Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Monday, 31 October 2016



Udah ngebet banget pengen ngelahap.

Aku sebenarnya agak dongkol dengan ucapan orang-orang kalau buah dan sayur itu mahal, susah didapat, rasanya juga ga begitu bersahabat di lidah dan jika dibeli bakalan cepat busuk kalau ga dimasukkan ke kulkas. Apa ya, itu semacam mencari pembenaran kalau makan buah dan sayur, menyusahkan dan boros. Ah-elah, tolong! 

Jauh sebelum aku ingin menginspirasi orang-orang untuk lebih mengkonsumsi buah dan sayur, di rumah, aku diajarkan untuk teratur makan buah dan sayur. Kenapa? Di tubuh kita banyak toksin-toksin atau racun yang datangnya entah darimana saja - tanpa kita sadari, yang bisa mempengaruhi system kerja organ dalam tubuh. Ujung-ujungnya bisa menurunkan efektifitas kerja organ, menurunkan kualitas imunitas tubuh, toksin dan bakteri pathogen nongkrong di jaringan tubuh, tubuh sakit, uring-uringan, ga kerja, dan terakhir, nyusahin orang. Mau?

Mama aku bukanlah dokter, tapi dia itu pintar memelihara kesehatan, terlebih lagi rumah kami itu berdiri di lingkungan rumah sakit dan pabrik. Udah tergambar dong ya berapa banyak benda-benda asing yang mencoba nyusup ke tubuh dan mengganggu system imunitas. Jadi mamaku memang selalu menyediakan buah, minimal buah jeruk atau pear. Mereka itu tinggi mineral dan vitamin. Dan kalau untuk makan sehari-hari, sesibuk-sibuknya beliau, mama akan menyajikan lalapan atau sayur sekedar rebus. See? Ga repot, kalo kita niat. Kalo udah ga niat----------ah udah ga ada lagi pengandaian kalo sangkin malasnya makan sayur dan buah.

Bentar-bentar, biar Update Blog
Karena begitulah, kebiasaan itu jadi terbawa-bawa sampai sekarang. Memang waktu awal-awal kuliah, aku malas sekali makan buah, tapi kalo sayur tetap jadi menu aku. Kenapa malas makan buah? Malas beli, lokasi pasar rada jauh dari kostan, jadi aku malas jalan ke pasarnya itu. Kenapa malas makan buah? Malas kupas kulitnya, kebiasaan dikupasin sama mama. Kenapa malas makan buah? Ya, emang malas aja, lebih suka ngemil. Jadi inti sebenarnya dari alibi-alibi tadi, yaaaa MALAS. Wkwkwkwkwkwkwk…

Tapi, seiring aku koas, aku beberapa kali menemukan pasien (bahkan seumuran aku) yang sudah terkena penyakit, mau dari yang akut- kronis. Seperti yang aku bilang di blog aku kemarin "Memutuskan Untuk Hengkang Memanjakan Perut", aku ada makhluk yang parno-an. Aku memang calon dokter, tapi aku paling benci sama yang namanya rumah sakit. Rasanya itu tempat yang mengerikan, menyedihkan, dan kurungan yang paling enggak banget. Rasanya kalo udah masuk rumah sakit, beberapa persen dari jatah usia udah menguap tak jelas arahnya. Duh, jauh-jauhlah ya Gusti.

Kalo dibilang buah itu mahal, aku agak bingung. Kemarin sebelum aku makan buah, aku sempat mengkalkulasi harga buah yang aku makan. Jadi, aku itu baru beli 2 buah naga dan 4 buah kiwi di Pasar Buah Pondok Indah, Medan. Entah, aku bahagia kalo masuk ke sini. Mata aku segar sekali! Pokoknya untuk sekali makan, setengah potong buah naga + 1 buah kiwi, aku hitung-hitung cuman habis Rp 13.246,-. 1 porsi Itu pun berlebih, bisa dibagi 2 lagi, jadi sekitar Rp 6.623,- (yaudah cincai-cincai, genapin jadi Rp 7.000,-) Nah kalo dibandingkan dengan 1 nasi goreng + es teh manis, bisa kena hampir Rp 15.000,- untuk sekali makan. Jadi piye? Mikirin mahal lagi?

