Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Saturday, 24 February 2018


Momen liburan long weekend adalah salah satu kesempatan untuk menikmati waktu bersama anak. Dengan liburan bersama, kedekatan akan terbangun dan memberikan kenangan manis yang akan dibawa anak sampai ia besar nanti.
Namun, perjalanan dengan membawa anak tidaklah sama dengan bepergian sesama orang dewasa. Ada banyak hal yang harus dilakukan untuk liburan bareng si kecil. Seperti beberapa hal berikut ini.
Pakaian
Liburan bareng anak bukan berarti harus jebol lemari. Rasanya memang semua barang diperlukan buat si kecil. Tapi sebaiknya tidak membawa semuanya karena pasti akan memberatkan perjalanan. Bawalah baju secukupnya, sesuaikan dengan iklim di kota tujuan. Meski musim dingin, tidak perlu membawa terlalu banyak baju hangat. Siapkan dua baju hangat utama dan satu baju cadangan.
Sumber: akupaham.com

Kalau si kecil masih memakai diapers, tidak perlu membawa terlalu banyak. Siapkan saja diapers untuk perjalanan, sisanya beli di kota tujuan agar koper tidak terlalu penuh.

Keperluan makan dan minum
Si kecil masih minum susu dari botol? Jangan lupa untuk membawa dua botol sebagai teman di perjalanan. Siapkan pula perlengkapan minum susunya, mulai dari termos kecil untuk air hangat membuat susu, sampai perlatan cuci botol untuk perjalanan nanti.
Jangan lupa untuk membawa snack dan bahan makanan si kecil. Tak perlu terlalu banyak, secukupnya saja sebagai teman di perjalanan. Sisanya beli di kota tujuan.

Obat-obatan
Sebelum berangkat, pastikan anak dalam keadaan sehat dan bugar. Dan jangan lupa untuk membawa obat-obatan dasar, seperti penurun panas, obat diare dan minyak penghangat badan. Ketahanan tubuh anak tidak bisa ditebak, jadi sebaiknya persiapkan obat-obatan dasar ini sebagai cadangan jika terjadi hal yang tidak diinginkan selama perjalanan.  Jangan lupa juga untuk membawa lotion anti nyamuk atau minyak anti nyamuk agar si kecil nyaman selama liburan.

Sumber: cdc.gov

Buku dan mainan
Perjalanan jauh atau dekat, berpotensi sama untuk membuat si kecil merasa bosan, terutama ketika dalam perjalanan. Bawalah mainan dan buku kesukaanya, tidak perlu terlalu banyak. Pilih yang mudah dibawa dan tak mudah rusak serta hemat tempat. Pastikan mainan dan buku ini bisa disimpan di dalam tas yang bisa dibawa, sehingga si kecil bisa main kapanpun mereka merasa bosan di jalan.

Beri informasi tentang perjalanan ini sejak jauh hari
Perkenalkan tentang lokasi liburan yang akan dituju sejak sebelum hari keberangkatan. Perlihatkan apa saja yang bisa mereka lakukan di sana agar ia semangat untuk liburan bersama.

Sumber: Halosehat.com

Agar lebih seru, ajaklah si kecil dalam berburu tiket murah pesawat. Selain memberikan pengetahuan tentang bagaimana membeli tiket pesawat secara online, pastinya ia juga banyak belajar dari pengalaman membeli tiket murah pesawat ini yang bakal dikenang sampai nanti.

Prinsip utama dari liburan bareng anak adalah tidak jebol rumah. Bawa barang seperlunya dan buatlah catatan kecil tentang barang-barang yang bakal dibawa dan mana yang bisa dibeli di kota tujuan. Catatan akan membantu untuk mengingat jika ada yang terlewat, dan jadi alarm kalau membawa terlalu banyak barang.

Sekarang, ajak si kecil membuka traveloka.com dan beli tiket murah pesawat buat liburan. Have fun ya!

Tuesday, 20 February 2018

Menuju Senja, tapi bukan milik Payung Teduh.

Setelah memingitkan diri sejak sampai Sumbawa Besar, akhirnya aku dan teman menekatkan diri meng-explore pulau Sumbawa. Hemm, sebenarnya sih, karena ga punya motor, makanya susah mau kemana-mana. Hahaha.. Cuman, karena teman seperjuangan insip aku, Uttari namanya orang Bali tapi besar di Lombok, dia berbaik hati meminjamkan motornya pada kami. Matur tampiasih, Utari (terimakasih dalam bahasa Lombok.red).

Oke, kali ini kami mengepakkan sayap menuju Pantai Tanjung Menangis, Sumbawa Besar. Percaya atau tidak, kami cuman modal nekat dan Google Maps. Kami sama sekali tidak pernah kesana. Di Google Maps, jarak dari kostan (Brang Biji), menuju Pantai Tanjung Menangis sekitar 12 KM dan ditempuh dalam waktu 14 menit. Niatnya memang pergi sore hari, selain menghindari panas, kami juga ingin melihat sunset versi Sumbawa.


Entah siput mana yang ku curi rumahnya. Maaf.

Kami mulai jalan sekitar pukul 16.40 WITA. Dan aku rasa itu adalah waktu yang tepat. Durasi kurang lebih 20-25 menit tidak akan membuat kalian jenuh. Percayalah, selama perjalanan kalian ga akan bosan, malah dibuat kesemsem dengan hamparan rumput hijau, pohon-pohon ramping cukup tinggi dipinggir jalan, banyaknya ladang jagung akan menemani perjalanan kalian dan juga hewan ternak yang bergerombol.

Doksip Jaman Now!

Jalan menuju ke Tanjung Menangis bisa diacungi jempol, karena untuk standar jalan yang tidak terlalu ramai, jalan ini sudah bagus dan beraspal, ya walau kadang masih ada beberapa titik yang berlubang. Dan ada yang masih kurang, seperti rambu-rambu dan lampu-lampu jalan masih sangat kurang dan hampir tidak ada. Jadi harus super hati-hati kalau pulang malam.

Kami tetap berpatokan dengan Google Maps. Kadang-kadang sinyal hilang, membuat kami deg-deg-ser juga. Hingga, menurut Google Maps, kami harusnya belok ke kiri, cuman rasanya ga mungkin karena jalannya sangat jelek, masih tanah dan kanan kirinya masih banyak ladang jagung. Gimana cara lewatnya? Akhirnya kami terus saja sampai jalan aspal habis, dan kami berpikir kami tersesat.

Sebelum senja.
Tuhan baik genks! Ternyata di belakang kami ada beberapa muda-mudi yang punya tujuan sama dengan kami, Pantai Tanjung Menangis. Mereka bilang, kalau mau ke Pantai Tanjung Menangis memang harus belok kiri. Kami tak langsung percaya. Kami coba search di Google Maps, ya memang harus belok kiri. Lagipula, hamparan laut lepas memang sudah nampak jelas. Oke kami pun mengikuti mereka.

Memang mungkin, kalo mau mendapatkan sesuatu itu mesti usaha lebih ya.. Jalan menuju Pantai Tanjung Menangis tidak sepenuhnya bagus. Setelah dari jalan aspal itu, kami mengikuti jalan setapak yang kanan kirinya ditumbuhi ladang jagung dan yang rasaku paling seram adalah, jalannya masih tanah, agak licin dan beberapa (agak banyak) titik masih ada batu dan karang-karang putih. Jadi temanku yang bawa motor dan aku jalan kaki. Begitu juga orang yang lain. Walah, nyesal aku pake sepatu ke sana.

Jalannya belum terlalu baik. Dan sebaiknya ada kamu. Hehehe...
Karena medannya agak berat (ga berat-berat kali kok) dan agak turunan, kami meninggalkan motor di daerah perbukitannya. Memang tidak ada yang menjaga, tapi sulit juga jika mau dibawa ke dekat pantai. Ya tapi Puji Tuhan, sampai kami mau pulang, motor tetap aman kok. Oh ya, di pantai ini tidak ada biaya masuk kok, alias free! Perlu waktu 2-3 menit untuk berjalan menuju bibir pantai.

