Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Wednesday, 30 September 2015

Selamat Pagi Bapak, Ibu.. Apa keluhannya? Udah berapa lama?
Kali ini aku mau cerita tentang masa co-ass (Co Assistant - Asisten dokter). Koas (gini aja tulisannya biar gampang) pertamaku, Interna - Ilmu Penyakit Dalam (nyari lap keringat). Selama koas stase ini, aku akan menganamnesa pasien sebelum masuk poli, berdiri tegak dibelakang dokter ketika dokter spesialis visite pasien, namaku tertera didaftar jaga ruangan, pagi-pagi (paling lambat jam 6 pagi) mesti follow up pasien, mendekati perawat-perawat agar aku bisa nyuri ilmunya kaya pasang infus, ngebolus, skin test, pasang kateter, pasang NGT, dll.  Over all masa koas itu senang, sedikit bangga, kadang-kadang hampir sering menyebalkan.

Awal aku koas ini, paling takut ketemu sama orang TBC dan SIDA (nama lain ODHA), walaupun sudah pake masker double dan handscoon double. Entahlah, mungkin Syndrome takut awal masuk stase interna. Aku masih terlalu awam terhadap penyakit yang masih merajalela di Indonesia itu. Mungkin, kita terlalu mudah mengatakan "yang dijauhi itu penyakitnya, bukan orangnya", prakteknya sulit.

Sejauh ini, sudah beberapa orang yang ku saksikan kepergiannya, dan mereka rata-rata berumur yang sudah sangat lanjut dan dengan penyakit yaaa yang sudah menahun-lah. Kata teman-temanku sih, bawaan badanku itu Folket. Folket itu adalah follow ketat, means pasiennya sedang emergensi atau bahkan dalam fase terminal, jadi perlu di-follow perkembangannya tergantung advice dari dokter jaganya, kadang ada yang per1 jam atau per2 jam. Adalah lucky ketika pasiennya gawat langsung disarankan masuk ICU, ruang ICU masih ada yang kosong dan keluarga pasien menyetujui saran itu. Officially Folket Ga Jadi. Hahaha.. Kadang, banyak pertimbangan keluarga untuk masukkin pasien ke ICU kaya misalnya: Ga ada duit (kebanyakkan gitu) atau udah pasrah dengan kondisinya (ikhlas sajalah). Sejauh ini, aku udah lebih dari 3 kali folket. Kadang mungkin kesal atau kok ya menyedihkan gini nasip aku, bawaan badan kok ya folket? Kok mereka pergi pas aku folket? Sejelek itu apa yaa? Tapi, aku positive thinking aja, mungkin ini jalan Tuhan agar aku terlatih untuk tidak panik atau gugup menangani pasien yang kritis, bisa belajar bicara pada keluarga pasien, dan yaaaaa, semoga setelah aku benar-benar jadi dokter nanti, pasienku jadi sehat-sehat semua. Aminnnnn...
Jaga Malam lah dulu... *kalo ga salah, setelah foto inilah kami follow ketat*
Jadi anak koas itu memang tergantung diri kita, keingintahuan kita gimana, inisiatif kita gimana jalanin koas itu gimana. Ya, ada yang ngejalan koas, asal lewat aja. Ada yang aktif nanya-nanyain keadaan pasien, memantau perkembangannya. Ada yang mangkir dari jadwal jaganya. Ada yang ketika jadwal jaganya udah kelar, dia main-main ke IGD. For you to know, banyak pengalaman di IGD. IGD itu gerbang pertama atau pelayanan primer untuk pasien-pasien darurat yang kemudian diputuskan akan rawat jalan atau rawat inap. Kaya gimana nanganin pasien korban kecelakaan, bayi asfiksian berat, hipertensi urgensi, ibu-ibu mau melahirkan, kejang demam, dan lain-lain. Disamping itu, bisa kita main-main ke poli lain. Ya sekedar ngobrol-ngobrol kasus apa aja yang sering masuk ke situ, supervisornya gimana, dan lain-lain.
Anak Interna kesasar ke Pediatric. Ucok, kamu ganteng badhay banget...
nyusup ke paviliun anak karena ada adek ganteng ini
Pas kita koas juga kita bakalan ketemua kawan-kawan dari fakultas kedokteran lain, nambah-nambah kawan, nambah-nambah kontak Line, nambah-nambah kemungkinan dapat jodoh *lho, kok salah fokus gini? haha..


