Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Monday, 30 January 2017

Uhuuuuk! Udah tahun 2017 nih. Apa kabar resolusi? Apa Menurunkan Berat Badan masih Trending Topic Your Life? Kalo masih, ayok selesaikan tahun ini. *Aku jarang serius, dan kali ini aku serius, beneran ngajak kamu semua. 


Untuk pertama kali, apa emang kamu udah tau, apa bener kamu itu gendut? Apa bener kamu itu mulai memasuki alam Obesitas? Nanti hanya karena kata-kata orang aja, terus kamunya ga pede. Soalnya, ada sih temen-temenku yang spesies begitu. Ga kurus, ga gemuk juga. Tapi diet mati-matian dan ga jarang jadi jatuh sakit. Duh! Mau sehat, kok jadi sakit sih? Pusing deh Hulk~~


Sebelum aku nulis terlalu banyak tentang Diet, dan jatuhnya kamu bosan, trus ngerasa aku cuman Omdo (Omong Doang), coba cek dulu dua hal penting ini:


1. Cara Menghitung BMI (Body Mass Index):

Berat Badan sekarang (Kg) / (Tinggi Badan x Tinggi Badan) (cm)  
Hasil gambar untuk klasifikasi bmi

2. Cara Menghitung Berat Badan Ideal:


Perempuan:
Berat badan ideal = (tinggi badan – 100) – (15% x (tinggi badan – 100))
Laki-Laki:
Berat badan ideal = (tinggi badan – 100) – (10% x (tinggi badan – 100))


Hasil gambar untuk menghitung berat badan

Nah, setelah ngedapetin hasilnya, yang ngerasa berat badannya udah ideal, Seelamaaatt!! Kamu beruntung. Kamu silahkan pergi dan menikmati hidupmu. Eits! Tapi bukan berarti suka-sukamu saja makan ya, harus dijaga. Serius ini. Wkwkwk..

Bagi kamu, yang, emmm...Berat Badannya out of the box, silahkan think cook-cook (Pikir matang-matang, haha..), apa sih bonus dari lemak-lemak yang terus lengket di kehidupanmu? Apa ada benefit dari kegemukan yang kamu alami? Yuk, kita sadari dulu. Diet tanpa kesadaran, adalah Omdo terbesar yang pernah ada.


Oh ya, sebelum melanjutkan ke postingan berikutnya, kita harus mengubah mind set dulu. Diet itu sejatinya bukan menahan lapar mati-matian, menahan haus mati-matian dan akhirnya kita yang mati. No way! Bukan itu. Diet itu proses untuk mengatur pola makan dan mengubah apa yang makan. Yang selama ini ngunyah secara membabi buta, nyemil-nyemil snack ga jelas, Please Stop! Kalo ga mau stop, aku yang pergi *lho?

Okay then, kita juga mesti mengubah mind set terhadap hal-hal yang akan lebih banyak kita konsumsi. Yuk cek deh di tulisanku sebelumnya Yok Buat Makan Buah Dan Sayur Jadi Kebiasaan, setelah itu aku akan cuap-cuap lebih banyak. Okay? See ya!



Thursday, 26 January 2017



Kira-kira waktu itu jam 8 pagi, Hanna hendak pergi menjalankan aktifitasnya sehari-hari, visite pasien. Tapi, dia mendadak menemukan se-bucket tulip putih di depan kamar kostnya, dibungkus dengan plastik transparan berwarna merah dan ikat pita putih berliris emas. Jadi nampak kontraslah warna tulip putih itu. Putih bersih.

Dia celingak-celinguk melihat sekitar kama kostnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya bunyi burung sayup-sayup terdengar, menjadi backsound paginya yang bisa dibilang, heran.

Didapatinya sebuah kartu kecil berwarna putih bernuansa vintage, ada gambar seorang anak perempuan bermain ayunan di tengah taman bunga, yang disekitarnya terdapat banyak kupu-kupu.

"8 bunga tulip putih, kesukaanmu.
Seperti angka 8, tidak terputus.
Dan kamu lebih anggun dari tulip.
Putih, ya itu kasih sayangmu.
Aku, orang yang selalu membutuhkanmu
Galih"

Hanna tertegun, terharu dan terbata. Paginya indah sekali, cahaya matahari juga sangat mendukung. Kemudian dia melihat tanggal berapa hari ini? Tidak, ini bukan hari jadian mereka.
Tak lama setelah Hanna melihat tanggal itu, Galih, sesosok lelaki yang selalu membuat dirinya berarti, menelfonnya.

"Sudah kamu lihat?", tanya Galih yang sedang menyetir mobil ke arah kostan Hanna.

"Yaps, tumben kasih aku bunga. Bunga kesukaanku pula. Ini pasti bukan tulisanmu, pasti tulisan mbak-mbak tukang bunganya. Sok romantis! ", mata Hanna masih berbinar. Ah, perempuan mana yang tidak terharu dikasih bunga, apalagi bunga kesukaannya. Sekalipun dia adalah spesies tomboy.

