Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Friday, 29 July 2016




"kak, kalo ada yang kenalan di facebook atau sosial media mana pun, jangan mudah percaya. Ga ada yang betul di dunia maya itu", samar-samar mama ngomong begitu dari kota seberang, Aku tiba-tiba terotak (tertegun.red) pas mama ngomong gitu. Kenapa emangnya? Mungkin emang naluri seorang ibu ketika melihat Cyber Crime lagi sedang happening banget. Hais… Tapi, tanpa diingetin juga, aku udah berusaha nge-secure account aku. Aku mulai nge-unfriend atau unfollow orang-orang yang ga begitu aku kenal. Sorry.

Di lain waktu, tepatnya ketika lagi boker (sorry.), aku lagi-lagi kepikiran sama kata mama itu, apalagi ketika melihat aplikasi ti*der, salah satu aplikasi yang aku coba-coba download, yang fungsinya (halah -_-) untuk nyari kenalan (jodoh, mungkin) dengan sistem kerja, kita buat account terus entar kita setting range usia dan jarak lokasi terjauh yang kita inginkan. Lalu, entar muncul page “Find People Near You”, terus muncullah beberapa foto dari banyak laki-laki yang terdeteksi, dan suka-suka kita memilih, kalau kita swipe ke kiri berarti “no”, begitu sebaliknya. Huahahaha, aku pribadi dapat beberapa kenalan yang kurasa dari foto dan bio-nya, dia adalah lelaki berkualitas. Terus mulai chatting, deh.

Tapi, sewajarnya manusia, aku menemukan titik kejenuhan dengan yang namanya gadget. Aku ga terlalu excited lagi dengan aplikasi itu, jujur saja, membosankan. Aku mulai mikir, aku bodoh dan sepertinya salah jalan, kenapa bisa terpikir untuk nge-download aplikasi itu. Hahaha. Pada saat itu juga aku mikir, mereka-mereka yang punya account di ti*der itu, apa punya kualitas yang maksimal untuk dijadikan teman yang bisa diajak serius? Hem. Kemudian, muncul lah teori:


Kalau dia pria serius dan memang sedang menata kehidupan, dia ga akan punya waktu untuk buat account perjodohan, kecuali sudah berumur – novia giovani, 22 tahun.

Sebenarnya tanpa dijelaskan, teori-teorianku itu cukup mudah dimengerti. Sesungguhnya setelah aku agak ‘addict’ sama yang namanya dunia maya, baru aku sadar, sometimes social media is wasting our time. Jadi, hanya ketika benar-benar ada waktu senggang barulah sosial media itu terpakai (diluar untuk bisnis yaa…). Lelaki atau pria yang memang punya pekerjaan atau sedang konsentrasi untuk membangun usaha atau sedang focus menyelesaikan pendidikan, pasti punya waktu yang sempit untuk berleha-leha. Heum, jadi dari teori itulah aku ga begitu terlalu tertarik dengan dunia maya atau berperilaku yang sepertinya agak bodoh untuk nge-download aplikasi semacam itu.
But, aku tidak memungkiri ada banyak orang yang mendapat jodoh atau sekedar pdkt-an dari sosial media atau sekedar mencari teman chatting, it’s their lives, we can’t judge it. Setiap orang punya pilihan hidup, and it’s theirs. Kadang-kadang, ketika sedang benar-benar ga punya kerjaan, aku juga masih menggunakan aplikasi itu, tapi bukan untuk hal yang serius. Hanya sekedar lucu-lucuan aja, wkwkwk..

Kalo mengenai jodoh, aku jauh lebih mempercayai jalan Doa ma Gusti Yesus. Aku masih bertopang pada aliran yang kujalani berdasarkan Alkitab, yang secara garis besar punya beberapa kriteria: 
1. Jodoh itu, didoakan (Matius 21:22, Yohanes 15:7)
2. Jodoh itu, sepadan (Kejadian 2:18) 
3. Jodoh itu, penyerahan (Efesus 5:17, Amsal 16:3)

Udahlah ya, segitu dulu tulisan semi-teori ku mengenai jodoh, padahal aku sendiri belum dapat, masih tetap didoakan, hehehe...

Dapatkan teman hidupmu dalam Tuhan, jadikan Tuhan penyebab kalian bersama.

Friday, 22 July 2016

Hasil gambar untuk educated Ladies cartoon

"Mbak, mbak periksa kehamilan ini?", tanyaku pelan-pelan biar ga kedengaran sama konsulen obgyn, sambil ku naikkan baju mbak itu dan mengoleskan gel untuk alat USG nya.

