Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Thursday, 10 November 2016

World Diabetes Day - Usia Muda Juga Jadi Sasaran Empuk Diabetes

#Hands4Diabetes #WorldDiabetesDay


Kemarin waktu aku lagi browsing Instagram, aku nemu postingannya Instagram Chelsea Olivia pake hashtag #diabetes #WorldDiabetesDay. Yaps, tanggal 14 November adalah tanggal peringatan hari World Diabetes Day - Hari Diabetes Sedunia. Aku jadi tertarik untuk bercerita tentang diabetes dan beberapa pasien ketika aku koas, hehehe.. 

Actually, jaman sekarang karena terjadinya perubahan Gaya Hidup, maka muncul pergeseran epidemiologi penyakit di Indonesia. Yang dulunya penyakit menular yang merajai, seperti: Malaria, TBC, Campak, dll, sekarang malah penyakit tidak menular yang mulai menampakkan diri. Penyakit diabetes merupakan penyumbang suara terbesar ke empat dari 10 penyakit yang mempunyai beban biaya rawat inap di Indonesia. Wuih, ngeri ugak! Ini penyakit berkelas, mahal lah pokoknya.

Selain itu, dalam artikel Penderita Diabetes di Indonesia Ketujuh Terbesar di Dunia diabetes adalah pembunuh ke nomor tiga di Indonesia. Dan 2 dari 3 orang tidak menyadari kalau dia terkena diabetes. Lebih dari setengah?! Iya, emang banyak orang tidak mengetahuinya dan tetap menjalankan pola hidup sesukanya. Diabetes adalah salah satu silent killer diseases. Ya,Diabetes memang tidak di situ kambuh, di situ langsung mematikan seperti penyakit-penyakit jantung. Hanya saja, diabetes sering kali menurunkan kinerja organ tubuh, apalagi kalau misalnya sudah masuk tahap gagal ginjal. Berat loh ya...
Cerita sedikit mengenai, gimana sih diabetes bisa jadi gagal ginjal?
Secara umum, diabetes itu ada dua jenis: Tipe I dan Tipe II. Di sini aku cerita mengenai Diabetes Tipe II ya.. Darah kita itu mengangkut sari-sari makan yang sudah tersaring di usus penyerapan. Lalu dengan menggunakan hormon insulin sebagai transportasi, glukosa dibawa ke sel-sel untuk diolah. Tapi, ketika kita terus-terus memakan glukosa terlalu banyak, kadar insulin tadi tidak cukup untuk membawa glukosa ke sel, glukosa akan stay di darah, maka kadar gula dalam darah bakal meningkat (makanya untuk mendiagnosa diabetes, kita perlu periksa KGD - Kadar Gula Darah).
Nah, untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, maka darah akan disaring di ginjal. Memang, sebagian glukosa yang berlebih akan disimpan di hati dan otot, tapi ketika kadar glukosa sudah melampaui batas, glukosa akan dibuang lewat ginjal. Nah semakin banyak komponen-komponen darah yang tidak penting, maka semakin berat kerja ginjal untuk membuang itu semua. Ginjal akan berusaha semaksimal mungkin, namun dia akan lelah (jadi bukan hanya mencari pasangan hidup saja yang bisa lelah. Apa deh aku?!) lalu tubuh akan mencoba mengkompensasi, dan ketika tubuh tak sanggup lagi~~ ginjal rusak. Mission failed. Begitulah kira-kira gambaran kengerian diabetes tipe II.
Ketika aku koas, apalagi koas bagian penyakit dalam, aku sering mendapati penderita diabetes. Ada yang sekedar cek darah, nyambung obat, dan bahkan sudah berada ditahap cuci darah. Kalo bicara masalah umur, umurnya beragam. Dulu ada pasienku yang berumur 30an tahun sudah 2 tahun cuci darah. Harga sekali cuci darah itu biasanya diatas Rp 700.000 dan dia harus cuci darah 1x seminggu. Berarti dalam sebulan dia harus punya duit minimal Rp 2.800.000, di luar kebutuhan sehari-hari. Syukur-syukur ditanggung BPJS, kalo enggak? Kalian bisa dong jawab sendiri kan, ya? Hehehe.. Gimana? Masih ada rencana untuk asal-asalan menjaga kesehatan?

Jadi, gimana dong menjauhi Diabetes itu? Simple. Kita emang mesti ubah pola hidup kita. Aku pun sedang berusaha keluar dari food style yang ga karu-karuan. Aku pribadi caranya, jangan fokuskan sumber energi hanya pada karbohidrat seperti nasi dan konsumisi gula aku kurangi perlahan-lahan.  Pernah denger "Perut orang Indonesia belum sah makan, kalo belum makan nasi seharian"? Atau lihat ga piring yang isinya nasi menggunung tapi lauk pauknya sedikit? Orang bilang itu porsi kuli. Atau nengok orang yang suka banget makan dengan porsi yang alamakjang! Hemmm... Jangan begitu lagi ya, jangan khilaf kalo lagi makan. Tapi kalo mau jadi kandidat orang yang kena diabetes, juga ga apa-apa kok. Kalo aku sih, ga mau. Aku mau menikmati hidup. Kamu gimana?

Bukan bermaksud menghilangkan budaya Indonesia untuk makan nasi atau mengolok orang banyak makan nasi. Enggak. Tapi ada baiknya kalo konsumsi nasi itu ditakar sebaik mungkin dan diseimbangkan dengan jumlah kegiatan seharian. Jadi energi yang masuk dan keluar, seimbang. Ga kasihan apa sama tubuhmu?

Selain itu, sebisa mungkin aku menyempatkan waktu untuk olahraga, entah itu cuman joged-joged atau aerobik selama 30 menit. Sesungguhnya, waktu 30 menit itu singkat loh, malah kadang aku jadi pengen nambah olahraga kalo sudah keenakkan olahraga. Jadi nagih! Berkeringat itu, bahagia dan kelihatan sexy loh. wkwkwk...
Gaes, kita yang muda ini ga menutup kemungkinan untuk menjadi sasaran empuk diabetes. Justru gimana daily habitual kita jadi penentu kualitas masa tua kita. Inget, mencegah lebih baik daripada mengobati adalah prinsip terbaik buat kesehatan kamu. So, masih suka-sukanya makan?


Ini nih data dari Departemen Kesehatan tentang Diabetes di Indonesia:

7 comments:

  1. Hai novi, setuju sama pendapat kamu kalau kita harus mulai ubah persepsi kita "ga makan kalau ga makan nasi". Masih banyak sumber karbohidrat lain yang tersedia, tentunya dengan indeks glikemiks yang rendah.

    Semangat terus menulis dan edukasi masyarakat ya. Your blog is awesome!

    ReplyDelete
  2. Hai helena. Iya helena, mesti ngubah persepsi masyarakat selama ini. Kamu anak fk juga kah?

    ReplyDelete
  3. aku juga mulai gaya hidup sehat biar ngga diabetes

    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  4. Iya mbak, kesehatan mahal banget loh :'''')

    ReplyDelete