Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Thursday, 1 December 2016

Pesan dari Anggun - World Aids Day



Mumpung ini Hari AIDS Sedunia, aku mau sharing sedikit tentang adik kecil manis yang sudah pergi ke taman indah, di surga sana. Sebut saja namanya Anggun, karena dia memang terlihat anggun.

Hari itu adalah hari ke 2 aku menjalani stase Pediatric (ilmu penyakit anak). Seperti biasa anak koas pada umumnya, aku dan segerombolan teman-teman sejawat mengikuti dokter konsulen untuk visite pasien. Riuh anak-anak yang berumur sekitar 4-10 tahun menjadi back sound kedatangan kami. Sementara itu, ibu mereka menggendong dan mencoba menghentikan tangisan, ketika dokter konsulen menempelkan stetoskop ke badan mereka dan bertanya bagaimana perkembangan keadaan mereka hari ini.

Emm, masih ingat jelas diingatanku, pemandangan berbeda terjadi di kamar pasien paling ujung, di urutan tempat tidur nomor 2 dari dinding. Dia, Anggun, dengan tatapan sayu, tidak menangis, apalagi dipangku. Dia cuman terbaring lemas dengan deras infus yang mengalir menuju nadi-nadinya. Beberapa ibu duduk disampingnya, mengipas-ngipas dia. Aku tak tahu apa status mereka. Tapi rasanya mereka bukanlah orangtua Anggun.

Selain takut ditanya dokter konsulen tentang penyakit si adik ini, aku membaca status pasien miliknya karena penasaran. Dari pemeriksaan lab, "CD4 (+)". Spontan, tak perlu aku melanjutkan apa hasil diagnosanya, dia positif HIV/AIDS.

"Iya dok, mamanya baru meninggal baru beberapa bulan lalu, karena HIV/AIDS. Kalo bapaknya juga udah lama meninggal. Karena HIV/AIDS juga", samar-samar perawat yang ikut dibelakang kami, menjelaskan riwayat keluarga Anggun.

"Ini udah pernah masuk, kan? Kalo ga salahku sekitar 2 minggu lalu?", sambut dokter konsulen kami. Perawat tadi pun mengangguk.

"Jadi dek, anak ini memang keturunan dari orang tua penderita HIV/AIDS. HIV/AIDS bisa tersebar dari darah, jarum suntik, hubungan seksual dan bahkan keturunan. Ya contohnya seperti ini. Sampai sekarang belum ada obatnya, kecuali bener-bener menjaga kesehatan. Kalau pun ada obat, itu sifatnya simptomatik. Ya, karena HIV/AIDS itu menyerang sistem kekebalan tubuh. Kalo kekebalan tubuh lemah, sementara tanpa kita sadari banyak kuman-kuman di sekitar kita yang seharusnya dilawan kekebalan tubuh? Tubuh akan semakin drop. Dan bisa berakibat fatal. Makanya setia sama pasangan dan harus jelas gimana bibit bebet bobot pasangan kalian. Jangan kalian "jajan" sembarangan. Ya bisa kaya ginilah. Kasihan di anaknya kan?", jelas dokter konsulen.

Aku bukannya takut, tapi sedih. Duh, baru umur segini, dia berusaha betah ya diinfus gitu? Seharusnya seumuran dia itu main prosotan, niup-niup balon sabun atau belajar perkalian di sekolah. Tapi, aku yakin, dia sepenuhnya tidak salah. Dan dia pun diciptakan tanpa memilih orangtua. Raganya memang diharuskan untuk mengedarkan Virus HIV. Siapa yang salah? Aku tidak perlu menjelaskan sepertinya, hehehe..

Ketika kami visite tadi, keadaannya memang sedang buruk. Gizi buruk dan diare kronis menjadi pasangan penyakit yang dideritanya itu. Orang yang disekelilingnya juga sudah mengikhlaskan kalau jiwanya tiba-tiba kabur. Dokter konsul juga sudah memberi advice untuk keadaannya itu.

Iya benar, selang beberapa jam, kami mendapat laporan kalau dia sudah pergi. Kasihan? Iya. Tapi rasaku, itu lebih baik daripada dia hidup tanpa bisa bermain dengan teman-temannya.


Dia, Anggun, sudah bertemu lagi dengan ayah dan ibunya. Di atas sana, mereka bergandengan tangan lagi, bercerita lagi. Anggun yang sedih, sudah bahagia. Anggun yang kesepian, sudah tertawa lepas. Semoga, tidak ada lagi Anggun-Anggun berikutnya.


No comments:

Post a Comment