Wednesday, 1 November 2017

Sejak udah pengumuman hasil ujian profesi (ya pasti ga kuliah lagi), apa-apa mesti mikir 2 atau 3 kali, bahkan lebih, untuk beli sesuatu. Aku ga tau, aku ini sedang proses belajar membuat skala prioritas, hemat sama keuangan ini, atau celit tingkat terakbar pada diri sendiri. Mck!

"Ya nanti, kalo udah punya penghasilan, ditabung, jangan sikit-sikit beli. Harus punya target. Jangan mudah terikut-ikut kawan", my mommy, as my private financial Consultant.

Nah, apalagi di usia yang mulai matang, tidak lagi menjabat sebagai mahasiswa, dan yang sedang mencoba kerja, aku mulai malu apa-apa minta sama orangtua. Ya gimana, dalam pikiran ku saja, usia kaya aku seharusnya sudah mandiri secara finansial.

Cuman, memang sejak kuliah, aku udh memakai beberapa cara untuk dapat menabung dari uang bulananku. Jadi someday, kalo misalnya ada keperluan mendadak, aku bisa survive dengan tabungan yang udah aku buat terlebih dahulu. Kan ga semuanya langsung ada ketika minta sama orangtua, uangnya langsung ada. Karena sesungguhnya keuangan orangtua adalah hal yang paling rahasia tapi secara ga langsung seharusnya kita mengerti.

So how are the methods?

1. 10% Sumbangan Masa Depan

Ini awal dari semua metode yang ku buat ke keuanganku. Kenapa 10%? Nah, diajaran keyakinanku, jatah (kalo ga salah) 10%, yang disebut perpuluhan, adalah milikNya Yang Maha Kuasa untuk disumbangkan. Jujur, aku masih hilang timbul untuk ngelaksanain itu, hehehe.. Nah, sampai pada suatu saat, keuangan seret dan sampai meminta uang tambahan dari orangtua tidak dapat dihindarkan. Mck! Dalam otakku, masa aku ga bisa hemat sih? Ini aku yang boros atau emang biaya hidup di perantauan yang mahal? 
Jadinya, aku memutuskan untuk menyisihkan 10% dari uang bulanan untuk aku save sendiri, tanpa buka buku tabungan baru. Soalnya, belum kerja, yang ditabung juga sedikit, kalo nabung di bank kan perlu biaya administrasi. Sayang uangnya kan?


2. Nabung uang receh

Bergerak dari ucapan orangtua "jangan remeh sama uang receh", sejak awal kuliah aku agak memantangkan penggunaan uang receh. Jadi kalo misalnya pas belanja, ada kembalian uang receh, maka sah-lah uang itu dipingit samaku sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Heemm.. Makanya jangan heran kalo misalnya aku girang banget ketemu uang receh. Wkwkwk.. 

Hingga pada akhirnya, aku mulai menyatukan uang 1000 jadi 5000, uang 200 jadi seribu, dan seterusnya, nah kemudian aku menukarkan duit itu ke penjual toko klontong atau siap aja yang butuh. Ga terasa, dapat juga ratusan dari receh yang slalu dianggap remeh.


3. Bagi rata setiap minggunya, kalo ada sisa, langsung tabung

Nah, ini juga bisa. Rasaku sih efektif buat yang memang teliti banget nyatet pengeluaran tiap minggunya. Cuman, wajib disiplin, pengeluaran per minggu ga boleh lewat dari yang sudah dibagi. Disini sih kita dilatih berhemat dan lebih memprioritaskan hal-hal yang perlu. Sehingga nanti setiap akhir minggu, kita ambil sisanya dan tanpa diganggu gugat, langsung masuk tabungan.


4. Kalo nemu uang baru, langsung masuk celengan

Wkwkwk, ini adalah cara primitif ku sejak masih kecil. Kadang, ketika Natalan, Lebaran, atau Imlek, aku sering dikasih salam tempel. Ya namanya juga anak-anak, suatu prestige kalo dapat salam tempel, uangnya baru dan wangi pula. Pokoknya fresh from the oven. Sayang banget dijajankan. Lagian, mama dan ayah juga langsung ngekode untuk masukkan uangnya ke celengan. Nah, jadinya kebawa-bawa deh sampai sekarang dan jadi kebiasaan.


5. Gerakan 20 Rebu

Sempat viral di social media kalo ada bapak-bapak yang berhenti merokok dan lebih memilih menabung uang beli rokok. Sounds good, right? Nah, kemarin aku sempat begitu juga, buat gerakan 20 rebu (tapi aku bukan perokok, entah nanti, lho?). Kenapa 20ribu? Sederhana saja. Uang 20ribu terbilang jarang ditemukan dibanding dengan nominal yang lain. Selain itu, nominalnya juga ga terlalu besar dan ga terlalu kecil, jadi cocok sih menurutku. Jadi setiap menemukan uang 20ribu langsung ku simpan.

So, What's yours?

Post a Comment: