Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Sunday, 3 January 2016

Monolog dengan Roti

Kita adalah pencari si pasangan hati dan kita sudah berada di zona kasih sayang. Terjebak? Iya.

Kita adalah penemu cinta, ya cuman cinta. Aku sudah tahu dari lama, menikah adalah jenjang teramat tinggi jika hanya cinta.

Kita adalah pengecap keindahan rasa itu, otak kita mendadak terbodoh di sudut sana. Dikepung rasa sayang. Kita lupa, kita harus tau, apa yang mesti disemangati satu sama lain, dalam rumah tangga.

Kita adalah anak remaja yang beranjak ke dewasa yang terlalu muda, untuk serius. Kita meniti karir saja masih tertatih. Bagaimana memikirkan kebutuhan nanti? Masa sayang-sayangnya kita harus pecah karena tagihan listrik? Itu menyedihkan.

Kita adalah "carrier memories" terbaik dikala kita bertengkar. Cocoknya, kita melupakannya dan beranjak untuk memperbaiki celah yang retak. Hati-hati,  lubang jarum sekecil itu saja bisa dimasuki benang yang nampaknya tak berdaya. Bagaimana celah yang retak? Pikirkan sendiri.

Kita adalah perfeksionis dan idealis, tapi sering malu dan pura-pura menolak dengan realitas yang ada. Bertahanlah pada ke-idealisan-mu itu, sampai keriput mata menjalar ke pori-pori pipimu.

Kita, sekarang terjebak rasa yang indah sekali. Tapi kita sadar, keseriusan itu adalah kompleks. Menikah tidak hanya cinta, kasih sayang, mengagumi, dan segala tetek bengek yang menggelapkan pikiranmu tentang realita kehidupan.

Kita masih punya waktu untuk mengejar itu semua, mengejar kesiapan dan kematangan hidup. Akupun sudah sayang dengan tingkah jenakamu. Akupun sudah teramat merindukan bagaimana kau melambaikan tanganmu disaat perpisahan. Akupun sayang tapi akupun tidak bisa berjanji apa-apa. Hanya suatu hari, di Altar sana, aku bisa berjanji, pada satu pria, yang sudah kupilih dengan segala kesiapan untuk menghadapi segala resiko di depannya nanti. Dan aku tidak berjanji, dia itu adalah kamu.

Berdoalah, sekali lagi ku katakan, berdoalah. Setidaknya kalaupun kita tidak bersama, Tuhan itu baik, sangat baik malah. Tuhan akan menitipkan cintaku dan cintamu pada pasangan kita masing-masing, yang pasti jauh lebih baik daripada antar kita sendiri yang memeliharanya.

Diatas itu semua, aku mencintaimu.

No comments:

Post a Comment