Oke, aku makan dulu yaa
Pernah denger "Yang manis jangan langsung ditelan, yang pahit jangan langsung dimuntahkan"? Nah, itu prinsip wajib ketika kita mau berhijrah pola makan, yang mengedepankan porsi buah dan sayur. Berdasarkan artikel berita "Anak Muda Jakarta Konsumsi Karbohidrat Berlebih" tingkat konsumsi karbohidrat dan kurangnya makan makanan tinggi serat akan meningkatkan jumlah penderita diabetes tipe dua, dan itu akan terjadi pada usia-usia produktif, yang ujung-ujungnya akan menurunkan kesejahteraan dan malaaaaah menambah beban negara. Geng, hidup kalian ga nge-hits banget kalo jadi beban orang lain. Iyuggghh....



Jadi gimana? Masih pada stuck di gaya hidup yang gitu-gitu aja? Mau sehat atau ga, itu emang salah satu pilihan hidup kok. Ga ada yang maksa, suer deh! Tapi, aku sekarang memilih menjadikan buah dan sayur sebagai makanan sehari-hari dan bahkan cemilan, hyehehehe.. Kamu gimana, shaaayy?


Thursday, 27 October 2016




Ini postinganku karena ada yang nanya di Ask.FM, “Mbak, rambutnya tebal banget ya. Sering perawatan rambut ya? Bagi-bagi dong tips ngerawat rambutnya. Thank you!”. Aku agak terbengong sih dengah pertanyaan itu. Rasanya ga layak aja ditujukan ke aku, hehehe..

Sejujurnya, aku bukanlah orang yang hobi banget perawatan rambut atau peduli banget sama keadaan rambut. Aku jauh dari pandangan itu.Aku adalah golongan perempuan yang suka menggulung rambut dan menjepitnya dengan jedai, sebisa mungkin rambut tidak meribetkan aku saat beraktivitas. Aku kalo lagi sedang sibuk, jangan sampai deh rambut menghalangi pandangan aku atau jatuh-jatuh ke wajah, pasti mood aku akan boooooooommm!! Jelek.

Dan aku adalah salah satu perempuan yang tidak begitu suka rambut panjang, cuman belakangan ini entah gimana sifat itu goyah, aku kok jadi sering berpikir beberapa kali untuk memotong rambut saya. Aku merasa sedih kalo rambut dipotong. Ditambah lagi ayahku sering mengingatkan kalau rambutku itu bagus, apalagi kalo panjang. Dulu opung doliku (Kakek) berpesan, rambutku dipanjangin saja, jangan sering dipotong, soalnya hitam-lebat-tebal. Tapi aku ngeyel, aku tetap sering potong rambut, tapi ga pendek-pendek banget, takut kena marah. Wkwkwk… 

Ga cuman mereka sih. Kemarin ketika terakhir potong rambut, kakak di salon juga sempat komentar,”Dek, rambut kamu tebal ya? Bisa untuk buat sanggul 2 kepala”.Aku mah terserah aja mbaknya mau ngomong apaan, yang penting rambutku dipotong sesuai dengan permintaan.

Awalnya aku beranggapan bahwa, mungkin Tuhan salah menciptakan aku dengan rambut yang bisa dibilang sehat dan diinginkan banyak kaum hawa. Karena aku bukan tipe yang telaten sekali untuk melakukan perawatan. Tapi, lama kelamaan sisi keperempuananku, muncul (soalnya aku agak tomboy sih, hehehe…).

Aku terpancing menjawab pertanyaan Ask.FM dalam nge-post ini, karena aku sepertinya menemukan jodoh baru buat rambutku. Dulu aku sering ganti-ganti shampoo dan conditioner, terus aku sering ikat rambut, ditambah lagi sejak mengenal catokan rambut, rambutku jadi rapuh, kusam, kering dan payah diurus. Kalau bangun tidur, rambutku seperti rambut singa, kaku dan ngembang. Wuih! Lalu aku berhenti di salah shampoo dan conditioner ternama di negara ini, hasilnya lumayan kok. Tapi lama kelamaan hasil setelah pemakaian jadi ga begitu maksimal. Apa rambut saya bosan dengannya? Entahlah. 

Aku bukanlah orang yang terlalu berani untuk mencobai barang-barang baru untuk masalah perawatan diri. Cuman karena aku melihat rambut semakin acak kadul, aku mencoba cari yang lain. Kemudian aku teringat sama Mbak Dian Sastro. Duh, aku penggemar Mbak Dian Sastro (do’i kan brand Ambassador-nya. Pinter ya L’Oreal mencari Brand Ambassador). Aku begitu menjadikannya role mode Life Style. Aku pun mencoba Shampoo and Conditioner L’Oreal Total Repair 5.

