Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Sunday, 26 November 2017

Pernikahan Adat Jawa Kahiyang Ayu Dan Bobby Nasution Di Solo - 016
PERNIKAHAN ADAT JAWA KAHIYANG AYU DAN BOBBY NASUTION DI SOLO
Melihat pernikahan Mas Bobby dan Mbak Ayang, membuat aku pribadi sebagai seorang bersuku Batak agak berbangga hati, terlebih lagi Mbak Ayang telah sah menyandang boru Siregar, yang dalam partuturan (silsilah) Batak, Siregar masih bersaudara dengan marga Nainggolan. Ya, marga Nainggolan adalah boru-nya mamaku. Bisa dibilang, secara ga langsung Mbak Ayang adalah tanteku. Ya apapun itu, ini berbicara tentang budaya, bukan niat yang aneh-aneh. Setidaknya jika bertemu, ada panggilan yang lebih sopan kepada Mbak Ayang. Congratulation to be Kahiyang Ayu boru Siregar, Mbak! 

Tapi dari semua perhelatan yang ada, hal yang paling ku kagumi adalah poda (nasehat) yang disampaikan Pak Jokowi kepada boru-nya (anak perempuan) dan hela-nya (menantu laki-laki) untuk bekal menjalani rumah tangga:

1.Pantun hangoluan, teas hamatean.
Untuk hidup bahagia haruslah menjaga sopan santun. Jika tidak menjaga sopan santun, maka malapetaka bisa datang. 

Ya, seperti yang diajarkan hampir setiap orangtua pada anaknya, sopan santun. Di zaman serba social media ini, agaknya bertutur kata dan tingkah yang baik sudah hampir punah. Label "Kids zaman now" begitu erat menempel pada mereka yang merasa hebat ketika menjadi pusat perhatian dengan gaya mereka yang sudah di luar norma sosial yang ada. Sopan santun tidak hanya untuk yang lebih tua, kepada yang muda pun begitu kok. Sepertinya, slogan “anda sopan, kami segan” akan menghantarkan kita pada hal-hal kebaikan.

Album Pre-Wedding Nusantara Kahiyang Ayu Dan Bobby Nasution - 007
PRE-WEDDING NUSANTARA KAHIYANG AYU DAN BOBBY NASUTION
2) Suan tobu di bibir, dohot di ate-ate.
Manis bukan hanya di mulut, tetapi juga di hati. Kebaikan yang dikatakan juga kebaikan yang dilakukan sepenuh hati. 

Ada banyak macam-macam kebaikan. Dari mulai perbuatan, pikiran, perkataan dan hal yang lain. Mengubah pola pikir untuk tidak munafik, kemudian menjadi manusia yang lebih jujur dan sederhana akan hal sesuatu, dapat menunjukkan siapa kamu sebenarnya. Tidak perlu menilai sesuatu secara berlebihan. Sepertinya, majas hiperbola mendarah daging di diri kita. Terlalu meninggi-ninggikan penilaian agar terlihat seperti “teman terbaik” dan terlalu merendahkan akan sesuatau karena merasa “I am totally right, and you are damnly wrong!”. Lakukan dan ucapkan sesuai takaran. Bukankah, segala yang berlebihan itu adalah bom yang sewaktu-waktu akan meledak?

Album Prosesi Siraman Kahiyang Ayu Di Solo - 003
PROSESI SIRAMAN KAHIYANG AYU DI SOLO
3) Tangi di siluluton, inte di siriaon. 
Jika ada kemalangan, walaupun tidak diundang, kita wajib berupaya untuk datang dan menolong. Namun demikian, jika ada kegembiraan, kita hanya wajib datang kalau diundang. 

Dari semua Poda, ini yang paling unik buatku. Agaknya, inilah Poda untuk menilai, siapa sesungguhnya teman. Di jaman “tercyduk” ini, kebanyakkan orang sedih ketika orang bahagia, dan bahagia ketika orang sedih. Hahaha… Ga banyak yang bisa ku ceritakan tentang poda ini, karena rasaku Poda ini cukup jelas dan mudah diingat untuk dipraktekkan. Hal yang dibutuhkan cuman kesadaran kita aja kok, hehehe..

Kalau kita banyak menanam, maka kita akan banyak memetik hasilnya. Artinya, banyak-banyaklah berbuat kebaikan, agar ananda memetik kebahagiaan.

Poda yang satu ini membuat aku teringat pada buku The Power by Rhonda Byrne, yang bisa disimpulkan bahwa semakin banyak hal positif yang kita sebar, itu akan menjadi “magnet” untuk menarik hal-hal positif yang kita dapat. Dan mungkin di setiap keyakinan mengajarkan “apa yang kamu tabur, itu yang kamu tuai”, atau istilahnya karma? Mungkin.
Sesungguhnya, sudah banyak hal-hal yang seperti ini yang terjadi di sekitarku. Dan aku pribadi pun, pernah merasakannya. Ya, beberapa bulan belakangan ini, aku agak melupakan “aturan semesta” yang satu ini. Selalu membanding-bandingkan, hingga timbul rasa iri dan akhirnya suka memperhitungkan “kalau aku berbuat ini, berkorban seperti ini, apa yang akan aku dapat?”. Agaknya, aku lupa apa arti kata ikhlas. Tapi, itulah baiknya semesta, dia mengingatkan dengan hal-hal kecil. Sekarang tinggal bagaimana kepekaan kita pada tegurannya. Hehehe..

Semua poda memang berisikan tentang hal-hal yang baik dan dilihat dari keseluruhan, akan membuahkan cinta kasih dan kedamaian. Secara kasat mata, mungkin agak susah untuk dipraktekkan sehari-hari. Tanpa perlu kita sangkal, egoisme, selalu merasa benar, dan ingin menang sendiri masih mendominasi. Sekarang, tinggal kita, apa kita mau hidup dalam kedamaian atau ketidaknyamanan? Tidak perlu menunggu orang lain berbuat hal-hal itu pada kita, yuk kita awali dari hidup kita masing-masing. Semoga hidup kita lebih berfaedah buat sekeliling ya..
Sekali lagi, aku mengucapkan selamat buat Mas Bobby dan Mbak Ayang. Semoga bisa menjadi keluarga yang SAMAWA dan menjadi panutan untuk keluarga-keluarga baru lainnya. Dan semoga, dengan adanya pertautan dua budaya, dapat menjadi contoh yang positif untuk Rakyat Indonesia. 

