Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Sunday, 26 November 2017

Pernikahan Adat Jawa Kahiyang Ayu Dan Bobby Nasution Di Solo - 016
PERNIKAHAN ADAT JAWA KAHIYANG AYU DAN BOBBY NASUTION DI SOLO
Melihat pernikahan Mas Bobby dan Mbak Ayang, membuat aku pribadi sebagai seorang bersuku Batak agak berbangga hati, terlebih lagi Mbak Ayang telah sah menyandang boru Siregar, yang dalam partuturan (silsilah) Batak, Siregar masih bersaudara dengan marga Nainggolan. Ya, marga Nainggolan adalah boru-nya mamaku. Bisa dibilang, secara ga langsung Mbak Ayang adalah tanteku. Ya apapun itu, ini berbicara tentang budaya, bukan niat yang aneh-aneh. Setidaknya jika bertemu, ada panggilan yang lebih sopan kepada Mbak Ayang. Congratulation to be Kahiyang Ayu boru Siregar, Mbak! 

Tapi dari semua perhelatan yang ada, hal yang paling ku kagumi adalah poda (nasehat) yang disampaikan Pak Jokowi kepada boru-nya (anak perempuan) dan hela-nya (menantu laki-laki) untuk bekal menjalani rumah tangga:

1.Pantun hangoluan, teas hamatean.
Untuk hidup bahagia haruslah menjaga sopan santun. Jika tidak menjaga sopan santun, maka malapetaka bisa datang. 

Ya, seperti yang diajarkan hampir setiap orangtua pada anaknya, sopan santun. Di zaman serba social media ini, agaknya bertutur kata dan tingkah yang baik sudah hampir punah. Label "Kids zaman now" begitu erat menempel pada mereka yang merasa hebat ketika menjadi pusat perhatian dengan gaya mereka yang sudah di luar norma sosial yang ada. Sopan santun tidak hanya untuk yang lebih tua, kepada yang muda pun begitu kok. Sepertinya, slogan “anda sopan, kami segan” akan menghantarkan kita pada hal-hal kebaikan.

Album Pre-Wedding Nusantara Kahiyang Ayu Dan Bobby Nasution - 007
PRE-WEDDING NUSANTARA KAHIYANG AYU DAN BOBBY NASUTION
2) Suan tobu di bibir, dohot di ate-ate.
Manis bukan hanya di mulut, tetapi juga di hati. Kebaikan yang dikatakan juga kebaikan yang dilakukan sepenuh hati. 

Ada banyak macam-macam kebaikan. Dari mulai perbuatan, pikiran, perkataan dan hal yang lain. Mengubah pola pikir untuk tidak munafik, kemudian menjadi manusia yang lebih jujur dan sederhana akan hal sesuatu, dapat menunjukkan siapa kamu sebenarnya. Tidak perlu menilai sesuatu secara berlebihan. Sepertinya, majas hiperbola mendarah daging di diri kita. Terlalu meninggi-ninggikan penilaian agar terlihat seperti “teman terbaik” dan terlalu merendahkan akan sesuatau karena merasa “I am totally right, and you are damnly wrong!”. Lakukan dan ucapkan sesuai takaran. Bukankah, segala yang berlebihan itu adalah bom yang sewaktu-waktu akan meledak?

Album Prosesi Siraman Kahiyang Ayu Di Solo - 003
PROSESI SIRAMAN KAHIYANG AYU DI SOLO
3) Tangi di siluluton, inte di siriaon. 
Jika ada kemalangan, walaupun tidak diundang, kita wajib berupaya untuk datang dan menolong. Namun demikian, jika ada kegembiraan, kita hanya wajib datang kalau diundang. 

Dari semua Poda, ini yang paling unik buatku. Agaknya, inilah Poda untuk menilai, siapa sesungguhnya teman. Di jaman “tercyduk” ini, kebanyakkan orang sedih ketika orang bahagia, dan bahagia ketika orang sedih. Hahaha… Ga banyak yang bisa ku ceritakan tentang poda ini, karena rasaku Poda ini cukup jelas dan mudah diingat untuk dipraktekkan. Hal yang dibutuhkan cuman kesadaran kita aja kok, hehehe..

