Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Friday, 28 April 2017

This is my blogpost after been a week in my new mini apartment (?). Iyain aja, udah. Satu kata yang bisa ku dapatkan pertama kali di kostan ini," Aku kaya tinggal di hotel, soalnya kamarku di lantai dua. Wkwkwk.."

Aku adalah orang yang paling berat untuk pindah, pindah tempat duduk, pindah rumah dan bahkan pindah hati. Aku malas beradaptasi. Aku malas mengenal sesuatu itu lebih dalam. Intinya aku malas memulai hal yang baru. Aku ini penikmat hal-hal yang berbau kebiasaan. Untuk kebiasaan baru, aku perlu memikirkannya matang-matang, termasuk kali ini, pindah hunian (kostan.red).

Setelah hampir hampir 5 tahun mendiami ruangan itu, akhirnya aku memilih pindah. Banyak alasan, seperti harga kostan yang stuck di situ-situ saja - sementara kostan sekitar sudah mulai turun, aku penghuni tunggal dari 5 kamar kostan yang ada, alasan safety karena belakangan aku sering pulang malam.

Bunga sebelum Natal tahun lalu, udah layu :')
Tapi lihat? Tidak ada kata bosan dari alasanku, kan? Wkwkwk.. Mungkin aku pernah bosan atau jenuh di sini, apalagi sejak tidak ada kawan kostan lain untuk diajak bercengkrama. Cuman, nyaman itu memang tidak terdefenisi. Aku suka di hunian yang lama. Banyak cerita di sana. Ruangan itu adalah saksi pas aku galau judul skripsi di-php-in dosen dan sepaketan dengan sedih diputusin, waktu marah berat badan udah turun tiba-tiba naik lagi, waktu putus asa gagal ujian dan segala keterpurukkan yang ada. 

Loh? Kok sedih semua? Enggak kok, waktu bahagia dapat sesuatu yang diidam-idamkan, waktu senang tamat sidang skripsi, waktu berbunga-bunga (halah!), dan apapun hal-hal yang ku syukuri dengan senyum. Ulululu~~

By the way, warna kamar kostanku sekarang, dalam pink dan luar ungu. 
Hwhaat a cute room, isn't?

Namun alasan-alasan untuk pindah, lebih kuat daripada pikiran untuk bertahan di tempat ini. Aku ga tau apakah aku akan betah di tempat baru, walaupun kawan-kawan dekatku ada di sini. 

Pindah adalah pekerjaan yang ga enteng. Riweh dan rempong. Duh! Nge-packing barang, memilah-milah barang mana yang mesti dibawa atau ditinggalkan atau diberikan pada orang lain atau bahkan dibuang.

Dari sini aku bisa mengambil kesimpulan, sebagus apapun barang yang pernah kita miliki, tapi kalau tidak ada manfaatnya buat kita, untuk apa diangkut? Lebih baik ikhlaskan untuk orang lain. Serusak apapun barang yang punya kenangan hebat buat kita, bila hanya mengotor-ngotori hunian baru, untuk apa dibawa?

Sama seperti hidup, kita punya fase setiap tingkatan. Secinta apapun, kalau tidak baik, tinggalkan. Bukan kah kamu harus jadi orang yang realistis? Dewasa saja, ini hidup, bukan drama.

Jadi, senyaman apa tempat tinggalmu sekarang?

Thursday, 20 April 2017

Satu Keluarga Natur Variant Ginseng

Beberapa hari yang lalu, aku sempat diundang sama pihak Natur untuk menghadiri Hair Beauty Dating mereka di Medan. Yaps, Natur Hair Care goes to Medan!

