Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Monday, 20 February 2017

Saya, salah satu orang yang hidupnya yang didominasi oleh internet. Karena sejauh saya sebagai pengguna internet, banyak hal-hal baru dan yang tidak terduga, yang saya dapat dari dunia maya. Iya, sedikit banyak kehidupan sosial dan cara berpikir saya berkembang melalui internet. Apalagi sekarang jaringan 4G LTE XL semakin luas dan muanteeps, Wohoooo, makin sering saya up-date dengan informasi. Saya bersyukur, saya tidak terlambat untuk mengenal internet. Lalala...Uyeeeaay!!

Bercerita tentang KEBeragaman, kita tidak perlu mengacu pada hal-hal yang terlalu tinggi atau terlalu sensitif untuk diperbincangkan. Sederhananya saja, bagaimana beberapa akun sosial media baik instagram, facebook, twitter, dan yang lain, yang berkenan memberikan ruang bagi mereka-mereka yang sesungguhnya mungkin tidak mengenal apa itu internet. Dan kehadiran mereka memberi pelajaran buat kita.

WOW! Siapa sih mereka?
  
 Sepertinya ini cikal-bakal akun Ketimbang Ngemis.

Hingga suatu ketika, saya menemukan beberapa akun instagram yang bertajuk “Ketimbang Ngemis”. Mereka berbagi hal-hal yang hampir dilupakan. Mereka bercerita masalah sosial yang ada disekitar, entah itu kemiskinan, sakit penyakit, kesenjangan sosial, ketidakadilan dan sebagainya. Kebetulan, saya tipe orang yang sedikit baper (sensitif.red) terhadap hal-hal begitu. Makanya saya sangat apresiasi dengan akun-akun yang mau membahas hal-hal yang sering dianggap "lalu" oleh kebanyakkan manusia.

Kemudian akun Ketimbang Ngemis meluas ke daerah-daerah.

Saya salut bagi pemilik akun yang berinisiatif untuk membagi cerita mengenai keadaan sosial Indonesia, seperti mengangkat kisah seorang kakek-kakek yang masih berjuang berkeliling menjual pisang untuk mencari nafkah, seorang cacat fisik yang menjual balon untuk bertahan hidup, seorang yang sudah renta tapi masih mau berkeliling jadi tukang semir sepatu, atau perjuangan seorang anak untuk membiayai sekolah. Bagi saya, akun Ketimbang Ngemis sangat peka terhadap lingkungan dan pintar mencari objek untuk dijadikan cerminan hidup. Bahkan, tidak sedikit loh yang terbantu ketika kita nge-share usaha-usaha mereka.


Karena kebetulan saya berdomisili di Medan, saya lebih sering ngelihat akun ini.

Tidak dipungkiri, ada begitu banyak akun-akun media sosial yang lebih cenderung mengabadikan hal-hal yang bersifat mewah dan hedonisme. Namun, disamping itu kita diajak untuk bercermin pada akun “Ketimbang Ngemis”, apa saya sudah bersyukur? Apa saya pantas hidup sehingar bingar ini sementara di sana masih ada saudara saya yang makan pun masih sering absen? Apa seharusnya saya cuman diam dan hanya sekedar memberi "like", "love", "comment", atau bahkan cuman nge-share

Mumpung masih awal tahun, bagaimana kalau kita menumbuhkan hati yang lebih peka dan mau berbagi dengan keadaan sekitar tanpa mengadakan tawar-menawar dengan diri sendiri mengenai profit yang akan didapat? Lebih menggerakkan nurani dan meringankan tangan untuk membantu mereka. Tanpa memandang apa yang diberi mereka, tapi kita bisa mengapresiasi keputusan mereka untuk mengambil jalan "Berusaha daripada Ngemis". 

Bukan kah dengan berbagi, ada kebahagiaan yang nyata?


banner-main-square


Tahun ini, salah satu keburukkan dari diri yang sedang dalam proses ingin diubah adalah mengenyahkan rasa iri hati. Semakin menua, ada senja yang menyadarkan bahwa iri hati adalah sumber kebencian yang paling hakiki. 

Beberapa tamparan dari kata-kata juga membantu melenyapkan rasa iri hati. Belum lama, salah satu senior, yang aku rasa sudah cukup banyak merasakan asam garamnya kehidupan, berkata layaknya seorang sudah sepuh:

"Ini hidup pilihan. Mau jalan, jalan lah kau. Mau lari, lari lah kau. Mau duduk, duduk lah kau. Dari 3 cara itu, hasilnya beda-beda. Jangan kau duduk-duduk aja, tapi pengen sama bahagianya dengan yang udah capek lari, ngerti kau kan?"

Hahaha, agaknya Tuhan mengabulkan salah satu point doaku, menjadi pribadi yang lebih bijak. Tuhan baik ya! (Yaelah, Tuhan memang baik kaleusss..). Dia mengajarku dengan perkataan-perkataan yang legit dan pedas. Wuihh, imbang-imbang Ayam Richeese Factory level 5.

Aku pernah merasa iri hati,"Kenapa dia bisa gitu ya? Padahal dia kan begini...begitu..". Segala argumentasi aku karang-karang dengan kalimatku sendiri, secara spontan dan semangat. But, finally, it's useless. Aku membuang-buang waktu dan menambah pundi-pundi dosa. Lucu ya? Iya, setelah nyadar sih. Wkwkwk..

Ya memang nyatanya, penyadaran diri tentang "apa yang kau tabur, itu yang kau tuai" harus dimatangkan lagi. Berapa lama? Tentu jauh lebih lama dari durasi membuat dodol durian. Yaelah!




Sunday, 19 February 2017

Lalu dia menyenderkan kepalanya dibahu pria yang ada di sampingnya. Perlahan matanya tertutup, tapi tidak tidur, Menarik nafas panjang. Udara sore itu, mendung dan mendinginkan suasana yang ada.

"Bagaimana aku tadi ketika marah? Aku merasa jelek. Aku lupa untuk menahan mulutku, lupa memikirkan perasaanmu ketika aku luapkan semua."

Pria itu diam, menatap ilalang dari kejauhan.


"Maafkan aku. Aku takut kita begini, berbeda paham untuk waktu yang lama. Boleh aku melihat kamu tersenyum lagi saat kamu melihat aku?", dia mengangkat kepalanya dan mengarahkan kepala pria itu ke dia.

Pria itu tidak berekspresi apa-apa.

"Bisa kan kita membicarakannya baik-baik? Maaf, aku udah berperilaku seperti anak-anak. Tapi, temani aku untuk belajar lebih dewasa.."

Tiba-tiba pria itu membelai rambut wanita itu, "Aku telah memiliki dan dimiliki olehmu. Aku wajib menerima senyum dan marahmu. Maaf aku terlambat mengerti kamu. Biarkan aku belajar mengerti dan dimengerti hanya oleh kamu.."

Tuesday, 14 February 2017


Bercerita tentang lipstick mungkin ga bakalan ada habisnya. Ada yang milih karena warna, teksturnya, gimana coverage-nya, harganya mahal atau ga, tahan lama atau ga, bahkan dengan kriteria gimana aromanya. It's depend on you, sweet heart. Aku nyaranin, pilihlah kriteria mana yang buat kamu nyaman. Be yourself!

For me, warna dan tekstur sudah menjadi kriteria awal untuk memilih lipstick. Karena aku bukan tipe yang berani untuk bereksperimen warna. Dan kebetulan bibirku agak kering, I mean butuh lipstick yang tingkat kelembapannya baik. Salah satu lipstick yang aku pakai ya L'oréal Paris Color Riche R401 Flirty Berry Lipstick.


Sejarah aku tahu L'oréal Paris Color Riche R401 Flirty Berry Lipstick sama dengan bagaimana aku berjodoh dengan L'oréal Color Riche Matte Lipstick in Maple MochaAku menemukan L'oréal Paris Color Riche R401 Flirty Berry Lipstick di akhir tahun 2016, di saat mama mengunjungi anak gadisnya ini dan ironisnya anak gadisnya mengajaknya mencari lipstick, bahkan membeli langsung dua. Semoga keuangan negara tetap baik-baik saja pada waktu itu. Hahaha..

Ibarat kembar, setelah L'oréal Color Riche Matte Lipstick in Maple Mocha, I got L'oréal Paris Color Riche R401 Flirty Berry Lipstick to be my new baby. Yeay!! Setelah pencarian lama mengenai warna pink, L'oréal Paris Color Riche R401 Flirty Berry Lipstick menarik perhatianku. Ketika aku coba, dia berjodoh dengan bibirku. Ga norak dan nyaman di bibir. Aku terlihat kalem-kalem manja gitu deh. Dan lagi-lagi mbak SPG nya tersenyum melihat aku dan bibirku *Loh, aku kok jadi merinding gini?
   

Pro (s):
1. Menurutku, texturnya cukup mix dengan bibirku. Tetap melembapkan.
2. Full coverage. Sweet!
3. Warna pink-nya ga norak, tetep kalem di bibirku. Menjadi salah satu warna pink terbaik versiku.
4. Mudah dihapus, jadi ga perlu make-up remover. Simple kan?
5. Kemasannya yang cute buat jatuh cinta.

Con(s):
1. Memang melembapkan, tapi entah kenapa jatuhnya bibirku seperti baru makan pisang goreng, berkilau-kilau gitu. Hahaha..
2. Easy to be transferred :( Sangkin lembabnya, dia mudah pudar dan ketinggalan di gelas, di sendok, di pipi pacar (lho?). Jadi mesti sering-sering touch up
3. A little bit Pricey. Harganya sama dengan L'oréal Color Riche Matte Lipstick in Maple Mocha. Ulalala~

Repurchase?!
Dipertimbangkan. Karena kalo ada warna pink yang lebih contrast tapi tetep terlihat kalem, mungkin aku bisa pindah ke lain hati.





Monday, 13 February 2017


Aku mencuri satu kalimat hari ini, yang ku anggap Quote of the day. Bukan apa-apa, itu pernyataan nyentrik dan menarik. Ada pikiran yang baru buatku, hehehe..

"Kalau memang yang baik itu bisa tiba-tiba menyakitimu, bagaimana kamu seyakin itu jika yang jahat tidak akan pernah membahagiakanmu?"

Kurang lebih begitu isinya. Responku ketika membacanya adalah mengernyitkan dahi, tersenyum dan tertawa akan kenyataan sederhana itu. Kamu gimana? Samakah denganku? Wkwkw... Rasanya aku seharusnya tidak menghalangi atau bahkan menutupi kesempatan yang mungkin aka baik adanya.

Cerita sedikit mengenai hal yang teringat karena kalimat tadi..

Aku sadar bahwa aku adalah spesies manusia yang sering mencari aman, berada di zona mana, main aman, bertingkah aman dan semua serba aman. Jarang buatku mengambil keputusan untuk melangkah pada hal-hal yang tidak bisa ku perkirakan hasilnya. Raguku mendominasi, takutku membekap dan pikiranku diam ditempat.

Misalnya, aku pernah dekat dengan seorang yang sangat keras, kehidupan malam begitu lekat dengannya dan ketika aku mengingat dia hanya gelap yang terlintas. Haha, tapi entah kenapa aku bisa dekat dengannya. Lucu ya? Cuman aku tidak berani meneruskan dengan alasan, "hidupnya nanti akan buruk". Aku tidak memberikan kesempatan lebih dan aku mundur teratur.

Apakah aku jahat dan sok sudah menjadi pribadi yang baik, sehingga aku menilai kehidupannya dengan standart yang ku buat-buat? 

Namun sekarang, dia sudah berubah. Menjadi bapak yang semestinya dan hebatnya perubahannya di luar dari ekspektasiku. Menyesal? Tidak. Mungkin saja, jika dulu aku tetap bersama dia dan aku tidak punya harapan akan perubahan dia, aku tidak bisa mengubahnya menjadi lebih baik. Wanita yang sekarang menjadi pasangan hidupnya benar-benar punya keyakinan untuk merubahnya. Dan kini dia sudah menjadi pembahagia buat keluarganya. Yeay, aku ikutan bahagia!!

Kalo kamu, apa sama denganku?



Salah satu teman sejawat, seorang blogger juga, memberikan pilihan dalam status facebook-nya "Denial. Anger. Bargaining. Depression. Acceptance. Which part are you in? Hahaha". Selain itu, salah seorang teman blogger sekaligus seorang editor, nge-post satu persatu kata itu dan memberikan caption di setiap postingan instagram-nya. Entah itu adalah satu hal yang sedang nge-trend atau cuman kebetulan. Selidik punya selidik, 5 kata itu ada dalam buku On Death and Dying - Elizabeth Kubler-Ross, 5 steps of grief, dalam bahasa Indonesia 5 Tahapan kesedihan / kehilangan. Ah, ini menarik!

Sejauh aku bernafas, kehilangan adalah fase terberat. Entah itu kehilangan baju kesayangan, kehilangan banyak file foto karena laptop rusak atau bahkan kehilangan pribadi-pribadi yang teramat disayang. Susah menggambarkan hancurnya perasaan ketika faktanya air mata, gerutu dan melemparkan kesalahan pada orang lain, nyatanya tidak akan mengembalikan apa yang hilang. 



1. Penyangkalan. "Tidak, ini bukan bagianku! Ga mungkin aku!", itu reaksi pertamaku. Namun, aku tidak lama berada di fase ini. Semesta segera menyadarkanku bahwa "Kamu memang seharusnya sedih. Tak perlu malu, menangislah. Berikan kesempatan air mata menjadi obat pelega. Tidak ada air mata yang akan mengindahkan dirimu, jika kau tak berani menangis". Aku melangkahi fase ini. Aku lega, tapi belum beranjak.