Satu kata untuk pertama kali pemakaian,”Ya elah, kok ga pake ini dari dulu? Ckckck..”. udah ngerti kan ya maksudku? Wanginya enak dan tahan lama. Rambutku jadi lembut dan lebih mudah diatur. Kadang kalau lagi buru-buru ke rumah sakit, aku ga perlu sisir rambut (seriusan deh). Kalo lagi sisiran, rambut juga ga banyak yang rontok (Inget, rambut rontok dalam jumlah sedikit, masih normal kok). Gimana aku ga jatuh cinta?


How do they work? Shampoo and Conditioner L’Oreal Total Repair 5 ini memperbaiki rambut 10 x lebih oke dengan Ceramide, replika bahan alami rambut, jadi Formula Total Repair 5 membantu memperbaiki kerusakan struktur dan batang rambut, serta merawat kekuatan batang rambut. Dan ini formula yang cocok dengan iklim Indonesia. Girls, you should underline it! Harganya juga ga mahal kok, masih terjangkau untuk anak kostan, kira-kira dibawah Rp 30.000,-. 

Aku udah nyoba dan mungkin akan bertahan sama duet mautnya Shampoo dan Conditioner L’Oreal Total Repair 5. Jangan nunggu rambut kamu bener-bener menunjukkan tanda rambut rusak, baru stress, dan nyari Shampoo dan Conditioner asal-asalan. Rambut itu aksesoris alami, yang sayang sekali kalau rusak dan salah perawatannya. Seriusan! Perawatan di salon boleh sih, sekali-sekali, cuman untuk daily hair treatment kan ga mesti di salon, kita sendiri bisa kok. So how, ladies?



Wednesday, 26 October 2016




Saya sempat bingung, kalo kumpul-kumpul sama teman-teman perempuan, pembahasannya pasti sekitar pertemanan, make up, fashion, dan asmara. Saya sedikit jengah, pembahasannya itu ke itu saja, apa enggak ada ha lain yang bisa dibahas ya? Heemm.. 

Dan kebetulan saya belakangan ini, lebih tepatnya setelah menyandang status single, saya sedikit lebih banyak bergaul dengan teman-teman lelaki, maksudku kalau dulu pas pacaran, saya lebih dominan berteman atau berpergian entah kemana, dengan hanya teman-teman perempuan. Teman-teman lelaki agak saya singkirikan dari daftar kehidupan, karena ada alasan-alasan tertentu. Kini saya lebih banyak tukar pikiran dengan teman-teman lelaki, entah itu tentang pendidikan, keuangan, pekerjaan, asmara dan aspek kehidupan yang lain. Dan saya ngerasa, saya mendapari sisi pandang yang baru dari mereka, si kaum dari planet Mars ini. Gimana mereka lebih memandang sesuatu hal secara logika dan realistis, membuang yang namanya drama. Bagaimana prinsip-prinsip keras mereka terhadap hidup. Bagaimana cara pertemanan mereka, almost all are solid.
 
Dan tak jarang mereka ternyata juga sering curhat-gossip gitu. Ternyata mereka tidak kalah jago dengan perempuan-perempuan ketika ngumpul, nongkrong, terus nge-gossip. Cuman aku pribadi lebih suka menyebut mereka itu sedang “Beradu argumentasi”, ketika ngegossip. Hemm, apa aja yang mereka bicarakan? Ini nih:

Pekerjaan
Di usia saya dan lingkungan pertemanan, memang sedang di jenjang peralihan antara masa kuliah dan meniti karir. Jadi, mereka lebih concern bicarain masalah lowongan kerja atau peluang usaha. Misalnya si A sedang melamar kerjaan, terus ikut testing, terus dipanggil untuk wawancara, pasti itu banyak ditanya-tanyain. Gimana test-testnya, apalagi test wawancara. Bagian apa yang diambil dan gimana prospek kerjanya. Berapa gajinya (a must banget kayanya). Dimana penempatannya. Gimana lingkungan kerjanya itu. 