Selfie halal kok pas koas, apalagi di ruang poli spesialis haha...
Sejauh ini, koas itu bukan hal yang memberat-memberatkan kali, tergantung pembawaan kita aja gimana. Paling kerjaan koas itu jaga ruangan, ngecek pasien baru, tugas, pretest, post test, dan tugas. Kata senior-senior sih, pas udah jadi dokter nanti, masa koas itu bakal dirindukan banget gimana jatuh bangunnya. Tapi enggak perlu diulang.
Abaikan si mata panda ini...
Ngumpulin 100 merek obat untuk tugas akhir, tidak ada  ini, tidak ada ujian..
But first take me a selfie
Akhir bulan itu sah buat anak-anak koas ngumpul di satu rumah kawan,
temu ramah kemudian nutupi uang makan..
We heal your body, We heal you soul, We worship Him.

Saturday, 26 September 2015

Aku percaya, setiap anak perempuan akan menemukan cara dan waktunya tersendiri untuk tumbuh, bersikap dan berpikir layaknya perempuan dewasa yang lebih siap menghadapi dunia. Banyak cara Beliau untuk membentuk kita, anak perempuan, menjadi sosok kuat, berani, tegar, kokoh, mandiri, bertanggung jawab dan bijaksana.

Kalo beberapa tahun lalu aku terus tunduk pada ketakutan dan tidak memberanikan diri dioperasi gigi, aku akan terus jadi pribadi yang penakut dan berakhir dengan penyesalan.

Kalo aku kemarin tidak beranjak dari kesedihan karena harus merelakan hubungan yang teramat ku sayang, aku akan terus bertopang dagu dan merenung, tanpa berpindah. Kini, rasionalku lebih jalan, hatiku lebih kuat.

Kalo aku terus dimanjakan fasilitas, ini dan itu terus ada, mungkin aku tidak akan jadi pribadi yang mandiri dan lebih berinisiatif.

Kalo dulu aku tetap bertumpu pada pengertianku, terus mengikuti kegoyahanku, terus menangisi kegagalanku atas harapan yang tidak tercapai dan aku tidak berjalan bersama Tuhanku, mungkin aku tidak menjadi pribadi yang lebih kokoh.

Kalo hidupku hanya diliputi canda dan tawa, semua keinginanku terpenuhi, mungkin aku tidak jadi pribadi yang lebih bijaksana menghadapi segala hal.

Kalo aku tidak ditegur caraku berjalan, berpakaian, bersikap, dan etika apapun itu, aku tidak akan jadi pribadi yang lebih anggun dan akan terus bertingkah seenak otakku saja.

Kalo aku tidak pernah diberi tanggung jawab dari hal kecil sampai hal yang besar, mungkin aku akan jadi pribadi yang tidak peduli terhadap apapun dan tidak akan jadi sosok yang bertanggung jawab.

Benar sekali kata - kata "hidup itu adalah belajar sampai mati". Untuk menulis surat, menggiling cabai, memotong rambut, mengatur keuangan, mengerti kelelahan pria, menggantikan popok bayi, bahkan memperbaiki aki mobil, kita, perempuan perlu belajar. Untuk segala hal harus kita coba dan pelajari. Jadi perempuan itu harus serba bisa, tahan banting dan tidak mudah. Tapi jadi perempuan adalah anugerah Tuhan yang tidak terganti. Jadilah perempuan yang cerdas dan berguna.

Sunday, 20 September 2015

Dia pelan-pelan mencari masalah
Membarakan apa yang tenang
Marusak apa yang indah
Membuyarkan apa yang rapi

Dia awalnya tidak mau matang
dan bahkan sampai sekarang
Dia diawal saja girang
Kini menciptakan perang

Berusaha membentuk benci
Mengumpulkan kehancuran
Meletakan rasa di tepi
Akan ada jiwa tertekan

Jahat?
Iya.