"Aku, Galih Ovelino, sudah 888 hari bersamamu. Apa yang tak ku tahu tentangmu? Makanan kesukaanmu? Aku tahu, pecel lele. Apalagi pecel lele simpang kampusmu dulu, kau bisa nambah 2 kali. Entah apa yang buat kau begitu menggilai lele itu. Ketakutanmu? Naik lift yang dindingnya transparan. Kamu takut ketinggian. Apa pelajaran paling tidak kau suka waktu kuliah? Aku tahu, biokimia. Kau sering TA waktu itu. Jurnalmu saja kawanmu yang mengerjakan. Dasar bandal! Apa sepatu yang cocok dikakimu? Aku tahu, kalo ga St.Yves, ya Buccheri. Seleramu langka dan tua.. Emm, wait. Aku mau masuk ke gerbang kostmu. Kamu ke depan yaaa.. Tuuutt..tuutt..tuuttt..", percakapan mendadak berhenti.

Ahhh, rona wajah Hanna tak terbilang merahnya. Senyum, tidak lepas menghiasi wajah mungilnya. Matanya yang bulat, hampir tertutup karena pipi yang selalu terangkat oleh senyum.

Hanna bergegas masuk ke kamar lagi, hendak memasukkan bunga tulip putih itu ke dalam vas bunga yang diisi air. Takut tulip putihnya layu. Sambil senyum-senyum dia mengisi air di vas bunga. Dimasukkannya 8 tangkai bunga tulip putih dan meletakkannya di atas meja kerjanya. Setelah itu, dengan membawa tas dan jas dokternya, dia beranjak pergi ke depan kost.

"Hai..", sapa Hanna yang masih senyum-senyum dan salah tingkah.

"Halaaah hann..hann.. Senyummu itu da bah. Macam baru dapat kiriman bunga", biasa Galih suka bercanda.

"Apaaann sihh.. Iya, aku baru dapat bunga. Kau ga pernah kan?", balas Hanna. Hanna pantang dipancing untuk ngobrol ngarol ngidul kaya begitu.

"Pernah donggg. Nih dia di depanku...", Galih mencolek dagu Hanna. Wajahnya memerah, lebih-lebih kepiting rebus.

"Huuhh, gombal.."

"Inilah cewek. Jujur dibilang gombal. Serius dibilang bohong. Gimana yok biar kau percaya?", Galih menurunkan kacamata Hanna sampai ke hidung, layaknya nenek-nenek.

"Ah udalaaahhh. Jangan buat aku terbang!", Hanna mencubit perut Galih.

"Aww, ga bisa. Kecuali kau terbang samaku. Kemana kita? Ke negara tujuanmu? German? Nepal?", dia membetulkan kembali posisi kacamata Hanna.

"Halaaah.. Eh tumben kasih bunga samaku? Dalam rangka apa? Kok tahu aku suka tulip?"

"Cintakuu, ini hari ke 888 kita pacaran. Iyaa, aku tau. Yang kau ingat cuman tanggal jadian kita. Tapi, bagiku beda. 888 itu angka yang keren. Tidak terputus. Dan aku selalu berharap, you are the only one my last...".

"Romantis banget nih bocah pagi-pagi..", ucap Hanna dalam hati.

"Eh, kau udah telat lho ini. Ini udah jam 8 lewat..bisa ngamuk nanti pasienmu kalo ga kau periksa. Ayok aku anterin", Galih meraih tangn Hanna. Tapi Hanna tidak bergerak.

"Nope. Ada kok temenku yang lain yang visite pagi ini. Biar dia aja duluan. Amanlah itu. Yuk duduk disitu dulu. Kau buru-buru ke kantor?", Galih menggelengkan kepalanya.

Hanna mengajak Galih duduk di kursi di teras rumah ibu kost. Mereka duduk berdampingan. Kira-kira 3 menit suasana hening karena Hanna nge-sms kawannya untuk menggantikan dia.

"Han, kapan kau punya waktu cuti?"

"Lah mau ngapain cuti? Ini juga baru awal tahun lhoo.. Cepet banget ambil cutinya..", Hanna mengkerutkan keningnya.

"Aku mau menyampaikan niatku pada orang tuamu..."
Hanna menatap Galih dalam-dalam. Entah ini bercanda atau tidak. Sangkin sering bercandanya, kadang-kadang Hanna tidak bisa membedakan mana serius mana ga.

"Are you kidding me?"

"Untuk satu ini hanya orang gila yang bercanda"

"Kau bukannya gila? Gila bercanda?"

Yaps, tidak main-main. Galih mengeluarkan sebuah cincin emas putih bermatakan rubia, dan sepertinya itu kebesaran untuk semua jari Hanna, kecuali jari kaki.

"Ini, kata mamaku, dikasih opung boruku ketika aku lahir. Katanya, ini amanah untuk calon istriku. Entahlah, aku pun ga tau sebermakna apa aku didalam kehidupannya, sampai-sampai cincin kesayangannya ini diberikan kepadaku.."