By the way, Pak Jokowi dan Bu Iriana mantep juga nari tor-tor ya! Mas Gibran juga gitu. Mbak Selvie ayu tenan, Mbak bisa jadi Kate Middleton-nya Indonesia. Mas Kaesang dan cemewewnya segera menyusul ya! Dan yang terakhir, Jan Ethes, cakep tenan koe, cah. Bunch of love for this Family.

Eh, ngomong-ngomong gaya pacaran Mas Bobby dan Mbak Ayang juga yang bener. Diam-diam udah lama pacaran, terus tiba-tiba udah ada undangan aja. Bisa ditiru nih! Hehehe..

Wednesday, 22 November 2017

"Aku cari kamu, ku temui kau tiada. 
Aku cari kau, ku temui kau berubah.."
Kucari Kamu - Payung Teduh.

Sebelumnya, aku tidak begitu paham apa jenis Payung Teduh. Cuman mungkin inilah yang disebut kenyamanan tanpa pemahaman. Jenis musik yang sepertinya agak jarang ditemukan di Indonesia dan membuat aku kelihatan aneh ditengok teman-teman dengan memutar lagu-lagu Payung Teduh.

"Apanya lagumu itu?", itulah kata mereka. Tapi, semenjak aku pernah baca artikel, "Sebab untuk bahagia, terkadang kita hanya perlu terbuka dengan standart bahagia kita, pun ketika standart itu dianggap remeh orang lain", semakin memantapkan aku untuk mengesampingkan kata-kata orang untuk mengikuti apa yang disukai hati, I keep on my headset. Hehehe..
Pertama denger lagunya Payung Teduh pas streaming salah satu radio Jogja, pas sedang patah hati, sekitar 2014 akhir. Ga tau, kalo lagi teramat galau, nangkringnya di radio-radio Jogja. (Sebentar, Jogja mungkin punya efek bius dengan dosis tinggi walau aku cuman sejenak berpijak di sana. Merindukannya adalah kewajiban setelah menghela nafas di sekitaran alun-alun Jogja).

Okay, kita berbalik ke cerita tentang Payung Teduh.
Ketika sedang mencari siaran radio, ditengah kegalauan hati dan keribetan skripsi, kedengaran lirik "Sang pujaan tak juga Datang, Rinduku berbuah lara". Ya, langsung jatuh cinta sama jenis musiknya, yang mungkin agak asing untuk orang kebanyakkan. Penasaran dengan lagu-lagunya yang lain, dan lagi-lagi jatuh cinta dengan lagunya. Terutama sama jenis musiknya. Mas Is dan teman-teman punya selera musik yang baik. Aku kagum. Ditengah banjirnya lagu melayu-pop, mereka bernyali untuk menyajikan jenis musik yang beda.
Hingga, sekitar tahun 2016 kalau tidak salah, mini konser Payung Teduh-lah yang menghantarkanku pada "Akhirnya, aku pernah nonton Konser langsung!". Awalnya, aku ga tau Payung Teduh akan mengadakan konser di Medan. Tapi, salah satu teman, dari TK sampai kuliah, mengajak aku untuk nonton konser ini. Tidak begitu jelas kenapa dia mengajak aku, ataupun darimana dia tau aku menyukai Payung Teduh. Ketika Payung Teduh ngadain mini konser di Medan, tanpa berpikir panjang, aku mengiyakan ajakannya. My heart was glad at the time. Bukan, bukan karena dia. Tapi, aku bisa nonton konsernya karena sebelum ini pun, Payung Teduh sudah pernah konser, cuman aku telat mengetahuinya. Sedih itu terobati. 

Dengan suaranya membawa lagu "Untuk Perempuan Yang Sedang di Pelukan", Mas Is berhasil menutupi rambutnya garangnya dengan manis. "Di malam hari, menuju pagi, sedikit cemas, banyak rindunya", sahut penonton takkala saat Mas Is mengarahkan microphone ke arah kami. Sesekali dia memberi kata pujian terhadap Medan dan penonton malam itu. Terhibur dan terkenang. Mas Is dan teman-teman Payung Teduh pintar menyebrangi kami ke perasaan itu.

"Berikan tanganmu jabat jemariku, yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu". Suaranya berhasil membuatku ingin memeluk seseorang yang tak semestinya ku rindukan lagi. Tangan hanya aku lipat ke depan dada. Bukan sombong, hampir semua lagu Payung Teduh aku hapal. Spontan aku menyanyikannya.
Hasil gambar untuk akad payung teduh

Sejujurnya, ketika keluar lagu Akad, aku kira itu bukan Payung Teduh soalnya ini bukan musik mereka. Tapi memang, suara Mas Is ga bisa bohong. Dan beberapa penikmatnya yang bukan "karbitan" karena lagu Akad, juga sependapat. Memang enak didengar, tapi udah beda rasa yang ditawarkan. Payung Teduh, mungkin mau bikin gebrakan baru yang sesuai dengan selera pasar. It's literally good, kok. 

Sungguh, lirik Akad membawa aku, yang masih single, pun ikut berdendang layaknya akan dilamar. Berimajinasi, kelak nanti akan ada seorang dambaan hati, melamar dengan lagu ini, dan kalau bisa ikut dengan pelantun asli lagu ini. Aku yakin, tak perlu cepat-cepat, ketika saatnya telah tiba, betapa bahagia bersamanya dalam terik dan hujan, bertemankan dirinya yang akan berpelukkan hingga ujung waktu. Kejujuran akan rasa, membuat aku sulit tidak menerima lamaran seperti ini, nanti, hahaha...
Gambar terkait
Payung Teduh
Salut sama Mas Is, ga tau sih ya mau bilang apa. But, you did it  Mas I!. Suaramu dan musik bandmu, buat aku sembuh dari patah hati, Hahaha! Walaupun perpisahan adalah hal yang paling menyebalkan dan ini mungkin bukti Mas Is adalah sisa-sisa keihklasan yang tak diikhlaskan, aku harus mendapati bahwa sekarang aku sendiri di antara daun gugur. 