2. Marah. Sedikit banyak aku menyalahkan diriku dan tidak jarang aku menyalahkan Semesta, "Untuk apa bertemu, toh juga dipisahkan? Perjumpaan yang indah, ga seharusnya begini. Hidup seharusnya ga sekonyol ini", atau kadang "Mungkin aku banyak salah, aku ga bersyukur, aku bukan orang pilihan karena aku terlalu jahat". Argumen-argumen pribadi menjadi sumber segala isak tangis yang ada. Ya, aku pernah sebodoh itu.



3. Tawar-Menawar. Kebetulan aku tipe orang yang sering berimajinasi akan segala kemungkinan yang ada. Over-thinker, maybe? "Tuhan, kalo Engkau kembalikan yang hilang itu, aku akan lebih baik menjaganya". Aku sering terlalu lama di fase ini. Aku berusaha mengadakan penawaran pada Tuhan agar sesuatu yang ku anggap baik itu, dapat kembali dan aku tidak akan merasa sesedih ini. Berharap segala bujuk rayuku dalam setiap "Kalau saja..." akan meluluhkan takdir pahit itu. Wkwkwk, maklum aja kali.


4. Depresi. Puji Tuhan pada Sang Gusti pemilik Semesta, aku diciptakan dengan hati dan logika yang seimbang. Tak sempat aku berfikir hal-hal praktis untuk melewati fase kehilangan. Aku masih lebih menyayangi harapan-harapan orang atasku. Dan itulah yang buat aku bangkit sejadi-jadinya. Oh beruntungnya aku :)


5. Penerimaan. Fase yang sangat teramat lama aku lalui. Namun kesadaranku masih penuh. Tidak ada pilihan lain, selain menerima dan melepaskan. Karena aku sering beranggapan bahwa jika hal yang hilang itu kembali, akan mengobati bilur-bilurku yang hampa. Tapi itulah sok taunya aku, menciptakan kebahagiaan dengan caraku sendiri. Konyol dan Bodoh. Seakan-akan Sang Gusti, Si Penciptaku, tidak tahu apa sesungguhnya yang membuatku bahagia. Dan kadang, aku malah berjudi pada dengan sang Gusti, "Ah, pasti ketika aku merelakan dia pergi, aku akan diberikan kebahagiaan yang baru". Padahal sesungguhnya pernyataan itu adalah nyata, tapi aku meragukannya. Aku lebih memilih bertahan pada hal yang aku anggap membahagiakan aku padahal sesungguhnya aku akan disuguhkan pada kebahagiaan yang lebih berlipat ganda. Maklum, manusiawi.

5 Steps of Grief, lima tahapan yang tidah mudah dan mungkin teramat berat, tapi sebenarnya menumbuhkan hal-hal baru dalam hidup, entah itu iman, pengharapan, pemikiran dan sebagainya. Itu semua tergantung kamu memandang dari sisi mana.

Setelah aku baca makna 5 tahapan ini, aku sadar aku terlalu lama stuck pada bagian bargaining dan acceptanceLalu, kamu biasanya paling lama di posisi yang mana?


Wednesday, 8 February 2017




Jeng..jeng.. udah lama ga nge-review something. Kangen juga. Tapi lebih kangen sama kamu kok bang, Uhuk! #BatukKeluarBeton (Lho?)

Lipstick, selalu jadi temen "penyegar" penampilan ciwi-ciwi. Ga sedikit yang ngira aku lagi sakit, karena aku lupa make lipstick. Akhirnya penampilan jadi ga maksimal, kelihatan pucat dan ga banget. Ulalala~

Kali ini, aku mau nge-review lisptick yang sering aku pakai sehari-hari. Dari yang paling aku sangat-sangat suka, sampai yang no matter how the contour, yang penting warnanya cocok sama kulit. 

Sebagai pengantar, di tulisan ini, kalian jangan heran, ga bakal kalian dapati bibirku berwarna merah atau pink terang. Kenapa? Emang ga cocok. Kalau aku pake warna merah atau pink manja, kesan wajahku jadi kaya "wanita penghibur" dan jatuhnya aneh. Freak, awkward dan menjijikan. Aku sangat-sangat ga pede. Aku itu, cocoknya pakai lipstik berwarna coklat muda-nude-pink redup-merah bata (ga ngerti aku menamakan jenis warna lipstick yang cocok samaku weeee, hahaha...)

L'oreal Color Riche Lipstick Moist Matte in Chocolat Rouge

Sebenernya ini lipstik baru aku beli pas akhir tahun 2016 lalu. Entah kenapa, aku ngerasa I am too late to know this stuff! Aku jatuh cinta pada warnanya. 

Awalnya aku ga pernah pake lipstik keluaran L'oreal sebelumnya, tapi pas waktu siap-siap mau ke puskesmas, seorang temen nge-touch up bibirnya dengan lipstik L'oreal Color Riche Matte Lipstick in Maple Mocha. Nah, tone warna lipstick-ku itu emang yang nuansa nude, merah-kecoklatan atau pinky-orange gitu. Kebetulan L'oreal Riche Matte Lipstick in Maple Mocha punya warna yang aku banget, merah bata - kecoklatan. Jadi kesannya tetep natural. Sangkin kepengennya, aku foto seri lipstiknya. And it's a much to be had for me!


Then, aku nge-hunting lipstick itu bareng mama, as my real make up guru. Mama mah nurut-nurut aja, malah bersyukur ngelihat anak gadisnya "berinisiatif" untuk beli lipstik. Huauauaua...

Aku ke counter L'oreal, dan langsung memilih L'oreal Color Riche Matte Lipstick in Maple Mocha, tapi mama kayanya kurang setuju, penilaiannya aku kaya ga pake lipstick, jatuhnya jadi agak pucat. Iya, aku nurut. Bagiku mata mama ga pernah salah. Hemm.. 


Aku tetep nyobain segala warna, entah udah berapa kali bibir dan tanganku jadi kelinci percobaan. Emang sadarnya susah nyari warna yang sesuai dengan seleraku. And finally, aku jatuhkan pilihan pertama pada L'oreal Color Riche Lipstick Moist Matte in Chocolat Rouge. It's loveable. Dan Emaaakku setuju. Apalagi mbak-mbak SPG nya juga mengacungkan dua jempol, apa ga makin pede aku? Wkwkwk. So, aku langsung nge-keep this one color.

Pro(s):
1. Dari segi warna, Maple Mocha lebih gelap dibanding Chocolat Rouge. So, I got Chocolat Rouge to be my lips-mate. Cocok untuk warna kulit yang agak kuning kaya aku.
2. Texture-nya nyaman di bibirku, ga buat kering, tetep ngerasa lembab.
3. Full coverage. Ga pecah-pecah.
4. Mudah dihapus, jadi ga perlu make up remover untuk menghapusnya.
5. Kemasannya yang berwarna gold-coral, jadi kesan berkelasnya L'oreal tetep lengket. Disalah satu sisi kemasan juga ada semacam petak persegi sebagai contoh warna lipsticknya.


Con(s):
1. Easy to be transferred :( Sangkin lembabnya, dia mudah pudar dan ketinggalan di gelas, di sendok, di pipi pacar (lho?). Jadi mesti sering-sering touch up. Dan, punyaku juga udah tinggal 3/4 deh kayanya itu. Agak boros ya?
2. Chocolat Rouge termasuk salah satu the most wanted color, jadi kadang susah ditemukan karena sering habis. Duh,
3. A little bit Pricey. Aku kemarin belinya sekitar harga IDR 120k - IDR 140k. Agak mikir sih kalo sering-sering nge-touch up nya.

Repurchase?!
Ga to the Lau. Aku suka, tapi rada boros. Tapi aku suka, cocok sama warna kulitku. Tapi...Tapi.. Kebetulan aku jarang bisa suka sama warna lipstik dan ga berani untuk bereksperimen dengan warna-warni lipstick, aku lebih memilih nabung, terus beli Chocolat Rouge lagi. Namanya juga aku, sekali jatuh cinta, susah move on nya. (Lah, aku kok curcol?)



 


Tuesday, 7 February 2017


[Re-Write]
"Hai nop, sudah lama tidak dengar kabarmu. Kulihat kau sudah pakai jas putih yang menggemaskanku itu, berkacamata dan kadang-kadang pakai baju oprasi warna hijau, macam yang di film Korea.. Apa kau sudah jadi dokter sekarang?", aku terkejut dengan pesan via facebook dari teman (yang sesungguhnya kami tidak pernah bertemu), yang sudah lama tidak terdengar kabarnya.

"Hey Olivia, long time no see. Aku baik ini. Belum lah, aku masih koas. Apa kabarmu di negeri tirai bambu itu? Sudah adakah koko koko  yang nembak kau? Atau tetap bertahan pada prinsipmu yang klasik itu?", balasku penuh excited.

Olivia langsung membalasnya, karena kami kebetulan sedang sama-sama online.

"Ah, aku biasa-biasa saja.  Koko koko? Tidaklah, susah memulai disini.".

"Susah memulai?", aku merasa janggal.

"Memulai dengan berbeda keyakinan itu susah dan ngerasa ga mungkin..."

"....", Olivia masih mengetik balasannya. Aku tidak mau memotong pembicaraan sahabatku ini. Aku biarkan dia bercerita. Aku menunggu.

"Udah tau kedepannya akan susah bersatu dan bahkan mungkin tidak bersatu, kenapa harus dimulai?"

"...."

"Usia kita bukan karena ganteng atau mapan saja yang bisa dijadikan parameter mencari suami, keyakinan itu perlu diperhitungkan matang-matang. Usia kita bukan nyari pacar lagi, tapi nyari calon teman hidup...", Olivia menghentikan perkataannya.

Aku bingung mau balas apa. Aku teguk kopi pahit, hampir setengah gelas. Aku tidak suka kopi, tapi karena ada tugas deadline, aku bela-belain minum kopi.

"Jadi, ada yang ngedeketin kau, tapi karena beda agama, kau menghindarinya?", kataku sambil menahan pahitnya kopi itu. Lidahku mendadak ingin ku buang. 

"Kau kenapa belum tidur?"

"Masih ngerjain tugas, tapi aku hentikan dulu. Penat banget.."

"Oh, jam segini? Pasti kau sedang minum kopi pahit kan? Kebiasaanmu sih kalo belum kelar tugas.."

"Hhaha, you still remember ya. By the way, kau belum menjawab pertanyaanku tadi.."

"Hahaha, totally right. Aku malas memulai dengan perbedaan. Kalo keyakinannya udah beda, tujuannya juga biasanya beda. Ah, tidak ada waktulah untuk mikirin itu. Cukuplah pekerjaan aja yang membuat kita pusing. Sekarang cari saja yang satu keyakinan dan tujuan, bertanggungjawab, dan kau percaya dia punya prospek kehidupan yang baik. Daripada nanti ujung-ujungnya putus dan berhenti. Rasanya ga jauh beda sama rasa kopimu itu."

"....", Olivia masih melanjutkan omongannya. Sepertinya agak banyak pelajaran asmara dari wanita yang terakhir kali ku sadari wajahnya penuh jerawat tapi sekarang ku lihat profile picture nya sudah jauh lebih bersih dari jerawat. Aku mengabaikan tugasku yang tinggal sedikit lagi rampung.

"Mungkin diusia kita sekarang, 23 tahun ya kan? Kita maksimalkan aja dulu pencapaian kita. Nanti kalo udah jadi mamak-mamak, pasti prioritas juga udah berubah. Belum lagi tuntutan suami. Syukur-syukur lakik-nya demokratis, ngijinin kita kerja. Kalo ga? Sayang dong ilmu kita..."

"....", Olivia masih mengetik. Aku melihat dia sudah banyak berubah, apalagi cara berfikirnya. Mungkin benar, "kejarlah ilmu sampai ke negeri China" telah mengubah alur berfikir seorang Olivia yang dulu mudah baperan. Hahaha..

"Kemarin aku nemu kata-kata ini "Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan karena ketakutan sepi... Kadang-kadang pilihan yang terbaik adalah menerima - (Rectoverso). Apa ya? Aku tersadar dan itu yang mengubah cara pandangku terhadap pasangan hidup. Kalo kita takut sepi, kita akan gila ketika dia kembali ke haribaannya. Dan, aku tidak bisa menuntut terlalu banyak terhadap pasangan hidupku kelak, karena aku sadar akupun ada saja yang tidak sesuai dengan karakter atau harapan dari dirinya. Kalau mencari yang sempurna, kita pasti ga dapat", Olivia menjelaskan perubahannya itu. Aku kaget. Pikiranku terbuka. Hatiku seperti terhenyak.

Aku ingin membalas pemikirannya itu. Tapi tiba-tiba Olivia log off. Aku beberapa kali mengirimkan chat padanya, tapi tidak ada balasan. Aku sempat ragu, apa itu dia? Tapi, sudahlah. Nasehatnya memang nyesss banget. 

Olivia, Negeri Tirai Bambu mengubahmu dan mengubahku. Aku kembali menyelesaikan tugasku.

Saturday, 4 February 2017

Hasil gambar untuk quotes about blessed

[Pelajaran 2017 #1]
Seperti yang lalu, aku masih saja bersikap suka membanding-bandingkan hidup dan tidak mensyukuri terhadap apa yang sudah dititipkan kepadaku. Semakin diberi, semakin merasa kurang saja. Heran!

Iya, hari ini aku tertampar. Aku hari ini ditampar Semesta melalui perkataan-perkataan keras sahabat-sahabat terdekatku. Sedih? Awalnya iya. Merasa mereka tidak dipihakku atau tidak mendukung jalan pikiranku yang "sepertinya" akan membuat ku bahagia. Aku cenderung bukan mencari saran, tapi lebih pembelaan atau suara pembenaran akan pemikiranku itu, tentang membanding-bandingkan tadi. Jahat ya? Banget malah. Wkwkwk..

Cuman, tahun ini aku bersikukuh untuk lebih netral ketika mendengar saran atau kritik. I mean, tidak menelan atau membuang segala penilaian dan masukan secara langsung ketika tidak sesuai dgn hatiku. Sepertinya, tingkat kebijaksanaanku sedang diasah layaknya pisau dapur.

"Obat pahit, tapi sembuh. Gula manis, tapi bisa jadi bikin penyakit. Jadi Yang manis jangan langsung ditelan, yang pahit jangan langsung dibuang", begitu kata salah satu sejawat, waktu dulu. Aku hampir muak dengan kalimat itu, tapi emang itu emang bener adanya. 

Semalam seharian, aku menerka, ini salahku dimana? Kok aku ditampar sekeras ini dengan kata-kata? Tapi, saraf-sarafku bekerja cepat dan mengerti bahwa akulah yang salah. Ada kebaikkan besar yang hampir hilang hanya karena sifat sok hebatku. Tamparan ini, baik adanya.

Siapa kali aku, sehingga aku seenaknya membanding-bandingkan? Emang aku udah sempurna? Malah mungkin, dari kata baik saja, aku masih jauh.

Sehebat apa aku, sampai-sampai bersyukur pun lupa. Lah, Tuhan saja ingat betul untuk mengabulkan doa-doaku dan mengirim berkat pada aku, si pribadi yang lebih sering tidak tau berterimakasih ini.

Sambil aku meneguk segelas air mineral, aku menyadari, sejauh mana aku bersyukur akan hal kecil, sebanyak itulah berkar-berkat tak terduga akan hadir.


Wednesday, 1 February 2017

Ini tulisan emang jadi salah satu target di tahun 2017. Aku mau ngajak temen-temen semua, apalagi yang (sorry) punya berat badan overweight, untuk ngubah pola hidup (WELL NOTED!!). The main purposes is not to be slimmer or more beautiful, tapi lebih cenderung ke berat badan proporsional. Masa mau dari tahun ke tahun, berat badannya segitu-segitu saja. Bosen tauuk...



After a long weekend, after a long "udahlah, mumpung libur, jadi suka-sukanya melahap" week, aku jadi ogah ngelihat timbangan. Yes, I against to the weights. Wkwkwk..

Cerita sebelum liburan.. 
Aku masih hidup bahagia dengan berat badan sekitar 60 kg (padahal aku masih punya tugas sekitar 10kg lagi untuk memangkas berat badan agar badan ideal). What a lyfe?! Kenapa? Karena dengan tinggiku yang ga sampe 160cm, seharusnya berat terberatku adalah sekitar 50-52 kg. Jadi aku? Iya, setelah aku hitung-hitung, BMI-ku sudah masuk fase Overweight. Itu aja aku udah bersyukur banget,  dalam 3 bulan, aku berhasil menurunkan berat dari 68kg ke 60kg. Feel like reborn.


Nah, kebetulan kemarin liburan tahun baru. Apalagi jiwa anak kostan yang pantang melihat traktiran orangtua, aku tidak bisa merelakan kesempatan itu. Aku lupa berat badan yang semakin memberat. Makan sesuka hati, seenak jidat. Seemed like, i was in heaven (sombong banget ya, padahal aku belum pernah ke surga). Ga ada aturan main, melahap makanan apa saja yang nganggur. Ideologi "Namanga juga berkat, sudahlah makan saja.." bangun lagi di sekitar lobus frontalis otakku #Eaaaak!

Nah, ketika udah balik ke kehidupan seperti biasa, Astaga, i got my 64,5kg back! Ini adalah tugas lagi di awal tahun. Kesel? Iya. Merasa bodoh? Apalagi. Rasain deh Nop!

Jadi, aku buat lagi satu daftar seperti programku yang lalu. Menargetkan penurunan berat badan, saranku cukup 0,5-1 kg perminggu. Jujur, kalo mau nurunin berat badan, ga usah muluk-muluk kali lah. Nanti jatuhnya jadi beban, kitanya stres, kitanya lapar lagi, makan lagi, gendut lagi. Halah!



I make a challange to my own self. Paling tidak, aku harus menurunkan 1-2 kg berat badanku sebelum bulan Januari selesai. Caraku, sederhana. Kebetulan, ntah apa yang membuatku terpanggil, aku ingin puasa. But first for you to know, ini semata-mata bukan untuk diet, tapi puasa untuk niatan yang lain. Hahaha, seperti sekali mendayung, dua-tiga pulau terlewati, aku mendapatkan dua hal sekaligus. Muehehehe.. Jadi, COBA GANTI NIAT KALIAN untuk melakukan puasa. Aku pribadi, aku tidak memfokuskan pikiran pada puasanya atau pada rasa lapar. Dengan begini, aku lebih menikmati prosesnya. Dan dengan banyak kegiatan, puasa jadi tidak terasa. Heemm..


Sistem aku puasa ya..
Makan terakhir jam 22.00-23.00, itupun harus makan buah ya, jangan makan yang lain. Dan minum air putih secukupnya. Makan buah yang aku saranin: pear, buah naga, apel, semangka, pepaya, buah kiwi. Kalo mau yang lain, juga ga apa-apa. Cuman yang wajib dihindari: Jeruk, nenas, dan buah-buah yang bersifat asam. Kenapa? Itu bakal memancing meningkatkan asam lambung kamu. 

Setelah jam 23.00, aku start puasa sampai 14-15 jam berikutnya. (by the way, ini sama ga sih dengan OCD nya om Dedy Corbuzier?Ssoalnya aku ga begitu tau dengan caranya dia). Jadi sekitar jam 13.00-14.00 aku buka puasa. Ingat puasa berarti ga makan dan ga minum. Beraktifitas biasa saja, jangan terlalu berat. Kaya yang aku bilang tadi, aku tidak memfokuskan pikiran pada puasanya, tapi fokus sama kerjaanku. Enjoy saja. (Mengingat niatan tadi, bisa jadi semangat loh!!)

In other side, aku ga melewatkan waktu tidur siang. Jadi, aku tidak perlu meningkatkan proses metabolismeku sehingga rasa lapar yang sebenarnya menjadi-jadi, dapat berkurang sedikit.

Nah, pas buka puasanya, aku cuman makan lauk. Lauk pauk yang aku sarankan: Sayur-sayuran rebus, misalnya brokoli, bunga kol, wortel, jagung mini, sawi putih, bayam, kacang panjang, buncis, selada, jamur dan sayuran hijau lainnya. Aku merebusnya ga pake garam! Hambar? Lumayan. Tapi aku campurkan irisan cabai merah, bawah putih, bunga lawang, buah pala, jahe dan kadang aku tambahin saos tiram/saos teriyaki. Awal-awal emang rasanya aneh, tapi lama-lama kebiasaan jadi enak loh. Atau dada ayam bakar, ikan bakar, daging bakar, telur rebus. Untuk buah sama seperti untuk makan malam. And for your attention, buahnya jangan dijus ya, tapi dikunyah.


Kalo pengen ngemil, aku lebih suka ngemil buah atau buat Oats gitu. Efek kenyangnya lama loh. Atau buat teh manis hangat dan celupin 4-5 buah crackers. Cukup mengganjal kok. Oh ya, teh manis hangat juga buat kita jadi ga oyong (Pusing gitu, bisa jadi karena tubuh kekurangan glukosa).

Loh jadi nasi? Aku kan orang Indonesia...
Dalam masa seperti ini, nasi tetep jadi musuh terbesarku. Sudah hampir sebulan aku tidak mengkonsumsi nasi. Aku cuma mengkonsumsi sayur/telur rebus, daging/ikan panggang, buah dan banyak air putih.

Untuk pemula, aku saranin cukup 1-2 hari dulu puasanya, biar badan kamu adaptasi dengan pola makan yang baru. Kalo misalnya ga tahan, kamu bisa memperpendek jam puasa kamu. Kalo tahan, tambah durasinya, misalnya 3-4 hari per minggu. Pokoknya standartnya, kamu harus bisa menurunkan 0,5-1 kg per minggu. 

But guys, ini aku lakukan karena aku ga ada riwayat penyakit maag. Kalo kamu punya penyakit maag, please jangan ikutin. Lebih bagus, kamu tetep makan kaya biasa, tapi bedanya tetep kamu hindari nasi, tetep makan lauk pauknya sesuai dengan jam makan kamu seperti biasa, kalo laper banget, ngemil buah aja. Jangan ngemil crackers, karena crackers mengundang lapisan lambungmu untuk menghasilkan asam yang lebih banyak, akhirnya jadi tambah perih. 

Ga perlu olahraga? Aku pribadi, sejauh ini enggak melakukaannya, karena takut nge-drop, secara aku puasa, ga minum lagi. Bisa-bisa aku kena dehidrasi berat, syok, pingsan pula. Mungkin nanti setelah badan sudah beradaptasi dengan pola makan yang sekarang, aku akan olahraga kecil-kecilan sambil nunggu buka puasa. 

Nah, itu caraku untuk mengatur pola makan dalam rangka menurunkan berat badan. Ingat, beda pola makan untuk menurunkan berat badan dan mempertahankan berat badan. Kalo berat badan yang kamu inginkan sudah tercapai, baru kita pertahankan berat badan kamu. Analoginya itu, menurunkan berat badan adalah masa pdkt dan mempertahankan berat badan adalah masa pacaran. Wkwkwk.. 


Untuk hasilku, akan aku bahas di postinganku yang berikutnya ya. Kamu coba dulu, nanti baru kita saling nunjukkin hasilnya. Wanna try? Oh ya, kalo ada yang mau nanya-nanya, silahkan tanya di kolom celoteh yaa!