifat kalian yang satu itu.

Aku tidak berani mendeklarasikan dia akan selalu membahagiakanku. Toh, kata orang, berani jatuh cinta, berani patah hati. Begitulah yang harus dirasa sebelum sampai menemukan seseorang terkunci di dalamnya.

Friday, 5 June 2015

"Masuk gih, asap dimana-mana itu", perintahnya kepada Ros, di sore hampir malam. Waktu itu, Poltak sedang mengajak kawan-kawannya dan Ros untuk ikut bbq-an di rumahnya. Tidak banyak yang dipanggang, cukuplah untuk perut, kira-kira 20 orang.
Ros tetap duduk di depan bara arang dan asap benar-benar merubah aroma harum rambutnya, yang tadi beraroma aloe vera, kini jadi ga jauh beda dengan bau asap sepeda motor.

"Si Poltak ini.. seakan-akan hidungku tidak punya bulu untuk menyaring asap panggangan", gerutu Ros dalam hatinya sambil menghalau asap yang mencoba masuk ke dalam pernapasannya.

"Hemmm, gapapa lhoo. Daripada aku di dalam rumah sendirian. Zzzz..", Ros masih menghalau asap-asap itu.

Poltak hanya melihat Ros dan menggeleng-gelengkan kepala. Ros tetap menatap kawan-kawan Poltak yang bermain bara api, seolah-olah mereka sedang beratraksi debus. Entah bagaimana, Poltak yang tadi menyuruh Ros untuk menghindari asap, dia malah mendekati asap dan ikut atraksi debus tadi. Ros hanya menatap dari kejauhan, menunggu kapan bara api itu mengenai Poltak. Paling ujung-ujungnya, Poltak melapor ke Ros. LAKIK!


Ya benar, tak perlu lama menunggu, lengan Poltak terkena bara api, dan kira-kira itu adalah luka bakar level 1.

"Wadooooh", teriak Poltak yang membuyarkan lamunan Ros. Ros anteng, tidak bergerak, tidak berinisiatif apa-apa.


"Rosss, tolongin..", Poltak memohon dari kejauhan.

"Bodooo amaaaattt..", Ros beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke dalam rumah.

Sementara kawan-kawan Poltak masih asik bermain bara api. Seolah-olah bara api adalah mainan. Entahlah LAKIK! Entah, bakal jam berapa lagi semua ayam dan ikan akan matang. Poltak merapat ke sebuah bale-bale di teras rumah sambil menghembuskan lukanya itu.

"Makanyaaa, jangan sok jago, kau anak muda, terbakar kan? Bandel sih..", ucap Ros yang membawa sebaskom air es dan kain lap berwarna kuning.

"Kok pake kain lap dapur sih?", Poltak protes.

"Mau pake apa aja boleh, asal bersih. Ini kan belum dipake untuk ngelap apa-apa toh? Masih bersih. Kalo kotor, bisa infeksilah lukamu. Ga lah aku bodoh-bodoh kali", jelas Ros yang mulai memeras kain itu. Poltak tersenyum malu dan meringis menahan sakit. Dia masih menghembus-hembuskan lukanya itu.

"Aaaawww.. Pelan-pelanlah Ross. Kau ibu dokter tapi gitu banget nekannya. Pedih lhoo..", muka Poltak memerah menahan sakit.

"Makanya jangan bandel. Tadi sok-sok nyuruh aku masuk ke dalam rumah karena asap. Tapi kau sendiri mendekati asap. Yaelaaaahh, enak kan?". Ros semakin menekan pas dibagian lukanya itu.

"Duuhh, pelan-pelan lhoo..."

"Kesal akuu. Kau kan jadi sakit begini"

"Kesal sih kesal, ini pedih lhooo.."

"Biarkan! Aturannya bisa senang-senang kita tadi..",tiba-tiba hati Poltak berdegup kencang. Hahaha, jelas saja tidak ada korelasi antara penekanan luka dengan peningkatan kecepatan degup jantung. Kalaupun mau ada infeksi atau sepsis, pasti udah terjadi dari awal. *maaaf, maaf, aku kok berasa lagi tutorial ~ kangeeen*

"Takut banget aku sakit..", suara Poltak mendadak biasa, tidak meringis seperti awal dia sakit tadi.

"Yaiyalah, kau kan kawanku. Kau juga yang punya acara ini..", Ros masih fokus mengelap lukanya Poltak.

"Sh*t! Teman? Friendzone!", Poltak merasa sial mendengar ucapan si Ros. Padahal, udah niat banget dia ngucapin perasaannya malam ini, Yaaaaaa...Walaupun rada takut.

Ros masih serius membasuh luka Poltak, manatau ada bagian yang kotor yang tersisa. Entah bagaimana, mendadak mulut Poltak sangat-sangat "out of control"

"Ros..", getaran suara Poltak yang merambata di udara, sangat pelan.

"Hem, iya? Mau protes apa lagi? Apalagi yang sakit?", jawab Ros sambil mengembuskan luka Poltak.

Poltak terhenyak, seperti baru melihat hantu. Dia mendadak sadar,

"Jangan sekarang!", perintah langsung dari hatinya.

"Apalagi sih Pol? Kok diem?", Ros mengarahkan pandangannya ke wajah Poltak. Wajah Poltak tidak memerah, cuman tatapan Poltak yang entah kemana, mencari fokus lain supaya mata tidak mata.

"Mau kamu jadi bu dokterku?", kini bola mata Poltak tidak bisa diatur. Poltak benar-benar menatap Ros, tapi Ros keburu menunduk dan menghembus luka Poltak.

"Halaaaah, baru segini aja pun udah lebay. Aku belum jadi dokter lhoo..", Ros membereskan kain lap dan segalanya tadi,"Udah mendingan kan? Entar kita beli salep ya, biar cepat sembuh lukamu itu.."

"Ros..", Poltak menahan tangan Ros ketika hendak mau masuk ke dalam. Benar-benar seperti FTV.

"Iya, ada apa?", Ros meletakkan baskom air tadi.

"Maksudku, ya jadi dokter dalam segala hal. Apalagi yang memelihara kesehatanku, yang ngomelin aku kalo aku lalai atau bandal atau keras kepala sekali pun.."

"Pol? Otakmu kenapa? Tadi kena api ya?", Ros memeriksa kepala Poltak. Tidak ada bekas terbakar kok.

"Ya Tuhaaaaan, Kau ini pura-pura bodoh atau beneran bodoh sih?", kesal Poltak sambil meluruskan tangannya yang terbakar tadi.

"Lah kau kalo ngomong ya to the point aja kali. Bertele-tele banget.."

"Hahahaha...", sontak Poltak tiba-tiba tertawa lepas.

"Anything funny, lek?", Ros menaikkan satu alisnya.

"Aku sayang samamu.", Poltak langsung mendiamkan dirinya, mengatur nafas untuk mengatakan 3 kata tadi.

"Hahahahaha..."

"Kok gantian ketawa? Ketawamu mingkem dikit deh. Kau itu cewek!!", Poltak terheran.

"Hahahaha, oke oke..", Ros tertawa sambil menutup mulutnya,

"Eh ga usah deh, lebih lucu yang tadi.. Aku lebih suka ketawamu yang tadi", Poltak senyum-senyum seraya menggaruk kepalanya padahal sama sekali ga gatal.

"Hahahahahahaha..", Ros masih lanjut tertawa.

"Hahahahaha...", Poltak juga ikut tertawa. Entahlah, aku penulis juga bingung kenapa percakapan ini cuman ketawa aja.

"Aku juga sayang samamu...", Ros menutup mulutnya yang tadinya ketawa dan tanpa sadar mengeluarkan kata-kata itu.

"Pardon me?", Poltak pura-pura tidak mendengar dan mengarahkan telinganya ke arah Ros.

"Nothing. Aku kebelakang dulu.."

"Kau juga sayang samaku kan? Hayo ngakuuu..."

"Nah itu dengar. Tadi pura-pura enggak dengar kau yaaaaa...", Ros menepuk luka Poltak tadi.

"Duh, sakit!"

"Makanya enggak usah sok-sok ga dengar.."

"Hahaha, iyaaa... So?"

"Hahaha, maybe I love you..", Ros mengangkat bahunya, gugup.

"Seeeeeh, udah pinter ngomong I love you diaa..."

"Tak, kau kapan seriusnya sih?"

"Sekarang!"

"Yaudah... Jalanin aja..."

"Jalan kemana kita?"

"Ke hatiku dan hatimu.."

"Sumpah, kau alay Ros..", Poltak mengalihkan pandangannya ke arah teman-temannya.

Ros beranjak dari kursi itu dan mengambil tas selempangnya..

"Aku pulang yaaaaa..."

"Kenapa? Janganlah, belum siap acara kita..."

"Hahaha, serius banget. Aku kan becanda.."

"Okay sayang, bagaimanapun aku ingin selalu membuatmu, tertawa...", Poltak berdiri.

"Yeeeeelaaaah, I wait..", singkat Ros.

Wednesday, 3 June 2015


Ray: "Aku rindu, menunggu esok terlalu lama. nanti sore pulang kerja aku mampir ke kostmu ya.."