Kalau kita banyak menanam, maka kita akan banyak memetik hasilnya. Artinya, banyak-banyaklah berbuat kebaikan, agar ananda memetik kebahagiaan.

Poda yang satu ini membuat aku teringat pada buku The Power by Rhonda Byrne, yang bisa disimpulkan bahwa semakin banyak hal positif yang kita sebar, itu akan menjadi “magnet” untuk menarik hal-hal positif yang kita dapat. Dan mungkin di setiap keyakinan mengajarkan “apa yang kamu tabur, itu yang kamu tuai”, atau istilahnya karma? Mungkin.
Sesungguhnya, sudah banyak hal-hal yang seperti ini yang terjadi di sekitarku. Dan aku pribadi pun, pernah merasakannya. Ya, beberapa bulan belakangan ini, aku agak melupakan “aturan semesta” yang satu ini. Selalu membanding-bandingkan, hingga timbul rasa iri dan akhirnya suka memperhitungkan “kalau aku berbuat ini, berkorban seperti ini, apa yang akan aku dapat?”. Agaknya, aku lupa apa arti kata ikhlas. Tapi, itulah baiknya semesta, dia mengingatkan dengan hal-hal kecil. Sekarang tinggal bagaimana kepekaan kita pada tegurannya. Hehehe..

Semua poda memang berisikan tentang hal-hal yang baik dan dilihat dari keseluruhan, akan membuahkan cinta kasih dan kedamaian. Secara kasat mata, mungkin agak susah untuk dipraktekkan sehari-hari. Tanpa perlu kita sangkal, egoisme, selalu merasa benar, dan ingin menang sendiri masih mendominasi. Sekarang, tinggal kita, apa kita mau hidup dalam kedamaian atau ketidaknyamanan? Tidak perlu menunggu orang lain berbuat hal-hal itu pada kita, yuk kita awali dari hidup kita masing-masing. Semoga hidup kita lebih berfaedah buat sekeliling ya..
Sekali lagi, aku mengucapkan selamat buat Mas Bobby dan Mbak Ayang. Semoga bisa menjadi keluarga yang SAMAWA dan menjadi panutan untuk keluarga-keluarga baru lainnya. Dan semoga, dengan adanya pertautan dua budaya, dapat menjadi contoh yang positif untuk Rakyat Indonesia. 

By the way, Pak Jokowi dan Bu Iriana mantep juga nari tor-tor ya! Mas Gibran juga gitu. Mbak Selvie ayu tenan, Mbak bisa jadi Kate Middleton-nya Indonesia. Mas Kaesang dan cemewewnya segera menyusul ya! Dan yang terakhir, Jan Ethes, cakep tenan koe, cah. Bunch of love for this Family.

Eh, ngomong-ngomong gaya pacaran Mas Bobby dan Mbak Ayang juga yang bener. Diam-diam udah lama pacaran, terus tiba-tiba udah ada undangan aja. Bisa ditiru nih! Hehehe..

Wednesday, 22 November 2017

"Aku cari kamu, ku temui kau tiada. 
Aku cari kau, ku temui kau berubah.."
Kucari Kamu - Payung Teduh.

Sebelumnya, aku tidak begitu paham apa jenis Payung Teduh. Cuman mungkin inilah yang disebut kenyamanan tanpa pemahaman. Jenis musik yang sepertinya agak jarang ditemukan di Indonesia dan membuat aku kelihatan aneh ditengok teman-teman dengan memutar lagu-lagu Payung Teduh.

"Apanya lagumu itu?", itulah kata mereka. Tapi, semenjak aku pernah baca artikel, "Sebab untuk bahagia, terkadang kita hanya perlu terbuka dengan standart bahagia kita, pun ketika standart itu dianggap remeh orang lain", semakin memantapkan aku untuk mengesampingkan kata-kata orang untuk mengikuti apa yang disukai hati, I keep on my headset. Hehehe..
Pertama denger lagunya Payung Teduh pas streaming salah satu radio Jogja, pas sedang patah hati, sekitar 2014 akhir. Ga tau, kalo lagi teramat galau, nangkringnya di radio-radio Jogja. (Sebentar, Jogja mungkin punya efek bius dengan dosis tinggi walau aku cuman sejenak berpijak di sana. Merindukannya adalah kewajiban setelah menghela nafas di sekitaran alun-alun Jogja).

