Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Thursday, 26 January 2017

[Fiction] 8 Tulip Putih



Kira-kira waktu itu jam 8 pagi, Hanna hendak pergi menjalankan aktifitasnya sehari-hari, visite pasien. Tapi, dia mendadak menemukan se-bucket tulip putih di depan kamar kostnya, dibungkus dengan plastik transparan berwarna merah dan ikat pita putih berliris emas. Jadi nampak kontraslah warna tulip putih itu. Putih bersih.

Dia celingak-celinguk melihat sekitar kama kostnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya bunyi burung sayup-sayup terdengar, menjadi backsound paginya yang bisa dibilang, heran.

Didapatinya sebuah kartu kecil berwarna putih bernuansa vintage, ada gambar seorang anak perempuan bermain ayunan di tengah taman bunga, yang disekitarnya terdapat banyak kupu-kupu.

"8 bunga tulip putih, kesukaanmu.
Seperti angka 8, tidak terputus.
Dan kamu lebih anggun dari tulip.
Putih, ya itu kasih sayangmu.
Aku, orang yang selalu membutuhkanmu
Galih"

Hanna tertegun, terharu dan terbata. Paginya indah sekali, cahaya matahari juga sangat mendukung. Kemudian dia melihat tanggal berapa hari ini? Tidak, ini bukan hari jadian mereka.
Tak lama setelah Hanna melihat tanggal itu, Galih, sesosok lelaki yang selalu membuat dirinya berarti, menelfonnya.

"Sudah kamu lihat?", tanya Galih yang sedang menyetir mobil ke arah kostan Hanna.

"Yaps, tumben kasih aku bunga. Bunga kesukaanku pula. Ini pasti bukan tulisanmu, pasti tulisan mbak-mbak tukang bunganya. Sok romantis! ", mata Hanna masih berbinar. Ah, perempuan mana yang tidak terharu dikasih bunga, apalagi bunga kesukaannya. Sekalipun dia adalah spesies tomboy.

"Aku, Galih Ovelino, sudah 888 hari bersamamu. Apa yang tak ku tahu tentangmu? Makanan kesukaanmu? Aku tahu, pecel lele. Apalagi pecel lele simpang kampusmu dulu, kau bisa nambah 2 kali. Entah apa yang buat kau begitu menggilai lele itu. Ketakutanmu? Naik lift yang dindingnya transparan. Kamu takut ketinggian. Apa pelajaran paling tidak kau suka waktu kuliah? Aku tahu, biokimia. Kau sering TA waktu itu. Jurnalmu saja kawanmu yang mengerjakan. Dasar bandal! Apa sepatu yang cocok dikakimu? Aku tahu, kalo ga St.Yves, ya Buccheri. Seleramu langka dan tua.. Emm, wait. Aku mau masuk ke gerbang kostmu. Kamu ke depan yaaa.. Tuuutt..tuutt..tuuttt..", percakapan mendadak berhenti.

Ahhh, rona wajah Hanna tak terbilang merahnya. Senyum, tidak lepas menghiasi wajah mungilnya. Matanya yang bulat, hampir tertutup karena pipi yang selalu terangkat oleh senyum.

Hanna bergegas masuk ke kamar lagi, hendak memasukkan bunga tulip putih itu ke dalam vas bunga yang diisi air. Takut tulip putihnya layu. Sambil senyum-senyum dia mengisi air di vas bunga. Dimasukkannya 8 tangkai bunga tulip putih dan meletakkannya di atas meja kerjanya. Setelah itu, dengan membawa tas dan jas dokternya, dia beranjak pergi ke depan kost.

"Hai..", sapa Hanna yang masih senyum-senyum dan salah tingkah.

"Halaaah hann..hann.. Senyummu itu da bah. Macam baru dapat kiriman bunga", biasa Galih suka bercanda.

"Apaaann sihh.. Iya, aku baru dapat bunga. Kau ga pernah kan?", balas Hanna. Hanna pantang dipancing untuk ngobrol ngarol ngidul kaya begitu.

"Pernah donggg. Nih dia di depanku...", Galih mencolek dagu Hanna. Wajahnya memerah, lebih-lebih kepiting rebus.

"Huuhh, gombal.."

"Inilah cewek. Jujur dibilang gombal. Serius dibilang bohong. Gimana yok biar kau percaya?", Galih menurunkan kacamata Hanna sampai ke hidung, layaknya nenek-nenek.

"Ah udalaaahhh. Jangan buat aku terbang!", Hanna mencubit perut Galih.

"Aww, ga bisa. Kecuali kau terbang samaku. Kemana kita? Ke negara tujuanmu? German? Nepal?", dia membetulkan kembali posisi kacamata Hanna.

"Halaaah.. Eh tumben kasih bunga samaku? Dalam rangka apa? Kok tahu aku suka tulip?"

"Cintakuu, ini hari ke 888 kita pacaran. Iyaa, aku tau. Yang kau ingat cuman tanggal jadian kita. Tapi, bagiku beda. 888 itu angka yang keren. Tidak terputus. Dan aku selalu berharap, you are the only one my last...".

"Romantis banget nih bocah pagi-pagi..", ucap Hanna dalam hati.

"Eh, kau udah telat lho ini. Ini udah jam 8 lewat..bisa ngamuk nanti pasienmu kalo ga kau periksa. Ayok aku anterin", Galih meraih tangn Hanna. Tapi Hanna tidak bergerak.

"Nope. Ada kok temenku yang lain yang visite pagi ini. Biar dia aja duluan. Amanlah itu. Yuk duduk disitu dulu. Kau buru-buru ke kantor?", Galih menggelengkan kepalanya.

Hanna mengajak Galih duduk di kursi di teras rumah ibu kost. Mereka duduk berdampingan. Kira-kira 3 menit suasana hening karena Hanna nge-sms kawannya untuk menggantikan dia.

"Han, kapan kau punya waktu cuti?"

"Lah mau ngapain cuti? Ini juga baru awal tahun lhoo.. Cepet banget ambil cutinya..", Hanna mengkerutkan keningnya.

"Aku mau menyampaikan niatku pada orang tuamu..."
Hanna menatap Galih dalam-dalam. Entah ini bercanda atau tidak. Sangkin sering bercandanya, kadang-kadang Hanna tidak bisa membedakan mana serius mana ga.

"Are you kidding me?"

"Untuk satu ini hanya orang gila yang bercanda"

"Kau bukannya gila? Gila bercanda?"

Yaps, tidak main-main. Galih mengeluarkan sebuah cincin emas putih bermatakan rubia, dan sepertinya itu kebesaran untuk semua jari Hanna, kecuali jari kaki.

"Ini, kata mamaku, dikasih opung boruku ketika aku lahir. Katanya, ini amanah untuk calon istriku. Entahlah, aku pun ga tau sebermakna apa aku didalam kehidupannya, sampai-sampai cincin kesayangannya ini diberikan kepadaku.."

"Laluu? Kenapa kau tunjukkan samaku? Aku kan pacarmu. Pacar belum tentu jadi istri", Hanna mencoba tidak gegabah.

"Siapa bilang yang minta kau jadi istriku? Pede banget sihh..."

"so?"

"I wanna ask you more than be my wife. I need you to be a part of all my journeys. Aku berharap, namamu ada di raport anak-anakku nanti, di akta rumah dan tanah yang kita beli. Aku berharap, masakkanmu adalah jodoh lidahku. Kamu yang ku bawa saat-saat aku liburan bersama anak-anakku nanti. Kamu adalah tempatku berkeluh kesah dan bahkan ketika menangis. Aku mau dirawat dan merawat kamu. Kamu yang ku peluk saat aku tidak mendapatkan ketenangan dari dunia ini. The point is, be my half.."
Hanna menatap ke depan, ke hamparan kebun anggreknya ibu kost. Entah apa yang menjadi fokusnya disitu. Hanna termangu kaget.

"Maaf, kalo aku mengejutkanmu pagi-pagi begini. Ini sudah ku pikirkan matang-matang. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku akan melindungi dan membahagiakanmu. Aku akan berusaha semaksimal mungkin, tidak akan mengecewakan orangtuamu, membuat mereka tidak akan menyesal anak perempuan satu-satunya aku bawa dalam keluarga besarku.."

Hanna membuka handphonenya, kebetulan lusa ada libur dua hari. Hati dan otaknya berusaha untuk berfikir jernih.

"Lusa aku libur, tapi cuman dua hari...", singkat Hanna.

"Sehari pun tidak apa-apa, yang jelas, aku mau ketemu orangtuamu. Aku tidak ingin kehilangan kamu, Han.."

"Okay.."

"mean?"

Hanna tersenyum kecil dan dia menyodorkan tangan kanannya.
"Mau kau mencobakan cincin itu dijariku? Soalnya kayanya ga muat sama jari-jariku.."

Tanpa berpikir panjang, Galih memasangkan cincin itu di jari Galih. Semua kelonggaran, paling yang hampir muat di ibu jarinya.

"Dijempol gapapa ya? Kalo ga nyaman, lepas aja. Yang penting lusa akan menjadi hari bersejarah buatku!", ucap Galih penuh semangaaaat.

"Hahaha iya sayang, thankyou for being like this. Thankyou for giving all the things. It's more than my expectation. Aku ga yakin bisa jadi istri yang baik. Aku akan memberikan yang terbaik buat kita. I promise, Aku akan belajar untuk teman hidupku.."

Untuk setelah sekian lama, Mata Galih berkaca-kaca bahagia. Otot-otot disekitar mulutnya kaku tidak bisa bergerak. Mungkin faktor kaget itu. Terakhir dia begini ketika Galih melihat Hanna sumpah dokter satu setengah tahun lalu. Selain cerdas, Hanna juga supel dan easy going. Galih mendapatkan hati Hanna seperti mendapatkan berkat yang tak terhingga. Cinta benar-benar indah dikehidupannya.

Untuk kesekian kalinya, Hanna dibuat begitu berarti oleh Galih. Selain menjadi pria yang mapan dan pekerja keras, Galih tidak pernah lupa untuk berkabar pada Hanna walau sesibuk apapun, memeluk Hanna ketika Hanna benar emosi ketika mereka bertengkar, menjadikan Hanna sebagai prioritas, menjadikan Hanna wanita terbahagia.

Mereka berdua sama-sama seperti mendapat berkat yang tidak terhingga. Saling merawat cinta yang dititipkan kepada mereka. 8 tulip putih, cinta yang anggun dan suci yang tidak terputus oleh apapun, kecuali kematian.

No comments:

Post a Comment