Kami Supir Medan lek! Amanlah sampek tujuan.
Penilaian pertamaku, pantainya cukup luas, banyak umang-umang dan ombaknya tidak terlalu besar, namun sayang sekali pantainya kotor. Menurut teman-teman yang kebetulan ketemu di sana, biasanya pantainya bersih. Mungkin karena habis masa liburan, jadi banyak ke sini dan suka buang sampah sembarangan. Kalo ke sini, jangan buang sampah sembarangan ya. 

Ciyeee, ciyeee...
Kami beruntung, saat sampai di sini, tidak hujan, cuaca sangat cerah dan kami dizinkan semesta untuk melihat sunset. Tapi sayang, kami tak sempat pergi ke menara Pantai Tanjung Menangis, karena jauh dan medannya lebih berat. Kami tidak yakin ke sana, karena aku dan temanku adalah cewek, agak berbahaya, apalagi hari mulai gelap. Mungkin lain kali bisa ke sini lagi, kalau membawa kawan-kawan cowok.

Silhouette ala-ala
Oo ya, tentang teman-teman yang ketemu di sana, mereka bisa dibilang petualang. Kami berkenalan dan banyak hal baru tentang Sumbawa yang mereka share ke kami, apalagi tentang objek wisatanya dan gimana cara mencapainya. Mereka sepertinya hobby fotografi yang kemudian update di instagram. Konon kata mereka Pantai Tanjung Menangis ini punya cerita rakyatnya. Coba search aja di google, aku belum sempat untuk membacanya, hehehe..

Dibalik foto IG, ada teman yang mati-matian cari angle.

Teman ketemu pantai.

Dibalik foto IG, ada model yang mati-matian cari angle.
Target awal, pulang tidak lebih dari jam 6. Cuman sayang, sunsetnya belum mateng, wkwkwk.. Ya, masa sudah susah-susah ke sini, tapi ga bawa kenangan apa-apa? Tapi, karena teman-teman yang ketemu di jalan ada cowoknya dan kami pikir dapat dipercaya, kami menunda kepulangan sampai matahari benar-benar terbenam. Dan rasanya keputusan itu tidak salah, bahkan mereka mengantar kami sampai kembali ke kota. Rasaku memang "langkah kanan". Semesta mempersilahkan kami menikmati ciptaaNya dan tak lupa menjagai kami dengan caraNya yang di luar dari perkiraan.

Senjanya terlalu memburu.

Tidak semua bagian Pantai Tanjung Menangis kami pijak, karena memang waktunya memang cuman cocok untuk melihat sunset. Setelah aku seacrh di google, beberapa blogger atau situs wisata memaparkan sudut-sudut lain dari Pantai Tanjung Menangis. Walaupun medannya kurang mendukung, tapi aku pribadi jika ada kesempatan, aku ingin ke sana lagi.

Kapan-kapan aku tiup namamu di sini, lagi.

Tips and tricks:
1. Kalau mau ke sini, disarankan ga usah pake mobil. Motor aja susah masuk, apalagi mobil? Jadi kalaupun mau bawa, mobil bisanya diletakkan di pinggir jalan aspal. Buatku, itu rawan. 
2. Jangan lupa bawa sendal jepit. Itu penting. Sayang sepatumu kena-kena batu. 
3. Kalau mau lihat sunset, waktu terbaiknya adalahdari jam 18.00-19.00 WITA. 
4. Kalau bisa bawa kawan cowok, soalnya rada rawan tempatnya. 
5. Karena penerangan minim, tidak disarankan untuk pulang terlalu malam dari Pantai Tanjung Menangis.

Saturday, 17 February 2018


Uhuk! Sekarang aku menulis blogpost ini di atas tanah Lombok. Seharian capek sekali, tapi agaknya ketiduran satu jam tadi sore buat aku ogah untuk menunda untuk menulis tentang hari ini. Inilah hari pertamaku di Lombok. Percayalah, ini adalah pengalaman pertama dan penerbangan paling jauh tanpa orangtua, ditambah lagi, aku tidak tahu apa-apa tentang Lombok. Semoga tidak menyesatkan namun bermanfaat.