"Iya dokter", jawabnya singkat.

Aku terkejut, karena pada saat itu aku enggak menganamnesa mbak nya. aku di bagian pendamping konsulen. Perut si mbak nya belum terlalu besar, kalo pun hamil mungkin baru 3-4 bulan. Badan mbak nya kecil, masih belia lah. Karena itu makanya aku nanya.

"Usia mbak berapa?", tanyaku lagi, penasaran.

"19 tahun dok", jawabnya santai.

"Denger tuh, 19 tahun udah nikah, udah mau punya anak lagi. Lah kita, 22 tahun, masih gini-gini aja. Teguran ini loh", kataku dengan nada bercanda teman disampingku.

"Ya dokter enak, dokter punya karier", jawab mbak nya, sambil senyum kecil, tapi cukup dalam, sampai-sampai aku yang udah lama hengkang dari stase itu, masih ingat jelas gimana cara mbak nya menjawab.


"Setiap anak diwariskan tingkat intelektual dari kromosom 1 gen ibunya, bukan ayahnya. Oleh karena itu, carilah calon istri yang pandai, bukan yan cantik" - dr . DR. Rina Masadah, Sp,PA, M.Phil.


Aku cukup tertegun mendengar jawaban mbak nya itu. Aku baru nyadar, kenapa aku harus ngerasa "enggak adil" atau "enggak bersyukur" dengan hidup ini. Aku cuman butuh meningkatkan kesadaran, kalau sebenarnya banyak wanita-wanita yang punya semangat tinggi untuk sekolah, tapi terhambat bahkan terputus begitu saja dengan banyak alasan, seperti: keadaan ekonomi, orangtua masih berfikir "anak perempuan hanya diciptakan untuk mengurus rumah tangga", tuntutan bahwa tingginya sekolah ga penting dibandingkan kau kerja terus punya duit.

Di stase Obgyn aku menemukan bahwa "Dunia terlalu keras jika hidup wanita hanya untuk melahirkan dan mengurus anak". Hamil tidak selamanya indah. Enggak sedikit wanita yang melahirkan tanpa suami, enggak sedikit wanita yang hamil dengan hanya modal janji lelaki "Pasti aku tanggung jawab", enggak sedikit wanita yang ingin mengambil jalan pintas, aborsi, karena hamil tanpa suami atau sedang sakit HIV/AIDS. Banyak masalah sosial yang menyayat hati (sorry sob, bukan lebay, tapi sumpah aku simpati kali) dan bahkan aku kadang sampai nangis diam-diam kalo ngebayangin "If I were you, sister". Kebetulan aku tipe orang yang perasaannya kaya kerupuk, mudah baper.

"Ya dokter enak, dokter punya karier". Kalimat itu masih terekam jelas di seluruh jaringan otakku, bagaimana raut wajah, nada berbicara dan cara menyampaikan si mbak nya. Itu jadi motivasi banget buat wanita-wanita yang sebenarnya punya celah untuk mengenyam pendidikan, tapi malah menyia-nyiakan kesempatan. Itu cukup jadi tamparan keras untuk perempuan-perempuan yang masih memainkan masa sekolah. Memang benar, pada akhirnya nanti, wanita akan melahirkan dan lebih besar porsinya untuk membesarkan anak-anak, tapi apa enggak Keren kalo anak-anak dididik oleh wanita-wanita yang berpendidikan? Aku memang belum bisa ngebuktiin kalo aku itu udah bener ngejalanin hidup sebagai wanita seutuhnya. Tapi setidaknya, dengan adanya teguran-teguran ini bisa nyadarin kita, yang cewek-cewek ini, betapa pentingnya pendidikan. 

"Entah akan berkarier atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita harus berpendidikan tinggi. Karena mereka akan menjadi ibu. Ibu-ibu yang cerdas, akan melahirkan anak-anak yang cerdas" - Dian Sastro.

Aku pribadi, aku punya beberapa role mode kehidupan, seperti Mamaku, Michelle Obama, Hillary Clinton, Kate Middleton, Dian Sastro, Anna Avantie, Anissa Pohan dan beberapa perempuan-perempuan hebat lainnya. Mereka itu punya semangat yang ku anggap "aneh", karena bisa kerja sehebat itu dan pintar mengurus keluarganya. Entah bagaimana mereka mengatur waktu mereka yang rasanya 1 hari 24 jam itu tak cukup. Mereka punya pendidikan yang baik, tutur kata yang santun dan berkharisma, berpakaian anggun, dan rasa keibuan yang rasaku baik adanya. Bagiku, kita harus punya role mode kehidupan, kita bisa menyontek gimana dia menjalani kehidupannya dan kalo lagi ngerasa down  atau patah semangat, kita punya "cambuk" untuk bangkit.