Ga jarang juga antara mereka yang saling beradu argument tentang tempat kerjanya si A dan si B. Kenapa dia bisa masuk? Apalagi ketika kita udah masuk ke dunia lapangan, ada aja gitu hal-hal yang sebenarnya jadi “tanda tanya” kenapa seseorang bisa lulus. Itu - serius - akan - jadi -- perdebatan----yang-----sengit. Sometimes, ada juga semacam “kecemburuan sosial” diantara mereka. Tapi namanya juga lelaki, gimanapun perasaan mereka, mereka tetap bisa konsisten dalam pertemanan.
Hasil gambar untuk men gossip 
Hobi
Selain prinsip dan cara pandang hidup, ada satu hal yang bisa menyatukan mereka, hobi. Ini sama sih kaya perempuan-perempuan, mereka akan berkoloni untuk menyelurkan hobi mereka. Banyak sih hobi mereka, dari yang minimalis kaya mancing ikan, nge-game Dota / Point Blank / COC / PokemonGo! Atau game apapun itu, touring dari pulau A ke pulau Z, traveling manjat gunung kek atau sekedar nge-explore tempat-tempat baru sampai buat club mobil atau apalah. Hobi adalah salah satu alasan mereka untuk bertemu dan ngumpul duduk ganteng.

Dan namanya juga lelaki, pertemanan itu adalah investasi jangka panjang, apa saja bisa dibuat mereka jadi peluang. Iya, dari hobi dan pertemanan, mereka bisa memperluas link mereka. Ga muluk-muluk deh, di jaman “kalo ada link, hidup lebih mudah”, kita sangat butuh teman-teman dari berbagai kalangan, mau dari tukang becak sampai anggota parlemen sana. See?
 
Fans of their favorite
Setiap lelaki punya role mode mereka atau seseorang yang mereka kagumi. Bisa itu club bola, seorang pembalap, seorang actor atau bahkan seorang pemain music yang mereka adaptasi prinsip hidupnya. Namanya juga lelaki, mereka akan membela mati-matian si “role mode”nya itu, mempertahankan argumen tentang sesuatu yang dia kagumi. Karena inget, hampir semua lelaki itu adalah spesies pantang menyerah dan punya prinsip “harga diri bisa jatuh kalo kalah berargumentasi”.

Hasil gambar untuk men gossip
Perempuan
Huahahahaha! Every human will talk about their feeling. Lelaki juga bakal nyeritain tentang perempuan yang dikatinya, pada waktunya atau tentang pacarnya. Dan lelaki akan menceritakan hal itu hanya pada beberapa orang yang bener-bener dipercayanya untuk menjaga rahasia atau memberi saran tentang masalahnya dengan pacarnya atau membantunya untuk mendekati si perempuan yang sedang dibidiknya. Saya, yang beberapa kali dijadikan tempat mengadu “dia itu susah kali ditebak, apa semua perempuan itu sama?”, “dia itu payah kali didekati, jual mahal banget!”, “dia kok marah-marah? Apa dia lagi mens?”. Saya kadang bingung mau ngasih saran apa, karena saya juga kadang-kadang juga begitu jadi perempuan, wkwkwk..

Tapi, ada hal yang saya sadari dan bener-bener terjadi di depan mata saya (mungkin udah banyak sih yang mengetahui hal ini) kalo sebenarnya lelaki itu akan mendekati beberapa perempuan. Lalu dia akan lebih intens ke perempuan yang lebih ngerepons atau yang posisi perempuan lebih dekat dengan dirinya. Ya wajar sih, lelaki itu makhluk yang lebih dominan sisi visualnya. Makanya ga heran ya ada meme yang nge-subtitusi lelaki sebagai Bluetooth dan perempuan sebagai Wi-fi. Perempuan mah tahan-tahan aja LDR, asal si lelaki juga tetep komunikasi.


Selain perempuan sebagai gebetan, ada juga percakapan mereka tentang perempuan-perempuan yang bisa “dipakai” atau sekedar dijadikan fantasi. Sure, you have known what I mean, right? Entahlah, apa mereka sudah menganggap saya itu perempuan separuh lelaki, mereka akan bebas-bebas saja nyeritain itu ke saya. Tapi, for you (ladies) to know, masih banyak loh lelaki yang sangat menyayangkan kalo perempuan hanya bermodalkan kecantikkan, sexy, dan bohay, kemudian “dipake” sama orang. Mereka bilang,”Coba perempuan-perempuan itu kaya Dian Sastro, Raissa, Isyana, Pevita Pearce, Nadine Chandrawinata. The most Wanted girl and mom ever! Cantik iya, pinter iya, berprestasi iya, not too much make up, terus bisa diajak travelling. What a life!”. Saya ga ngerti, mereka memang sedang ngimpi atau gimana. Hahaha..