Setelah ini, jangan lagi bilang bumi itu, datar!

Sebelumnya, aku pergi internsip bersama salah satu teman kuliahku yang entah bagaimana Tuhan izinkan kami bersama. Setidaknya bisa meminimalisir kegelisahan orangtua karena aku pergi jauh. Singkat cerita, sekitar jam 3 pagi, aku berangkat menuju Bandara Kualanamu, Sumatra Utara menggunakan mobil pribadi. Karena Medan-Kualanamu ditempuh 45 menit-1jam tanpa macet. Yaps, sepertinya, penerbangan kami adalah first flight di hari Valentine, sweet anet eaah, dan kami take off sekitar jam 5, menggunakan Batik Air. For you to know this my first early morning domestic flight. And also honestly, I am not brave enough to have a flight. Mck. Iya, aku sedikit kampungan memang hahaha.. Kalau sedikit turbulensi, telapak tangan dan kakiku pasti keringatan. Kalian boleh ketawa, kok.

Aku tidak terlalu baik untuk jadi teman tidur, maafkan aku Angel.

Entah kenapa penerbangan pagi sepertinya akan menjadi favoritku, menjadi saksi terbitnya matahari. Indah yang menggemaskan. Dan agaknya aku jadi menyesal sering malas bangun pagi.

Metamorfosis Pagi itu, seperti ini.

Mengenai Batik Air. Baiklah, memang aku sedang hidup ditahap "jangan menilai sebelum mencoba". Awalnya, agak kecewa karena bagian akomodasi PIDI ga memberikan penerbangan termasyur di negeri ini, taulah kan apa? Lalu, dengar-dengar cerita dan search tentang Batik Air, jadi agak luntur kekecewaan. Dan apalagi setelah melakukan penerbangan, langsung dua kali malah, dari Medan-Jakarta-Lombok, tampaknya aku ga menyesal. Hehehe.. Sebelum membacanya terlalu jauh, ini murni first impression-ku tentang Batik Air dan tanpa diberi bayaran dalam bentuk apapun.

Sarapan pak?

Mck, kampungan! Gelas aja difoto.

Makan siangnya, bu?

Aku naik Batik Air ntah yang Airbus / Boeing 737. Pokoknya seatnya 3 kanan, 3 kiri. Lupa. Kalau di penerbangan Medan-Jakarta, tamu diberikan sarapan sekitar jam setengah 6 pagi. Untuk fasilitas, tv nya belum terpasang. Kalau Jakarta - Lombok, tamu diberi makan siang sekitar jam setengah 12. Untuk fasilitas, tv nya sudah ada. Kita bisa nonton film, dengar musik, main game dan lain-lain. Cuman, saat itu menonton tidak begitu menarik buatku. Aku lebih suka melihat negeri awan. Kami memakan waktu sekitar 2 jam untuk transit di Jakarta. And finally, we arrived in Lombok, West Nusa Tenggara.

How To Execute your meal

Mini tv

Suka kalian mau pilih apa.

Setelah dipikir-pikir, beruntung juga dapat internsip di Sumbawa Besar, NTB. Dulu itu, pernah ke Bali dan berencana mau lanjut ke Lombok, cuman karena kondisi cuaca ga memungkinkan, gagal rencana. Sedih sih, tapi yowes mungkin belum rezekinya. Dan rezekinya sekarang dan dibiayai pula. Dibiayai? Iya, PIDI termasuk program pemerintah dalam pendidikan dokter, dan negara yang menanggung semua akomodasinya. Kenapa ke Lombok,  kenapa ga langsung ke Sumbawa Besar? Iya, kami diberi pembekalan internsip dulu di setiap ibukota propinsi, sebelum bekerja di rumah sakit wahana. Jadi bisa dibilang, ini adalah perjalan dinas. Enak? Tidak juga, karena kami akan bekerja dan menjadi salah satu penanggungjawab kesehatan masyarakat. Ya, pokoknya sebisa mungkin mensyukuri segala sesuatunya dan memanfaatkan berkat yang ada. Ya salah satunya dengan begini, hehehe.. 