Okay, kita berbalik ke cerita tentang Payung Teduh.
Ketika sedang mencari siaran radio, ditengah kegalauan hati dan keribetan skripsi, kedengaran lirik "Sang pujaan tak juga Datang, Rinduku berbuah lara". Ya, langsung jatuh cinta sama jenis musiknya, yang mungkin agak asing untuk orang kebanyakkan. Penasaran dengan lagu-lagunya yang lain, dan lagi-lagi jatuh cinta dengan lagunya. Terutama sama jenis musiknya. Mas Is dan teman-teman punya selera musik yang baik. Aku kagum. Ditengah banjirnya lagu melayu-pop, mereka bernyali untuk menyajikan jenis musik yang beda.
Hingga, sekitar tahun 2016 kalau tidak salah, mini konser Payung Teduh-lah yang menghantarkanku pada "Akhirnya, aku pernah nonton Konser langsung!". Awalnya, aku ga tau Payung Teduh akan mengadakan konser di Medan. Tapi, salah satu teman, dari TK sampai kuliah, mengajak aku untuk nonton konser ini. Tidak begitu jelas kenapa dia mengajak aku, ataupun darimana dia tau aku menyukai Payung Teduh. Ketika Payung Teduh ngadain mini konser di Medan, tanpa berpikir panjang, aku mengiyakan ajakannya. My heart was glad at the time. Bukan, bukan karena dia. Tapi, aku bisa nonton konsernya karena sebelum ini pun, Payung Teduh sudah pernah konser, cuman aku telat mengetahuinya. Sedih itu terobati. 

Dengan suaranya membawa lagu "Untuk Perempuan Yang Sedang di Pelukan", Mas Is berhasil menutupi rambutnya garangnya dengan manis. "Di malam hari, menuju pagi, sedikit cemas, banyak rindunya", sahut penonton takkala saat Mas Is mengarahkan microphone ke arah kami. Sesekali dia memberi kata pujian terhadap Medan dan penonton malam itu. Terhibur dan terkenang. Mas Is dan teman-teman Payung Teduh pintar menyebrangi kami ke perasaan itu.

"Berikan tanganmu jabat jemariku, yang kau tinggalkan hanya harum tubuhmu". Suaranya berhasil membuatku ingin memeluk seseorang yang tak semestinya ku rindukan lagi. Tangan hanya aku lipat ke depan dada. Bukan sombong, hampir semua lagu Payung Teduh aku hapal. Spontan aku menyanyikannya.
Hasil gambar untuk akad payung teduh

Sejujurnya, ketika keluar lagu Akad, aku kira itu bukan Payung Teduh soalnya ini bukan musik mereka. Tapi memang, suara Mas Is ga bisa bohong. Dan beberapa penikmatnya yang bukan "karbitan" karena lagu Akad, juga sependapat. Memang enak didengar, tapi udah beda rasa yang ditawarkan. Payung Teduh, mungkin mau bikin gebrakan baru yang sesuai dengan selera pasar. It's literally good, kok. 

Sungguh, lirik Akad membawa aku, yang masih single, pun ikut berdendang layaknya akan dilamar. Berimajinasi, kelak nanti akan ada seorang dambaan hati, melamar dengan lagu ini, dan kalau bisa ikut dengan pelantun asli lagu ini. Aku yakin, tak perlu cepat-cepat, ketika saatnya telah tiba, betapa bahagia bersamanya dalam terik dan hujan, bertemankan dirinya yang akan berpelukkan hingga ujung waktu. Kejujuran akan rasa, membuat aku sulit tidak menerima lamaran seperti ini, nanti, hahaha...
Gambar terkait
Payung Teduh
Salut sama Mas Is, ga tau sih ya mau bilang apa. But, you did it  Mas I!. Suaramu dan musik bandmu, buat aku sembuh dari patah hati, Hahaha! Walaupun perpisahan adalah hal yang paling menyebalkan dan ini mungkin bukti Mas Is adalah sisa-sisa keihklasan yang tak diikhlaskan, aku harus mendapati bahwa sekarang aku sendiri di antara daun gugur. 