"Laluu? Kenapa kau tunjukkan samaku? Aku kan pacarmu. Pacar belum tentu jadi istri", Hanna mencoba tidak gegabah.

"Siapa bilang yang minta kau jadi istriku? Pede banget sihh..."

"so?"

"I wanna ask you more than be my wife. I need you to be a part of all my journeys. Aku berharap, namamu ada di raport anak-anakku nanti, di akta rumah dan tanah yang kita beli. Aku berharap, masakkanmu adalah jodoh lidahku. Kamu yang ku bawa saat-saat aku liburan bersama anak-anakku nanti. Kamu adalah tempatku berkeluh kesah dan bahkan ketika menangis. Aku mau dirawat dan merawat kamu. Kamu yang ku peluk saat aku tidak mendapatkan ketenangan dari dunia ini. The point is, be my half.."
Hanna menatap ke depan, ke hamparan kebun anggreknya ibu kost. Entah apa yang menjadi fokusnya disitu. Hanna termangu kaget.

"Maaf, kalo aku mengejutkanmu pagi-pagi begini. Ini sudah ku pikirkan matang-matang. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku akan melindungi dan membahagiakanmu. Aku akan berusaha semaksimal mungkin, tidak akan mengecewakan orangtuamu, membuat mereka tidak akan menyesal anak perempuan satu-satunya aku bawa dalam keluarga besarku.."

Hanna membuka handphonenya, kebetulan lusa ada libur dua hari. Hati dan otaknya berusaha untuk berfikir jernih.

"Lusa aku libur, tapi cuman dua hari...", singkat Hanna.

"Sehari pun tidak apa-apa, yang jelas, aku mau ketemu orangtuamu. Aku tidak ingin kehilangan kamu, Han.."

"Okay.."

"mean?"

Hanna tersenyum kecil dan dia menyodorkan tangan kanannya.
"Mau kau mencobakan cincin itu dijariku? Soalnya kayanya ga muat sama jari-jariku.."

Tanpa berpikir panjang, Galih memasangkan cincin itu di jari Galih. Semua kelonggaran, paling yang hampir muat di ibu jarinya.

"Dijempol gapapa ya? Kalo ga nyaman, lepas aja. Yang penting lusa akan menjadi hari bersejarah buatku!", ucap Galih penuh semangaaaat.

"Hahaha iya sayang, thankyou for being like this. Thankyou for giving all the things. It's more than my expectation. Aku ga yakin bisa jadi istri yang baik. Aku akan memberikan yang terbaik buat kita. I promise, Aku akan belajar untuk teman hidupku.."

Untuk setelah sekian lama, Mata Galih berkaca-kaca bahagia. Otot-otot disekitar mulutnya kaku tidak bisa bergerak. Mungkin faktor kaget itu. Terakhir dia begini ketika Galih melihat Hanna sumpah dokter satu setengah tahun lalu. Selain cerdas, Hanna juga supel dan easy going. Galih mendapatkan hati Hanna seperti mendapatkan berkat yang tak terhingga. Cinta benar-benar indah dikehidupannya.

Untuk kesekian kalinya, Hanna dibuat begitu berarti oleh Galih. Selain menjadi pria yang mapan dan pekerja keras, Galih tidak pernah lupa untuk berkabar pada Hanna walau sesibuk apapun, memeluk Hanna ketika Hanna benar emosi ketika mereka bertengkar, menjadikan Hanna sebagai prioritas, menjadikan Hanna wanita terbahagia.

Mereka berdua sama-sama seperti mendapat berkat yang tidak terhingga. Saling merawat cinta yang dititipkan kepada mereka. 8 tulip putih, cinta yang anggun dan suci yang tidak terputus oleh apapun, kecuali kematian.

Wednesday, 25 January 2017

[Anak Kota Pulang Kampung]
Belakangan ini, Medan lagi dingin banget ya, berasa lagi di daerah Tapanuli Utara. Brrrr... Jadi keinget lagi dengan liburan akhir tahun lalu.

Bentar, kayanya sedap nih nyeruput teh manis anget + nyelupin roti Regale..


Rumah Doa Segala Bangsa Bukit Gibeon Sibisa masih terbilang baru, diresmikan tanggal 14 Mei 2016. Akupun mengetahuinya dari beberapa teman yang udah pernah ke sana duluan. Jadi jiwa panjang kaki ku, keluar begitu saja. Rasa penasaran ku juga meningkat pesat. Intinya, ga mau ketinggalan sih, wkwkwk...

Iya, aku kemarin ngotot sekali untuk mampir ke Rumah Doa Segala Bangsa Bukit Gibeon Sibisa, padahal dari segi pemetaan, bisa saja aku dan keluarga melewati jalan Tele dari Pulau Samosir untuk menuju Tarutung. Tapi, panjangnya kakiku ga bisa dilawan. Kami pun menurutinya. Hahaha..

Seperti biasa, karena kami sebelumnya nginap di Pulau Samosir, kami pun menyeberangi Danau Toba sekitar 1 jam lebih. Pemandangannya, bolak-balik buat aku pangling loh ya. Setiap deru ombak kapalnya mengajak rinduku untuk tinggal. Halah, bahasaku rumit ya? Pokoknya, Danau Toba itu cantik dan sungkan untuk ditinggalkan.