Inilah tontonanku selama kurang lebih 2 jam

Sebelum sampai Lombok, kami sudah bertanya terlebih dahulu dengan teman-teman yang orang asli Lombok mengenai akomodasi menuju Hotel Lombok Raya. Nah, jadi pada saat itu aku baru benar-benar ngeh kalau Bandara Lombok berada di Lombok Tengah, Hotel Lombok Raya di Mataram dan jaraknya kira-kira 40 menit. Banyak pilihan untuk ke Mataram, bisa dengan taxi bandara, travel, Damri, taxi online (cuman kalau tidak salah, taxi online sudah dilarang masuk bandara), dijemput pacar kalo punya pacar sih *eh!. 

Maaf, leceuk kali

Kami ga memilih Damri karena mengingat jumlah barang kami yang imbang-imbang rumah tangga yang pindahan. Bayangkan saja, kalo ditotal kelebihan bagasi kami sekitar 33 kg, lebih dari 1 penumpang selain kami. Hahaha.. Kami memilih memakai travel, dan lagi-lagi mesti pinter untuk menawar. Kami awalnya dipatok harga Rp 200.000. Cuman karena kata kawan, harga biasanya Rp 150.000, kami coba tawar dan kami sah di harga Rp 170.000. Tapi pas sampai di hotel dan cerita-cerita dengan teman dari Bandung, mereka dapat harga Rp 125.000. Hahaha, baiklah lain kali mungkin aku mesti lebih mengasah skill tawar menawar agar sah menjadi seorang wanita tulen :D

Belum sempat ke pantai aslinya

Nah, sebenarnya dengan harga Rp 170.000, bapak supirnya menawarkan untuk membawa kami ke Desa Sade, penghasil tenun Lombok. Tapi karena berhubung waktu kayanya kepepet mesti ke pembekalan Internsip, walau berat, kami menolak (soalnya memang udah pengen jalan-jalan aja akunya hahaha..). Mengenai bapak supir, entah memang itu jiwa seorang pemandu wisata, bapaknya baik dan menjelaskan hal-hal yang aku kepo-in tentang destinasi-destinasi Lombok, adat budaya, tradisi, kebiasaan dan hal-hal lain mengenai Lombok. Bapaknya banyak tau, yailah dari kecil sampai sekarang bertahan di Lombok. Nah, setidaknya, dari bapaknya aku menambahi daftar tempat wisata di sekitar Lombok (karena jauh-jauh hari aku sudah membuat daftar wisata Lombok). Asik! Tapi sayangnya, di Lombok-lah yang lebih banyak spot-spot wisata yang bagus. *mari menabung*

Kanan kiri depan belakang perbukitan.

Lah, kok jadi foto pembekalan yang paing akhir, cuman satu pula

Yodah, sekianlah dulu cerita tentang Lomboknya. Flight ke Sumbawa Besar, segera ya, kalo ga sibuk internsip. Doain ya semoga internsipku  Cerah, Berkah dan Berlimpah. Dan kalau ada destinasi sekitar Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, dimohon dengan senang hati, komentar dibawah ya. 
Salam, Asek!

Monday, 12 February 2018

Potret Dari Atas Kapal
Well, sebelum aku beranjak dari Medan, izinkan aku mengungkapkan bahwa Medan membentukku lebih jauh lebih matang. Dan Medan begitu membahagiakan. Tapi, bukan itu yang mau ku bahas. Hahaha..

Sebelum aku kembali ke kampung halaman untuk pamit *halah!* karena mau internsip, aku sempat pergi salah satu destinasi yang lagi-lagi sudah masuk list ku, tapi enggak tau bagaimana ke sana dan dengan siapa. But, emang dasar rezeki anak soleh *enggak soleh-soleh amat, seriusan!*, aku diajak teman-teman sekostan untuk pergi ke Percut Sei Tuan.

