Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Wednesday, 30 March 2016

 
 
Jangan terlalu serius membaca tulisanku kali ini. Ini cuman tulisan yang ditulis secara sadar penuh oleh seorang yang masih lebih memilih Single daripada bergandeng dengan siapapun yang mencoba mengikat statusku dengan komitmen.

- - - - - - - -

Hai kamu, yang bahkan tidak aku tahu bayanganmu bagaimana, ini buatmu..
Kamu lelaki yang sedang ku doakan, aku berdiskusi dengan Tuhan tentang satu nama, yang aku pun tidak tahu. Aku kadang, ketika lelah, aku lebih memilih terlelap dibandingkan berbicara sama Dia, tentang siapa kamu dan bagaimana pertemuan kita, nantinya.

Mungkin aku terlanjur capek dengan kisah cinta yang berujung kecewa, jadi malas untuk kecewa lagi. Dulu, aku selalu mendoakan satu nama, -mungkin dia tidak mendoakanku, sedari dulu- tapi begitulah, aku mendoakaan seseorang yang seolah-olah dapat membahagiakanku. Aku lupa, aku terlalu fokus pada perasaanku, padahal Tuhan lebih tahu cara membahagiakan anakNya, yang lebih memilih sendiri, untuk sekarang ini.

Aku kadang, sering mengandai-andaikan, dengan apa kita bertemu? Entah dengan broadcast message pin aku, lalu kamu nge-invite aku, entah aku sedang di kantin lalu kita berpapasan di sana, entah kamu adalah anaknya teman orangtuaku yang diam-diam sebenarnya sudah direncanakan untuk dipertemukan, entah ketika aku sedang menunggu lampu merah dan kamu berada segaris denganku, entah sebenarnya kita dulu sudah berada di dalam ruang yang sama tapi waktunya masih terlalu dini untuk bersatu, atau khayalanku yang lebih gila lagi, kamu dan aku berada di satu ruangan bayi, ketika lahir dulu. Apapun itu, Tuhan masih merahasiakannya. Buktinya, ketika aku bertanya padaNya, Dia lebih mengarahkan aku untuk bertekun dalam prosesku menjadi perpanjangan tanganNya di dunia ini, mejadi dokter.

Bagaimana pun kamu, dimana pun kamu, berbahagialah sekarang, nikmati masa meniti karirmu, dan aku pun disini begitu, kok. Aku masih ingin meraih profesiku ini. Aku sangat berterimakasih, kamu belum bertemu denganku. Pasti, jika kita sudah dipertemukan, ada saja yang membuatmu jengah dengan sifatku. Aku, ketika aku sedang serius dengan apa yang kukerjakan, aku agak sedikit mengabaikan sekitarku, dan mungkin itu termasuk kamu. Dan pasti, kita berada di berbeda kota, karena aku pun masih nomaden, berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Hubungan jarak jauh itu bukanlah hal yang mudah. Berbahagialah mereka yang berakhir indah ketika sudah bisa melewati jarak yang diam-diam bisa membakar apa yang indah di awalnya.

Jujur saja, terlalu banyak pertanyaan tentang teman hidup setelah aku mendapat gelar, kemarin. Aku pun sempat pusing menjawabnya, apalagi bertanya tentang orang-orang yang pernah singgah di sudut hati ini, pusingku bertambah. Tapi, lama kelamaan aku nyadar, pertanyaan itu wajar untuk seorang wanita yang sudah lulus kuliah. Karena kita ini hidup di daerah yang "Kan sudah lulus kuliah, apalagi yang mau dikejar? Nikah lah lagi..". Tapi sekali lagi, Tuhan teramat baik untuk kehidupanku, Dia memberika orangtua yang cukup realistis dengan kehidupan sekarang. Mereka selalu menyugesti aku,"Jaman sekarang, cewek juga mesti mandiri, biar ga dipandang sebelah mata sama laki-laki". Aku cukup lega, tapi mereka juga bilang, "bertemanlah baik-baik. Lihat agamanya, pekerjaannya, kepribadiannya, keluarganya". Begitulah.

Dan di sini pun sekarang, aku sedang belajar menjadi teman hidup yang baik untukmu. Bagiku,"Orang baik akan diberikan kepada yang baik". Aku juga sangat ingin membahagiakanmu, nantinya. Maaf, aku termasuk tipe orang pencemburu, ini yang mendorong aku untuk selalu menjadi yang terbaik untukmu. Aku sadar, cinta saja bisa pudar, kita harus bisa bertahan tanpa itu. Adalah sifat manusia, ingin selalu bersama dengan orang yang dapat membahagiakannya. Bayangkan, betapa indahnya hidup ketika dari mulai kita saling bertukar cincin hingga satu per satu dari kita, punya anak-anak yang baik, punya hobby berkebun atau berternak, hingga masing-masing dari kita pulang ke haribaan. Itu, tidak terkatakan dalam tulisan ini. Maaf, aku memang perempuan penuh khayalan yang tidak tahu diri.

 
Jadi, kamu, calon teman hidupku, pergilah sebebas-bebasnya sekarang, raih segala impianmu. Aku pun disini, tetap dengan segala apa yang sedang ku raih. Hingga, tiba saatnya, Tuhan yang menghentikan kita pada satu titik dan menyadarkan bahwa aku untuk kamu dan kamu untuk aku. Besar harapanku, Tuhan adalah alasan kita bertemu, Tuhan memberikan kebahagiaan kita satu sama lain dengan kehadiran kita satu sama lain. Aku ingin, kita bersama akan saling mendukung satu sama lain. Sebebas apapun aku mengeksplor kehidupanku sehingga aku terlihat cuek untuk masalah teman hidup, aku tetap wanita yang menunggu saat-saat itu, sangat menunggu.

See ya, Mr.Right!

Monday, 7 March 2016

Segala penat, lelah, dan jenuh bertumpuk di satu sisi. Dan disini aku semakin mengerti, keputusan untuk tidak berkomitmen untuk pacaran masa sekarang, adalah keputusan yang pas. Mengambil keputusan bersama Tuhan, menghasilkan hal yang baik.

Ya sekaranh, aku ibarat anak balita yang mulai tumbuh, mulai mengangkat kepalanya walau bolak balik terjatuh, berusaha berjalan dengan kaki sendiri walau masih sering tersungkur. Tapi bedanya, bukan orangtuaku lagi yang mengangkatku, menolongku seperti saat aku bayi. Sekarang aku lebih mempercayakan langkahku padaNya, biar suka-suka Tuhan membimbingku, karena aku yakin, Bapa enggak menuntunku ke jurang, walau sedangkal apapun jurang itu.

Memang, dunia kerja itu kejam, terlalu banyak tetek-bengeknya, terlalu banyak "hal-hal" yang lebih kuat berbicara daripada hati nurani sendiri. Ketika kita  ingin tetap idealis dengan jalan yang lurus, itu sulit. Aku baru tahu, menopang salib Tuhan Yesus itu berat, banyak kali peluh, kekesalan dan air mata, yang mengiringinya.

Memang orangtuaku mendidik aku, jangan takut kalau benar, berjalanlah sesuai peraturan yang ada, ikhlas saja yang bekerja itu. Apalah manusia, kalau Tuhan yang bekerja. Dan aku ngerasain itu. Aku sering memasrahkan saja ketika akal sehatku pun ga dapat melampaui "hal-hal" itu.

Permintaanku tidak banyak, cukup Tuhan menuntun jalanku dan memberkati segala perkerjaan tanganku. Rasaku itu bumbu kehidupan yang tidak ada duanya. Tuhan bersama aku dan keluargaku. Amin.