Sesampainya kami di Ajibata, kami bergegas ke Desa Parsaoran, tempat berdirinya Rumah Doa Segala Bangsa Bukit Gibeon Sibisa. Kira-kira 1 jam, kami sampai di Gapura Selamat Datang di Bukit Gibeon. Hemm, jalannya belumlah terlalu bagus, masih jalan tanah, berbatu dan belum di aspal. Sekitar 15 menit, mulai terlihat lingkungan beratap ungu. Dengan biaya IDR 5K/orang, kami masuk ke tempat, Rumah Doa Segala Bangsa Bukit Gibeon Sibisa.


Tips: Namanya juga tempat wisata rohani, ada baiknya kita memakai pakaian yang sopan ketika datang ke sana. Karena ada petugas yang akan mengingatkan kita. Jika pakaian kita terlalu terbuka, kita akan diingatkan dan dihimbau untuk menutupnya.

Pesona Rumah Doa Segala Bangsa Bukit Gibeon Sibisa itu ga langsung nampak. Kita harus berjalan kaki menujunya. Tapi tenang, capek tak terasa karena udara dan alamnya benar-benar segar. Mungkin salah satu tempat yang oksigennya masih murni ada di sini. Bernafaslah suka-sukamu, paru-parumu butuk hiburan seperti ini.

Oh ya, setiap kita berjalan di sekitaran Bukit Gibeon kalian akan diperdengarkan dengan lagu-lagu rohani. Kurang seger apa lagi hidup kita? Nikmat mana lagi yang kau dustakan?

Ya, Bukit Gibeon itu berdiri tegak dengan 3 Salib di puncaknya. Megah, anggun dan lagi-lagi terucapku "Ada ya yang begini di Indonesia?". Terdapat 2 pintu (kalo ga salah) untuk memasuki Rumah Doa. Tapi sayang ketika itu kami ga masuk karena ada ibadah. Kurang lengkap deh.
Add caption


Kami pun mengitari Rumah Doa itu. Aku kurang begitu tahu berapa luasnya, tapi kayanya hampir sama dengan luasnya Gereja Grha Maria Annai Velangkanni, Medan. Rumah Doa Segala Bangsa Bukit Gibeon Sibisa itu terlihat seperi kastil dengan ukiran ala-ala Eropa. Dindingnya berwarna abu-abu perak dan atapnya berwarna ungu, menjadikan tempat wisata rohani ini mudah dikenal dan susah dilupakan. Unik. Dia punya ciri khas.



















Sebenarnya Bukit Gibeon adalah sekolah misionaris atau Pusat Seminari gitu. Isinya antara lain: Gereja, Rumah doa. Menara doa, ruang retreat, penginapan, tempat parkir, kolam renang dan air terjun. Cocok banget untuk dijadikan destinasi retreat.

Nah, cerita tentang Kolam Renang dan Air Terjun Bukit Gibeon, kita harus keluar dulu dari area Rumah Doa Segala Bangsa Bukit Gibeon Sibisa. Pintu masuk Kolam Renang dan Air Terjun Bukit Gibeon berada di seberangnya. Aku lupa berapa biaya masuknya, tapi ga lebih dari IDR 20k deh. Pokoknya untuk liburan cantik ataupun backpacker, harganya bersahabat kok.



Dengan menempuh sekitar 10 menit dari pintu masuk, dengan jalan yang agak naik-turun, berliku, dan tampak sepertinya wilayah ini masih baru, masih dibukan lahannya, jalannya juga belum bagus, kita langsung menemukan Kolam Renang dan Air Terjun Bukit Gibeon itu.



Terdapat beberapa semacam balai kecil-kecil, dengan atap senada dengan atap Rumah Doa Segala Bangsa Bukit Gibeon Sibisa, kita mendapati lokasi kolam renang tadi. Air terjunnya memang dibuat menjadi sumber air salah satu kolam renang. Di sana terdapat 3 kolam renang. Aku kurang tau berapa kedalamannya, yang pasti sih kolam renang yang disamping kolam renang yang ada air terjunnya, cocok buat anak-anak, ga begitu dalam kok. Dingin banget! 

Astagaaaa, sayangnya waktu itu kolam renang lagi rame-ramenya. Tadinya udah ready kian untuk berenang, tapi karena padet banget, aku dan keluarga agak mengurungkan niat. wkwkwk.. Alhasil aku cuman foto-foto disana (Uhuk, wajib banget ya shaay).






Friday, 20 January 2017



Kemarin waktu liburan, aku sempat jalan bareng sama doi. Ada satu pertanyaannya yang buat aku tertarik untuk dibahas. Wkwkwk.. Terdengar aneh sih sama aku, karena baru pertama ditanyain begitu. Tapi emang doi orang tipe yang banyak bertanya, tingkat curiosity-nya itu terbilang tinggi. Makanya kalo ngomong sama doi, suka lupa waktu. #Eaaaaakk #LahAkuKokJadiNgebahasDoi? 