Percut Sei Tuan salah satu tempat terbaik untuk pecinta seafood ditambah lagi dengan suasana angin laut, nelayan menjaring ikan dan bunyi mesin kapal. Warning, sebelum ke sini coba cek kolesterol kalian ya!

Let get Lost!
Aku sama sekali belum pernah ke sana, cuman nama tempat ini sering kedengaran di telingaku. Yaiyalah, selain dinobatkan sebagai ratu lele se-teman-permainan, aku adalah penggila udang. "Berikan aku sekilo udang, maka aku akan mengguncang perutku". Eh tapi, kayanya kurang deh kalo cuman sekilo. Ckckck.. *geleng-geleng kepala* 

Kalau dari Medan, kira-kira Percut Sei Tuan dapat ditempuh selama 45 menit sampai 1 jam. Jalannya lebar dan sudah beraspal. Mungkin cuman dibeberapa tempat yang masih berlubang. Banyak belok-beloknya, jadi saranku sih, kalo misalnya belum pernah ke sana, sebaiknya pakai bantuan Google Maps. Sesampainya di sana, ada tempat parkir kok, biayanya Rp 20.000, hemmm... Biaya itu kayanya untuk per sekali parkir, bebas berapa jam. 

Senyum Mau Ketemu Udang.
Hal pertama yang bakalan didapati adalah para penjual ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Banyak pilihan genk, seriusan! Mau apa? Ikan ada. Udang, cumi-cumi, kepiting, lobster, dan banyak lagi. Awas silap-lah pokoknya. Hahaha! Cocoknya kalo ke sini, kita wajib bawa mamak-mamak. Kenapa? Biar bisa nawar. Hahaha.. Kata teman sih, semakin sore, harga semakin murah (tapi kualitas masih bagus kok). Mungkin prinsip mereka, "daripada tidak ada yang membeli". Btw, maaf ya enggak ada dokumentasi pas di TPI. Aku lupa. Hehehe..

Setelah memilih apa yang mau dimakan, belanjaan kami dibawa oleh orang setempat. Karena nanti di sana juga disediain jasa memasaknya. Bisa digoreng, diasam manis, ditaucho, disaus tiram, dibakar dan lain-lain. Jadi kami semacam di-full service-kan gitu. Untuk tempat makannya, kita dikasih pilihan mau dipinggir sungai atau ditengah lautnya? Kami kemarin memilih ditengah laut, biar greget! Wkwkwk.. Tapi, dengan resiko, sinyal agak susah. Ya, agak susah update pas lagi ditengah laut.

Di depan tangga rumah makan terapung.
Dengan menggunakan kapal, kami melewati sungainya menuju rumah makan terapungnya. Sungainya berwarna coklat kekuningan dan tenang. Namun sayangnya, sepanjang mengarungi sungainya, aku banyak mendapati sampah-sampah plastik yang mengapung dan bahkan ada yang terseret ke akar-akar tanaman bakau. Ada juga rupanya beberapa ekor monyet yang mendiami hutan bakaunya. 

Aku kurang tau apa nama rumah makannya, enggak begitu memperhatikan soalnya. Wkwkwk.. Namun sejauh mata memandang. di tengah laut cuman ada 2 rumah makan. Kami memilih yang paling dekat saja. Langsung kami timbang apa yang kami beli dan dimasakkan sama pramusajinya. Rasaku, pramusajinya adalah orang-orang setempat. Oh ya, pilihan minumnya cuman teh manis dingin (mandi kalo orang Medan bilang, wkwkwk..), Lemon tea, es kelapa, dan air mineral.

Ini Dia Penampakkan Rumah Makannya.
Durasi memasaknya agak lama sih, kira-kira 15-30 menit. Soalnya sepenglihatanku, di sana cuman ada 2 kompor, sementara ada beberapa keluarga ya datang. Enggak usah takut, kita enggak akan bosan apalagi karena sinyal awut-awutan. Pemandangannya lumayan bagus. "Ada rupanya begini di dekat Medan", pikirku. Aku juga enggak mau diem, beberapa spot bagus untuk diabadikan.