Terimakasih Payung Teduh, kalian menghantarkan banyak jiwa-jiwa dalam manis dan hambarnya berkasih-kasihan dalam sebuah karya sastra yang mendayu. Payung teduh akan tetap sama seperti yang pertama kali ku dengar. Semua irama, semua petikan gitar yang jarang ku dengar, semua lirik puitis lagu yang mampu menghipnotis, akan ku simpan kalau-kalau patah hati lagi, atau jatuh cinta lagi.

"Biarkan bulan berjalan tunduk,
menyambut senyuman matahari",
Biarkan- Payung Teduh.

Aku tunggu karya-karyamu lagi di suasana baru, Mas Is.

Kawasan Stasiun Kereta Api, Medan, Sumatra Utara

Entah kenapa, dipenghujung bulan November ini, sendu memandu aku untuk menulis disela kegiatan yang agak numpuk hingga lupa waktu, hari-hari di Medan sebentar lagi hilang dari lupuk mata. Dan aku tak berani semakin menambah cerita yang terlalu bermakna. Tapi, Medan adalah salah satu kediaman yang membuatku nyaman, tapi belakangan sedikit mencekam. Hehehe..

Bercerita tenang mencekam, beberapa minggu lalu, aku kehilangan motor kesayanganku. Aku menamainya Oiol. Hehehe.. Si hijau yang ku anggap wanita, tapi tangguh, gesit dan siap di arena apapun. Gimana tidak, Medan yang tak tentu cuacanya, Medan yang cukup banyak jalan berlubangnya dan aku pribadi yang suka sedikit ngebut kalo mau kemana-mana. Terlebih, sebelum dia pergi, mungkin ada 3 bulan aku tidak men-door-smear-nya. Dan mungkin karena itu juga, dia dimaling orang. Huhuhu..

Pagi itu, sebelum aku bersiap untuk gladi resik sumpah dokter, aku dikejutkan dengan hilangnya Oiol di lantai bawah kostan. Ah, memang belum sah sepertinya tinggal di Medan kalo belum kehilangan sesuatu. Mck!

Seperti kehilangan pacar waktu itu, aku juga galau kehilangan Oiol. Oiol udah ku anggap "pacar". Dan bahkan lebih dari pacar malahan. Kenapa? Dia selalu ada. (Ya ampun, jadi beneran sedih). Di saat galau diputusin pacar, di saat galau revisi skripsi, di saat terik matahari dan gilanya aku mengeksplore Sumut, di saat ngebut mau koas, di saat hujan-hujan mau bimbel, Oiol ada. Untungnya, Oiol sempat mencicipi awal kesuksesanku dengan mengantarkanku untuk bekerja. Banyak moment bersama Oiol. Entah, aku bukan tipe yang terlalu suka ganti-ganti barang. Aku malas beradaptasi dengan barang-barang baru.

Kerasnya Medan, menitipkan pesan "yang memang harus pergi, ya harus pergi". Selama tinggal di Medan, banyak kehilangan (bukan pencurian kok, pencurian cuman sekali) yang buat aku sadar akan hal itu. Kehilangan pacar disaat butuh-butuhnya disemangatin. Kehilangan file kuliah disaat mau ujian. Kehilangan Oiol disaat mulai kerja. Dan semua kehilangan yang pernah terjadi. Cuman ya, mau sekuat apapun kita jaga, kita rawat, kita pegang, tetap saja kalau memang harus pergi ya harus pergi. Kita cuman bisa mengganti cara kita menghadapi kehilangan, menjadi sekuat-kuatnya kita. Kalo diri lemah, yuk kita belajar jadi kuat :)

Wednesday, 1 November 2017

Sejak udah pengumuman hasil ujian profesi (ya pasti ga kuliah lagi), apa-apa mesti mikir 2 atau 3 kali, bahkan lebih, untuk beli sesuatu. Aku ga tau, aku ini sedang proses belajar membuat skala prioritas, hemat sama keuangan ini, atau celit tingkat terakbar pada diri sendiri. Mck!

"Ya nanti, kalo udah punya penghasilan, ditabung, jangan sikit-sikit beli. Harus punya target. Jangan mudah terikut-ikut kawan", my mommy, as my private financial Consultant.

Nah, apalagi di usia yang mulai matang, tidak lagi menjabat sebagai mahasiswa, dan yang sedang mencoba kerja, aku mulai malu apa-apa minta sama orangtua. Ya gimana, dalam pikiran ku saja, usia kaya aku seharusnya sudah mandiri secara finansial.

Cuman, memang sejak kuliah, aku udh memakai beberapa cara untuk dapat menabung dari uang bulananku. Jadi someday, kalo misalnya ada keperluan mendadak, aku bisa survive dengan tabungan yang udah aku buat terlebih dahulu. Kan ga semuanya langsung ada ketika minta sama orangtua, uangnya langsung ada. Karena sesungguhnya keuangan orangtua adalah hal yang paling rahasia tapi secara ga langsung seharusnya kita mengerti.

So how are the methods?

1. 10% Sumbangan Masa Depan

Ini awal dari semua metode yang ku buat ke keuanganku. Kenapa 10%? Nah, diajaran keyakinanku, jatah (kalo ga salah) 10%, yang disebut perpuluhan, adalah milikNya Yang Maha Kuasa untuk disumbangkan. Jujur, aku masih hilang timbul untuk ngelaksanain itu, hehehe.. Nah, sampai pada suatu saat, keuangan seret dan sampai meminta uang tambahan dari orangtua tidak dapat dihindarkan. Mck! Dalam otakku, masa aku ga bisa hemat sih? Ini aku yang boros atau emang biaya hidup di perantauan yang mahal? 
Jadinya, aku memutuskan untuk menyisihkan 10% dari uang bulanan untuk aku save sendiri, tanpa buka buku tabungan baru. Soalnya, belum kerja, yang ditabung juga sedikit, kalo nabung di bank kan perlu biaya administrasi. Sayang uangnya kan?


2. Nabung uang receh

Bergerak dari ucapan orangtua "jangan remeh sama uang receh", sejak awal kuliah aku agak memantangkan penggunaan uang receh. Jadi kalo misalnya pas belanja, ada kembalian uang receh, maka sah-lah uang itu dipingit samaku sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Heemm.. Makanya jangan heran kalo misalnya aku girang banget ketemu uang receh. Wkwkwk.. 