Terimakasih Payung Teduh, kalian menghantarkan banyak jiwa-jiwa dalam manis dan hambarnya berkasih-kasihan dalam sebuah karya sastra yang mendayu. Payung teduh akan tetap sama seperti yang pertama kali ku dengar. Semua irama, semua petikan gitar yang jarang ku dengar, semua lirik puitis lagu yang mampu menghipnotis, akan ku simpan kalau-kalau patah hati lagi, atau jatuh cinta lagi.

"Biarkan bulan berjalan tunduk,
menyambut senyuman matahari",
Biarkan- Payung Teduh.

Aku tunggu karya-karyamu lagi di suasana baru, Mas Is.

Kawasan Stasiun Kereta Api, Medan, Sumatra Utara

Entah kenapa, dipenghujung bulan November ini, sendu memandu aku untuk menulis disela kegiatan yang agak numpuk hingga lupa waktu, hari-hari di Medan sebentar lagi hilang dari lupuk mata. Dan aku tak berani semakin menambah cerita yang terlalu bermakna. Tapi, Medan adalah salah satu kediaman yang membuatku nyaman, tapi belakangan sedikit mencekam. Hehehe..

Bercerita tenang mencekam, beberapa minggu lalu, aku kehilangan motor kesayanganku. Aku menamainya Oiol. Hehehe.. Si hijau yang ku anggap wanita, tapi tangguh, gesit dan siap di arena apapun. Gimana tidak, Medan yang tak tentu cuacanya, Medan yang cukup banyak jalan berlubangnya dan aku pribadi yang suka sedikit ngebut kalo mau kemana-mana. Terlebih, sebelum dia pergi, mungkin ada 3 bulan aku tidak men-door-smear-nya. Dan mungkin karena itu juga, dia dimaling orang. Huhuhu..

Pagi itu, sebelum aku bersiap untuk gladi resik sumpah dokter, aku dikejutkan dengan hilangnya Oiol di lantai bawah kostan. Ah, memang belum sah sepertinya tinggal di Medan kalo belum kehilangan sesuatu. Mck!

Seperti kehilangan pacar waktu itu, aku juga galau kehilangan Oiol. Oiol udah ku anggap "pacar". Dan bahkan lebih dari pacar malahan. Kenapa? Dia selalu ada. (Ya ampun, jadi beneran sedih). Di saat galau diputusin pacar, di saat galau revisi skripsi, di saat terik matahari dan gilanya aku mengeksplore Sumut, di saat ngebut mau koas, di saat hujan-hujan mau bimbel, Oiol ada. Untungnya, Oiol sempat mencicipi awal kesuksesanku dengan mengantarkanku untuk bekerja. Banyak moment bersama Oiol. Entah, aku bukan tipe yang terlalu suka ganti-ganti barang. Aku malas beradaptasi dengan barang-barang baru.

Kerasnya Medan, menitipkan pesan "yang memang harus pergi, ya harus pergi". Selama tinggal di Medan, banyak kehilangan (bukan pencurian kok, pencurian cuman sekali) yang buat aku sadar akan hal itu. Kehilangan pacar disaat butuh-butuhnya disemangatin. Kehilangan file kuliah disaat mau ujian. Kehilangan Oiol disaat mulai kerja. Dan semua kehilangan yang pernah terjadi. Cuman ya, mau sekuat apapun kita jaga, kita rawat, kita pegang, tetap saja kalau memang harus pergi ya harus pergi. Kita cuman bisa mengganti cara kita menghadapi kehilangan, menjadi sekuat-kuatnya kita. Kalo diri lemah, yuk kita belajar jadi kuat :)

Wednesday, 1 November 2017

Sejak udah pengumuman hasil ujian profesi (ya pasti ga kuliah lagi), apa-apa mesti mikir 2 atau 3 kali, bahkan lebih, untuk beli sesuatu. Aku ga tau, aku ini sedang proses belajar membuat skala prioritas, hemat sama keuangan ini, atau celit tingkat terakbar pada diri sendiri. Mck!

"Ya nanti, kalo udah punya penghasilan, ditabung, jangan sikit-sikit beli. Harus punya target. Jangan mudah terikut-ikut kawan", my mommy, as my private financial Consultant.