Itu Juga Ada Rumah Makan Apung Lainnya.

Naik Kapal Bareng Abang Yok Dekk..
Oh ya, pada saat kami ke sana, rumah makanya sedang menambah lapak. Jadi makin luas deh. Harus hati-hati. Takut jebol. Hemm, jangan khawatir, di sana ada toiletnya, siapa tahu kebelet kan ya? Hehehe..

Masih Kerangkannya

Bang, Bang Kenapa Bang?

Memang pada saat itu, perut kami sedang lapar-laparnya. Panasnya matahari dan lengketnya suasana di tengah laut buat kami enggak bisa membiarkan makanan itu mendingin begitu saja. Kami langsung menyantapnya. Rasa masakkannya enggak kalah jauh dari masakan yang ada di tengah kota. Cukup bersih juga. Ya buktinya sampai blogpost ini diterbitkan, aku masih sehat walafiat. Sangkin kemaruknya (serakah.red), kami kekenyangan dan beberapa menu bersisa, tapi masih bisa dibungkus kok.

First, Let's Take A Wefie!

Makan Bang?

Tidak ada yang mau kejar, jadi suka hati untuk berlama-lama nongkrong di tengah laut. Hahaha.. Kami lebih memilih ngarol-kidul sambil nunggu matahari agak terbenam. Sadar enggak sadar, semakin sore, air lautnya semakin surut, dan burung pelikan serta bangau juga makin aktif beraktifitas. Duh, gemes!

Belum Terlalu Sore

Mulai Sore dan Surut

Surut Genks!
Oke, masalah Budget? Kemarin kami berempat ke Percut Sei Tuan. Kalau tidak salah, total seafood yang dibeli sekitar Rp 260.000. Biaya masak sekitar Rp 15.000/kg, aku lupa berapa kilo belanjaan kami. Biaya untuk nyebrang memakai kapal kalo enggak salah Rp 20.000/orang. Jadi, kalo ditotal, kira-kira Rp 100.000-150.000/orang. Terjangkau atau tidak, itu kembali ke kita masing-masing. Buatku, kalau memang sedang liburan, biaya segitu terjangkau. Apalagi, ada yang dibungkus dan bisa dimakain untuk besoknya. Maklumlah genks, anak kostan. Hahaha..

Over all, Percut Sei Tuan itu cantik, cukup jadi tempat rekresasi, apalagi di tengah lautnya. Beugh, bisa jadi tempat wisata yang Mantep-Jiwa kalo misalnya lebih diperbaiki dan dipelihara, sehingga mengundang lebih banyak wisatawa. Ah kan, makin sulit untuk meninggalkan Medan?

Hey Gadis, Siapakah Gerangan Kamu?

Friday, 9 February 2018

Si Cantik Gunung Sinabung
Agaknya sebelum aku pindah dari Medan, Semesta mengizinkanku pergi ke tempat-tempat yang sebenarnya sudah masuk list untuk ku kunjungi. Tapi kalo ga karena medannya yang sedang tidak baik, ya bingung mau ajak siapa. Rencana tinggallah rencana

Dengan perencanaan yang sebenarnya tiba-tiba, dan sebenarnya awalnya cuman pengen ke Berastagi saja untuk beli susu si Peternakan Sapi Berastagi dan memetik Stroberi, melihat suasana masih siang menuju sore, sayang rasanya cepat-cepat pulang. Lebih tepatnya, ngapain cepat-cepat pulang. Hahaha..

Salah Satu Kebun Stroberi Berastagi


Peternakan Sapi Gundaling, Berastagi.

Danau Lau Kawar. Ya, salah satu destinasi yang sudah lama ku idam-idamkan, akhirnya akan segera di depan mataku. Hasek! Kira-kira 1 jam dari Berastagi kami menuju Danau Lau Kawar. Nah, yang membuatku sedikit terkejut, ternyata itu searah dengan Gunung Sinabung. Untungnya, Gunung Sinabung tidak sedang aktif. Aman..