Hingga pada akhirnya, aku mulai menyatukan uang 1000 jadi 5000, uang 200 jadi seribu, dan seterusnya, nah kemudian aku menukarkan duit itu ke penjual toko klontong atau siap aja yang butuh. Ga terasa, dapat juga ratusan dari receh yang slalu dianggap remeh.


3. Bagi rata setiap minggunya, kalo ada sisa, langsung tabung

Nah, ini juga bisa. Rasaku sih efektif buat yang memang teliti banget nyatet pengeluaran tiap minggunya. Cuman, wajib disiplin, pengeluaran per minggu ga boleh lewat dari yang sudah dibagi. Disini sih kita dilatih berhemat dan lebih memprioritaskan hal-hal yang perlu. Sehingga nanti setiap akhir minggu, kita ambil sisanya dan tanpa diganggu gugat, langsung masuk tabungan.


4. Kalo nemu uang baru, langsung masuk celengan

Wkwkwk, ini adalah cara primitif ku sejak masih kecil. Kadang, ketika Natalan, Lebaran, atau Imlek, aku sering dikasih salam tempel. Ya namanya juga anak-anak, suatu prestige kalo dapat salam tempel, uangnya baru dan wangi pula. Pokoknya fresh from the oven. Sayang banget dijajankan. Lagian, mama dan ayah juga langsung ngekode untuk masukkan uangnya ke celengan. Nah, jadinya kebawa-bawa deh sampai sekarang dan jadi kebiasaan.


5. Gerakan 20 Rebu

Sempat viral di social media kalo ada bapak-bapak yang berhenti merokok dan lebih memilih menabung uang beli rokok. Sounds good, right? Nah, kemarin aku sempat begitu juga, buat gerakan 20 rebu (tapi aku bukan perokok, entah nanti, lho?). Kenapa 20ribu? Sederhana saja. Uang 20ribu terbilang jarang ditemukan dibanding dengan nominal yang lain. Selain itu, nominalnya juga ga terlalu besar dan ga terlalu kecil, jadi cocok sih menurutku. Jadi setiap menemukan uang 20ribu langsung ku simpan.

So, What's yours?

Friday, 27 October 2017

"Saya Bersumpah saya akan....." 


Banyak bunga bungaa~ bunga bunga~

Querida Familia
This is my “check point” section of my life. Setiap orang pasti punya “check point” dalam hidupnya masing-masing, seperti lulus dari pendidikan, punya anak, memenangkan suatu lomba, menikah, mulai bekerja, dan lain-lain. Bagiku, Check point maksudnya lolos dari satu tantangan besar dan mulai berfikir, apalagi pencapain yang harus aku raih setelah ini. Inilah salah satu check point dalam hidupku, Hippocratic Oath (Sumpah Dokter).

Dek, gendooot kali kau dekkkkkkk!!!
Kembali mengingat apa yang sudah terjadi dari bulan Maret-Agustus tahun ini, aku cuman bisa menyimpulkan ternyata buah dari doa dan usaha itu manis, sekali! Aku sempat gagal di penyeleksian kampus dan membuatku sedikit drop, But Praise The Lord, it’s only by His Grace I got mine! Aku ga tau orang bakal menilai “ah, baru segitunya usahamu, udah macam yang paling capek!?" atau bagaimana. Tapi, semoga ini bisa sumber semangat ya guys!

Puji Tuhan, selain jas hujan, saya sudah bisa memakai jas Dokter, hehehe..

Alumni UKMPPD CBT dan OSCE Nasional Batch III 2017
Kegagalan pas ujian tes kampus tampaknya menjadi cambuk paling ampuh. Sedih, kesal, kecewa ga jauh dari pikiranku. Beberapa teman dekatku sudah lulus seleksi kampus, sementara aku? Mck! Kekurangan satu point nilai benar-benar mengubah pola pikirku untuk mengatur strategi belajar persiapan UKMPPD.

Baca: 

Yak, dipilih-dipilih~

FYI, sejak dari SD sampai SMA, tidak ada satupun catatanku yang rapi atau setidaknya bertahan dalam satu buku. Dimana ada kertas, disitu aku catat. Kapan ada mood, rapilah tulisanku. Tapi, gara-gara kegagalan itu, aku berubah. HAHAHA! Aku mengulang-ulang pelajaran dengan mencatatnya rapi, walau kadang masih ada di beberapa bagian yang under mood control. Tapi, itu beneran ngefek. Lebih ngerti dan lebih cepat hapal. Jam belajar pun aku maksimalkan, sampai aku rela minum kopi (dan sempat beberapa kali drop karena kopi). Aku rela meninggalkan nge-blog untuk sementara waktu, rela ga jalan-jalan ma teman-teman. Mungkin kalo dirata-ratakan, aku tidur cuman 6jam/hari selama kurang lebih 4 bulan. Selain mengulang-ulang, aku pasang target bahas soal 200 soal/ hari. Muntah, muntah deh. Panas, panas deh. Dan kalo sanggup, menghapal 1 materi. Seorang aku, belajar segininya?! Hellow?!

Family portrait (Bapak dan Ibu Negara, Seorang Gadis dan Dua Boss Penggoncang Dunia)

Aku juga ikut bimbel untuk persiapan ujian di Klinik Ukdi. Aku terhitung 2 kali ikut periode. 1 Periode untuk UKMPPD batch 2, yang rupanya aku gagal dikampus. Cuman karena udah aku bayar, ga mungkin aku buang gitu aja kesempatan belajarnya. Dengan santai pakai muka tembok, aku tetap masuk kelasnya. Hahaha! Gapapa kan ya? Lebih malu jadi koruptor kan ya? Dan 1 periode lagi aku ikuti untuk batch 3, dan Puji Tuhan, aku lulus seleksi kampus dan bisa ikut UKMPPD batch 3. Semakin gila-gilaan lah aku belajar. Mungkin aku dan beberapa kawan belajar kelompokku udah ditandai tentor sering menyusup ke kelas orang lain. HAHAHA!  Antara maruk, nekat dan ga tau diri kadang ga bisa dibedakan. But it's us! Walaupun kadang hujan dan aku cuman punya sepeda motor, aku bela-belain datang. Nah kalo badan udah ga enak, cuman bandrek dan telur setengah matang di warung simpang kampus, serta susu bear brand yang sangat aku tidak suka, jadi senjataku. Memang, kalo mau berhasil harus keluar dari zona aman ya :")