Nama Natur tentu ga asing terdengar. Natur ini termasuk produk nge-hits sejak dulu, gimana ga, aku mengenal produk Natur karena mamaku memakainya. Katanya, untuk rambut rontok gitu karena dengan kandungan ginseng. Wuiihh~ Tjakeps!
Ngomong-ngomong tentang rambut, rambutku termasuk kategori yang lebat dan tebal, sampai-sampai Opung Doli (kakek.red) sempat pesan ke ayahku,"Ini rambutnya si Novi jangan sering-sering dipotong. Sayang. Lebat rambutnya". So, sesungguhnya ayah bakal agak mengernyitkan dahi kalo aku potong rambut. Hahaha,,

Tapi, aku tipe ya ga suka ribet. Sejak kuliah, volume rambut rontokku bertambah. Entah itu karena faktor stres, sering memakai helm jadi sirkulasi udara di rambut ga bagus, sering diikat karena risih, atau alasan-alasan lain yang menyebabkan rambutku mudah rontok. Nah, seperti kaum hawa yang lain, aku suka ambil jalan pintas untuk masalah kerontokkan ini dengan potong rambut. Jadi, aku suka diam-diam potong rambut tanpa ayah tau. Wkwkwk..

Tapi kayanya cara Klasik itu bakal aku tinggalin. Kenapa? Aku sepertinya tertarik nyobain Natur, apalagi mamaku dulu sering pake produk Natur. Dan dari semua perawatan, aku kok jatuh cinta dengan serumnya, hemm..
Natur on Cam

So, apa Natur yang dulu berbeda dengan Natur yang sekarang? 
Dari segi kemasannya ga beda jauh kok, tetap bernuansa hitam, ginseng dan dedaunan, serta lengkap dengan semacam cantolan di leher botolnya (itu sebenarnya fungsinya untuk apa ya? Hemm..). Dari segi aroma, jauh lebih wangi, kaya aroma semi apel gitu. Tapi aroma jamunya masih melekat dan sudah jadi ciri khas Natur sendiri.

Nah, sekarang perawatan Natur ga cuman sebatas Shampoo aja, udah dilengkapi dengan Natur Conditioner Moisturizing Hair Fall Control Ginseng and Olive Oil, Natur Hair Mask Hair Loss Treatment, Natur Hair Tonic Extract Ginseng, dan Natur Hair Serum Protecting Treatment.

Nutupin pipi tembem ;')
1. Natur Shampoo Variant Ginseng Extract dan Natur Conditioner Moisturizing Hair Fall Control Ginseng and Olive Oil
Sejak dulu, aku udah kenal sama shampoonya. Jujur, aku ogah makenya karena aromanya yang jamu banget. Terus kalo diaplikasikan, busanya dikit jadi ga begiti puas kalo keramas. Cuman kemarin pas Event Hair Beauty Dating dijelaskan sebenarnya lebih bagus shampoo itu ga banyak busanya, semakin banyak busanya semakin banyak juga bahan kimia yang ga bagus buat rambut, jadi mudah patah dan rontok. Dalam pikiranku, iya juga ya pantesan shampoo bayi ga begitu banyak busa. 
Masih sama seperti dulu, Natur Shampoo Variant Ginseng Extract berfungsi merawat kekuatan akar rambut. Yang begini cocok buat mereka yang rambutnya mudah rontok. Dan bagi yang rambutnya udah lebat, akan lebih baik jika merawat yang sudah baik kan ya? Maka dari itu, aku jadi suka sama Shampoo dan Conditioner Natur Ginseng.

2. Natur Hair Tonic Extract Ginseng
Woops, ini salah satu kesempurnaan perawatan Natur, punya Hair Tonic. Karena ga semua hair treatment punya Hair Tonicnya sendiri. Aromanya juga sama dengan produk yang lain. Konsistensinya lebih cair karena pemakaiannya langsung dipijat di kulit kepala, langsung meresap. Pemakaian setelah selesai menggunakan Shampoo dan Conditioner biar kekuatan akar rambutmu makin kokoh. Aku suka aromanya, setelah dipakai rambut juga makin harum dan ringan kok.

3. Natur Hair Mask Hair Loss Treatment
Aku baru memakainya sekali dan belum mendapat hal yang signifikan. Warnanya putih dan konsistensinya kental seperti masker rambut yang lainnya. Sejauh yang aku rasa, rambut jadi ga begitu lepek. Aromanya juga segar dan tahan lama. Duh kan, jadi pengen pake Maskernya lagi :'D

Me - Natur Hair Serum Protecting Treatment - Blogger Nesya

4. Natur Hair Serum Protecting Treatment
Sengaja ini yang paling terakhir aku bahas, karena inilah puncaknya, wkwkwk.. Belakangan ini aku sering memakai catok rambut, karena selain lebat rambutku kadang mau ngembang gitu. Aihh.. Rambutku imbang-imbang rambut singa lah pokoknya. Jadi kurang pede, hehehe.. 
Tapi lama kelamaan, rambutku jadi kering kerontang, ujung-ujung rambut bercabang dan kasar. Apa aku salah memakai catok dengan suhu yang sangat tinggi? Atau, serum rambut yang ga cocok karena ga sanggup meng-cover tebalnya rambutku. 
Nah, kebetulan kemarin Natur juga ngasih aku Serumnya, aku berharap ini pelabuhan terakhirku untuk mencari Serum rambut. Aku coba ya kan, lalu aku ngerasa kok tumben hasilnya macam di salon-salon itu. Halus, lembut, ga lepek dan harumnya tahan lama. Aku suka hasil akhirnya. Duh, am I falling in love with this one?
You want them?
Oh ya, kalo diperhatikan, disetiap kemasan produknya ada semacam slogan gitu "Alami Lebih Baik!". Emang bener, yang alami lebih sehat, cuman untuk mendapatkan hasilnya perlu waktu. Merawat rambut rontok bukan seperti memasak mie instant ya guys! :'D

Yeaaay! Dapet...

Over all, kebetulan timing-nya pas, semua perawatan rambutku lagi pada habis. Dan ketemu dengan hair treatment dari Natur. Aku coba dan aku sukak! Sepertinya aku akan lanjut memakai Hair Treatment Natur. Untuk masalah harga, ga sampai jual tanah deh untuk mendapatkan Hair Treatment Natur. Aku pilih Natur, kamu?

Bye the way, tanggal 25 April 2017, aku mau buat give away satu paket Hair Care Natur nih. pantengin Instagramku @Nopipon ya! See You :D

Rambutku dikatain Tebal dan Lebat sama Kak Febri :'D

Wohooo, banyak info loh..

Sesi tanya jawab bagi yang galau rambutnya. hehehe..

Hadiah berhasil Jawab 6 Variant Natur

 Let's Take a Selfie!


Teman Natuuuuurrrrrr!!!

Last Taken :D

Wednesday, 5 April 2017

Museum Batak - T.B.Silalahi, Balige, Sumatra Utara

Sebelumnya, terima kasih untuk semesta atas pelatihan kesabaran yang memang benar-benar melatihku. Kalau tidak begini, mungkin jiwaku akan tetap kerdil, tidak mengerti artinya bangkit dan menyugesti diri secara mandiri. Ternyata memang bener ya, kedewasaan tumbuh karena diasah. Ujiannya, luar biasaaaaa~

Seperti yang baru aku alami beberapa waktu yang lalu. Aku benar-benar mengalami yang namanya kesuksesan yang tertunda. Iya, aku gagal hanya karena kecerobohan aku. Dan fatalnya, itu kesalahan yang tak seharusnya terjadi. Aku cuman bisa menggumam dalam hati. Mau marah? Ya pasti diriku yang akan ku marahi. Kalau ga, siapa lagi.

Kemarin, ketika aku sedang mengikuti tes ujian di kampus untuk seleksi ujian negara, hanya karena aku tidak sempat menjawab pertanyaan yang sesungguhnya bisa dibilang itu ada pertanyaan bonus dan pasti benar, aku ceroboh. Aku tidak memeriksakan kolom jawaban yang ternyata pada 5 detik terakhir aku mendapati satu nomor masih diberi tanda bintang, yang artinya belum dijawab. Aku tidak bisa berbuat banyak, bahkan jariku pun tak sempat mengarahkan cursor ke jawaban yang benar. Sial! Dan akhirnya aku gagal. Efeknya, aku harus mengikuti seleksi sekitar 4 bulan lagi.

Danau Toba, Parapat, Sumatra Utara

Yang ada dalam pikiran aku saat itu, "Coba saja aku tidak ceroboh, pasti aku tidak begini. Seharusnya ada hal lain yang bisa aku raih, aku bebas, tidak terbebani dengan ujian-ujian ini". wkwkwk...