Gunung Sinabung dengan ketinggian 2.451 meter, nampak masih indah. Diselimuti debu vulkanik dan pepohonan yang rasaku sudah mati sejak terkena lahar panas saat Gunung Sinabung sedang erupsi. Tapi entah kenapa itu terlihat cantik. Barisan pohon-pohon yang tidak berdaun lagi tapi masih berdiri. Kemarin puncaknya juga diselimuti kabut, tapi aku masih bisa melihat puncaknya yang sedang tenang itu.

Salah satu rumah warga sekitaran Gunung Sinabung.

Jalan arah ke sana masih banyak penduduk yang bertahan. Mungkin mereka tidak ingin meninggalkan kediaman dan pekerjaan mereka yang didominasi bertani. Iya, sayur-sayur rasaku tumbuh sangat subur di sini, mungkin karena tanahnya tanah vulkanik kali ya.. (enggak paham-paham banget ilmu tanah soalnya, hehehe..)

Aku tidak tahu pasti itu di radius berapa, cuman rasaku itu cukup dekat dan cukup berbahaya kalau tiba-tiba Gunung Sinabung erupsi lagi. Di beberapa aliran-aliran sungai dekat gunung tertulis peringatan bahwa di situ aliran lahar panas kalau-kalau Gunung Sinabung berulah lagi. Dedaunan di kanan kiri jalan berwarna abu-abu karena kena debu vulkaniknya. Yaiylah, pas erupsi saja, debu Gunung Sinabung sampai ke kostanku, di Medan, yang kira-kira 2-3 jam jauhnya dari Sinabung. Apalagi di sekitaran Sinabung ya, kan? Pastilah lebih berdebu.

Ayok bang, kita kayuh sampannya, eakkk!

Belum terlalu sore dan matahari juga belum terbenam, kami masih sempat melihat Danau Lau Kawar. Aku tidak tahu pasti bagaimana bentuk Danau Lau Kawar sebelum erupsi Sinabung. Cuman, rasaku di gapura selamat datangnya masih berantakan dan tidak terurus. Aku juga kurang tau, apa ini milik pemerintah atau swasta, soalnya di sekitaran Danau Lau Kawar ada tempat bermain anak, tempat ngopi dan semacam rumah kecil ada di situ. Dan kalau aku tidak salah, ga ada biaya untuk masuk kok.

Sedikit mengenai Danau Lau Kawar, merupakan salah satu danau di Kawasan Ekosistem Leuser, berada di Desa Kutagugung, Kecamatan NamanTeran, di bawah kaki Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatra Utara. Akses menuju Danau Lau Kawar juga sudah bagus dan beraspal. Cuman, semakin ke mendekati tujuan, jalannya semakin kecil, tapi mobil masih bisa masuk kok. Kalau misalnya bingung kemana arahnya, banyak kok penduduk di sana, jadi mudah untuk bertanya. 

Kok berasa raksasa ya di sini?

Ada juga rakit di sini

Kalau Danau Lau Kawarnya sendiri, masih bagus. Tidak ada sampah. Duh senangnya! Ketika kita duduk di pagar pembatasnya, kita akan disajikan pemandangan perbukitan hijau tua yang mungkin tidak ada di kota. Airnya tidak berisik. Udaranya tidak kotor dan paru-paruku benar-benar sedang tamasya. Yang kedengaran cuman semilir angin, canda tawa, cuitan burung-burung dan kayuh sampan beberapa pemuda setempat. Ah, jiwaku sedang tenang saat itu. Lupa masalah, lupa tuntutan, dan lupa target. Liburan ga mesti luar negeri. Liburan buatku saat alam bisa menenangkanku. Kalo kamu?

By the way, kalo mau ke sini harus update berita ya, kali saja Gunung Sinabung-nya sedang erupsi. Liburan boleh, tapi harus tetep jaga keselamatan diri ya guys!

Pipi tembem, muka leceuk. Mohon maaf ya, jadi rusak pemandangannya..
  

Kira-kira ada ga ya orang yang tnggal di dalam bukit-bukit itu?