Teman-Teman Sejawat dari FK Nomensen


Inilah kawan-kawan belajar, kawan-kawan saling mengingatkan dan menguatkan. Rindu weeei!
Diatas semua usaha itu, berdoa dan restu dari orangtua adalah pembungkusnya. Aku Nasrani. Di saat itu, Gereja Annai Velangkani adalah tempat aku berteduh. Ada salah satu kawan kelompok belajarku bilang "Kita itu sudah lulus. Kita tinggal meminta perkenanan Tuhan dalam doa kita". Nah, Di situ lah mengadu "Tuhan, aku memohon hikmat dan perkenananMu. Tuhan, aku takut. Aku ini orang yang jarang berhasil kalo ikut tes. Kalo aku lulus, itu pasti karena kemurahanmu". Walaupun aku bukan Katolik, aku lama tumbuh di sekolah berlandaskan Agama Katolik, dan aku pun doa dan puasa Novena. Aku meyakini, asal doa dan puasa itu tulus, kamu akan mendapatkannya.

Sah dong saya ga bayar uang kuliah lagi pak dekan? Hehehe...
And show time has come!

Setelah aku menghitung mundur waktu yang tersisa, waktu pertempuran itu pun hadir di depan mata. Hal terakhir yang ku lakukan sebelum masuk ruang ujian CBT UKMPPD, aku menelfon orangtuaku dan aku meminta restu dengan nada terisak. Hahaha! Dalam pikiranku, jangan sampailah aku mengecewakan mereka ya Tuhan. Sebelum dan sesudah keluar ujian pun, kerjaanku cuman berdoa Rosario, bernyanyi lagu rohani dan menangis. Kenapa? Ketika satu putaran aku mengerjakan ujian, ku hitung yang sudah ku kerjakan baru 132 soal, dan itu pas sekali dengan nilai standart kelulusan, kalau itu benar semua. Makin layu lah hati ini.

Hitam Putih Kehidupan, eciyeileee~

Begitu pun ketika OSCE. Di station pertama aku sudah salah diagnosa, mungkin karena gugup. Sungguh, mendengar sirene tanda waktu ujian tinggal 3 menit di setiap station-nya membuat jantung mau keluar. Setelah ku lewati, aku meyakini, aku salah diagnosa di 2 station. Ya ampun. Entahlah. Cuman untungnya, persenan diagnosa dari seluruh penilaian kecil, lebih diutamakan anamnesa.

Baca:

Ujian selesai bukan berarti aku bisa bernafas lega. Penantian hasil dalam satu bulan membuat aku uring-uringan ga jelas. Mau ngapa-ngapain malas. Kepikiran terus. Dan sembilan hari sebelum hari H pengumuman, aku berdoa dan puasa Novena lagi. Setiap hari selama 9 hari aku mengunjungi Gereja Anna Velangkani. Dan terakhir sebelum pengumuman, aku nelfon orangtua, nonton Korea It's Okay That's Love, dan makan mie rebus. Pokoknya aku ingin mengalihkan pikiranku biar ga ingat sama hari pengumuman. Tapi sebelum makan aku berdoa "Tuhan, apapun hasilnya, tolong pegang tanganku, aku mudah jatuh soalnya".

Bukti Konkret (I) yang paling susah dibuka, takut ga sesuai harapan.
Hingga akhirnya, kira-kira sepuluh menit setelah berdoa, pas tengah malam menuju tanggal 23 September 2017, hasil itu pun keluar, and Only by His Grace, aku lulus UKMPPD. It's completely paid off!! Aku dan kawan-kawan kostan teriak dan hampir dilempar tetangga. Iya kami tahu kami salah. Hahaha. Tapi, Tuhan bener-bener baik. Orangtua adalah yang pertama ku telpon. Aku terharu, aku bisa buat mereka bahagia.

Bukti Konkret (II) yang diluar dugaan, wkwkw..
Euphoria Yudisium profesi Dokter dan Sumpah dokter bener-bener berbeda. Ada bahagia, ada haru dan ada sedikit kekhawatiran "Setelah ini, harus bekerja". Wkwkwk. Harus bisa lebih mandiri.

It's not our farewell party, but our beginning, guys!
Terimakasih buat kepercayaan Tuhan atasku untuk memegang amanah ini, semoga Tuhan selalu membimbing aku untuk bekerja sebaik-baiknya. Mohon bantuan doanya lagi ya! Dan terimakasih atas doa dan dukungan dari orang-orang sekitar maupun mereka-mereka yang tak disangka berkenan menyempatkan diri memasukkan namaku dalam doa-doa kalian. Semoga Tuhan memberkati kehidupan kita :)

Sabtu, 14 Oktober 17, Istana Koki Medan


Tuesday, 3 October 2017


Ini adalah beberapa skin care yang aku dapat ketika event Beauty Talking with Bubah Alfian. Lumayan banyak yang dikasih, cuman di sini aku bakal nge-review NIVEA Make Up Clear Micellar Water. Salah satu pembersih make-up micellar water yang sedang gencar-gencarnya dipakai.

Baca juga: 

Sedikit cerita, ketika make up race challenge kemarin, NIVEA Make Up Clear Micellar Water & NIVEA Double Effect Eye Makeup Remover adalah benda yang wajib dibeli dengan menggunakan voucher senilai IDR 500k. Ga nyesel dah aku dikasih kewajiban begitu. Muehehe..


Aku sudah beberapa kali menggunakan beberapa produk pembersih wajah dan kali ini wajahku bereksperimen dengan NIVEA Make Up Clear Micellar Water. Bye the way, beberapa tahun belakangan ini pembersih make-up jenis micellar water sedang gencar-gencarnya diproduksi. Awal aku mengenal micellar water bukan dari Nivea, but let's try ladies!

Mau dongggg...

Dengan kemasan yang lebih tinggi NIVEA Double Effect Eye Makeup Remover, NIVEA Make Up Clear Micellar Water berisi 200 mL dan harganya juga ga jauh beda dengan NIVEA Double Effect Eye Makeup Remover. Kalo beli dua-duanya ga sampai IDR 100K deh kayanya, tapi tergantung dimana kamu belinya dimana sih, hehehe...

