Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Friday, 23 December 2016


Yeay akhirnya setelah keluar dari perkampungan, aku nulis Review lagi...
Azekk azekkkk....

Sebelumnya aku mau ngabarin bahwa, kulit tubuhku tersusun dari beberapa jenis kulit. Misalnya nih, kulit wajah aku cenderung normal-oily jadi sometimes kalo pas situasi dan keadaan mendukung,  wajahku bakal ditumbuhi banyak jerawat, bisa saja karena kurang bersih, kurang istirahat ataupun kebayakkan makan makanan berminyak. Yeah, acnes will grow so fast!

Nah beda lagi dengan bagian kulitku yang sebenarnya strong, tapi dari segi kelembapan sangat kurang. Misalnya tangan beserta jari-jarinya. Kemungkinan besar aku adalah salah satu orang yang jaringan kutikula sekitar jari yang mudah menebal. Jadinya, aku punya kebiasaan untuk mengelupaskannya, apalagi kalau lagi gugup atau berpikir. Yaudah,  jari ikhlas aja aku preteli. Wkwk.. Selain itu kaya di siku tangan, lutut, mata kaki, jari-jari kaki dan tumit, mereka punya kondisi kulit lebih berat kerjanya. Jadi mereka rata-rata cenderung lebih kering dan kusam dibandingkan bagian kulit yang lain. Pfffttt...


Berawal dari iseng sih.
Pas browsing, aku nemu artikel tentang salah satu artis yang merawat kulitnya dengan membuat Nivea Cream + Olive oil jadi ramuan masker kelembapan kulit wajah. Sontak, aku tergiur. Aku coba mengingat aku pulang-pergi ke rumah sakit agak jauh gitu. Jadinya kulit wajah pun, kusam. Tapi aku menyimpulkan, bagi mereka yang punya kulit berminyak, aku sarankan jangan membuat Nivea Cream jadi campuran masker. Kenapa? Wajahku jadi berjerawat! Ya iylah, udahlah wajah berminyak, tambah lagi Nivea Cream yang punya kandungan minyak yang WAH, makin suburlah jerawat tumbuh.

Tapi, sepertinya Nivea Cream itu berjodoh dengan siku tangan, lutut, Mata kaki, jari-jari kaki dan tumit. Mereka emang bagian kulit terrrrrrrrrrkering yang aku punya. Duh! Mereka terselamatkan dengan adanya Nivea Cream.

Aku menggunakannya sebelum tidur atau setelah mandi (pokoknya, ga pergi keluar lagi loh ya). Biasanya sebelum aku mengaplikasikannya, terlebih dulu aku memasukkannya ke lemari es. Pas aku pakai, apalagi untuk pijat bagian-bagian tadi, jadi lebih relax.


Apa sih Nivea Cream itu?
Jauh sebelum aku nge-review, pasti udah banyak beauty bloggger yang mengulas cream buatan German satu ini.


Nivea Cream termasuk cream terlama dan cream sejuta umat. Nivea cream ada sejak kurang lebih 100 tahun lalu. Harganya juga merakyat kok. Aku kemarin beli yang 100ml, harganya dibawah 20k. Inexpensive, right? Kalopun hanya sekedar mencoba, kamu ga perlu butuh waktu yang banyak untuk mikir-mikir tentang harga. Hehehe..

How about it's contour?
Nivea Cream emang tercipta dengan textur yang sedikit kental, almost oil-fatty. Jadi memang cocok buat pelembab kulit yang kering dan cenderung mengelupas. Dan sangat kontra dengan kulit yang berminyak.

Aromanya friendly, ga berat, ga menyengat,  ga lebay. Ringan dan relax.

Kemasannya juga handy, cocok dibawa kemana-mana, apalagi bagi kamu yang ga suka ribet. Hemm.. Ini mau musim liburan, kayanya pas dibawa deh. Tapi inget, Nivea Cream bukan sunblock loh ya, karena dia ga punya SPF. Nivea Cream cuman sekedar pelembab aja.

Hemmm, sebenarnya ini adalah produk angkatan opungku-mamaku dan kini beralih ke aku, cucunya dan anak mereka. Ternyata ada ya, produk yang fungsinya masih awet dari dulu hingga sekarang.


Wednesday, 21 December 2016



"Mama I Just want you to know
 Lovin' you is like food to my soul.."
A Song For Mama-Boyz II Men

Metamorfosis Perempuan Batak

Beberapa minggu ini, stase Public Health mengharuskan aku dan anggota kelompok untuk turun ke lapangan dan lebih terjun ke masyarakat, karena public health itu emang pada dasarnya lebih ke program preventif (pencegahan) dan promotif (memasarkan/memperkenalkan) masalah kesehatan. 

Iya, ada satu hal yang ku temukan secara kasat mata. Lebih banyak nande (panggilan ibu dalam Bahasa Karo) yang bekerja di ladang, mengangkut hasil panen, mendorong gerobak, memberi makanan ternak (di sini kebanyakkan ternak babi, dan itu seriusan baunya ga enak), mengumpulkan kayu bakar,  mengantar dan menjemput anak sekolah. Guys, aku ga mengatakan bahwa kaum bapak ga bekerja ya,  tapi kenyataan di lapangan, aku lebih banyak menemukan para kartini keluarga. Tangguh kali!

Nande pulang dari ladang mau jemput anaknya. 

Jadi, ga heran-lah lagu-lagu Batak itu banyak yang menjunjung tinggi karakter ibu. Seorang yang sebenarnya lelah, tapi dengan pintar dia menyembunyikan letihnya. Seorang yang sebenarnya penat, tapi dengan hebat digantikannya dengan tawa. Seorang yang polos tapi ketulusan terbaik tercipta dengan kehadirannya. Seorang yang tegas tapi kemurnian kasih mengalir di bulir-bulir keringatnya. 

Nande Karo berjualan di pinggir jalan besar

Aku banyak mendengar cerita bagaimana "pincangnya" keluarga tanpa kehadiran ibu. Bagaimana kerepotan ayah mengatur menu makanan sehari-hari, tanpa ibu. Bagaimana bingungnya anak gadis yang pertama kali dapat haid tapi tidak ada tempat untuk bertanya. Bagaimana bingungnya anak lelaki yang akan memilih gadis teman hidupnya, karena kebanyakkan anak laki-laki akan lebih nyaman bercerita dengan ibunya. Makanya sering ada kalimat "Jodoh sesungguhnya ada di tangan mama". Hahaha... 

Ini salah satu Nini Ginting (Iting) usia 80-90an tahun. 

Ternyata dapur tanpa ibu adalah bahaya, rumah tanpa cerewetnya ibu adalah gawat, kehidupan tanpa ibu adalah menyeramkan. Dan ternyata surga tak hanya di telapak kaki ibu, tapi berada di setiap sel-sel tubuhnya.  Awesome! 

Bersamaan dengan hari ibu, aku, salah satu anak gadis yang belum menjadi ibu, berterima kasih pada semua ibu di dunia. Aku juga dengan lantang mengatakan, ibu adalah keajaiban yang pernah ada.

Me and my mommy, inang Nainggolan. 

Iyee iyeee cantikan emak gueeeee

Terima kasih ibu. 
Ah, tapi itu ga cukup kan ya? 

Doaku buat ibuku di rumah, semoga Tuhan memberikan kebahagiaan yang berkali lipat daripada kebahagiaan yang diberikannya kepadaku. 


Selamat hari ibuku dan semua ibu di dunia.

Monday, 12 December 2016

Anteng banget babinya coyy.. 
Hari ini, aku punya pengalaman pertama, yang kayanya katrok banget. Aku bertemu segerombolan Babi Hidup di salah satu kandang warga di desa tempat aku bertugas.  For you know guys, they are so cute. 

Norak? Iya banget. Hahaha...

Maaf, ini cuman tulisan tentang Babi Hidup. Jadi halal kok :'D

Tingkah mereka yang aneh tapi menggemaskan, membuat aku geram. Babi hidup dengan kulit berwarna merah muda, suara "ngok-ngok" mereka. Mereka memang jorok karena lumpur adalah habitatnya. Tapi mereka punya badan gempal yang cocok banget pengganti bantal guling. Lemaknya itu enak banget untuk diunyel-unyel.

Ternyata Babi Hidup itu tak sehina luapan kita ketika marah atau kesal. Hahaha.. Mungkin karena aku tipe orang yang susah kesal atau tak betah berlama-lama untuk marah. Moodku bisa berubah riang hanya karena tingkah aneh babi-babi hidup. Sederhana ya membahagiakanku? Hehehe...

Babi Hidup mengajarkan aku satu hal. Gimana kalo salah satu resolusi tahun 2017, kita berusaha untuk membuat seseorang, siapapun yang kita temui, untuk merasa bahagia? Setiap hari kita membuat orang bahagia. Jadi ketika orang-orang bertemu kita, mereka merasa bahagia.

Bukankah baik jika kita dikenal sebagai pembawa kedamaian dan kebahagiaan? Karena dunia benar-benar sedang berada di fase krisis kebahagiaan dan defisit kedamaian. Semua diukur dengan kekuasaan, materi, kehormatan. Sedih ya kan?

Ya sudahlah, kan sudah tau sedih, kenapa harus dibawa ke tahun 2017? Tinggalkan saja di 2016. Kodrat manusia adalah berdamai dan berbahagia.


Yuk mari, kita lebih melapangkan dada, menghirup udara kedamaian dan mengubah diri menjadi pembuat kebahagiaan. Be a peace maker!!


Thursday, 1 December 2016



Mumpung ini Hari AIDS Sedunia, aku mau sharing sedikit tentang adik kecil manis yang sudah pergi ke taman indah, di surga sana. Sebut saja namanya Anggun, karena dia memang terlihat anggun.

Hari itu adalah hari ke 2 aku menjalani stase Pediatric (ilmu penyakit anak). Seperti biasa anak koas pada umumnya, aku dan segerombolan teman-teman sejawat mengikuti dokter konsulen untuk visite pasien. Riuh anak-anak yang berumur sekitar 4-10 tahun menjadi back sound kedatangan kami. Sementara itu, ibu mereka menggendong dan mencoba menghentikan tangisan, ketika dokter konsulen menempelkan stetoskop ke badan mereka dan bertanya bagaimana perkembangan keadaan mereka hari ini.

Emm, masih ingat jelas diingatanku, pemandangan berbeda terjadi di kamar pasien paling ujung, di urutan tempat tidur nomor 2 dari dinding. Dia, Anggun, dengan tatapan sayu, tidak menangis, apalagi dipangku. Dia cuman terbaring lemas dengan deras infus yang mengalir menuju nadi-nadinya. Beberapa ibu duduk disampingnya, mengipas-ngipas dia. Aku tak tahu apa status mereka. Tapi rasanya mereka bukanlah orangtua Anggun.

Selain takut ditanya dokter konsulen tentang penyakit si adik ini, aku membaca status pasien miliknya karena penasaran. Dari pemeriksaan lab, "CD4 (+)". Spontan, tak perlu aku melanjutkan apa hasil diagnosanya, dia positif HIV/AIDS.

"Iya dok, mamanya baru meninggal baru beberapa bulan lalu, karena HIV/AIDS. Kalo bapaknya juga udah lama meninggal. Karena HIV/AIDS juga", samar-samar perawat yang ikut dibelakang kami, menjelaskan riwayat keluarga Anggun.

"Ini udah pernah masuk, kan? Kalo ga salahku sekitar 2 minggu lalu?", sambut dokter konsulen kami. Perawat tadi pun mengangguk.

"Jadi dek, anak ini memang keturunan dari orang tua penderita HIV/AIDS. HIV/AIDS bisa tersebar dari darah, jarum suntik, hubungan seksual dan bahkan keturunan. Ya contohnya seperti ini. Sampai sekarang belum ada obatnya, kecuali bener-bener menjaga kesehatan. Kalau pun ada obat, itu sifatnya simptomatik. Ya, karena HIV/AIDS itu menyerang sistem kekebalan tubuh. Kalo kekebalan tubuh lemah, sementara tanpa kita sadari banyak kuman-kuman di sekitar kita yang seharusnya dilawan kekebalan tubuh? Tubuh akan semakin drop. Dan bisa berakibat fatal. Makanya setia sama pasangan dan harus jelas gimana bibit bebet bobot pasangan kalian. Jangan kalian "jajan" sembarangan. Ya bisa kaya ginilah. Kasihan di anaknya kan?", jelas dokter konsulen.

Aku bukannya takut, tapi sedih. Duh, baru umur segini, dia berusaha betah ya diinfus gitu? Seharusnya seumuran dia itu main prosotan, niup-niup balon sabun atau belajar perkalian di sekolah. Tapi, aku yakin, dia sepenuhnya tidak salah. Dan dia pun diciptakan tanpa memilih orangtua. Raganya memang diharuskan untuk mengedarkan Virus HIV. Siapa yang salah? Aku tidak perlu menjelaskan sepertinya, hehehe..

Ketika kami visite tadi, keadaannya memang sedang buruk. Gizi buruk dan diare kronis menjadi pasangan penyakit yang dideritanya itu. Orang yang disekelilingnya juga sudah mengikhlaskan kalau jiwanya tiba-tiba kabur. Dokter konsul juga sudah memberi advice untuk keadaannya itu.

Iya benar, selang beberapa jam, kami mendapat laporan kalau dia sudah pergi. Kasihan? Iya. Tapi rasaku, itu lebih baik daripada dia hidup tanpa bisa bermain dengan teman-temannya.


Dia, Anggun, sudah bertemu lagi dengan ayah dan ibunya. Di atas sana, mereka bergandengan tangan lagi, bercerita lagi. Anggun yang sedih, sudah bahagia. Anggun yang kesepian, sudah tertawa lepas. Semoga, tidak ada lagi Anggun-Anggun berikutnya.