"Adek, apa isi tasnya?", sambil mengarahkan pandangan ke arah tasku.

Aku ga tau, apa sebenarnya selama ini para laki-laki pada tau ga, apa aja sih isi tas para cewek? Kenapa sih cewek itu, entah sudah tradisi atau emang kewajiban untuk bawa tas pas bepergian? Udahlah make-up-an lama, terus bawa-bawa tas segala. Ribet banget? Emang ga bisa ya sesimple laki-laki yang kebanyakkan ga bawa tas pas jalan-jalan. Hemmm...

Tas aku? Iya, aku ngebawa tas kemana-mana sejak SMP deh kayanya, cuman waktu itu hanya dompet, ponsel dan hal-hal ga penting lainnya. Finally, makin gede, makin ngerti what my almost need stuff in my life is dan kenapa mesti aku bawa..



1. Dompet
Ini wajib sih buatku. Dan emang jawaban pertamaku ketika ditanya doi, dompet aku jawab. Wkwkwk. It's a must lah. Karena apa-apa perlu pakai duit. Prinsip "Kali aja ada apa-apa dijalan" menjadi dasar kebiasaan ini. Semua kartu harus dibawa, kecuali kartu remi dan kartu keluarga aja yang ga diletak di dompet.

2. Ponsel + Power Bank
Separuh jiwaku, tinggal. Itulah yang bisa diungkapin kalo lupa bawa ponsel. Ya ga bisa dipungkiri deh, di jaman multitasking begini, ponsel jadi urutan teratas untuk dibawa. Tapi kalo aku lagi males males males banget, ponsel bakal aku tinggalin.

3. Sisir
Sejak jaman atuk adam (sangkin lamanya lah itu), sisir jadi sahabat terdekat cewek. Bahkan ketika mau turun dari mobil aja, padahal rambut ga kusut kena angin kaya naik motor, rambut mesti di touch up. Ada aja gitu yang kurang. Tapi aku pribadi sih, baru setengah tahun belakangan ini menjadikan sisir salah satu bawaan terpenting. (mesti sespesifik itu aku menjelaskannya?)

4. Lipstick
Wosssh! Ini barang keramat, bisa mengubah bibir yang pucat,  jadi bibir merona. Ini wajib dibawa. Kenapa? Aku pribadi, untuk daily make up, aku ga begitu suka pakai lipstick matte, lebih ke sheer atau satin lipstick.  So, kalo makan atau ngapain gitu, lipstick mudah hilang. Mesti dipakai beberapa kali. 
5. Bedak compact
Dari beberapa temen aku ngelihat, mereka wajib bawa bedak compact. Ada yang memang bedaknya ga tahan lama, ada yang memang wajahnya rada berminyak. Tapi aku pribadi, wajahku sejauh ini ga cocok sama bedak compact manapun (ga tau mau sedih atau gembira). Satu-satunya bedak yang cocok diwajah cuman bedak baby. Nah aku saranin buat produsen bedak baby, pleaseeee buatin bedak baby versi compact powder dong :")

6. Parfum
Ya namanya juga badan ya, selama kelenjar keringatmu aktif, pasti ngasilin keringat. Kalo buat aku, parfum itu wajib karena jarak kostan ke tempat kerja lumayan jauh, aroma badan juga kurang fresh. Dan untuk daily parfum ga mesti yang mahal-mahal kok. Aku cuman pake baby cologne. Kalo pake eau da toillete, kantong aku ga sanggup shaay!!

7. Tissue
For me it is not a must. Cuman kalo dunia sedang panas-panasnya, aku wajib bawa tissue. Keringatnya shaaay, kan ga lucu ngalir gitu ajaaa..

8. Catatan kecil + pena
Mungkin jiwa mamak-mamak ku mulai muncul. Jadi kadang, aku itu bawa-bawa catatan untuk nyatet to do list, karena sangkin banyaknya kegiatan (sok busy woman aku mah), aku takut lupa. Selain itu juga, kadang nyatet pengeluaran hari ini, biar tersusun rapi gitu deh dan lebih mikir kalo mau belanja lagi. Hayo-hayoo yang pengen hemat, coba deh bawa catatan kecil.


9. Pembalut
Ini sesuai masanya sih. Kalo emang lagi on period, aku bawa. Kalo ga, ngapain dibawa coba? Emang mau dagang? Mau buka toko? Berat-beratin tas deh.

10. Permen
I am on diet program. Fighting! Permen = P3K. Jadi kadang kalo lidah lagi terasa pahit atau kepala mulai oyong, aku langsung makan permen. Karena permen juga sumber glukosa tercepat, selain teh manis hanget.

11. Minyak Angin
Kalo lagi bepergian jauh, aku wajib bawa ini. No, bukan karena aku mabok darat atau laut, tapi minyak angin kayanya bikin efek psikologis, menenangkan aja. Kayanya ada yang kurang kalo ga bawa minyak angin. Wkwk..