Selain itu, kemasannya juga enteng dibawa, ga makan tempat. Botolnya terbuat dari plastik, jadi ga gampang pecah. Tutupnya yang flip-top membuat dia ga mudah tumpah. Pokoknya cocok deh buat kamu yang ga suka ribet.


Kandungannya Capric Glycerides membuat kita enteng membersihkan wajah dengan lembut dan yang paling penting bebas dari residu make-up. Selain itu, bahan Lactic Acid-nya pas banget untuk menjaga kelembapan kulit sehingga setelah membersihkan make-up, kulit kita ga kering. Oh ya, jangan lupa ini juga alcohol-free dan fragrance-free. Uyyyeeeaaah!

Paket komplit!

Cara pemakaiannya mudah kok. Yang pasti, lagi lagi beli dulu NIVEA Make Up Clear Micellar Water dan kapas (hahaha...). Tanpa dikocok, langsung teteskan saja NIVEA Make Up Clear Micellar Water ke kapas. Kemudian usapkan secara perlahan, mendiamkannya sejenak lalu menyekanya kembali, lalu tersapulah segala make-up beserta residunya. Yiipieee!
Baca juga:


Usapkan mana yang perlu dibersihkan!

before and after

iyuuuuhhh...

Setelah menggunakan 2 kapas, 3 kali usapan, make-up langsung lenyap dari wajahku, tanpa merasa perih. Wajah kembali segar dan bisa beristirahat.

So, repurchase? Yes. Soalnya lumayan cocok buatku. Kenapa cocok buatku? Kulitku itu emang cenderung normal-oily jadi cocok-cocok aja, bentuknya yang water based, membuat kulitku terasa segar setelah pemakaian. Dan lagi, harga yang terjangkau serta mudah didapat, membuat NIVEA Make Up Clear Micellar Water bernilai lebih buatku. Wkwkwk, jujur amat aku yaaa.. So, how? It's your turn ladies!

Ini nih wajah tanpa make-up




Holla!! Udah lama ya ga nge-review skin care, muehehehe.. Emm, emang belakangan ini, karena lagi sibuk buat ujian profesi, aku ga sempat nyobain make-up apa-apa. Ga usah gitu, selama sibuk ujian, aku ga begitu memperhatikan kondisi wajah. Pfffft.. Mata panda semakin besar, jerawat dimana-mana dan kalo keluar rumah cuman pake pelembab dan baby powder. Sungguh, sepertinya aku totalitas banget gara-gara ujian ini.

Baca juga: 


Nah, seperti yang blogpost aku sebelumnya, setelah Beauty Talk with Mas Bubah Alfian, kami dibekali dengan beberapa 2 goodie bag dan 1 beauty box dari GuardianXNivea. Sebenarnya aku mendapat lebih dari ini, cuman begitu nyampe kostan, beberapa skin care langsung aku bagikan ke temen-temenku. *sunggguh, aku blogger dermawan. Aku lupa, itu kan bisa jadi bahan giveaway? Mbuahaha...

My new babies, Hazeeeek!

Jauh sebelum berkenalan dengan NIVEA Make Up Clear Micellar Water & NIVEA Double Effect Eye Makeup Remover, aku udah memakai Nivea Cream dan Nivea Essential Lip Care. Nah, sebenarnya sebelum event Beauty Talk with Bubah Alfian, aku mau beli  NIVEA Double Effect Eye Makeup Remover. Cuman, emang dasar udah rezeki, ya gimana pun caranya pasti dapat. Hehehe..

Baca juga:

Sukak kau lah dek, selfie aja pun terroooos!

Hwoookays! Sebelum aku nge-review kedasyatan dua ciptaan Nivea ini, aku mau selfie dulu, wkwkwk.. Biar sah. Di sini, wajahku masih full make-up ya, walaupun udah ga di-touch up lagi, tapi wajahku masih belum bebas dari make-up. Inget, it's a must ya ngebersihin wajah dari make-up biar ga jadi ladang suburnya jerawat atau bahkan penuaan dini. So, here we go!

Maafkan muka leceuk dan handuk di belakang ya :'D

Ciii...Luukk...Baaa..! hahaha, ALAY!

Ini dia NIVEA Double Effect Eye Makeup Remover depan dan belakang.

Pas awal-awal belajar make-up, adalah paling ribet untuk menghapus eyeliner dan mascara. Kayanya masih saja bersisa di daerah mata dan menambahi hitamnya mata yang sudah mata panda. wkwkwk.. Nah kebetulan, karena aku memakai kacamata, memakai eyeliner dan mascara adalah wajib hukumnya, agar mata terlihat tegas dan ga sayu.

Baca juga:

Sebelum ketemu NIVEA Double Effect Eye Makeup Remover, aku memakai baby oil atau handbody (kalo terpaksa aja) untuk menghapus eyeliner dan mascara, apalagi mascara waterproof. Kenapa? Kandungan minyak dapat memudahkan kita menghapusnya. Kalau pake pembersih muka biasa, ga mempan. Wkwkwk.. Selain itu, baby oil juga bagus untuk jaringan kulit yang tipis sekitar mata. Then I found NIVEA Double Effect Eye Makeup Remover! Yey!


Dari bentuk kemasan, dengan botol yang berukuran sedang, membuat dia mudah dibawa dan ga begitu memakan tempat. Botolnya terbuat dari plastik, jadi ga gampang pecah. Dengan tutupnya yang sistem puter, membuatnya ga mudah tumpah juga dan anak-anak juga ga mudah membukanya. Dari botolnya yang transparan terlihat cairan biru dan beningnya ga menyatu. Mungkin karena perbedaan massa jenis cairan (lah kok jadi ngarah ke pelajaran fisika ya? hahaha..)

Nah, kalo dari segi komposisi cornflower extract, NIVEA Double Effect Eye Makeup Remover bisa ngasih dua keuntungan:
1. Bisa menghapus make-up mata, bahkan yang waterproof tanpa diusap terlalu kuat.
2. Melembabkan kulit daerah mata yang cenderung lembut, sensitif dan tipis.
What a cool benefit! Walaupun begitu, lantas aku ga percaya sebelum nyoba. No try, Hoax! Hahaha..