Nah, apalagi di usia yang mulai matang, tidak lagi menjabat sebagai mahasiswa, dan yang sedang mencoba kerja, aku mulai malu apa-apa minta sama orangtua. Ya gimana, dalam pikiran ku saja, usia kaya aku seharusnya sudah mandiri secara finansial.

Cuman, memang sejak kuliah, aku udh memakai beberapa cara untuk dapat menabung dari uang bulananku. Jadi someday, kalo misalnya ada keperluan mendadak, aku bisa survive dengan tabungan yang udah aku buat terlebih dahulu. Kan ga semuanya langsung ada ketika minta sama orangtua, uangnya langsung ada. Karena sesungguhnya keuangan orangtua adalah hal yang paling rahasia tapi secara ga langsung seharusnya kita mengerti.

So how are the methods?

1. 10% Sumbangan Masa Depan

Ini awal dari semua metode yang ku buat ke keuanganku. Kenapa 10%? Nah, diajaran keyakinanku, jatah (kalo ga salah) 10%, yang disebut perpuluhan, adalah milikNya Yang Maha Kuasa untuk disumbangkan. Jujur, aku masih hilang timbul untuk ngelaksanain itu, hehehe.. Nah, sampai pada suatu saat, keuangan seret dan sampai meminta uang tambahan dari orangtua tidak dapat dihindarkan. Mck! Dalam otakku, masa aku ga bisa hemat sih? Ini aku yang boros atau emang biaya hidup di perantauan yang mahal? 
Jadinya, aku memutuskan untuk menyisihkan 10% dari uang bulanan untuk aku save sendiri, tanpa buka buku tabungan baru. Soalnya, belum kerja, yang ditabung juga sedikit, kalo nabung di bank kan perlu biaya administrasi. Sayang uangnya kan?


2. Nabung uang receh

Bergerak dari ucapan orangtua "jangan remeh sama uang receh", sejak awal kuliah aku agak memantangkan penggunaan uang receh. Jadi kalo misalnya pas belanja, ada kembalian uang receh, maka sah-lah uang itu dipingit samaku sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Heemm.. Makanya jangan heran kalo misalnya aku girang banget ketemu uang receh. Wkwkwk.. 

Hingga pada akhirnya, aku mulai menyatukan uang 1000 jadi 5000, uang 200 jadi seribu, dan seterusnya, nah kemudian aku menukarkan duit itu ke penjual toko klontong atau siap aja yang butuh. Ga terasa, dapat juga ratusan dari receh yang slalu dianggap remeh.


3. Bagi rata setiap minggunya, kalo ada sisa, langsung tabung

Nah, ini juga bisa. Rasaku sih efektif buat yang memang teliti banget nyatet pengeluaran tiap minggunya. Cuman, wajib disiplin, pengeluaran per minggu ga boleh lewat dari yang sudah dibagi. Disini sih kita dilatih berhemat dan lebih memprioritaskan hal-hal yang perlu. Sehingga nanti setiap akhir minggu, kita ambil sisanya dan tanpa diganggu gugat, langsung masuk tabungan.


4. Kalo nemu uang baru, langsung masuk celengan

Wkwkwk, ini adalah cara primitif ku sejak masih kecil. Kadang, ketika Natalan, Lebaran, atau Imlek, aku sering dikasih salam tempel. Ya namanya juga anak-anak, suatu prestige kalo dapat salam tempel, uangnya baru dan wangi pula. Pokoknya fresh from the oven. Sayang banget dijajankan. Lagian, mama dan ayah juga langsung ngekode untuk masukkan uangnya ke celengan. Nah, jadinya kebawa-bawa deh sampai sekarang dan jadi kebiasaan.


5. Gerakan 20 Rebu

Sempat viral di social media kalo ada bapak-bapak yang berhenti merokok dan lebih memilih menabung uang beli rokok. Sounds good, right? Nah, kemarin aku sempat begitu juga, buat gerakan 20 rebu (tapi aku bukan perokok, entah nanti, lho?). Kenapa 20ribu? Sederhana saja. Uang 20ribu terbilang jarang ditemukan dibanding dengan nominal yang lain. Selain itu, nominalnya juga ga terlalu besar dan ga terlalu kecil, jadi cocok sih menurutku. Jadi setiap menemukan uang 20ribu langsung ku simpan.

So, What's yours?