12. Obat
Entahlah, sejauh ini sakit dadakan yang ga bisa ku tolerir dan sangat annoying adalah sakit kepala. Jadi, aku selalu bawa asam mefenamat atau ponstan. Kita tiba-tiba sakit setidaknya bisa menanggulangi sendiri, tidak menurunkan produktivitas dan tidak mengganggu orang lain. Kamu juga, coba cek, sakit terseringmu apa? Asma, ya bawa inhaler. Sakit hati, ya bawa gebetan (lho?)

13. Air minum
Dari kecil aku memang udah diajarin untuk sering minum air putih. Jangan sampe dehidrasi. Air minum adalah wajib. And for you information, air putih sangat-sangat-sangat ampuh menjaga kelembapan kulit dari dalam. Pokoknya, sahabat kulit bangt deh!

That's all my bag's things. Semua isinya itu tergantung kebutuhan aja. Beda cewek, beda isi tasnya. Dan malah ga sedikit kok, sangkin simplenya seorang cewek, dia ga bawa tas. Wkwkw.. Cuman kayanya sih, kurang lebih kaya yang aku mention diatas.


"Tas itu, sahabatmu, jelekpun, jangan lupa dibawa. Pria itu, gebetanmu, burukpun, tinggalkan saja", Nopipon.

Thursday, 5 January 2017

Durasi liburan kemarin rasanya kurang. Karena setelah aku google-ing dan nanya-nanya ke pak supir, Sumatera Utara banyak destinasi yang yahooood! (untungnya kemarin ga salah pilih supir deh). Ketika kita jalan beberapa jam, ada saja tempat wisata yang mubazir kalo dianggurin.


Aku dan keluarga memang memutuskan untuk memakai jalan darat untuk mencapai Tarutung (itu emang jadi destinasi utama). Kami start dari Medan menuju Parapat dulu. Perjalanan itu membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam. Pegel juga shaay.. Tapi itu semua bukan apa-apa dibanding dengan panorama yang disuguhkan ketika kami sampai di Parapat. Brrrrr.. Dingin!

Pasir putih di pinggiran Danau Toba
sekitar 
Hotel Inna Parapat 
Karena lagi masa libur dan takut kehabisan tempat menginap, kami segera mencari hotel. Dan finally, kami dapat kamar di Hotel Inna Parapat. Lucky us, kami dapat kamar hotel yang langsung berhadapan ke pinggiran Danau Toba. Dan itu, indah banget. Aku ga mau merelakan waktu pergi begitu saja dan membiarkan malam merenggut keindahan Danau Toba sore itu.

Dengan kita turun sedikit ke bawah, kita akan mendapatkan pesisir pinggiran Danau Toba, di situ banyak keluarga yang nyantai menikmati sore, anak-anak bermain pasir, atau bahkan membicara bisnis sambil makan (karena sempat terdengarku, bukan nguping loh ya...).

Narsis sama Indonesiku!! Duh, Indonesia cantiknya begini banget ya?
Sepertinya, suasanan dingin dan pemandangan terbenamnya matahari, berjodoh sore itu. Airnya yang sejuk seakan jadi teman kaki, relax boss! Sesekali aku bertemu beberapa orang yang sengaja datang dari luar Pulau Sumatra dan bahkan negara seberang untuk menikmati suguhan bumi pertiwi yang satu ini. 



Memang harganya agak pricey, tapi aku rasa sesuai kok dengan bonus panorama alam yang indah itu. Untuk pelancong atau turis yang memang mengutamakan kenyamanan hotel dan lebih pengen istirahat daripada jalan-jalan Hotel Inna Parapat bisa jadi sasaran empuk untuk dijadikan pilihan. Aku kurang tau emang setiap malam masa liburan saja atau memang sudah jadi salah satu bentuk service hotelnya, tiap malam ada disajikan makan malam untuk 2 orang per kamar hotel, kalau tambah satu extra bed, dapat 1 paket makan malam juga. Sistem makan malamnya prasmanan gitu. Uenaaak tenan lah shaay..

Cantik deh pokoknya!!
Waktu malamnya, dingin semakin suka-sukanya menyusup kulit. Kami berinisiatif mencari penghangat. Kami berjalan agak ke kota dan mendapati sebuah kedai kecil yang menyuguhkan Bandrek, TST, dan kudapan-kudapan sederhana lainnya untuk pengusir lapar. Ah, malam itu semakin favorit, sungkan untuk dijadikan memori. Wkwk.. 

Berhubung jaringan rada lelet di daerah sana, aku sedikit berjalan ke arah pinggiran Danau Toba. Ya kali aja dapat jaringan yang lebih kuat. Tapi, ketika aku sampai di sana, gadget agak aku anggurin, aku terhipnotis dengan udara Danau Toba malam itu dan mengajakku untuk flashback dengan kejadian selama 2016 kemarin dan apa yang menjadi to do list aku di tahun 2017. Duh, sepertinya ada beberapa resolusi 2016 yang belum kelar dan jadi PR lagi di tahun 2017. Intinya sih di tahun 2017 ini aku lebih bertanggung jawab dan berani keluar dari zona aman. Wooohooo, PR aku, beraaattt...beraaaat... Hahaha..

Pemandangan dari salah satu sudut Hotel Inna Parapat.
Kami hanya menginap satu malam, dan besoknya kami akan menyebrang ke Pulau Samosir. Pagi itu, aku rela mandi pagi-pagi buta, walaupun kedinginan, supaya cepat bergegas ke Pelabuhan Ajibata. Kenapa? Tips ya: Kalo masa liburan, bagusan kita datang jauh lebih awal dari jadwal keberangkatan Kapal penyebrangan ke Samosir. Soalnya bakal panjang antrian mobil yang akan disebrangkan ke Pulau Samosirnya. Kan sayang waktunya. Selama menunggu kita bisa kok menikmati pemandangan daerah Pelabuhan Ajibata. Duh, I am Falling in Love again! (To be continued)

Hotel Inna Parapat tempat bapakku, Jokowi, nginep kemarin.


Wednesday, 4 January 2017


Pemandangan Rura Silindung dari Salib Kasih, Tarutung.
Kemarin, aku sempat koas (magangnya dokter muda) di kampung orang. Entah kenapa, seketika itu juga, aku teringat pertanyaan-pertanyaan yang lumrah dipertanyakan ketika sesama suku Batak saling bertemu. "Kamu orang Batak? Boru apa? Hutabarat darimana? Ga pernah ke kampung asalmu?"

Aku, bingung. Setiap aku menjawab kampung asalku, mereka tertawa dan memandangku aneh. Tapi jaman udah canggih, aku search. Hahaha, internet lebih tau darimana asalku. Seharusnya aku menjawab, "Aku berasal Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatra Utara". Wajar mereka sedikit mengernyitkan dahi, ternyata jawabanku salah.

Pohon-pohon yang usianya lebih senior dariku.
Lalu, pertanyaan itu melahirkan kangen. Kangen pada tempat yang sebelumnya tak pernah benar-benar ku pijak. Aku cuman tau namanya, jalurnya ke sana pun, samar-samar buatku. Sedih? Iya. Tapi yang lebih sedihnya, aku kangen pada hal yang tidak pernah ku lihat sebelumnya.

Seiring memang takdir rejekiku untuk ambil cuti koas, aku memutuskan untuk pergi ke kampung asal bersama keluarga. Bak gayung bersambut, mereka sekata denganku. Kangen itu, mulai terlihat  indah. Semangat itu, menggebu-gebu. Sebentar lagi, kampungku akan ada di depan mata!

Kami tidak langsung ke sana. Kami memilih jalur darat untuk mencapai daratan yang katanya sejuk, indah dan banyak cerita itu. Ah penasaranku semakin memuncak. Seindah apa sih?

Sepanjang perjalanan, kami sempat berhenti dan menginap di beberapa destinasi kebanggaan orang Batak seperti Parapat, Pulau Samosir, Balige, Siborong-borong, dan beberapa tempat lainnya. Aku yang biasanya tertidur ketika dalam perjalanan, kini lebih memilih untuk tetap tidak terpejam, tak ingin mengabaikan pemandangan yang tak pernah ku lihat di perantauan. Mataku benar-benar dimanjakan. Paru-paruku seperti di ruang kebebasan menghirup oksigen murni. Dan hingga sampailah kami di daratan yang penuh pesona itu. Dingin dan lapar adalah hal pertama yang menyusup otakku. hahaha...

Pemandangan terbitnya matahari di Tarutung, sehari sebelum tahun baru 2017. Cantik kali bah!

Tarutung. Itu dia kampung asalku, asal margaku. Di salah satu kecamatannya, Sipoholon, di situlah cikal bakal munculnya marga Hutabarat. Sebelumnya orangtuaku jarang ke sini, jadi mereka tidak begitu tahu dengan kota ini.


Kotanya tidaklah luas, tapi terlihat padat. Tarutung dibelah oleh sungai Aek Sigeaon. Malam-malam ada banyak lampu yang menerangi. Banyak juga tempat makan di sekitarnya, banyak cerita terbentuk di sana. 

Disetiap perbatasannya, dipeluk bukit-bukit, setiap tapak kakiku diikuti penambahan tabungan kangen pada kota ini. Duh, Tarutung ini kecil-kecil menggemaskan, pikirku. Cocok untuk dikangenin.

Aku tidak bisa mengelakkan penilaian tentang bagian bumi yang memang menyajikan pemandangan indah itu. Suasananya yang sejuk bener-bener minta dirindukan. Setiap seruput hangatnya bandrek, ingin dikenang. Setiap kupasan Kacang Sihobuknya mengundang kata. Ada saja yang ingin diceritakan, tanpa mengenal gemercik kedinginan.

Salib Kasih, Taruntung, Tapanuli Utara, Sumatra Utara
Ah, rinduku terobati. Panorama yang tak ku sangka itu, masih terbayang ketika aku pulang ke perantauan.