Tuesday, 25 October 2016



Belajar ngatur keuangan atau financial secara pribadi sejak dini, itu perlu. Karena kebanyakkan dari kita nantinya, ketika sudah berpenghasilan sendiri, jadi lupa daratan, jadi ngerasa hebat “Kan aku yang nyari duit. Kalo habis, ya cari lagi, kerja lagi”, memanjakan diri sepuas-puasnya, hang out sejadi-jadinya. Lupa nabung, lupa kalo di alam ini ada yang namanya Kejadian Tak Terduga, kita mau ga mau mesti ready dengan segala kemungkinan yang ada. 

Inget, sifat manusia itu ada dua: 1. Enggak pernah puas. 2. Dikasih uang sedikit, jadi berlebih. Dikasih uang banyak, malah selalu kekurangan. Tenang, kamu enggak sendiri. Saya juga pernah ngalami itu kok. Ada sisi dimana saya enggak puas dengan apa yang saya miliki, sepertinya Rumput Tetangga Lebih Hijau Dari Rumput Sendiri. Akhirnya sering bablas beli barang yang sebenarnya enggak penting-penting kali. Cuman supaya kelihatan gaul, ya saya beli. Saya belajar dari itu, dan kamu juga saya harap juga mau belajar me-manage keuanganmu, dimulai dari uang yang belum terlalu banyak. Percayalah, ketika kamu bisa mengatur yang sedikit, suatu saat kamu akan dipercaya untuk mengatur yang lebih banyak lagi. 


Di sini ada beberapa alasan-alasan, kenapa saya memulai berhemat. Tapi sebelum itu kamu baca, tolong, segala pemikiran tentang kepuasan yang berlebihan atau sekedar mengikuti jaman yang nantinya berujung penyesalan, segera dibuang jauh-jauh. Kita mesti puas tapi tetap mikir masa depan. Kita harus menikmati hidup tapi bukan berarti terlalu mengikuti jaman.

Benar-benar sadar kalo kita masih ditanggung orangtua
Saya bicara sebagai seorang perantau, yang masih kuliah ataupun masih jobless, ini wajib kalian sadari. Bukan apa-apa, sadar diri saja, kita sebagai anak yang belum berpenghasilan tapi gayanya seakan-akan high socialita banget, itu seharusnya kita malu. Yuk berkaca. Kita bergaya masih dengan duit orangtua. Sadar ga sih sebenarnya orangtua di kampung, bela-belain menyisihkan uangnya untuk kebutuhan kamu. Pernah ga kepikiran kalo ada kalanya orangtua menunda hobinya atau bahkan mengurangi porsi makanannya hanya demi memenuhi biaya hidup kamu, lalu kamu di perantuan malah sesukanya memakai duit. Hemm… Mungkin kita belum kepikiran karena kita belum tau gimana susahnya mencari duit, gimana rasanya “Kebutuhan anakku lebih penting dari kebutuhan aku, orangtuanya…”

Benar-benar sadar kalo kita masih merintis karir
Jaman sekarang, apa-apa ingin kita miliki, apalagi kalau udah punya system pendapatan sendiri. Wuih! Yakinlah sisi hedonisme itu akan keluar tanpa disuruh, berkeliaran membabi buta. Kita terlalu memuaskan diri, jadi lupa untuk nabung. Pernah ga berpikir siapa tahu besok kamu dipecat? Kamu ga punya kerjaan? Kalo tadinya kamu nabung, tabungan kamu bisa dijadikan modal usaha kan ya? Hemm..

Atau simplenya sih, setidaknya ketika sudah bekerja, tabungan itu dipakai untuk nyicil beli rumah.  Bukannya lebih nyaman tinggal dirumah sendiri tanpa ditagih uang kostan tiap bulan (hahaha..). Atau sekedar investasi, entah itu buka usaha bareng temen, investasi emas, atau yang lainnya. Setidaknya ketika kamu sudah bekerja, kamu menabung, kamu bisa merintis hal-hal lain yang bisa menambah sumber pemasukkan kamu. See?

Punya Prinsip
Iklan emang punya fungsi untuk menarik pembeli, tapi kamu jadilah Smart Buyer. Jangan sedikit-sedikit ada barang yang lagi nge-hits atau temen punya barang baru yang memang spek-nya lebih bagus, kamu jadi pengen beli. Inget, beli barang berdasarkan fungsinya ya shaaaaay... dan apa kamu memang perlu banget.Jangan nanti udah dibeli, eh malah nyesel. Inget berhemat. Hidup harus punya prinsip, kalau ga kamu mudah terombang-ambing, dan itu ga enak banget.

