Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Wednesday, 19 October 2016

Money's Source Ala-Ala Perantau

Ketika saya berjalan mau beli paket data di sekitaran jalan Dr. Mansyur, daerah kampus USU, saya beberapa kali mengitari jalan itu hanya sekedar mencari mana harga yang murah tapi paketnya gede? (Iya, saya emang kurang kerjaan, indeed). Sambil beberapa kali berbalik arah, otak saya bagaikan sempoa, menghitung perbandingan jumlah kuota dan harga yang ditawarkan. emang kadang, antara pelit dan selektif, susah diklasifikasi. Tapi jiwa seorang perantau yang masih merintis -sebutan yang cukup berkualitas untuk anak kostan pengangguran, ya?-, yang menganut "puas dengan harga murah" masih begitu kental di diri saya. Selama masih merintis, mungkin akan terus terpatri.
 
Sebagai penyandang status anak yang masih lebih banyak bergantung pada orangtua –sampai umur segini, maklum dokter itu lama kelar sekolahnya-, saya berusaha menekan keuangan. Setidaknya ketika saya belum bisa menghasilkan uang yang bener-bener mencukupi kebutuhan saya, saya mulai sadar untuk lebih mengajarkan diri menabung. Ya, Puji Tuhannya, tahun ini menabung menjadi kebiasaan wajib bagi saya. Emang belum high recommended consultant banget untuk mengurus masalah financial, tapi saya yang nantinya bakalan jadi seorang ibu, dan setahu saya ibu itu mesti pintar-pintar mengatur keuangan, saya jadi lebih ingin lebih lagi mendalami keuangan.
Hasil gambar untuk uang
Sumber keuangan ala-ala perantau? These’re my ways:
1. Jauh sebelum postingan ini dibuat, saya sudah pernah menuliskan Investasi Ala Perantauan http, gimana saya menyisihkan kira-kira 10% dari uang bulanan saya. Bagaimana-pun keadaannya, sebisa mungkin uang yang sudah disisihkan tidak saya pergunakan. Kalau pun digunakan (such for buying cosmetics or another girl’s stuffs I can’t ignore Hahaha!), aku akan mencatatnya di buku keuanganku pribadi, yang nantinya akan digantikan dengan uang bulanan di bulan berikutnya. Jadi semacam ngutang ke diri sendiri. Kalo enggak sanggup bayar, berarti diri saya sendiri yang belum kekeuh untuk menabung.
Hasil gambar untuk save money cartoon 
2. Nah, ini juga tentang recehan yang sering dipandang sebelah mata, saya sudah pernah menulisnya di Recehan Keajaiban, saya punya kebiasaan tidak menggunakan uang receh, malah saya kumpulin dalam satu tempat, yang akan saya akumulasikan per-6 bulan. Remeh sih nampaknya, tapi saya udah dapat efek positif dari recehan, lho..

3. Dulu saya sempat coba-coba mencari uang sendiri dengan memjual baju kaos gitu, saya concern ke kaos kedokteran gitu. Dengan mendesain kaos sendiri, terus kerja sama dengan tukang sablon, keuntungannya lumayan kok, bisa nabung. Cuman karena kesibukan anak koas yang enggak menentu, saya sekarang vakum. Selain itu, saya jadi freelance writer gitu, atau kaya sekarang saya lagi suka nangkring di website www.freelancer.com (overseas) atau www.sribulancer.com (local), tempat lowongan kerja freelance gitu. Ya mungkin buat kamu-kamu yang pengen nyoba nyari duit sendiri (demi apapun, ada perasaan Wah! Ketika kamu bisa menghasilkan duit untuk pertama kali) atau kuliahnya di fakultas A tapi punya hobi atau bakat diluar dari program studimu, kamu bisa nyari di website itu kok. Ya kalo dapat gaji, kan bisa ditabung toh.

Hasil gambar untuk freelance worker4. Hem.. Zaman udah teramat canggih, sayang sekali kalau kita cuman duduk termangu dan just be the user, why we don’t be the creator? Seorang yang fashionista, bagus tuh buat shopping online, apalagi kalau punya partner? Pinter menulis atau suka membaca, kenapa ga buat blog? Punya penampilan yang oke, endorse barang bisa kok? Suka hunting photo, fotografer lepas bisa kali? Punya barang yang ga kepake, dijual aja di toko online? Punya motor, terus lagi libur semester, ga usah sering pulang kampung, jadi go-jek why not? Guys, banyak cara kalo ada  niat sih ya… 

Dulu saya itu suka-sukanya make uang orangtua, some of them was spend useless. Kadang saya menggunakannya hanya karena ngikutin jaman, biar dikata anak gaul. Namun, makin tua umur, makin matang juga isi kepala. Sekarang lebih mikir kalau ngeluarin duit. “Ini emang perlu, atau sekedar lapar mata?”, “Diskon sih, buy 1 get 1 free, tapi emang fungsional enggak ya?”, dan banyak pemikiran-pemikiran ala-ala ibu rumah tangga. Lebih perhitungan, lebih menargetkan hal-hal yang dibutuhkan.

Sob, kita-kita yang terbilang masih sedikit banyak ditanggung orangtua, ada baiknya kita membuat menabung jadi salah satu kebiasaan terbaik kita. Menabug ga cuman sekedar ngumpulin duit, tapi belajar komitmen dan disiplin sama diri sendiri. You wanna try?

No comments:

Post a Comment