Cara pemakaiannya juga mudah. Terlebih dahulu beli NIVEA Double Effect Eye Makeup Remover (hahaha, yaiyalah..) dan kapas. Lalu kocok dulu sampai menyatu, kemudian usapkan ke daerah mata secara lembut.

Qocoque dulu sampai menyatu!

Usap-usap manjaa...
Katanya, No pict = Hoax.

Awalnya ga yakin sih. Cuman dengan 1 kapas, 2 kali usapan dan 1 kali usapan untuk meyakinkan bahwa eyeliner dan mascara udah bersih, ya, i got this point! Eyeliner dan mascara, bener-bener tersapu sempurna dan ga perih di mata lho.. Mata pandaku memang semakin nampak. Dan, rumornya, NIVEA Double Effect Eye Makeup Remover juga bagus untuk membersihkan lipstick matte. Cuman, aku lupa, hanya mata saja yang aku bersihkan dengan NIVEA Double Effect Eye Makeup Remover. Hehehe..


Over all, NIVEA Double Effect Eye Makeup Remover bakalan jadi andalan pembersih make-up daerah mataku. Gimana ga, rasanya juga nyaman kok dimata. Kalo ditanya, Repurchase? Yes! Harganya juga masih terjangkau kok, around IDR 50K for 123mL ladies! Selain itu, termasuk skin care yang mudah didapat di drugstore kok. Jadi, yakin ga mau coba? 


Tuesday, 26 September 2017

Mas Bubahnya satu, ceweknya banyaak~ 

I still don't believe that I have met an International (very humble) make up artist, salah satu aset bangsa Indonesia. Bubah Alfian. So damnly excited!

I got 2 goodie bags from Nivea and a beauty box from Guardian.

Kira-kira 2 minggu yang lalu sebelum pengumuman ujian profesi, Medan Beauty Gram (MBG) Line Group ngasih tau event "MBGxNIVEAxBUBAHALFIANxGUARDIAN" dengan quota 25 seats! Sebenarnya ragu mau ikut karena event diadain setelah pengumuman. Lah aku takut, akunya ga lulus ujian profesi, jadi uring-uringan ikut event. Kan sayang. Kan gitu. Hahaha...


Tapi, hasrat ingin ketemu mas Bubah Alfian bener-bener dipuncak ubun-ubun. Yaudah, mumpung ada event ini, aku gas-kan aja (gitu kalo orang Medan bilang, wkwk..). Bodouuwaamatt lulus ato ga. Yang penting ketemu Mas Bubah Alfian.

Jeng.. Jeng. Jengg.. 
But, God made a good path for me. Puji Tuhan, aku lulus profesi dokter, one shoot! (entar aku ceritain sekalian sesudah Sumpah dokter ya!). Nah, makin menggebu-gebu lah hati ini ingin bertemu. Iya gimana, aku ngefans sama dia. Mhihihi..

Such a cute Phootbooth for this event


Today is showtime! Dengan barcode, eheee ga deng. Hahaha. Maksudku dengan dress code biru putih, karena dominan warna produk Nivea, aku melaju ke TKP Ring Road City Walk, Medan. Sedikit cerita, sebenarnya aku ga punya baju yang warna biru kaya birunya Nivea. Cuman, pas pulang kampung kemarin, aku sempat balik ke Pekanbaru, aku beli baju warna biru ini. Waow, alam pun ikut merestuiku ikut Event ini.

Baca juga: 

 

Jam 13.00, titik pertemuannya di Guardian, kami mulai registrasi, mengambil secara acak siapa group kami dan kami akan melakukan Make Up Race Challange. Jadi kami dibentuk dalam 5 kelompok kecil, dan aku dapat di kelompok "Chic" dengan theme make up aku lupa apa namanya, pokoknya make up remaja untuk ikut konser musik. Astaga, ga usah make up kaya gitu, nonton live concert aja aku ga pernah. Hahaha. Yaudah google-ing aja deh.

They're the leader for each teams.

Belanjaaaa kak, pilih aja kaaaaak....

Dengan voucher IDR 500k dan waktu cuman 15 menit, kami disuruh beli peralatan make up, karena dari awal kami cuman disuruh membawa brush kit. Oh ya lupa, kami juga diingatkan untuk pake sepatu yang nyaman. Tapi aku pake sepatu agak ada heels nya. Bayangkanlah gimana menderitanya betisku. Wkwkwk.. karena sejujurnya belum pernah ikutan make up race challenge gini. Alhasil, inilah belanjaan kami. Dan hebatnya, kami bisa beli 6 air mineral dan 2 permen karet. Wkwkwk..

Beli air mineral dan permen karet karena uangnya belom habis.
Horaaangg kayaaa.

Our "Chic" team's Stuffs!
"Chic" team yang pertama nyampe kasir. Hazek!


Setelah kelar, kami langsung dituntun ke Fifth Avenue Cafe lantai 3. Tapi, penampakkan Mas Bubah Alfian belum juga ada. Apa mungkin dia ga jadi datang? Pffftt..

Begitu sampai di lantai 3, kami mulai menghapus make up dan mulai make up sesuai dengan tema. Sungguh, tema make up yang ku punya ga pernah aku coba. HAHAHA! Aku takut jadi kaya badut, karena dulu awal-awal belajar make up, hasilnya kaya badut gengs! Makanya, selama kalian membaca blogpost ku ini, ga kan kalian temukan foto yang detail mengenai hasil make up ku. HAHAHA! Malu shaayyy...

Ready, Set, Go!
Dalam waktu 15 menit, kami menyelesaikan make up race challenge. Nah, di pertengahan lagi make up, one and only guess star has come. Iya, Mas Bubah Alfiannya datang. Oh my God, orang yang selama ini aku stalking-in, ada dihadapanku dan malah bertanya

"Itu tema make up-nya apa?" 

Dan aku menjawab spontan. Kemudian dia mengacungkan jempol ke arahku. HAHAHA! Dalam hatiku, itu jempol karena bagus, apa karena terlihat aneh ya? Wkwkwk.. Then, he moved to another group,

QnA with Mas Bubah Alfian

Setelah itu, kami dipanggil satu-satu ke depan sesuai dengan tema make up-nya untuk dinilai antar kelompok, oleh mas Bubah Alfian. Pas aku maju, mas Bubah Alfian nunjuk ke aku dan alis matanya naik.