Jadi kamu siapa role mode kehidupannya?

Tuesday, 19 July 2016

PUJI TUHAN, aku baru masuk stase ke 9/14, stase Bedah. Terimakasih banyak Tuhan, Engkau memberikan kekuatan, berkat, tuntunan dan arahan yang terbaik. Enggak pernah aku menyangka, aku bisa sejauh ini, walau kadang (simplenya saja) rasanya aku pengen enggak bangun untuk WH karena lelah jaga malam dan nge-follow pasien di pagi buta. AKU, ANAKMU, GA NGERTI KALO GA ADA TUHAN YESUS.

Kali ini aku mau cerita sedikit tentang beberapa hal tentang berserah.

Aku kemarin itu sempat hampir stagnan (tidak bisa lanjut koas) karena alasan-alasan klise yang ga jelas kebenarannya untuk masuk stase yang aku harapkan. Aku ga tau lagi mau masuk stase mana, soalnya pilihan staseku tinggal sedikit, jadi ga bisa milih-milih lagi. Lagian, aku ngejar stase besar terakhirku ini biar cepat selesai stase besar dan bisa PH tahun ini.

Takut, risau, galau. Bagiku, rasanya sayang sekali 1 minggu itu terbuang percuma. Huhuhu.. Yang terjadi saat itu, aku cuman bisa ngomel-ngomel dengan nada tinggi, diam saat ditanyai kawan-kawan, tidak terlalu excited kalo diajak bicara. Ah, walau sok kuat gini, aku cukup moody juga, susah ketebak, dan sedikit panikan. Aku enggak tau mau gimana. Buram. Dikhayalanku, aku bakalan stagnan 1 minggu. Mengenaskan. 1 minggu teronggok ga jelas di kostan. 1 minggu menyambut pagi dan menunggu malam tanpa ngapa-ngapain. Totally useless. Lalu, aku memutuskan untuk mengurusnya hari Senin.

Tuhan turun tangan ketika anaknya angkat tangan!

Aku mencoba hubungi kawanku dan sodaraku yg punya andil di rumah sakit itu (ingat, bisa masuk stase yang padet peminat, adalah rezeki anak koas).

Senin pagi, hujan (Tuhan, apalagi ini?).
Aku enggak punya mobil, cuman punya motor dan mantel. Mau naik taxi atau angkot, takut macet, sementara aku mesti cepat-cepat datang karena mau ngurus stase ini, kalo ga Ancaman 1 minggu stagnan masih berada jelas 0,5 cm di depan tulang hidungku. Yaudah, yang penting aku berusaha, terserah Tuhan mau buat gimana. Gimana hasilnya, pasti baik buatku.

Sesampai disana, aku tanpa membawa surat pengantar (cuman modal nekat), aku sempat ditolak. Cuman setelah dibicarakan baik-baik, aku bisa diterima asal membayar stase dulu (Damn! Kampus-rumah sakit itu ga dekat). Yaudah, aku ikutin, daripada aku cuman duduk termangu di kostan? Lebih ngenes lagi. Bodo amat hujan, yang penting ga terbuang waktuku seminggu, itu sih motivasi aku.

Pendek cerita, akhirnya aku masuk stase bedah. PUJI TUHAN!!!

Di sini aku semakin yakin tentang beberapa Hukum Dasar Fondasi Hidup (HDFP):
HDFP 1:
TUHAN ENGGAK MENJANJIKAN HIDUPMU LURUS-LURUS SAJA, TAPI DIA JANJI AKAN MENYERTAI.
HDFP 2:
KAU ENGGAK BAKALAN DAPATKAN YANG KAU HARAPKAN TANPA USAHA.
HDFP 3:
HIDUP SALING MEMBUTUHKAN, JALINLAH KOMUNIKASI YANG BAIK TERHADAP BANYAK ORANG.
HDFP 4:
BERDOA, BERUSAHA, DAN BERSERAH ADALAH KESATUAN PAKET KESUKSESAN.
HDFP 5:
JANGAN LUPA BERSYUKUR DENGAN APA YANG KAU DAPAT, YANG PENTING ITU PASTI YANG TERBAIK.