Wednesday, 29 November 2017


Ina, sebut saja begitu. Ia Benar-benar melepas apa yang tidak dapat memberi kepastian padanya. Betul kata sang Presiden Republik Jancukers, Sudjiwotedjo, "Wanita itu suka ice cream dan coklat, namun lebih suka kepastian." Kalimat itu ga perlu penjelasan lebih jauh. Karena "kepastian"lah intinya. Dan apa yang dicari Ina, tak ditemukan pada diri Tono, entah bisa disebut pria atau lelaki, yang sudah bersama Ida selama kurang dari 1 tahun. Sebenarnya, tidak ada parameter, berapa lama seorang wanita menemukan kepastian dari seorang pria. Cuman, inilah Ina dan Tono.

"Sudah ku tanya dari awal, kamu mencari pacar atau calon teman hidup?", kalimat Ina menjadi pembuka kunci pembicaraan tentang kepastian itu.

"Kamu bilang teman hidup. Tapi tingkahmu sama sekali tak menunjukkan tujuanmu itu. Aku bingung. Beberapa kali ku ingatkan baik-baik, tapi rasanya, buatmu masih lebih bagus suara radio rusak-rusak dibandingkan masukanku terhadap masalah pekerjaanmu. Sedikit-sedikit, kamu sakit, kamu tidak masuk kerja. Sedikit-sedikit, kamu tidak suka sama lingkungan kerja, kamu mengeluh. Sedikit-sedikit pekerjaan tak sesuai keinginan, kamu tidak mau melamarnya. Boleh memilih, tapi jangan pemilih sekali. Kamu belum jadi boss, sayang. Inilah hidup, enak ga enak harus dijalani. Suka ga suka, ya harus agak ditahankan. Aku bingung, entah aku atau kamu yang cowok", Ina menambah perkataan yang pedas. Seperti di sinetron, suara petir juga menambah horornya sore itu. Lengkap sudah badai di kehidupan Tono.

Ina dan Tono, agak sedikit berbeda. Ida cewek mandiri, ga suka hal yang lelet, hidupnya cukup terstruktur dan punya planning panjang. Sementara Tono, memang punya banyak mimpi-mimpi besar. Tapi, antara mimpi dan kecepatan aksi, berbanding terbalik. Tono terlalu santai, ga mau ribet, agak pemilih. Perbedaan yang cukup kontras, dan untungnya Ina tau ini kurang dari 1 tahun.

"Kasih aku waktu..", Tono tersigap. Serasa kewibawaannya sebagai pria, diperkosa oleh Ina.

"Aku tidak bisa sejalan denganmu. Prinsip kita berbeda. Cara pandang kita pun begitu. Sebelum hubungan ini terlalu banyak rencana, aku memilih mundur dan menyudahi. Dan aku berharap, ini jadi pukulan keras buatmu", Ina mengambil kunci motor dan bergegas pergi dari cafe kecil dekat lampur merah simpang empat.

"Di luar hujan", singkat Tono.

"Aku punya mantel di jok motor. Aku masih punya kerjaan yang mesti ku selesaikan", Ina tetap melangkahkan kakinya.

Tono tidak bergerak dari kursinya. Sekali lagi, tidak bergerak. Antara memang mati hatinya karena dipanah kata-kata Ina, atau memang sedang menyadari emosi Ina ada benarnya, atau bahkan memang sudah bebal akan nasehat. Tono juga tidak sanggup menghabiskan secangkir wedang jahe yang hangatnya cocok sekali untuk dinikmati. Tono mungkin malu, atau bahkan sudah mulai tak acuh menata hidupnya.

"Mbak, bill nya?", pinta Tono pada salah satu pramusaji yang baru lewat di sampingnya. Pramusaji itu pun bergegas bertanya ke kasir, kemudian datang ke Tono tanpa membawa apa-apa.

"Sudah dibayar tadi mas", jelas pramusaji itu,  dan kembali melayani pelanggan yang lain.

Tono kemudian menyelesaikan wedang jahenya, memutuskan tidak mengejar Ina dan kembali pulang ke rumah. Tono melepaskan Ina malam itu juga.

Di tempat lain, Ina sudah sampai di rumahnya dan menggantungkan kunci ditempatnya. Biasanya, sesampai di rumah, Ina mengabari Tono. Cuman, ini sudah beda. Ina memang sudah bulat untuk melepaskan Tono dengan segala pertimbangan yang ada. Hanya satu yang belum terjawab, sesudah kamu, siapa lagi yang ku tunggu?

Post a Comment: