Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Monday, 13 February 2017

5 Steps of Grief - 5 Tahapan Kesedihan


Salah satu teman sejawat, seorang blogger juga, memberikan pilihan dalam status facebook-nya "Denial. Anger. Bargaining. Depression. Acceptance. Which part are you in? Hahaha". Selain itu, salah seorang teman blogger sekaligus seorang editor, nge-post satu persatu kata itu dan memberikan caption di setiap postingan instagram-nya. Entah itu adalah satu hal yang sedang nge-trend atau cuman kebetulan. Selidik punya selidik, 5 kata itu ada dalam buku On Death and Dying - Elizabeth Kubler-Ross, 5 steps of grief, dalam bahasa Indonesia 5 Tahapan kesedihan / kehilangan. Ah, ini menarik!

Sejauh aku bernafas, kehilangan adalah fase terberat. Entah itu kehilangan baju kesayangan, kehilangan banyak file foto karena laptop rusak atau bahkan kehilangan pribadi-pribadi yang teramat disayang. Susah menggambarkan hancurnya perasaan ketika faktanya air mata, gerutu dan melemparkan kesalahan pada orang lain, nyatanya tidak akan mengembalikan apa yang hilang. 



1. Penyangkalan. "Tidak, ini bukan bagianku! Ga mungkin aku!", itu reaksi pertamaku. Namun, aku tidak lama berada di fase ini. Semesta segera menyadarkanku bahwa "Kamu memang seharusnya sedih. Tak perlu malu, menangislah. Berikan kesempatan air mata menjadi obat pelega. Tidak ada air mata yang akan mengindahkan dirimu, jika kau tak berani menangis". Aku melangkahi fase ini. Aku lega, tapi belum beranjak.


2. Marah. Sedikit banyak aku menyalahkan diriku dan tidak jarang aku menyalahkan Semesta, "Untuk apa bertemu, toh juga dipisahkan? Perjumpaan yang indah, ga seharusnya begini. Hidup seharusnya ga sekonyol ini", atau kadang "Mungkin aku banyak salah, aku ga bersyukur, aku bukan orang pilihan karena aku terlalu jahat". Argumen-argumen pribadi menjadi sumber segala isak tangis yang ada. Ya, aku pernah sebodoh itu.



3. Tawar-Menawar. Kebetulan aku tipe orang yang sering berimajinasi akan segala kemungkinan yang ada. Over-thinker, maybe? "Tuhan, kalo Engkau kembalikan yang hilang itu, aku akan lebih baik menjaganya". Aku sering terlalu lama di fase ini. Aku berusaha mengadakan penawaran pada Tuhan agar sesuatu yang ku anggap baik itu, dapat kembali dan aku tidak akan merasa sesedih ini. Berharap segala bujuk rayuku dalam setiap "Kalau saja..." akan meluluhkan takdir pahit itu. Wkwkwk, maklum aja kali.


4. Depresi. Puji Tuhan pada Sang Gusti pemilik Semesta, aku diciptakan dengan hati dan logika yang seimbang. Tak sempat aku berfikir hal-hal praktis untuk melewati fase kehilangan. Aku masih lebih menyayangi harapan-harapan orang atasku. Dan itulah yang buat aku bangkit sejadi-jadinya. Oh beruntungnya aku :)


5. Penerimaan. Fase yang sangat teramat lama aku lalui. Namun kesadaranku masih penuh. Tidak ada pilihan lain, selain menerima dan melepaskan. Karena aku sering beranggapan bahwa jika hal yang hilang itu kembali, akan mengobati bilur-bilurku yang hampa. Tapi itulah sok taunya aku, menciptakan kebahagiaan dengan caraku sendiri. Konyol dan Bodoh. Seakan-akan Sang Gusti, Si Penciptaku, tidak tahu apa sesungguhnya yang membuatku bahagia. Dan kadang, aku malah berjudi pada dengan sang Gusti, "Ah, pasti ketika aku merelakan dia pergi, aku akan diberikan kebahagiaan yang baru". Padahal sesungguhnya pernyataan itu adalah nyata, tapi aku meragukannya. Aku lebih memilih bertahan pada hal yang aku anggap membahagiakan aku padahal sesungguhnya aku akan disuguhkan pada kebahagiaan yang lebih berlipat ganda. Maklum, manusiawi.

5 Steps of Grief, lima tahapan yang tidah mudah dan mungkin teramat berat, tapi sebenarnya menumbuhkan hal-hal baru dalam hidup, entah itu iman, pengharapan, pemikiran dan sebagainya. Itu semua tergantung kamu memandang dari sisi mana.

Setelah aku baca makna 5 tahapan ini, aku sadar aku terlalu lama stuck pada bagian bargaining dan acceptanceLalu, kamu biasanya paling lama di posisi yang mana?


2 comments:

  1. dalem banget ini nop, rasanya kayak di lempar kulit duren T__T
    Btw, tulisan2 kamu bagus, aku suka suka sukaaaa banget :*

    ricafairikha.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Duh Rica, kok aku yang horror bayangin kulit durennya. btw, thankyouu ya... *langsung blogwalking*

    ReplyDelete