Kecewa? Jelas, aku masih manusia biasa. Terlebih lagi, kecewanya aku pada diri aku sendiri. Nangis? Apalagi itu. Karena mengingat satu soal yang tak terjawab dan harus dibayar dengan menunda ujian.

Hingga suatu ketika, hanya pada Semesta saja aku mengadu segala camuk-remuknya isi hati. Entah kenapa, aku tak memiliki jalan yang selalu mulus untuk melewati garis finish. Ada saja hambatannya. Apa mungkin Semesta mengira aku perempuan yang kuat sekali sehingga bolak-balik diletakkan di posisi seperti ini. Gumamku tidak selesai-selesai. Tidak ada jalan lain selain mengikhlaskan yang ada.
Menara Pandang Tele, Tanah Karo, Sumatra Utara
Hemm, untunglah fase "Denial" aku berlangsung cepat. Belajar untuk dewasa, aku tidak mau berlama-lama jadi drama queen dan memojokkan diri aku dengan terus-terus memikirkan kesalahan. Aku membiarkan pikiranku berfokus pada, "Akunya yang memang belum siap, belum teliti dan lebih baik kalah di sini daripada di arena. Kalau dipikir-pikir, jika itu adalah ujian aslinya, aku sudah mencapai target kelulusan kok. Jadi bukan karena masalah ilmu, tapi kecerobohan aku me-manage waktu.". Sepele banget ya kan?

Aku, anak perempuan pertama di keluarga. Bagaimana jadinya jika aku menyerah dan berjalan tanpa tujuan? Itu pasti akan dicontoh oleh adik-adikku dan akan sangat mengecewakan dua manusia, orangtua, yang menaruh harapan besar terhadapku. Aku tak punya pilihan lain, selain berdiri tegak dalam kegagalan ini. Memang terasa sulit, tapi bukan kah lebih sulit jika kita terus-terus bersedih?Tidak ada kata kuat tanpa adanya masalah dan kegagalan, ya kan?

Untuk yang aku alami, aku menemukan satu benang merah kehidupan, "Because there is no sunrise when you haven't passed the night yet" – “Karena tidak ada matahari terbit ketika kamu belum melewati malam”. Mungkin ini akan aku jadikan cambuk seumur hidup jika suatu saat nanti aku keseleo lagi dalam mencapai kegagalan.

Tanjung Benoa, Nusa Dua, Bali
Buatku, inilah memesona. Memesona itu bukan hanya masalah kemolekan fisik, tapi bagaimana aku bisa berdiri dalam kegagalan. Karena dewasa ini, sudah menjamur sifat-sifat manusia yang mengambil jalan pintas untuk menyudahi kegagalan mereka atau mungkin mengkambinghitamkan pihak lain untuk mencari pembenaran diri.

Jadilah pribadi yang memesona, yang kuat berdiri tegak dalam kegagalan. Bukan tidak mungkin kan, kamu sedang menghabiskan porsi kegagalanmu dan nantinya semua jerih payahmu akan dibayar dengan hadiah tak terduga? 

#MemesonaItu



Monday, 3 April 2017

*Nyempet-nyenpetin ngeblog*

Sejak masa purna-koas ini, kegiatan bukannya makin nyantai, atau bisa bernapas lega. Ternyata, ini awal masa Kussmaull (pernapasan cepat dan dalam) terbuka lebar di depan mata, dan bahkan otak berada di  fase overloaded. Enggak, bukan mau pencitraan, seakan-akan aku mahasiswa kedokteran paling rajin seantero nusantara, merasa paling lelah dengan dunia kedokteran ini. 

Bentar, jangan ngira begitu. Nyesal entar.

Aku ini, di deretan anak FK yang menjunjung tinggi SKKS (Sistem Kebut-Kepepet Semalam), disitu mau ujian, disitu belajar. Sebagai penyandang embel-embel mahasiswa kedokteran, pasti cara belajarku ini ga patut diikuti. Gimanalah weeee, aku itu mudah jenuh dan bosan, kaluan bayangkanlah berapa lama kuliah kedokteran ini. 

