Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Monday, 22 August 2016

A Disappear Inner Circle

 Beberapa hari yang lalu, aku pengen menelpon adekku yang paling kecil, panggil saja namanya Leo, karena dia sebelumnya ada menelponku pas aku lagi kerja, cuman enggak sempat aku angkat. Begitu pulang ke rumah, sms dia pun aku lupa balas karena aku langsung jleb, tidur. Capek. Iya, capek.

"Halo...", kata sambut seperti biasa.
"Halo kak...", rupanya mama yang mengangkat telpon Leo.
"Oh ya ma, mana Leo ma?"
"Lagi mandi dia.. Kenapa kak?"
"Gapapa ma, tadi siang dia nelpon dan sms kakak.."
"Oo iya.."
Entah bagaimana, ada bagian beberapa detik, dimana cuman pulsa yang terbuang aku seperti tidak ada niat menanyakan kabar mama dan ayah.
"Yaudah ma, nanti bilang aja sama leo ma, telpon kakak..", dan bodohnya kalimat itu yang terucap. Ckckck... Mungkin beberapa neurotransmitter ku sedang under reconstruction karena beberapa hari yang padat dan kurang tidur, ditambah lagi badan enggak fit.
"Iya kak.. Gimana kabar? Lagi dimana?", yak mama mesti bertanya duluan. Aku percuma jadi anak, tidak perhatian - I judge my own self.
"Masih batuk ma. Lagi jaga di rumah sakit ma.."
"Bagus-bagus kerjanya, dijaga kesehatannya, banyak minum air putihnya..", mama menasehati like usual, dan di situ baru lancar saraf-saraf sensorik beroprasi.
"iya ma.. Yaudah ma, kakak lanjut dulu ya.. Mama jaga kesehatan ya..", ya gitulah penutupnya.
Hasil gambar untuk family cartoon
Ketika selesai menelpon, barulah aku nyadar, kenapa secuek itu aku tadi? Apa karena aku emang fokus ke Leo aja? Apa karena aku sedang kelelahan? Sedih juga, kenapa justru mama yang lebih perhatian sama anaknya, sementara anaknya ini, jawab seadanya, bertanya pun tidak. Sedih kali, ngerasa paok(bodoh.red) maksimal.

Aku aja cuman gitu, ngerasa sedih kali, gimana dengan anak-anak yang mutlak jauh dari orang tua sejak kecil, dibiarkan tumbuh dengan lebih banyak waktu dengan kakek/neneknya, atau bahkan pembantu. Ya, memang dulu waktu kecil, sekitar umur 2-3 tahun aku lebih banyak waktu bersama pembantu. Mama kerja, ayah lagi sibuk nyelesain PPDS (Program Profesi Dokter Spesialis)nya. Aku tidak begitu jelas begimana waktu itu, cuman rasaku aku masih sering bermain sama ayah atau mama. Mereka berdua emang pasangan paling ideal sepanjang masa. Ayah, the most wanted future husband. Mama, the most role mode for my life. Mereka bisa membagi waktu, saling pengertian, saling dan saling lah. 

Nah, aku enggak tau gimana anak-anak yang tumbuh tanpa perhatian. Orangtua lebih fokus ke karir, bersosialita sesuka hati, anak asal berkembang dengan segala kemudahan. Orangtua, panutan mereka dan pendidik kepribadian mereka, hilang. Berjalan dengan kompas yang rusak dan bertingkah seolah-olah apa yang dilakukan selalu benar. Kasih sayang mereka didapatkan dari pergaulan yang entah bagus entah sebaliknya. Kasihan.

Aku, patut bersyukur. Aku, salah satu anak yang diciptakan di dalam keluarga yang menganut penuh kasih sayang dan perhatian, kesederhanaan, tumbuh berkarakter dan pokoknya segala sesuatunya bisa dibilang berkat yang sudah jarang ditemukan di dunia era ini.
Terima kasih, Tuhan dan semesta :)

No comments:

Post a Comment