Thursday, 24 November 2016

"Merapikan Alis" Mission Failed
Setelah minggu-minggu yang super duper hectic, yang aku rasa ga bakal terlewati, rupanya bisa juga berlalu. Memang bener kata orang bijak,"berhenti berpikir, melangkah jauh lebih baik". Kalo kita lebih banyak mikir, lebih banyak membayangkan hal-hal yang negatif, kita bakal nyesel. Akan lebih banyak waktu yang terbuang sia-sia. Menyedihkan! Oh ya, Aku juga mengambil satu kalimat pak MT, "Dalam hidup, kamu mesti ambil keputusan. Baik-buruknya harus kamu hadapi. Kalo ga, kamu akan berjalan di tempat". Iya juga ya kan? Udahlah jalan ditempat, badan capek, eh tapi ga ada hasil. Hello, Wasting time lhoo.. Bener ga? Hahaha.. 

Disela-sela melayani pasien di puskesmas kemarin, aku sempat beberapa kali menghampiri cermin, kali aja lipstik habis? Kali aja bedak mulai menipis? Kalo pun habis, aku ga begitu menggubrisnya sih. Wong aku aja ga pernah bawa lipstik atau bedak pas dinas. Wkwkwk.. Atau kali aja ada bakteri Mycobacterium tuberculosis yang mencoba menyusup ke lubang hidung? Emang bisa? Hahaha, becanda lohh. Manalah nampak pake mata telanjang weeee.. 

Tapi. aku mikir, apa ya yang bisa menjadi daya tarik kita ketika berkomunikasi dengan orang lain ketika make up  mulai menipis? Secara, ketika melayani pasien, bisa saja kan pasiennya ga yakin dengan penampilan kita yang sedikit pucat. Ga mesti ke pasien sih, ke semua orang yang perlu bertemu dengan kita, apa yang bisa membuat mereka tertarik untuk berbicara dengan kita? 

Lalu, aku teringat dengan beberapa dokter-dokter perempuan, dokter spesialis pula, atau ibu-ibu pejabat atau ibu-ibu entrepreneur, yang shining, walaupun tanpa high quality make up. Apa yang mereka pakai? 

1. Pertajam Telinga, Perhalus Ucapan
Emang kewajiban kami, sebagai dokter, untuk bener-bener mendengar keluhan-keluhan pasien tentang penyakitnya. Bahkan kadang sampai tak sadar, mereka pun curhat ke kami. Tapi aku rasa, itu ga cuman berlaku di dunia kesehatan deh. Semua pekerjaan mengedepankan ini, kenyamanan berkomunikasi.
Satu hal yang perlu disadari bahwa, walaupun kita tidak terlalu banyak bisa memberikan nasihat, orang lain itu, perlu didengar. Adalah sifat manusia akan lega bahkan bahagia ketika didengar cerita-ceritanya. Then, kalau kita memang punya saran atau solusi, baru deh kita angkat bicara. Ingat sopan dan santun ya ladiesss.. Jangan nanti kelihatan sok-sok tahu. Haiss...

2. Laugh, Laugh, and Laugh!
Sekacau apapun dunia sekarang, Puji Tuhan Alhamdullilahnya, stasiun TV masih banyak menayangkan acara komedi. Misalnya Ini Talk Show, Opera Van Java, dan sadar ga sih, Mr. Bean dan Warkop DKI adalah long life holiday film? Selalu diputar. See? Orang yang lucu dan menggembirakan akan selalu dirindukan. Jangan sekedar senyum. Jaman sekarang, senyum itu punya 2 gendang: emang senyum dari hati atau senyum sebagai topeng. Ah, dunia penuh kemunafikan. Berbahagialah dengan membuat orang lain tertawa. Karena kebanyakan dari tawa bersumber dari hal yang spontan, ketidaksengajaan, kesederhanaan, ketidakpura-puraan, dan apa adanya. Makanya tawa adalah hal yang paling jujur yang masih ada di galaxi bima sakti ini.


BY THE WAY, APA KALIAN NGERASA TEJEBAK DI POSTINGANKU KALI INI? HAHAHA..


3. Peduli (Berbagi + Mau nolong + Berinisiatif)
Heeaaaak! Siapa di sini yang pernah terjebak dengan kata-kata "Klik Like dan ketik amin untuk membantu nenek yang miskin ini"? Selaaaw guys, waktu awal-awal nemu postingan begitu, aku pun pernah kena. Hahaha.. Tapi setelah dipikir-pikir, apa aku benar-benar sudah peduli? Apa aku benar-benar sudah menolong nenek tadi? Apa aku cuman kasihan saja? Coba renungkan deh..
Jaman ini, Kita sekarang sedang defisit kepedulian yang nyata. Serius! Egois kita membumbung tinggi bak uap air mendidih di dapur. Individualisme kita tumbuh subur layaknya lumut di tanah lembab. Hedonisme kita membabi buta. Kita selalu melihat ke atas dan jarang untuk melihat ke bawah. Makanya kita selalu merasa kurang, kurang dan kurang. Sehingga kita lupa bagaimana kawan-kawan kita yang berkekurangan. Ah kasihan sekali kita banyak lupanya yaaa? Hahaha.. Kita digerogoti penyakit "tak perna puas" dan parahnya itu ga punya obat kecuali "peduli".
Pernah ga sih memperhatikan, orang yang peduli adalah orang yang paling menarik dan dikenang yang pernah ada. Mau contoh? Mother Theresa, Anne Avantie, dan lain-lain. Apa yang mereka perbuat, searching saja. Kalo diceritakan di sini, bakalan panjang.

4. Berwawasan Luas dan Percaya Diri
Dulu, waktu masih masa pubertas, aku punya fase "Ah malu mau mulai pembicaraan..". Itu sepertinya fase terberat dalam masa peralihanku. Kalau mau bicara sama orang lain, seakan aku lagi ngunyah lem alteco, enggan berbicara. Ga tau mau ngomongin topik apa. Takut ga nyambung. Takut aku telmi (telat mikir). Takut salah bicara. Hahaha, walaupun dibilang temen-temen aku agak tomboi, aku banyak takutnya looh (astaga, bangga pulak bah!). Cuman seiring makin banyak kamu baca, makin banyak kamu tahu, kamu akan mudah berkomunkasi dengan banyak orang, dan semakin percaya dirilah kamu untuk ngobrol sama orang lain.
Yaaa, pokoknya dari ngomongin harga cabe, ngomongin politik sampe ngomongin bola, kamu nyambung. Ga perlu terlalu expert banget, cukup tau-tau sedikit saja, kamu udah punya penilaian tersendiri di mata orang lain, apalagi di mata lawan jenis. Wuidih, ga bosen deh kalo ngobrol, ada aja topiknya. Apa kamu ga jadi menarik di sekelilingmu? Ciyeeeeee....

5. Ga Gengsi
Ladies, hidup jangan terlalu jaim atau neko-neko. Kadang sisi ga gengsi adalah komponen yang dirindukan laki-laki kebanyakkan. Menurut beberapa teman-temanku yang cowok, bodoh amat sama make up-mu, asal kamu mau nyoba soto di warung pinggir jalan, atau panas-panasan dorong motor mogok, He will love even respect of you~~~
Tata krama dan sopan adalah wajib, tapi bukan berarti gengsi. Gengsi akan mematikan pesonamu yang ditunggu-tunggu orang lain. Ga gengsi, atau sekedar turun ke lapangan dan langsung melihat keadaan sekitar kita, akan meningkatkan derajat ke-kece-an kamu di hadapan orang lain. Ga percaya? Mau contoh lagi? Ga usah jauh-jauh deh, Silahkan lihat produk dalam negeri kaya ibu Susi Pudjiastuti, ibu Tri Rismaharini, dan lain-lain. They use less make up, tapi terlihat cantik dan indah daripada harga dan diskonan make up. 

Seperti fotoku itu, simple dan aneh ya? Tapi dari situ, ada kalanya untuk mempercantik diri malah berujung tragis. Tadinya mau memperindah alis, eh malah alisnya botak. Duh! Mission Failed! Maluu woi, maluu...


Rupanya ya guys, setelah dipikir-pikir, ada juga make up yang sebenarnya tidak perlu kita beli mahal-mahal atau bahkan kita bisa memilikinya tanpa harga diskon. Itu ada di diri kamu sendiri. Duh, bahagia ga sih dapat yang gratisan? Gimana? Berminat mencoba?


Saturday, 12 November 2016

 

Di tengah kesibukkan koas PH (entah kenapa stase ini capek pikiran iya, capek badan apalagi? Pffft..), aku memutuskan untuk datang ke Bioderma in Medan Launching. Awalnya, aku ga nyangka diundang untuk datang dan ikut dalam Make Up Class oleh salah satu Make Up Artist di Jakarta Fashion Week, Mas Qiqi Franky. Lah gimana ga salah tingkah, secara aku mengenal dan belajar make up baru-baru ini, peralatan make up masih standart minimal dan perlu di upgrade banget. Ah elah, sungguh ga layak deh. Kalau datang dengan persenjataan begini, malu banget. Huahaha... Kalo mau dipikir-pikir, entah darimana pihak Bioderma dapat kontakku? Maybe karena nge-blog ya? Apalagi setelah masuk komunitas Blogger Medan . Ahh senangnyaa~ Hahaha..
Back to the topic..
 
Jadi, waktu dapet undangan itu, aku bimbang banget, kelamaan mikir, dan ujung-ujungnya undangan hampir terlupakan. Cuman kebetulan Sabtu itu aku ga koas, jadi tiba-tiba teringat undangan ini. Jarang-jarang, pikirku simple. Tapi sempat down, aku ga baca kalo batas RSPV nya seminggu lalu. Cuman, yaudalah, coba aja. Eh,  ternyata, mungkin emang dasarnya ditakdirkan untuk datang, kehadiranku masih diharapkan. Oke fix, aku memberanikan diri untuk datang.
Cerita tentang Bioderma...

Memang kemarin-kemarin udah sempat ngelirik benda ini. Ya, aku sekilas tau pas aku nonton beberapa channel beauty blogger di Youtube. Waktu itu aku cuman pengen belajar daily make up, lebih tepatnya natural make up. Aku emang tipe yang ga suka make up tebal-tebal. Rasanya tuh risih, berat and not so comfortable. Pengen cepet-cepet aku bersihin aja. Then, aku nyadar, make up itu buat wajah cepat tua, jadi aku juga nyari video tentang "Skincare Routine" atau "Daily Face Care". I prefer to take care of my face than put so many make up even just for good looking. Itu ga aku banget.
Nah, dengan keywords tadi, aku bertemu dengan beberapa youtuber yang Highly recommended sama benda satu ini. They said it was a miracle, but have a expensive price tag. Poor me yaa.. :"( Karena aku nganggap itu lebay dan mahal, aku ga begitu menghiraukan keberadaan benda satu ini. Bisa terkuras keuanganku hanya untuk benda ini. Masa iya, make up remover lebih mahal dari bedak? Ngada-ngada saja, Ckckck.. Cuman, walaupun begitu, kadang aku juga ngekepoin benda ini. Semakin ku kepoin, semakin aku jatuh cinta. Hemmm... Kok banyak ya ngerekomendasiin ini benda? Pake embel-embel miracle lagi. Dih lebay.
 
Akhirnya, aku diundang oleh benda yang awalnya agak kusepele-kan karena harganya yang cukup wow! Seperti penjelasanku tadi, aku ragu untuk ikut. Kutanya juga beberapa temanku yang ilmu kosmetiknya jauh lebih tinggi daripadaku. Mereka bilang, "Enaklah kau diundang, ikut saja, itu produk yang bagus.." Makin banyak yang meyakinkanku pada benda ini. Aku pun datang.
Waktu di situ, aku mendengar presentasinya mbak Dea. Iya, sepertinya aku menjilat ludahku sendiri, aku jatuh cinta pada benda ini, salah satu best seller product in France, Bioderma Sensibio H2O. Aku jatuh cinta pada cara kerjanya Bioderma Sensibio H2O ini dengan Micellar Water. Secara ilmu kedokteran, produk ini beneran nyambung dengan fisiologis kulit (tak perlu lah aku jabarkan di sini, nanti makin panjang cerita, udah kaya kuliah aja).
For the Conclusion, Micellar Water Punya dua bagian, kepala (hydrophilic) dan ekor (hydrophobic / tidak suka air dan malah mengarah ke lipophilic - suka debu, lemak dan lain-lain). Jadi nanti ketika Bioderma Sensibio H2O dituangkan ke kapas (hydrophilic), kepala Micellar Water bakal lengket di kapas dan ekornya menarik debu, lemak, minyak dan sejenisnya. Akhirnya, semua partikel-partikel make up, bahkan yang terkecil sekali pun akan terangkat. Kurang lebih, Micellar Water ini seperti magnet.  Begitulah kira-kira penjasan singkat tentang alur Bioderma Sensibio H2O.



Untuk ngebuktiin performance nya si Bioderma Sensibio H2O ini, pihak mereka mengadakan mini Demo dengan mengoleskan foundation di punggung tangan dan kemudian menghapusnya dengan menggunakan Bioderma Sensibio H2O tadi. Kita cukup menghapusnya secara lembut saja, foundation tadi terangkat (bahkan debu-debu pas aku naik motor tadi, juga terangkat, hehehe...


Cewek emang berjodoh sama Make Up kok yaa
Selain itu, ada juga make up class  dari Mas  Qiqi Franky. Jadi, mbak Ameltami (salah satu personil Blogger Medan juga) bersedia menjadi volunteer nya. Dia di make over! Kita diajarin gimana memilih foundation, gimana seharusnya kita memadukan lipstick dan tone eyes biar ga jatuhnya norak dan nampak kali di-make up, gimana cara memakai pensil alis biar kesannya fake dan jatuhnya jadi mirip alis bocah kartun shinchan hahaha, gimana mengaplikasikan concelear dan segala tetebengek make up. Truly, lucky me, I think. Aku sempat bertanya, gimana cara menyamarkan kantung mata, secara sesungguhnya aku adalah pemakai kacamata dan sering lembur. I got the point guys! Terus aku langsung diajarin memakai contour. Ah, adorable hand kali tangannya Mas Qiqi Franky.

Finally, walaupun aku masih newbie banget dan ditolong sana-sini, pas make up class kelar, Mas Qiqi Franky memuji hasil kerjaku (Sombong banget gueee, hellow!). But He is so humble lhoo...

 
   
Ah, singkat cerita, ada kalimat Mas Qiqi Franky yang aku resapi baik-baik, "Ini jamannya kulit sehat. Kalo kulit kita ga sehat, pas di-make up-in, pasti ada aja yang kurang. Jadi kalo kulit kita udah bagus, beautiful make up come from beautiful skin". Iya ini bener. Apalah arti make up kalo kulitmu sudah sehat? (kemudian aku dimaki-maki produsen make up, hahaha...). Makanya aku prefer maximal skincare and minimal make up. Jadi wajar aja kan ya, baru belakangan ini aku belajar make up. Ya bagiku make up cuman untuk penunjang penampilan dan profesionalisme kerja aja. Orang akan lebih yakin sama kita kalo kita Juga menjaga penampilan. Inget, jaga penampilan bukan berarti using bold make up all the time. Itu norak maksimal. Itu bakalan nunjukin kamu ga pede sama diri kamu. Hehehe..

Blogger Medan with Mas Qiqi Franky.



*Pokoknya untuk nikahan, udah bisalah ancang-ancang mas Qiqi Franky untuk jadi make up artist. Tinggal abang aja yang baik-baik kerjanya, sama-sama mantepin diri kitanya, hehehe... 

Pemakaiannya juga mudah banget. Cukup menuangkan Bioderma Sensibio H2O di kapas, terus mengusapkannya di wajah secara lembut saja. Bersihkan sampai kapasmu (around 2-3 slice) benar-benar bersih. Bioderma Sensibio H2O diciptakan untuk kulit-kulit yang sensitif, jadi cucok marucok banget untuk kamu yang kulitnya murah meradang karena produk-produk tertentu. Actually this is my reason why I wanna try this stuff. Secara, kaya aku bilang di posting-an aku sebelumnya, aku ga mudah untuk mau coba Make up, even skin care. Aku takut ga cocok :"")

Bioderma has Landed in Medan
Bioderma Sensibio H2O punya 3 variant: 100 ml, 250 ml, dan 500 ml. Untuk harga, emang sedikit mahal. Tapi aku pribadi, aku mengampuni harga jika untuk perawatan kulit. Karena aku mikir, bagaimana seminimal mungkin aku meng-cover wajah dengan make up. Bioderma Sensibio H2O bisa ditemukan di drug store, easy to find, isn't it? Apalagi sekarang di seluruh Guardian Medan udah ada kok. Seneng bangett..
Thankyou Bioderma & Guardian!
Buatku, aku yang kadang malas-malasan ngebersihin muka, merasa beruntung dipertemukan dengan benda ini. Simple dan sangat menggemaskan. Kemasannya juga mudah dibawa dan ga mudah pecah dengan kemasannya yang terbuat dari plastik.Selain ga mudah tumpah, soalnya tutupnya flip top. Handy  banget kan ya? Hehehe...


Nah, aku kemarin kebetulann pihak Bioderma Sensibio H2O yang bekerja sama dengan Guardian, jadi setiap undangan diberi tester. Again, lucky me ya! Aku jatuh cinta sama produk ini, dan kemungkinan besar Bioderma Sensibio H2O masuk dalam Skin Care Routine aku. Kamu gimana? Ingat, untuk kulit jangan asal pilih ya, Ladies!! :))

ME AND THE GIANT BOTTLE BIODERMA SENSIBIO H2O

Thursday, 10 November 2016

#Hands4Diabetes #WorldDiabetesDay


Kemarin waktu aku lagi browsing Instagram, aku nemu postingannya Instagram Chelsea Olivia pake hashtag #diabetes #WorldDiabetesDay. Yaps, tanggal 14 November adalah tanggal peringatan hari World Diabetes Day - Hari Diabetes Sedunia. Aku jadi tertarik untuk bercerita tentang diabetes dan beberapa pasien ketika aku koas, hehehe.. 

Actually, jaman sekarang karena terjadinya perubahan Gaya Hidup, maka muncul pergeseran epidemiologi penyakit di Indonesia. Yang dulunya penyakit menular yang merajai, seperti: Malaria, TBC, Campak, dll, sekarang malah penyakit tidak menular yang mulai menampakkan diri. Penyakit diabetes merupakan penyumbang suara terbesar ke empat dari 10 penyakit yang mempunyai beban biaya rawat inap di Indonesia. Wuih, ngeri ugak! Ini penyakit berkelas, mahal lah pokoknya.

Selain itu, dalam artikel Penderita Diabetes di Indonesia Ketujuh Terbesar di Dunia diabetes adalah pembunuh ke nomor tiga di Indonesia. Dan 2 dari 3 orang tidak menyadari kalau dia terkena diabetes. Lebih dari setengah?! Iya, emang banyak orang tidak mengetahuinya dan tetap menjalankan pola hidup sesukanya. Diabetes adalah salah satu silent killer diseases. Ya,Diabetes memang tidak di situ kambuh, di situ langsung mematikan seperti penyakit-penyakit jantung. Hanya saja, diabetes sering kali menurunkan kinerja organ tubuh, apalagi kalau misalnya sudah masuk tahap gagal ginjal. Berat loh ya...
Cerita sedikit mengenai, gimana sih diabetes bisa jadi gagal ginjal?
Secara umum, diabetes itu ada dua jenis: Tipe I dan Tipe II. Di sini aku cerita mengenai Diabetes Tipe II ya.. Darah kita itu mengangkut sari-sari makan yang sudah tersaring di usus penyerapan. Lalu dengan menggunakan hormon insulin sebagai transportasi, glukosa dibawa ke sel-sel untuk diolah. Tapi, ketika kita terus-terus memakan glukosa terlalu banyak, kadar insulin tadi tidak cukup untuk membawa glukosa ke sel, glukosa akan stay di darah, maka kadar gula dalam darah bakal meningkat (makanya untuk mendiagnosa diabetes, kita perlu periksa KGD - Kadar Gula Darah).
Nah, untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, maka darah akan disaring di ginjal. Memang, sebagian glukosa yang berlebih akan disimpan di hati dan otot, tapi ketika kadar glukosa sudah melampaui batas, glukosa akan dibuang lewat ginjal. Nah semakin banyak komponen-komponen darah yang tidak penting, maka semakin berat kerja ginjal untuk membuang itu semua. Ginjal akan berusaha semaksimal mungkin, namun dia akan lelah (jadi bukan hanya mencari pasangan hidup saja yang bisa lelah. Apa deh aku?!) lalu tubuh akan mencoba mengkompensasi, dan ketika tubuh tak sanggup lagi~~ ginjal rusak. Mission failed. Begitulah kira-kira gambaran kengerian diabetes tipe II.
Ketika aku koas, apalagi koas bagian penyakit dalam, aku sering mendapati penderita diabetes. Ada yang sekedar cek darah, nyambung obat, dan bahkan sudah berada ditahap cuci darah. Kalo bicara masalah umur, umurnya beragam. Dulu ada pasienku yang berumur 30an tahun sudah 2 tahun cuci darah. Harga sekali cuci darah itu biasanya diatas Rp 700.000 dan dia harus cuci darah 1x seminggu. Berarti dalam sebulan dia harus punya duit minimal Rp 2.800.000, di luar kebutuhan sehari-hari. Syukur-syukur ditanggung BPJS, kalo enggak? Kalian bisa dong jawab sendiri kan, ya? Hehehe.. Gimana? Masih ada rencana untuk asal-asalan menjaga kesehatan?

Jadi, gimana dong menjauhi Diabetes itu? Simple. Kita emang mesti ubah pola hidup kita. Aku pun sedang berusaha keluar dari food style yang ga karu-karuan. Aku pribadi caranya, jangan fokuskan sumber energi hanya pada karbohidrat seperti nasi dan konsumisi gula aku kurangi perlahan-lahan.  Pernah denger "Perut orang Indonesia belum sah makan, kalo belum makan nasi seharian"? Atau lihat ga piring yang isinya nasi menggunung tapi lauk pauknya sedikit? Orang bilang itu porsi kuli. Atau nengok orang yang suka banget makan dengan porsi yang alamakjang! Hemmm... Jangan begitu lagi ya, jangan khilaf kalo lagi makan. Tapi kalo mau jadi kandidat orang yang kena diabetes, juga ga apa-apa kok. Kalo aku sih, ga mau. Aku mau menikmati hidup. Kamu gimana?

Bukan bermaksud menghilangkan budaya Indonesia untuk makan nasi atau mengolok orang banyak makan nasi. Enggak. Tapi ada baiknya kalo konsumsi nasi itu ditakar sebaik mungkin dan diseimbangkan dengan jumlah kegiatan seharian. Jadi energi yang masuk dan keluar, seimbang. Ga kasihan apa sama tubuhmu?

Selain itu, sebisa mungkin aku menyempatkan waktu untuk olahraga, entah itu cuman joged-joged atau aerobik selama 30 menit. Sesungguhnya, waktu 30 menit itu singkat loh, malah kadang aku jadi pengen nambah olahraga kalo sudah keenakkan olahraga. Jadi nagih! Berkeringat itu, bahagia dan kelihatan sexy loh. wkwkwk...
Gaes, kita yang muda ini ga menutup kemungkinan untuk menjadi sasaran empuk diabetes. Justru gimana daily habitual kita jadi penentu kualitas masa tua kita. Inget, mencegah lebih baik daripada mengobati adalah prinsip terbaik buat kesehatan kamu. So, masih suka-sukanya makan?


Ini nih data dari Departemen Kesehatan tentang Diabetes di Indonesia:

Thursday, 3 November 2016

Eaaak!! Siapa deh yang musuhnya jerawat. Puji Tuhan, Alhamdullilah ya, aku bukan daily-rival-nya jerawat. Aku emang bukan turunan dari spesies orangtua yang berjerawat. Jadi saya bukan termasuk orang yang butuh perhatian khusus untuk menampis yang namanya jerawat. 

Kehidupanku dan Jerawat

Jerawat itu mah pada dasarnya salah satu proses fisiologisnya tubuh kok, salah satu penanda kamu itu udah akil balig. Kenapa? Brarti disitu ada proses adaptasi tubuh dengan adanya perubahan sistem hormonal kamu. 

Jadi inget, dulu waktu masih SMP,  jidatku memang lahan subur buat tumbuh jerawat. Selain karena proses akil balig, wajahku emang jenis yang normal-oily, tapi ga berminyak2 kali kok. Justru seharusnya kamu bersyukur kalo punya kulit yang sedikit oily, karena kulit kamu akan tetap kenyal dan tidak mudah kering. Kebayang dong kalo kulit wajah kering, terus wajah sering berekspresi, sadar ga sadar akan cepat timbul kerutan-kerutan, semacam proses penuaan gitu. So, Don't worry if yours is a little bit oily yaaa.. 

Back to story. Jadi, ga heran deh dulu wajahku banyak jerawat. Cuman, karena aku ngerti proses itu, jadi aku ga panik, ga begitu takut dan langsung buru-buru perawatan kulit. Jujur aja, aku justru paling takut kalo tergantung sama obat.

Nah sekarang buktinya, jerawatku hampir ga ada. Paling sesekali aja muncul, itu pun karena kurang tidur (maklumlah sering jaga malam di rumah sakit atau sekedar ngalong browsing gitu), stres tugas-ujian - banyak pikiran, kurang bersihkan wajah (bahkan kalo udah capek pulang dari rumah sakit, aku lebih memilih tidur tanpa cuci muka. Udah tak bisa dihitunglah berapa banyak kuman dan debu yang ku angkut dari luar, kan?), jarang ganti sprei dan sarung bantal (ini salah satu penyebabnya. Beneran deh. Setelah aku sering ganti, kira2 dua kali sebulan, jerawat ga muncul shaaaay...). Dan yang paling simple tapi ngaruh sejagad raya, kurang minum air mineral. Nothing i can say, tapi air memang sahabat karibnya kulit. Ya wajar kulit bermasalah, soalnya kamu menjauhkan dia dari sahabatnya. Yaaa meradanglah dia.

If I get some Acnes

Hem, tangan kita emang ga bisa diem kalo misalnya sesuatu yang mengganggu di wajah. Bawaannya itu, pengen megang dan ngopekkin. Padahal itu haram hukumnya, karena di tangan kita ada uncountable bacteries. Benda yang meradang, kalo ditambah bakteri, jadinya? Ya jadiiiiii hancur. Tenang, kalian tidak sendiri. Aku juga gitu, tapi sekarang moga-moga ga gitu lagi. Aku nyesel. Kalian jangan niru aku ya, hehe.. :'''')))
Kemasan 20 ml = around Rp 200.000,-
Jadi kalo aku tiba-tiba ada jerawat, itu kenapa? Ya kaya yang aku bilang tadi. Then, what should I do?
1. Aku tetep cuci muka kaya biasa,  tetep menjaga higienitas kulit. Mau dimanapun aku berasal, ketika aku nyampe rumah, aku langsung cuci muka. Siap itu, mau tidur silahkan, mau nonton silahkan, mau jungkir balik juga ga ada yang ngelarang (hahaha...).

2. Nah, aku punya senjata pribadi sih untuk menangkas jerawat itu. Aku pake Tea Tree Oil The Body Shop. Awalnya sih karena aku disarananin temen, soalnya aku emang basically orangnya agak pemilih sama kosmetik. Aku takut ga cocok atau bahkan alergi. Cuman karena aku udah ngelihat gimana cocoknya Tea Tree Oil di wajah dia, aku pake.
Iyaps, Tea Tree Oil totally works on me. Kerjanya simple. Tea Tree Oil sifatnya antibakterial. Tadi kan, aku udah bilang, pada dasarnya jerawat itu muncul karena ada radang dan bakteri. Jadi kalo diberi antibakterial, calon jerawatnya bakal ga begitu meradang, lama-lama menciut. Pengalaman aku sih, 1 jerawat itu bakalan kempes 1-2 hari. Percayalah, tidak ada yang instan, bahkan mie instan saja perlu direbus untuk dimakan? Ya kan?

Ada yang bilang, kalo pengaplikasiannya memakai cottonbudd. Cuman rasaku cara begitu boros, karena nanti Tea Tree Oil nya bakal banyak terserap di kapas. Jadi kalo aku cukup meneteskan 1 tetes di jari telunjuk, lalu mengolesnya untuk 1-3 jerawat, tergantung kondisi jerawatnya sih. Tapi yang mesti cuci tangan dulu ya sebelum menggunakannya.

Kemasan 10 ml = Rp 119.000,-
Udah gitu, kemasanannya juga simple and handy. Jadi mudah banget dibawa, hohoho.. Walaupun berjerawat, kita jadi ga rempong untuk menghilangkan jerawat ini. Tapi, mesti hati-hati sih, karena botolnya terbuat dari kaca.

Tea Tree Oil punya dua kemasan: ada yang isi 10 ml, terakhir harganya Rp 119.000, tapi ga tau deh kalo sekarang. Satu lagi, isinya 20 ml, kalo ga salah sih harganya around Rp 200.000an gitu. Ya, masih cukup terjangkau kok ya. Pengalamanku, untuk kemasan 10 ml, aku bisa habis dalam 3-4 bulan. Soalnya aku memakainya kalo ada jerawat aja. Kalo yang 20 ml, belum tau. Aku baru beli nih, masih penuh.

Then, kenapa aku cuman pake Tea Tree Oil? Karena daily face care ku yang lama masih cocok sama aku, jadi aku ngerasa ga perlu coba-coba, yaaa walaupun kadang agak bosen dengan aromanya. Cuman aku emang tipe yang mementingkan kecocokkan daripada variant. Ibarat kalo pacaran, kalo udah cocok, ya setia aja. Kalo bosen, ya berinisiatif saja untuk menghidupkan hubungan itu. (Buseeet, aku apa deh ngomongnya...). 
Selain itu, price tag perawatan Tea Tree kan emang rada mahal, aku takut cocok, tapi nanti malah ga bisa beli lagi, kan payah. Malah stres mikirin harga, jadi pikiran, jerawat lagi deh. Coba deh cari daily face care yang cocok ke muka dan cocok ke dompet. Perawatan wajah bukan masalah brand, shaaayy.. Tapi gimana yang cocok dengan kehidupanmu. Gmana, cocok?


Monday, 31 October 2016



Udah ngebet banget pengen ngelahap.

Aku sebenarnya agak dongkol dengan ucapan orang-orang kalau buah dan sayur itu mahal, susah didapat, rasanya juga ga begitu bersahabat di lidah dan jika dibeli bakalan cepat busuk kalau ga dimasukkan ke kulkas. Apa ya, itu semacam mencari pembenaran kalau makan buah dan sayur, menyusahkan dan boros. Ah-elah, tolong! 

Jauh sebelum aku ingin menginspirasi orang-orang untuk lebih mengkonsumsi buah dan sayur, di rumah, aku diajarkan untuk teratur makan buah dan sayur. Kenapa? Di tubuh kita banyak toksin-toksin atau racun yang datangnya entah darimana saja - tanpa kita sadari, yang bisa mempengaruhi system kerja organ dalam tubuh. Ujung-ujungnya bisa menurunkan efektifitas kerja organ, menurunkan kualitas imunitas tubuh, toksin dan bakteri pathogen nongkrong di jaringan tubuh, tubuh sakit, uring-uringan, ga kerja, dan terakhir, nyusahin orang. Mau?

Mama aku bukanlah dokter, tapi dia itu pintar memelihara kesehatan, terlebih lagi rumah kami itu berdiri di lingkungan rumah sakit dan pabrik. Udah tergambar dong ya berapa banyak benda-benda asing yang mencoba nyusup ke tubuh dan mengganggu system imunitas. Jadi mamaku memang selalu menyediakan buah, minimal buah jeruk atau pear. Mereka itu tinggi mineral dan vitamin. Dan kalau untuk makan sehari-hari, sesibuk-sibuknya beliau, mama akan menyajikan lalapan atau sayur sekedar rebus. See? Ga repot, kalo kita niat. Kalo udah ga niat----------ah udah ga ada lagi pengandaian kalo sangkin malasnya makan sayur dan buah.

Bentar-bentar, biar Update Blog
Karena begitulah, kebiasaan itu jadi terbawa-bawa sampai sekarang. Memang waktu awal-awal kuliah, aku malas sekali makan buah, tapi kalo sayur tetap jadi menu aku. Kenapa malas makan buah? Malas beli, lokasi pasar rada jauh dari kostan, jadi aku malas jalan ke pasarnya itu. Kenapa malas makan buah? Malas kupas kulitnya, kebiasaan dikupasin sama mama. Kenapa malas makan buah? Ya, emang malas aja, lebih suka ngemil. Jadi inti sebenarnya dari alibi-alibi tadi, yaaaa MALAS. Wkwkwkwkwkwkwk…

Tapi, seiring aku koas, aku beberapa kali menemukan pasien (bahkan seumuran aku) yang sudah terkena penyakit, mau dari yang akut- kronis. Seperti yang aku bilang di blog aku kemarin "Memutuskan Untuk Hengkang Memanjakan Perut", aku ada makhluk yang parno-an. Aku memang calon dokter, tapi aku paling benci sama yang namanya rumah sakit. Rasanya itu tempat yang mengerikan, menyedihkan, dan kurungan yang paling enggak banget. Rasanya kalo udah masuk rumah sakit, beberapa persen dari jatah usia udah menguap tak jelas arahnya. Duh, jauh-jauhlah ya Gusti.

Kalo dibilang buah itu mahal, aku agak bingung. Kemarin sebelum aku makan buah, aku sempat mengkalkulasi harga buah yang aku makan. Jadi, aku itu baru beli 2 buah naga dan 4 buah kiwi di Pasar Buah Pondok Indah, Medan. Entah, aku bahagia kalo masuk ke sini. Mata aku segar sekali! Pokoknya untuk sekali makan, setengah potong buah naga + 1 buah kiwi, aku hitung-hitung cuman habis Rp 13.246,-. 1 porsi Itu pun berlebih, bisa dibagi 2 lagi, jadi sekitar Rp 6.623,- (yaudah cincai-cincai, genapin jadi Rp 7.000,-) Nah kalo dibandingkan dengan 1 nasi goreng + es teh manis, bisa kena hampir Rp 15.000,- untuk sekali makan. Jadi piye? Mikirin mahal lagi?

Oke, aku makan dulu yaa
Pernah denger "Yang manis jangan langsung ditelan, yang pahit jangan langsung dimuntahkan"? Nah, itu prinsip wajib ketika kita mau berhijrah pola makan, yang mengedepankan porsi buah dan sayur. Berdasarkan artikel berita "Anak Muda Jakarta Konsumsi Karbohidrat Berlebih" tingkat konsumsi karbohidrat dan kurangnya makan makanan tinggi serat akan meningkatkan jumlah penderita diabetes tipe dua, dan itu akan terjadi pada usia-usia produktif, yang ujung-ujungnya akan menurunkan kesejahteraan dan malaaaaah menambah beban negara. Geng, hidup kalian ga nge-hits banget kalo jadi beban orang lain. Iyuggghh....



Jadi gimana? Masih pada stuck di gaya hidup yang gitu-gitu aja? Mau sehat atau ga, itu emang salah satu pilihan hidup kok. Ga ada yang maksa, suer deh! Tapi, aku sekarang memilih menjadikan buah dan sayur sebagai makanan sehari-hari dan bahkan cemilan, hyehehehe.. Kamu gimana, shaaayy?


Thursday, 27 October 2016




Ini postinganku karena ada yang nanya di Ask.FM, “Mbak, rambutnya tebal banget ya. Sering perawatan rambut ya? Bagi-bagi dong tips ngerawat rambutnya. Thank you!”. Aku agak terbengong sih dengah pertanyaan itu. Rasanya ga layak aja ditujukan ke aku, hehehe..

Sejujurnya, aku bukanlah orang yang hobi banget perawatan rambut atau peduli banget sama keadaan rambut. Aku jauh dari pandangan itu.Aku adalah golongan perempuan yang suka menggulung rambut dan menjepitnya dengan jedai, sebisa mungkin rambut tidak meribetkan aku saat beraktivitas. Aku kalo lagi sedang sibuk, jangan sampai deh rambut menghalangi pandangan aku atau jatuh-jatuh ke wajah, pasti mood aku akan boooooooommm!! Jelek.

Dan aku adalah salah satu perempuan yang tidak begitu suka rambut panjang, cuman belakangan ini entah gimana sifat itu goyah, aku kok jadi sering berpikir beberapa kali untuk memotong rambut saya. Aku merasa sedih kalo rambut dipotong. Ditambah lagi ayahku sering mengingatkan kalau rambutku itu bagus, apalagi kalo panjang. Dulu opung doliku (Kakek) berpesan, rambutku dipanjangin saja, jangan sering dipotong, soalnya hitam-lebat-tebal. Tapi aku ngeyel, aku tetap sering potong rambut, tapi ga pendek-pendek banget, takut kena marah. Wkwkwk… 

Ga cuman mereka sih. Kemarin ketika terakhir potong rambut, kakak di salon juga sempat komentar,”Dek, rambut kamu tebal ya? Bisa untuk buat sanggul 2 kepala”.Aku mah terserah aja mbaknya mau ngomong apaan, yang penting rambutku dipotong sesuai dengan permintaan.

Awalnya aku beranggapan bahwa, mungkin Tuhan salah menciptakan aku dengan rambut yang bisa dibilang sehat dan diinginkan banyak kaum hawa. Karena aku bukan tipe yang telaten sekali untuk melakukan perawatan. Tapi, lama kelamaan sisi keperempuananku, muncul (soalnya aku agak tomboy sih, hehehe…).

Aku terpancing menjawab pertanyaan Ask.FM dalam nge-post ini, karena aku sepertinya menemukan jodoh baru buat rambutku. Dulu aku sering ganti-ganti shampoo dan conditioner, terus aku sering ikat rambut, ditambah lagi sejak mengenal catokan rambut, rambutku jadi rapuh, kusam, kering dan payah diurus. Kalau bangun tidur, rambutku seperti rambut singa, kaku dan ngembang. Wuih! Lalu aku berhenti di salah shampoo dan conditioner ternama di negara ini, hasilnya lumayan kok. Tapi lama kelamaan hasil setelah pemakaian jadi ga begitu maksimal. Apa rambut saya bosan dengannya? Entahlah. 

Aku bukanlah orang yang terlalu berani untuk mencobai barang-barang baru untuk masalah perawatan diri. Cuman karena aku melihat rambut semakin acak kadul, aku mencoba cari yang lain. Kemudian aku teringat sama Mbak Dian Sastro. Duh, aku penggemar Mbak Dian Sastro (do’i kan brand Ambassador-nya. Pinter ya L’Oreal mencari Brand Ambassador). Aku begitu menjadikannya role mode Life Style. Aku pun mencoba Shampoo and Conditioner L’Oreal Total Repair 5.

Satu kata untuk pertama kali pemakaian,”Ya elah, kok ga pake ini dari dulu? Ckckck..”. udah ngerti kan ya maksudku? Wanginya enak dan tahan lama. Rambutku jadi lembut dan lebih mudah diatur. Kadang kalau lagi buru-buru ke rumah sakit, aku ga perlu sisir rambut (seriusan deh). Kalo lagi sisiran, rambut juga ga banyak yang rontok (Inget, rambut rontok dalam jumlah sedikit, masih normal kok). Gimana aku ga jatuh cinta?


How do they work? Shampoo and Conditioner L’Oreal Total Repair 5 ini memperbaiki rambut 10 x lebih oke dengan Ceramide, replika bahan alami rambut, jadi Formula Total Repair 5 membantu memperbaiki kerusakan struktur dan batang rambut, serta merawat kekuatan batang rambut. Dan ini formula yang cocok dengan iklim Indonesia. Girls, you should underline it! Harganya juga ga mahal kok, masih terjangkau untuk anak kostan, kira-kira dibawah Rp 30.000,-. 

Aku udah nyoba dan mungkin akan bertahan sama duet mautnya Shampoo dan Conditioner L’Oreal Total Repair 5. Jangan nunggu rambut kamu bener-bener menunjukkan tanda rambut rusak, baru stress, dan nyari Shampoo dan Conditioner asal-asalan. Rambut itu aksesoris alami, yang sayang sekali kalau rusak dan salah perawatannya. Seriusan! Perawatan di salon boleh sih, sekali-sekali, cuman untuk daily hair treatment kan ga mesti di salon, kita sendiri bisa kok. So how, ladies?