Dee: "Ya ampun, nanti kau kecapekan..."

Ray: "Lebih capek lagi kalo memendam rindu.."

Dee: "Hehehe... Iya iyaaa deh.."

Ray: "Nanti sore mau nitip sesuatu?" 

Dee: "Apaan ya? Ga usah deh.."

Ray: "Jadi kita ngobrol di depan kost tanpa ada cemilan? Nanti kurus pula kau..."

Dee: "Terusssss ajaa kau ledek akuu ya Ray.. Hahahaha..."

Ray: "Hahahaha, kan kasian kaunya. Kau ini diperhatiin, malah begituuu.."

Dee: "Hemm.. Iya iyaa... Aku titip apaan ya? Perutku masih kenyang, tadi makan besar soalnya.. Hahaha.."

Ray: "Halah, nanti laper lagi itu..."

Dee: "Yaudah aku titip susu Ultramilk..."

Ray: "Hahaha, susu bah.. Yang mana? Yang low fat? Hahaha..."

Dee: "Yeee, mana ada yang low fat. itu kan yang Frisian flag sihh.."

Ray: "Tau akuu, becanda lhooo..."

Dee: "Heeeeh, dasaaaar.. Aku titip rasa coklat yaaa.."

Ray: "Oke deh ndutttt. Setengah jam lagi aku ke kostmu yaa..."

Dee: "Okayy.. Take care yaa.."

Setengah jam kemudian, Ray sampai di depan kost Dee lalu menelpon Dee. Dee pun keluar.

Dee: "Hai!"


Ray: "Hai"

Dee: "Yuk masuk, duduk di teras situ yukk"

Ray: "Ini titipanmu..", cuman tersenyum lalu duduk di teras rumah ibu kostnya Dee.

Dee: "Wah makasih banyak yaa.. Lho, kau beli jus juga?"

Ray: "Iya, agak migrain sih tadi.."

Dee: "Nah kan udah ku bilang jogaal (bahasa batak = Keras kepala dalam bahasa Indonesia)


Ray: "Udah denger alasan ku tadi kan?"

Dee: "Iya iyaa bawel.. Aku minum yaa.." Dee menyucukkan susu kotak itu dengan pipet lalu meminumnya.

Ray: "Huaaaah, capek banget seminggu ini. Banyak banget kerjaan. Hoalaaah.."

Dee: "Iya, daripada ga ada kerjaan? hayoooo..."

Ray sekali-sekali mencuri pandang ke Dee. Ray menjelaskan seminggu tanpa ketemu Dee karena mereka berdua sama-sama sibuk. hingga akhirnya Ray menyucukkan jus kesukaannya dan meminumnya.

Dee: "Eh, wait..", Dee memperhatikan apa yang dia minum dan apa yang diminum Ray.

Ray: "Kenapa emang?"

Dee: "Hahaha..."

Ray: "Eh, kok ketawa?"

Dee: "Dimana-mana, cewek yang minum jus dan cowok yang minum susu..."

Ray memperhatikan minuman mereka berdua. Ray tersenyum kecut, baru menyadari.

Ray: "Hahaha, sini-sini tukerrr..."

Dee: "Yee, ngapain? Punyaku juga udah mau habis..."

Ray: "Ah, bodo amat deh.."

Dee: "Hahaha..


Ray: "Iya pula yaa, minumanku jus jambu, pink pula kotaknya, minumanmu susu coklat yaa.. Lakik banget.."

Dee: "Iya terbalik yaaa.. Ckckck..Hahaha..."

Ray: "Yah ngakak dia. Yah, ngeledek dia..".

Dee: "Hahaha, lucu aja lhoo.."

Ray: "Ya, yang penting aku ga sayang sama cowok kok..." Ray mengacak-acak rambut Dee sangkin gemasnya.

Dee: "Lah kalo sama cowok, parah lah..."

Ray: "Ya makanya aku sayang samamu. aku kan ga homo.."

Dee hampir tersedak ketika menelan seruput minuman terakhir. Hampir dia mengalami aspirasi benda cair.

Ray: "Heh! Sempat tadi mulutmu penuh, tersembur lah itu.."

Dee: "Hehehe, maaff. I try to be calm yaaa.."

Ray: "Cobalah. Aku bikin stopwatch sampai berapa lama sih kau bertahan untuk kalem?"

Dee: "Hahahaha..."

Setelah itu memang nyatanya Dee tidak bisa kalem dan Ray suka itu. Mereka berdua ketawa ketiwi sampai matahari menyelesaikan tugasnya hari ini. :)