Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Tuesday, 7 February 2017

Tentang Asmara Si Perantau Di Negeri Tirai Bambu


[Re-Write]
"Hai nop, sudah lama tidak dengar kabarmu. Kulihat kau sudah pakai jas putih yang menggemaskanku itu, berkacamata dan kadang-kadang pakai baju oprasi warna hijau, macam yang di film Korea.. Apa kau sudah jadi dokter sekarang?", aku terkejut dengan pesan via facebook dari teman (yang sesungguhnya kami tidak pernah bertemu), yang sudah lama tidak terdengar kabarnya.

"Hey Olivia, long time no see. Aku baik ini. Belum lah, aku masih koas. Apa kabarmu di negeri tirai bambu itu? Sudah adakah koko koko  yang nembak kau? Atau tetap bertahan pada prinsipmu yang klasik itu?", balasku penuh excited.

Olivia langsung membalasnya, karena kami kebetulan sedang sama-sama online.

"Ah, aku biasa-biasa saja.  Koko koko? Tidaklah, susah memulai disini.".

"Susah memulai?", aku merasa janggal.

"Memulai dengan berbeda keyakinan itu susah dan ngerasa ga mungkin..."

"....", Olivia masih mengetik balasannya. Aku tidak mau memotong pembicaraan sahabatku ini. Aku biarkan dia bercerita. Aku menunggu.

"Udah tau kedepannya akan susah bersatu dan bahkan mungkin tidak bersatu, kenapa harus dimulai?"

"...."

"Usia kita bukan karena ganteng atau mapan saja yang bisa dijadikan parameter mencari suami, keyakinan itu perlu diperhitungkan matang-matang. Usia kita bukan nyari pacar lagi, tapi nyari calon teman hidup...", Olivia menghentikan perkataannya.

Aku bingung mau balas apa. Aku teguk kopi pahit, hampir setengah gelas. Aku tidak suka kopi, tapi karena ada tugas deadline, aku bela-belain minum kopi.

"Jadi, ada yang ngedeketin kau, tapi karena beda agama, kau menghindarinya?", kataku sambil menahan pahitnya kopi itu. Lidahku mendadak ingin ku buang. 

"Kau kenapa belum tidur?"

"Masih ngerjain tugas, tapi aku hentikan dulu. Penat banget.."

"Oh, jam segini? Pasti kau sedang minum kopi pahit kan? Kebiasaanmu sih kalo belum kelar tugas.."

"Hhaha, you still remember ya. By the way, kau belum menjawab pertanyaanku tadi.."

"Hahaha, totally right. Aku malas memulai dengan perbedaan. Kalo keyakinannya udah beda, tujuannya juga biasanya beda. Ah, tidak ada waktulah untuk mikirin itu. Cukuplah pekerjaan aja yang membuat kita pusing. Sekarang cari saja yang satu keyakinan dan tujuan, bertanggungjawab, dan kau percaya dia punya prospek kehidupan yang baik. Daripada nanti ujung-ujungnya putus dan berhenti. Rasanya ga jauh beda sama rasa kopimu itu."

"....", Olivia masih melanjutkan omongannya. Sepertinya agak banyak pelajaran asmara dari wanita yang terakhir kali ku sadari wajahnya penuh jerawat tapi sekarang ku lihat profile picture nya sudah jauh lebih bersih dari jerawat. Aku mengabaikan tugasku yang tinggal sedikit lagi rampung.

"Mungkin diusia kita sekarang, 23 tahun ya kan? Kita maksimalkan aja dulu pencapaian kita. Nanti kalo udah jadi mamak-mamak, pasti prioritas juga udah berubah. Belum lagi tuntutan suami. Syukur-syukur lakik-nya demokratis, ngijinin kita kerja. Kalo ga? Sayang dong ilmu kita..."

"....", Olivia masih mengetik. Aku melihat dia sudah banyak berubah, apalagi cara berfikirnya. Mungkin benar, "kejarlah ilmu sampai ke negeri China" telah mengubah alur berfikir seorang Olivia yang dulu mudah baperan. Hahaha..

"Kemarin aku nemu kata-kata ini "Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan karena ketakutan sepi... Kadang-kadang pilihan yang terbaik adalah menerima - (Rectoverso). Apa ya? Aku tersadar dan itu yang mengubah cara pandangku terhadap pasangan hidup. Kalo kita takut sepi, kita akan gila ketika dia kembali ke haribaannya. Dan, aku tidak bisa menuntut terlalu banyak terhadap pasangan hidupku kelak, karena aku sadar akupun ada saja yang tidak sesuai dengan karakter atau harapan dari dirinya. Kalau mencari yang sempurna, kita pasti ga dapat", Olivia menjelaskan perubahannya itu. Aku kaget. Pikiranku terbuka. Hatiku seperti terhenyak.

Aku ingin membalas pemikirannya itu. Tapi tiba-tiba Olivia log off. Aku beberapa kali mengirimkan chat padanya, tapi tidak ada balasan. Aku sempat ragu, apa itu dia? Tapi, sudahlah. Nasehatnya memang nyesss banget. 

Olivia, Negeri Tirai Bambu mengubahmu dan mengubahku. Aku kembali menyelesaikan tugasku.

4 comments:

  1. Menerima...💙
    Jadi semakin berjalannya usia, banyak juga cara pandang yg berubah.. Aku pun begitu hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaps mbaa suci, makin tua makin mateng hehe :D

      Delete
  2. Usia pertengahan 20 memang ga ada habisnya ngomongin pasangan. Jujur pandanganku juga berubah seiring aku dewasa nov. Aku lebih ngutamain yang bisa menerima buruk2nya aku dan juga yg bisa kuterima buruk2nya dgn udh dipertimbangkan secara matang. Namanya manusia pst ga ada yang sempurna..hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh Mona, pada akhirnya yang bisa kita cintai baik buruknya dia..

      Delete