"Matilah, pasti dia menilai aneh", HAHAHA!!

Finally, Group Flawless yang dipimpin mbak Puput, yang menang dan mendapat voucher IDR 500k dari Guardian. Enaknyaaaah...

Lansung datang ke peserta untuk ngejawab pertanyaan.

Setelah itu, kami QnA sama Mas Bubah Alfian, kira-kira ada 4 pertanyaan yang dijawabnya. Yang aku inget sih:

"Gimana sih cara milih foundation yang benar kak?"

"Dulu aku ngetes foundation dengan mengoleskan ke punggung tangan. 
Tapi sekarang lebih baik langsung kewajah atau leher".

"Kak, kakak kan udah International make up artist, kok tetep terlihat humble ya?"

"Ya gimana ya, kitaa down to earth aja. Kita kan ngejual jasa"

"Kak siapa sih inspirasi make up artist-nya?"

"ada itu, si (aku lupa), Dari new york, yang make up-in si Selena Gomez, dkk"

Ada Photobooth! They were my team.


Sorry, it's not my baby bump photo shoot :")

Setelah acara QnA, sesi pertama selesai foto-foto sama mas Bubah Alfian dan kami pun makan siang. Tapi, aku ga kepikiran ngambil makan siang. HAHAHA! Seketika aku kenyang ketika beberapa kali selfie bareng dia. Oh my God! He is totally humble, guys! Aku minta foto sama dia, malah dia yang ngajak selfie, dan itu beberapa kali foto, and even he made his duck face. Mas, why you so friendly Mas Bubah?

Hayoooo, irii yaaa.. Wkwkwk..


Nah di sesi ke dua ini, kami diajak make up class sama Mas Bubah Alfian. Pertama sih, dia nge-share gimana dia awalnya terjun ke dunia make up (kalo ga salah) keluarganya ga suka kalo laki-laki mainannya make up. Tapi dia kekeuh, menurutku dia orang yang yakin sama keputusannya. Dia memutuskan ikut karnaval Jember dengan berbagai kesulitan yang ada (panjang ceritanya guys). Dia sempat buka Salon juga di Jember. Kemudian, dia nekat mau ke Jakarta hanya dengan modal menjual laptopnya, aku lupa harganya, yang jelas taulah kita berapa harga laptop second kan ya? Cuman, kayanya Tuhan emang membuat jalan kesuksesannya agak sulit, tapi rasaku mas Bubah itu emang udah bawaan dari orok, baik, ada aja gitu bala bantuan yang datang ke dia. Dari mulai tempat tinggal hingga pinjaman make up kit yang diperlukannya untuk kontes gitu. Dan pada akhirnya, dia mencicipi hasil perjuangannya sampai sekarang.


He shared his own story. and there would be many up-down, sorrow and tears to get his own pride, for sure.
Mas Bubah patut dijadikan panutan.
Btw, kemarin aku juga searching gitu tentang dia, dan aku mendapati asal nama Bubah itu karena dari kecil, dia sering dipanggil Babu sama kawan-kawannya suka bersih-bersih gitu. Terus, dia ngerasa nyaman dengan panggilan itu (hem, aneh ya?), dia memakai nama itu cuman diganti aja jadi Bubah. Sungguh, he was nothing to be something.

Kelaaaar tentang pengalaman hidupnya, Mas Bubah masuk ke sesi make up class. Dia memilih 2 cewek dengan alis tipis dan alis yang sudah dibentuk tapi mau dihapus. Dia melukiskan alis mereka. Hasilnya bagus. Disela dia ngerjain alis, dia sempat bilang, 

"Make up artist di luar negeri agak aneh dengan bentuk alis perempuan Indonesia".

Semua sontak tertawa, HAHAHA!

 

Kemudian dia memilih 2 cewek lagi untuk di make up-in. Ah kalau aku yang dipilih, pasti ga ku hapus make up nya selama seminggu. Paling cuman bersihin belek mata doang, HAHAHA!

Pas sesi 2 ini ada juga QnA, dari 4 pertanyaan ada 2 pertanyaan pilihan dan itu diberi hadiah 1 paket produk Nivea. Aduh, gemesh! Dari sesi 2 ini dia ngejelasin:

Apa benar, membuat alis itu tergantung mood?
"Iya bener. Jadi kalo misalnya mood lagi ga bagus.
Usahakan tenangkan dulu mood-nya. (Seriously?)"


Gimana agar bibir kita ga hitam karena lipstick

"Sebelum dan sesudah memakai lipstik, kita gunakan LipBalm".


Gimana menyiasati make up pada pipi yang tembem? 

:Kita jangan terlalu meruncingkan highlight di hidung, buat agak lebar. 
Kemudian sedikit panjangkan alis kita".


Setelah QnA, sesi 2 pun selesai, diakhiri dengan foto-foto (lagi) sama mas Bubah Alfian. And lucky me, aku bisa foto pelukan sama dia. I can't explain how it was. Cuman, aku jadi berasa setingkat dengan Raisa, Wulan Guritno, Isyana dll. Aku memeluknya. Duh! I am your admirer, Mas Bubah. 

Hayooo, patah hati jilid 2. Wkwkwk..

Menurutku, Mas Bubah Alfian itu gigih, humble, have a high quality of make up skill, dan penampilannya yang down to earth. Aku ngarep, ga ada berita miring tentang dia dan dia bisa jadi make up artist pas aku nikahan nanti. HAHAHA!!

Thankyou Nivea, Guardian dan MedanBeautyGram, jadi jalan buatku ketemu dengan Mas Bubah Alfian dan aku (yang masih sangat belajar) bisa nambah ilmu tentang dunia make up. Thankyou For The voucher and goodie bag. See you next event!


Pre-shopping. Make-up still stunning.

Cuman aku yang sadar kamera. Mck!


Post-lunch! Kenyang banget kayanya ya :")


Entah kenapa aku milih aksesoris ini -_-"



Mas Bubahnya satu, ceweknya banyaak~ 

Seolah-olah candid.


Jarang-jarang mukaku masuk Instastory orang hebat.

Mbak MC nya kegencet ma aku :'D

Heboh + Remfong = yaaaa begini...


Dah..dah.. Lain kali kita foto bareng lagi ya gadis dan bumilkuuuu~