Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Sunday, 16 October 2016

A Leyeh-Leyeh Morning at Warung Kopi

Layaknya anak kostan semi pengangguran (iya, anak koas), kalo lagi males ngapa-ngapain, bahkan untuk colokin dispenser pemanas air kemudian menyeduh teh manis hangat-pun saya mager, saya lebih memilih mengambil langkah jarak jauh, untuk sekedar sarapan di salah satu warung kopi terlama yang ada di Medan, di sekitaran pasar Pringgan. Ini Warung Kopi sudah ada sejak mama-papa saya pacaran, lalu mereka menikah, kemudian saya lahir, dan kini saya yang sarapan di situ, cuman belum ada pasangan sih.



Ya seperti biasa, saya memesan segelas teh susu panas, segelas telur setengah matang, dan dua buah kue bohong (one of Chinese culinary, I think). Susunan menu yang memang selalu saya ancang-ancang dari rumah. Enak dan mengenyangkan. Saya bisa pastikan, menu ini bisa mengenyangkan perut sampai lewat jam makan siang. Kalo dipikirkan dari sisi harga, tadi saya cuman menghabiskan uang Rp 21.000. Kalau di-compare dengan menu yang sama tapi dengan tempat yang lebih high-class atau branded, mungkin bisa 2 kali lipat. Ya kita ga bisa complain kenapa mahal, mungkin saja itu untuk membayar tipe kenyamanan yang diberikan mereka, dibandingkan apa yang diberikan Warung Kopi. Tapi, bukannya kalau tempat makan itu sejatinya tentang mengenyangkan perut? Hemm..

Ngomong-ngomong tentang Warung Kopi, emang rata-rata warung kopi, lebih awet umurnya dengan menu makanan dan tempat yang itu-itu saja, bahkan menurut kepercayaan atau memang hukum alam, kalau tempatnya diubah menjadi lebih Wah! malah bisa menghilangkan pelanggan. Sabda alam memang ada-ada saja ya, hehehe.. Syukurlah seberapalama pun berotasi, bumi menetapkan ada beberapa sisi yang harus berdiri tegak dengan kesederhanaan, tapi tetap kepuasan yang kokoh, it's called Warung Kopi.


 
Beda dengan restoran atau tempat-tempat makan nge-hits, yang mesti ada something new entah di menu atau di dekorasi ruangannya dan the most important, Ada enggak WiFi-nya? Jadi customer juga enggak bosen dengan menunya atau bisa ambil foto dengan dekorasi uniknya. Dan enggak lupa, sambil nongkrong sambil upgrade aplikasi gadget (ya, ini mungkin salah satu pengaplikasian “sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui”). Enggak bisa dipungkiri kalo di jaman Instagram ini, pelanggan lebih memilih “tempat mana yang bagus untu DuCan (Duduk Cantik) dan bisa nge-WiFi”. 

Ngomongin Wifi dan kopi, saya jadi ingat tentang Film "Filosofi Kopi" yang cukup menarik. Saya lupa, entah siapa yang kemarin yang menolak adanya WiFi di warung kopi itu. In other side, WarKop DKI juga lahir dari cerita-cerita di warung kopi. Nama yang biasa saja, tapi masih booming walau personilnya sudah ga ada. emang kadang-kadang yang sederhana itu yang berkesan dan ga terlupakan.


Warung Kopi emang punya kharisma tersendiri dengan sajian sederhana dan tempat seadanya. Tidak peduli bagaimana orang akan melihat kita, pakaian kita, atau bagaimana cara kita makan, kita menikmatinya. Tanpa ada WiFi, semua pertemuan benar-benar terisi. Hidup bukan hanya tentang kekinian, tapi bagaimana perut puas dengan sajian yang memang kita harapkan, walau tanpa piring yang diberi hiasan.

No comments:

Post a Comment