Beberapa hari ini, jam tidur memang kacau balau. Satu hari bisa cuman 3 jam tidur, itu karena roh baik menyergapku untuk belajar. Tapi kadang, roh jahat, menggodaku untuk tidak belajar. Hahaha..


Akhirnya kesehatan up and down. Sempat beberapa kali nge-puding. Puding ini maksudnya mengkonsumsi telur ayam kampung setengah matang, bukan makan agar-agar loh ya, wkwkwk... Emang efek nge-bugarin dari telur setengah matang adalah mantap adanya. Ga percuma dari kecil aku dikenalkan dengan ramuan tradisional ini. 

Mas-mas penjual bandrek TST yang lapaknya beberapa kali aku datangi, kadang merasa aneh. Aku, cewek, sendiri, dan cuman beli telur setengah matang. Ini cewek, apa cowok? Kayanya sih itu isi pikirannya. Yaudah sih, bodo amat, daripada tumbang? 

Dengan segala kegalauan dan kadang-kadang malah mengarah ke Gangguan Cemas Menyeluruh (Kode PPDGJ nya F41.1) -tenang, aku ga gangguan jiwa kok-, semoga ga ada yang percuma ya :) Mohon Doanya, guys!


I am in love with Belle. Iya, aku jatuh cinta sama karakternya yang apa ya? Pokoknya aku suka banget.

Sebelumnya, aku ga suka sama namanya cerita-cerita tentang Princess, mau itu Aurora, Cinderella, dkk. Sampe ga habis pikir, sekuat itu ya karakter mereka, sampai-sampai dikagumi begitu, bahkan dijadikan brand ambassador sebuah parfum anak-anak. Wkwk.. 

Aku semalam dan beberapa teman nonton Beauty And The Beast. Agak kurang nyaman sih, karena agak terlalu di depan. Apalagi kondisi perasaan lagi acak kadul karena kabar mendadak dari kampus. Beugh!

Pokok'e I never attracted to a story such fairy tale before. But, since last night, I love them both.


Si Beast nya rupanya dulu angkuh ya? Keras hati? Dan akhirnya kegantengannya dikutuk oleh penyihir, menjadi si buruk rupa. Aku baru tau. Btw, yaelah, kesian banget idup lo, braay.. Makanya jangan sombong lu ah. Tapi kenapa ketika si buruk rupa yang kesannya rada jaim gitu, terus tiba-tiba jadi lembut dan soooo calm jadi cute to the max! Muehehehe...


Belle suka baca buku, dan aku baru tau. Tapi dia cantik. Tapi dia dipandang aneh sama satu desanya. Ah bodo amat. She's stay looking good with her gorgeous soul. Aku sukak! Wajar dia itu such a loveable soulmate wannabe. 


Then they were met because Her Father, Maurice, wanted to take one of The Beast's Rose. He, the beast, was mad and arrested Maurice, but Maurice's horse came back to Belle. And Belle came to release her faather. 

The Beast treated her grainy. Gimana ga takut coba? Aku aja dimarahi mamaku yang cantik, takut. Konon lagi diajak makan malam sama si buruk rupa, dengan cara yanggggg mengerikan. Let meeee gooo, please. Tapi aku bukan Belle pula. Aku ga seberani dia. Sepertinya Belle emang punya sifat berani yang kongenital dari kedua orangtuanya.


As you know, every Fairytales are almost ended by a sweet part. They were loving each other. Sounds good ya! Ternyata sifat "jual mahal" Belle ke si Gaston (Serius, aku kesel banget sama karakter dia. Geram sendiri akunya -,-), ga percuma. Belle got her own prince.



Lah, aku kok jadi spoiler gini? Tapi,  gapapa sih, lagian pasti semua orang udah tau cerita ini dari jaman dulu, aku aja yang telat. Ckckck..


Pantas saja, setiap cewek dari anak-anak sampe orang dewasa punya angan-angan jadi princess ya? Sweet kali pulak. Dan sepertinya cantiknya warna kuning gaun Si Bella akan ku jadikan referensi warna baju Martupol. *Lah, aku ngayal?*