Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Friday, 22 January 2016

Belum habis bulan Januari tahun ini, aku dipertemukan dengan dua orang dan dengan suatu kemampuan yang dianggap tabu, tapi tetep aja kita kepoin. They are fortuneteller (peramal.red).

Pertama.
Perjumpaan kami enggak sengaja. Waktu itu emang murni aku dan teman-teman asrama bertahunbaruan ke rumah salah satu teman yang rumahnya satu kota dengan rumah sakit tempat aku koas. Biasalah, kami menyalami satu per satu tetua-tetua disitu, apalagi kami, orang Batak, pasti ditanyain marga/boru. Dan perbincangan akan sangat panjang tak terduga-duga bila ada hubungan nenek moyang antar marga pada jaman dahulu.

".. Iya, jadi dulu yang ngelahirin margamu adalah boru dari margaku. Jadi setiap kau ketemu sama margaku, kau mesti manggil bapauda...", begitulah sampai selesai, jika kita pintar-pintar untuk menyudahi perbincangan klasik orang Batak, sebut saja itu namanya partuturan.

Aku dan beberapa teman nyalamnya asal-asal aja. Jadi, entah bagaimana, aku melewati seseorang, yang katanya, bisa ngeramal. Jujur aja, aku orangnya diam-diam kepo-an. Refleks aku menghampiri dia. Enggak perlu penjelasan bagaimana kami mengawali percakapan, dia langsung bertanya..

"Siapa nama mu?", tanya dia sambil menjabat tanganku dan aku, ku sebutlah nama lengkapku.

"Kau pasti dekat sama ayahmu.."

Aku terdiam. Aku menggelengkan kepala.

"Iya, pasti. Manja kau sama bapakmu..", ucapan keras dengan medok Batak yang khas.

Refleks, aku teringat waktu terakhir pulang kampung tahun baruan kemarin. Pas dipelukan ayahlah, aku nangis. Entah ya weee, kalo di rumah aku dan ayah tuh kaya diem-dieman gitu, jarang ngomonglah. Tapi perpisahan terberat yaaaa sama ayah. Dan aku pun mengangguk.

"kan? Nampak dari alismu itu.." katanya menunjukkan jarinya ke arah alisku. Kemudian dia diam, dan apalagi aku.

"Nanti akan datang jodohmu baik. Dia lebih tinggi sedikit daripada kau. Tapi, jangan dengan pengetahuanmu, kau jadi menjengkali dia...", itu kalimat yang masih ku pikirkan sampai sekarang.

Orang kedua.
Ayah adalah suami dari bunda, orang yang buka kantin di belakang asrama koas. Udah sering ketemu, tapi baru mendapat kesempatan sekarang.

Waktu itu iseng, aku ngelihat ayah menggantungkan cincin batu akiknya, yang katanya "berisi", pada seutas benang nilon. Fyi, ayah emang punya "pengetahuan tambahan" dari Tuhan. Semacam, tahu hari ini akan ada berapa mabar (mayat baru) yang datang, tahu dimana barang hilang yang katanya dibawa oleh "seseorang", dan lain-lain.

Beberapa teman, meminta ayah untuk "bertanya" pada cincin itu. Entah itu kebetulan atau gimana, itu benar adanya. So, dengan insting kepo aku, aku bertanya...dan jawabannya ini..

"Kakak sedang dideketin cowok. Tapi ini ga bakalan jadi. Dan kakak akan jomblo dalam 3 bulan kedepan.." fix lah, valentine kali ini beli coklat sendiri T.T

Dan pertanyaan terakhir..

"Yah, aku dijodohkan atau datang sendiri jodohnya?"

Ayah memulai aba-aba, "Kalo dijodohkan, searah, kalo jodohnya datang sendiri, muter...", lalu ayah mendiamkannya.

Awalnya cincin itu bergerak sesuka hati, lalu lama-lama dia bergerak searah. Gitu.

Yaaa, anggap aja itu permainan. Kalo baik, ya diaminin. Kalo buruk ya, jangan sampai. Tetap, jodoh adalah mutlak rejeki dari Tuhan. Maka dari itu, tetap saja bertekun pada Tuhan. Dekati si pemilik jodoh.

Sunday, 3 January 2016

Kita adalah pencari si pasangan hati dan kita sudah berada di zona kasih sayang. Terjebak? Iya.

Kita adalah penemu cinta, ya cuman cinta. Aku sudah tahu dari lama, menikah adalah jenjang teramat tinggi jika hanya cinta.

Kita adalah pengecap keindahan rasa itu, otak kita mendadak terbodoh di sudut sana. Dikepung rasa sayang. Kita lupa, kita harus tau, apa yang mesti disemangati satu sama lain, dalam rumah tangga.

Kita adalah anak remaja yang beranjak ke dewasa yang terlalu muda, untuk serius. Kita meniti karir saja masih tertatih. Bagaimana memikirkan kebutuhan nanti? Masa sayang-sayangnya kita harus pecah karena tagihan listrik? Itu menyedihkan.

Kita adalah "carrier memories" terbaik dikala kita bertengkar. Cocoknya, kita melupakannya dan beranjak untuk memperbaiki celah yang retak. Hati-hati,  lubang jarum sekecil itu saja bisa dimasuki benang yang nampaknya tak berdaya. Bagaimana celah yang retak? Pikirkan sendiri.

Kita adalah perfeksionis dan idealis, tapi sering malu dan pura-pura menolak dengan realitas yang ada. Bertahanlah pada ke-idealisan-mu itu, sampai keriput mata menjalar ke pori-pori pipimu.

Kita, sekarang terjebak rasa yang indah sekali. Tapi kita sadar, keseriusan itu adalah kompleks. Menikah tidak hanya cinta, kasih sayang, mengagumi, dan segala tetek bengek yang menggelapkan pikiranmu tentang realita kehidupan.

Kita masih punya waktu untuk mengejar itu semua, mengejar kesiapan dan kematangan hidup. Akupun sudah sayang dengan tingkah jenakamu. Akupun sudah teramat merindukan bagaimana kau melambaikan tanganmu disaat perpisahan. Akupun sayang tapi akupun tidak bisa berjanji apa-apa. Hanya suatu hari, di Altar sana, aku bisa berjanji, pada satu pria, yang sudah kupilih dengan segala kesiapan untuk menghadapi segala resiko di depannya nanti. Dan aku tidak berjanji, dia itu adalah kamu.

Berdoalah, sekali lagi ku katakan, berdoalah. Setidaknya kalaupun kita tidak bersama, Tuhan itu baik, sangat baik malah. Tuhan akan menitipkan cintaku dan cintamu pada pasangan kita masing-masing, yang pasti jauh lebih baik daripada antar kita sendiri yang memeliharanya.

Diatas itu semua, aku mencintaimu.

Friday, 1 January 2016

Berbicara setahun ini, tahun 2015, tahun pembuktian doa. Sungguh Pemilikku memberikan banyak berkat dan pendewasaan dalam hidup. Mengajarku lebih bijak terhadap segala aspek kehidupan.

Menyadarkan aku, aku bisa lemah karena langkahku sendiri, tapi kuat karena tuntunanNya.

Meyakinkan aku akan "Anakku, Aku disini selalu loh. Masa ga yakin? Nih, Tuhan pulihkan perasaanmu. Dirinya pergi, bukan berarti tujuanKu menciptakanmu telah habis. Nih, Tuhan beri gelar S.Ked mu sekarang, sebagai upahmu. Jangan marah ya kalau sedikit telat, Aku mau bimbing kamu jadi gadis yang penyabar, yang tetap selalu berpengharapan, yang pekerja keras, yang mau berfikir positif.

Nih, Tuhan kasih perkara besar karena Aku anggap, kamu mampu. Yaelah naaak, Aku kan ga pernah janji akan menciptakan yang indah-indah saja buatmu, tapi Aku janji akan bersamamu sampai akhir jaman.."

Dia mendengarkan aku saat bibir aja bergetar untuk bicara dan mata hanga bisa nangis. Nah yang berteriak cuman hati. Hati siapa yang bisa dengar? Kadang malam-malam membayangkan, Tuhan tuh duduk di samping terus ngasih pundakNya ke aku. Dih! Ntah ngayalku terlalu over, aku tenang setelah itu. Lega berbicara denganNya. Hoalah, sahabatku satu ini, burju halii bah (bahasa Batak; Baik kali lhoo)

Dia mendidik aku dengan apapun yang diberikanNya.

Kalo ada masalah, aku dituntut untuk menghadapi, bukan melarikan diri.

Kalo ada kebahagiaan, aku diajari bersyukur.

Kalo ada pergumulan, aku diajarkan untuk berdoa dan berharap.

Kalo ada berkat, aku disuruh untuk berbagi.

Kalo ada yang enggak bener, aku diiring ke hal yang benar, "Nak, ingat firmanKu, jangan goyah. Aku ada disebelah kananmu".

Yohanes 13:7 - Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak."
Kita enggak ngerti kalo belum berhenti di garis akhir. Kita enggak ngerti kalo kita bertumpu pada pengertian sendiri. Kita enggak ngerti kalo Tuhan mencintai kita dengan caraNya.

2016, Tuhan menuntun jalanku. Tuhan yang mendidikku dengan tegas dan lemah lembut. Tuhan, panjangkan umur dan jaga kesehatan kedua orangtuaku. Tuhan, berkati pendidikan dan pekerjaan aku dan adik-adikku. Tuhan menunjukkan, kekasih hati, teman hidupku.