Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Monday, 26 March 2018

Hidup di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat | Jilid 1


Memasuki bulan-bulan yang agak sibuk sampai blog pun hampir berdebu layaknya hati para jomblo (untung enggak jomblo lagi. Bukan sombong, cuman lagi memupuk salah satu aset masa depan, sebut saja relasi dekat. Hooh, doain ya! *Lah, kok jadi beda topik gini?). And FYI, It was written when i was free in my night shift. This is how I kill boredom.

Hampir dua bulan berada di Sumbawa Besar, agaknya membuatku pribadi lumayan nyaman dengan keadaan lingkungannya. Hemm, memang ga ada mall atau segala kemudahan seperti di kota besar. Cuman, mungkin di sini cocok untuk jadi tempat bekerja dan menabung. Secara, dengan ga adanya tempat nge-mall atau nonton, bisa meminimalisir niat untuk berhedon ria. Wkwkwk.. Gaji aman, komandan!

These are some of my first impression to be here since around two months. Ga ada tempat yang buat bahagia-bahagia amat, guysToh kata Payung Teduh "Mengapa takut pada lara, sementara semua rasa bisa kita cipta"~


1. Kerja sambil Liburan. Eh ga deng, Liburan sambil Kerja, hemm..
Nah, menyambung masalah gaji tadi, hasil tabungannya nanti kemana? Tenang, Sumbawa Besar punya nilai plus yang patut diacungi jempol. Terbang ke arah timur, kita udah sampai Lombok. Nyebrang ke arah barat, kita udah sampai Pulau Komodo. Eh tapi, ga usah jauh-jauh deh, Pulau Sumbawa saja sudah punya destinasi hitsnya tersendiri, ada yang bisa dijangkau pakai motor juga kok. Jadi, kita ga begitu mengeluarkan budget yang banyak. Udahlah liburan, ga begitu berat di ongkos pula. Cemana?


2. Kulinernya enak-enak
Banyak menu makanan baru yang aku temui di sini, dari makanan berat sampai cemilan. Plecing, sepat, singang, dan banyak lagi. Kalo ngomong plecing, kebetulan aku orang penyuka kangkung, jadi otomatis aku coba. Aku punya sedikit kisa memalukan. Kangkung yang dijadikan plecing tidak dipetik-petik. Jadi, karena kangkungnya panjang-panjang, aku kira tukang masaknya pada malas metikkin daun kangkungnya. Sampai aku komplain sama temen yang memang asli Sumbawa. Hahaha, ternyata plecing kangkung emang disajikan begitu. Kangkungnya ga dipetik, kemudian direbus. Disajikan dengan toge rebus dan sambal khasnya. Dan itu buat nagih. Pokoknya sesudah pulang dari Sumbawa, aku mesti bisa buat plecing dan aneka masakan yang lain. Kalo ga, ga lucu kan demi pengen makan plecing kangkung, aku mesti terbang ke Sumbawa? Wkwkwk...


3. Fenomena Lonceng Sapi
Ini sedikit aneh sih. Beberapa malam sejak di sini, kadang terdengar suara lonceng. Ga begitu jelas darimana. Apalagi loncengnya kaya loncengnya Ibu di film Pengabdi Setan, wkwkwk.. Awalnya ku kira tukang bakso lewat, tapi pas di lihat keluar, ga ada apa-apa. Yah, berusaha berfikir positif, mungkin tukang baksonya naik jet, jadi cepat kali ga tampak. Terus kejadian lagi, ternyata itu lonceng sapi warga sekitar. Sapinya ngeronda, mungkin.

Udah lah, sekian dulu aku cerita ya. Capek juga, besok mau jaga pagi pula. Nanti, kalo ada cerita-cerita (yang bagiku unik), ku posting lagi ya. Semoga kalian ga bosan sama ceritaku. Kalo rajin, ceritain juga pengalaman hidup kalian di Sumbawa Besar. 

*ketjup manjah dari sapi Sumbawa

1 comment: