Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Tuesday, 27 October 2015

Emang perlu kita sadari, kita itu enggak jauh beda sama namanya kerbau, yang mesti dicambuk biar jalan. Atau seperti kucing yang mesti dipancing sama ikan asin baru mau mendekat.

Why did i say that?

Ini stase ke dua ku, stase THT (Telinga Hidung Tenggorokan). Boleh aku zuzur? Aku dulu agak sepele dengan materi THT. Apaan sih? Yang dipelajari cuman telinga hidung tenggorokan? Ga ngaruh-ngaruh banget kooookk.. Kalo tenggorokkan ga enak, banyak aja minum air putih. Atau kalo lagi batuk, kasih aja antibiotik. Kalo ada asap? Pake aja masker. Atau kalo kuping agak-agak mendengung? Biarin aja, entar sembuh sendiri. SEPELE!

Di stase ini aku benar-benar di-push, i mean, disuruh ngerjain tugas, disuruh nguasai bahan, diresponsi pas bimbingan atau bahkan bakalan di-mop pas salah ngediagnosa pasien. Never mind, dengan begitu akunya bakalan sadar kalo aku belum apa-apa, otakku masih pas-pasan, terlebih aku bukanlah seorang yang tekun banget membaca buku pelajaran.

Teori? Apalah teori kalo praktek nihil. Praktek kerja dilapangan lebih menantangaku jadi terpacu untuk lebih pengen belajar. Dan the push-maker nya adalah supervisor.

Aku bersyukur banger dapat supervisor yang begini. Efeknya positif ke aku pribadi sih, hehehe.. Aku memang tipe orang yang mesti dituntut atau dipaksa untuk melakukan sesuatu hal, kalo enggak aku bakalan hidup seselooow mungkin atau masa bodo dengan suatu hal. Dan pada akhirnya bakalan enggak tau apa-apa. Dengan di-push begini, aku punya pemicu untuk ingin tahu dan ingin tidak disepelekan.

Secapek apapun itu, sepenat apapun itu, sepalak apapun itu, selalu ada celah untuk bersyukur. Puji Tuhan, sejauh ini aku ditempatkan di stase yang memang aku dambakan. Kadang aku ngerasa, aku pengen tapi aku takut dan aku melama-lamakan untuk menjalaninya. Tapi, Tuhan tau kebutuhanku kok. Kemarin aku pengennya masuk stase anastesi, tapi dapatnya stase THT. Aku rasa, Tuhan nyuruh aku untuk lebih bisa ngatur waktu dan memanfaatkan waktu lebih efisien aja.

Intinya, manusia harus di-push untuk mencapai sesuatu. Kalo enggak, hidup lo enggak asik! :D

Sunday, 18 October 2015

Enggak terasa masa koas internaku udah hampir selesai, minggu depan juga mau ujian post test -aku ambil topik malaria. Dan enggak lupa, umur memasuki masa dimana undangan teman-teman sepermainan, menikah. Kok salah fokus? Ah, sudah lupakan.

Mumpung minggu besok adalah minggu terakhirku di interna, aku akan duduk manis di poli nefrologi, poli terakhirku dengan dokter baik, ramah, pintar dan tidak lupa kumis yang membuatnya menggelegar. Beliau adalah gambaran dokter padi, I mean Semakin Berisi Semakin Merunduk. Entahlah, diinspirasi banget. Someday, i wish i will be like him lah, hahaha, tapi dengan cara belajarku yang begini, seemed impossible. Let it flow, maybe.

Beberapa waktu yang lalu, aku ikut beliau visite pasien di ruang HD (Hemodialisa Darah) atau cuci darah. Diruangan itu dipenuhi pasien-pasien yang harus cuci darah, entah itu karena Diabetes Melitus, Glomerulonefritis kronik, yang berujung dengan Penyakit Gagal Ginjal (PGK). Disebut PGK kalo LFG (Laju Filtrasi Glomerular) udah kurang dari 60ml/menit/1,73 m3 dan sudah dalam 3 bulan. Normalnya LFG itu 125-130ml/menit/1,73 m3. Ada beberapa indikasi untuk cuci darah, antara lain LFG nya kurang dari 15ml/menit/1,73m3. Dan frekuensi dari cuci darahnya sendiri tergantung berapa ukuran ginjalnya. Bayangkan 2 buah ginjal mengecil tapi harus menyaring darah yang volumenya sama dengan volume ketika ginjal dalam kondisi normal. Wajib sekali harus cuci darah.

Aku selalu beranggapan kalau pasien sudah masuk ruang hemodialisa adalah orang-orang hebat. semangat hidupnya lebih dari orang-orang normal biasanya. Gimana enggak? Udalah sakit, mesti cuci darah, dan biaya cuci darah bukan murah. Kebanyakan kalau udah begini, pasien-pasien banyak yang give up and let God take them sooner.

"Mereka ini adalah pahlawan keluarga, semangat hidupnya tinggi", kata dokter supervisor itu.

Mengapa pahlawan? Dari diri mereka sendiri, entah apapun itu motivasinya, mereka masih berkeinginan untuk tetap hidup. Oh man! Kadang kita aja sakit sedikit langsung malas mau ngapa-ngapain, terlalu mengikuti maunya badanku. Cobalah? Jujur aja, ketika melihat seperti itu, apalagi orang yang sudah sangat lansia masih bersedia dicuci darahnya, aku merasa tertampar hebat. Aku masih sehat, bugar, dan kuat, aku masih berpangku tangan? 
Aku hidup ini tujuannya untuk apa? Duh! Let's break the world!

This is the machine