Hem, ada juga yang parahnya nih ya, sangkin ngebet banget mau beli barang baru, kita bela-belain kredit. Saya pribadi menyarankan, buanglah jauh-jauh hobi apa-apa kredit. Emang enaknya ya pake barang, tapi masih ada perasaan “ngutang”? Ya kalo bisa, kalo memang butuh banget, tunggu uangnya cukup. Jadi coba ambil satu prinsip untuk kehidupan keuangan kamu. Itu bermanfaat banget loh..

Pintar-Pintar Mengolah Barang
Ada kalanya emang barang ga dipake lagi, ujung-ujungnya ditumpuk, dibuang, atau dijual ke tukang botot. Tapi semenjak saya ngelihat tutorial-tutorial Do It Yourselves, banyak loh kreasi-kreasi untuk barang bekas. Misalnya nih, kita butuh rak buku, kita bisa buat dari kardus bekas. Atau tempat pensil dari kaleng-kaleng bekas. Recycle is better guys. Selain sebagai bukti cinta kita ke bumi, kita juga bisa berhemat kok, jadi ga apa-apa beli. Kan sayang sih duitnya. 
atau begini, udah terlalu banyak baju di lemari? Coba padu-padankan satu sama lain. Kalo kamu mentok dengan kombinasi yang itu-itu saja, coba search  deh, siapa tau entar bisa jadi role mode ya kan? Nah, kalo bener-bener mentok dan buntu, bisa kok dijual. banyak sekarang website dan aplikasi yang menyediakan layanan barang pre-loved atau Second hand gitu. Ya memang harganya bakalan turun, cuman kalau ditumpuk di rumah juga bikin semak, bisa jadi sarang nyamuk. Wkwkwk...

Stop Depend On Brand
Ga sedikit loh orang yang lebih mementingkan Brand daripada kualitas dan fungsi. Rasanya udah kekinian atau High Class banget kalo dibadannya nempel barang bermerek. Saya, berpikir sebagai orang biasa saja-lah ya, entah darimana harga tas kecil, yang paling muat ponsel, dompet, bedak, dan lipstick, dibandrol dengan harga diatas 10 juta? Wkwkwk, saya mau ketawa, tapi aneh. Bukan apa-apa, kok bisa gitu ya? Apa saya ya, yang terlalu udik? Cuman ya, mungkin life style orang berbeda-beda. Tapi, ada baiknya kita mengingat kata Om Bob Sandino “Bergayalah sesuai isi Dompetmu”.
Hasil gambar untuk bob sadino bergayalah sesuai isi dompetmu


Bergaul Dengan Orang yang Biasa-Biasa Aja Cara Hidupnya
Nah, ini nih. Manusia yang baik, kalau diletakkan di tengah-tengah tukang begal, juga bakalan jadi tukang begal. Namanya juga manusia, sisi makhluk sosial, dia akan beradaptasi dengan orang-orang disekitar. Jadi kalo mau berhemat, bergaul dengan orang-orang yang cara hidupnya sederhana saja. Dan kalo mau bergaya ala-ala sosialita kelas atas, juga ga ngelarang. Tapi bukannya kita tadi pengen belajar hidup hemat? *Titik dua P

Buat Skala Prioritas
Yaps, gaji udah dapat atau uang bulanan udah dikirim. Apa sih target yang mau kamu beli bulan ini? Coba bikin deh skala prioritasmu, kaya: Makanan 1 bulan, tranportasi, belanja bulanan, keperluan praktikum, membeli baju putih untuk UAS, membeli satu stel baju untuk ngelamar kerja, atau apalah yang bener-bener kamu perlu. Garis bawahi ya, perlu. Selebihnya kamu tabung aja. Serius. Coba lebih komitmen dan disiplin sama diri sendiri. Seenggaknya menabung bisa membuat hidupmu lebih tertata. Hidup ga suka-sukanya, hidup terlalu bebas dan menjadi pribadi yang hedonisme. Jadilah pribadi yang berbeda, yang lain daripada yang lain, dan kalo bisa jadi contoh yang bagus untuk sekelilingmu. Apa ga worth it banget hidup kamu?