“Ada ya pemandangan seperti itu di Indonesia, kampungku pula? Kenapa aku ga dari dulu kepikiran ke sana? Emmm, tapi belum telat kok ya?", itu yang spontan terdengar dari hati.

Tentang segala cerita, kesan, dan suasana Tarutung akan menjadi salah satu point yang ku kangenin dalam hidup. Merindukan Tarutung adalah kewajiban yang ada tanpa aku sadari. Tarutung, tempat penaruh peluh yang teduh tanpa keluh yang mesti ku basuh

Channel NewAsia dan PicMix lagi ngadain kompetisi menulis nih dengan tajuk #LagiKangen Story. ceritain tentang apa saja yang kamu kangenin dan submit di:

http://www.channelnewsasia.com/news/specialreports/cnabringsyouhome

 Bagi cerita yang terpilih akan dijadikan film oleh Channel NewAsia. Wohoooo, keren banget ga sih? #LagiKangen #CNABringsYouHome #CNAxPicMix



Sunday, 1 January 2017



Sebelumnya, 
Salam Hangat dari Tarutung! 
Ini sebenarnya tulisan akhir tahunku, cuman telat sehari berhubung aku emang totalitas menikmati liburan. Hahaha.. (Liburan pun, butuh totalitas, bagiku

Refleksi? 
Aku ga diciptakan dengan ilmu politik yang yahuuud banget! Makanya, aku ga mau ngomentari tentang apa yang sudah dikerjakan Pak Ahok sehingga beliau sudah menggemparkan Indonesia. Karena nanti ujung-ujungnya bakalan ga enak dan akan disalahartikan dengan isi kepala yang membaca tulisanku ini. Apalagi, aku yang notabene seiman dengan Ahok. Susah.

Kenapa aku tertarik nge-post ini?
Jadi kemarin, aku kayanya entah kena apa di Salib Kasih, Tarutung, Sumut, setelah mendengar khotbah yang temanya "Tuhan adalah pelindungku". Mendadak aku teringat sama Ahok. 

Ya, Ahok. 
Aku ga mau ambil pusing dengan perbuatannya itu. Ku rasa dia cukup Gentle dengan apa yang diperbuatnya. Ya, dia bertanggung jawab. Dia ga lari. Dia menghadapi masalah, sob! (Catet!). Bagiku kalo pun dia harus dihukum, hukumlah. Bukan kah Indonesia itu negara konstitusi? Bukankah Indonesia negara yang menjunjung tinggi nilai hukum? Bukan hukum rimba kan? Jadi kalo menurut hukum, beliau harus diberi sanksi, silahkan.

Tapi satu Pak Ahok, yang mau ku kasih samamu, sebagai hadiah tahun baru. Emmm, mungkin ini adalah ayat yang udah pernah Pak Ahok baca. Secara, nurani ku bilang, imanmu lebih kuat dariku. 

Mazmur 16:8
"Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah"

Aku pernah terpuruk juga, tapi masalahku tak seberat kau punya, pak Ahok. Masalahku tak perlu seantero nusantara ini yang mengurusi, cuman aku dan Tuhan lah yang tau. Hahaha.. Cuman, pengalamanku ya pak, aku ditunjukkan dengan satu ayat Alkitab itu. Dan itu jadi peganganku sampai sekarang. 

Kenapa aku mau kasih ayat itu samamu? 

Ku tengok di tipi, muka kau agak lesu. Agak kurusan pulak bah. Sialnya, aku makin gendut pula selama liburan ini pak (Lah aku kok malah curhat?) Tapi pak, aku salut samamu, macam tak ada takutmu bah!

Aku jatuh cinta. 

Tahun ini, aku semakin jatuh cinta padamu, Pak Ahok. Bukan karena kau ganteng, putih, tinggi, atau bahkan anak sulungmu yang tjakep itu. Enggak. Aku jatuh cinta pada imanmu. Kuat, taat dan tak pernah gentar dengan dunia. Imanku tak bisa mengatakan Imanmu adalah yang terbaik, karena aku bukan Tuhan. Aku cuman manusia yang "melihat" tangan Tuhan bekerja diatasmu. Dan itu semoga semakin mengukuhkan imanku di dunia ini. Dan semoga iman kalian, juga ya :)

Jika aku hidup di masa mudamu, pasti aku berharap sekali dipertemukan dengan sosok sepertimu, pak Basuki karena anda pantas diperjuangkan. Anda benar-benar panutanku untuk belajar memikul Salib, yang memang
nyatanya tidak mudah.

Aku ingin punya iman setangguh punyamu. Aku ingin punya pendirian sekokoh punyamu. Aku ingin punya langkah seberani punyamu. 
Aku suka caramu marah pada yang salah. Aku suka caramu merangkul mereka yang susah. Aku suka caramu mendegar mereka yang penuh peluh dan keluh. Aku suka caramu berpikir panjang itu. Loveable banget. Pak Ahok patut dijadikan role mode kehidupan. 
Entah tulisan ini akan sampai padamu, aku ga tahu. Selamat tahun baru 2017, Pak Ahok. Kami yang mencintaimu, mendoakanmu.