Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Monday, 16 April 2018

Dua Bulan Pertama Jadi Dokter Internship di Sumbawa Besar | Jilid 2


"Peng, kau internship atau ga sih? Itu daftar liburan mu ngalah-ngalahin jadwal jaga", beberapa teman nge-dm aku, tidak lama setelah aku update instastory tempat-tempat wisata di sekitar Nusa Tenggara Barat. Wait, sebelum aku cerita banyak, aku mau kasih tau kalo aku memang dipanggil Nopeng (panggilan sejak di kuliah) atau Nopiporn (Plesetan dari username instagramku). Gitu.


Sesampainya aku di sini, kehidupan sedikit berubah. Bertemu dengan banyak karakter-karakter baru yang mau ga mau harus ku kenali kalau tidak manalah bisa aku beradaptasi. Menyesuaikan dengan tata krama, kebiasaan dan bahasa daerah Sumbawa. Bahkan, cuaca di sini yang belakangan sudah lama tidak ada hujan. Hampir ku kira, Sumbawa adalah bagian dari Timur Tengah yang nyasar tercipta di Indonesia.


Aku bersyukur ditakdirkan sementara di sini, ya walau dengan konsekwensi agak lebih jauh dari orangtua. Tapi, jauh-jauh hari memang sudah pasti dipikirkan matang segala dampak yang ada. Dari mulai kalo sakit, siapa yang ngurus? Kalo ada apa-apa, minta tolong sama siapa karena di sini memang ga punya kenalan? Mungkin tidak pulang selama setahun karena budget tiket yang lumayan dalam ngerogoh kocek. Tapi, satu kalimat film Ngenest ku bawa ke sini,''Tidak semua yang kita inginkan akan terwujud dan tidak semua yang kita takutkan terjadi". Yes, sometimes we need go with the flow.


"Gimana kemarin minta izin sama orang tua?".

"Aku dulu sebenarnya ga dibolehin jauh-jauh".

Itulah kira-kira pembuka cerita ketika ngobrol dengan teman-teman yang memang bukan asli Lombok atau Sumbawa. Wkwkwk. Mungkin nanti, ketika punya anak pun aku, melepasnya agak jauh, buat aku sedikit bimbang. Tapi, memang berkompromi adalah jalan yang paling baik ketika melawan kekhawatiran orangtua. 

Tentang internship di sini. Sampai aku bercerita di blogpost ini, aku sudah dua setengah bulan di sini. Dengan segala kemudahan yang tiba-tiba datang, seakan Tuhan tidak begitu membuatku pusing untuk hidup di sini. Yang sempat ku khawatirkan, nyatanya tidak terjadi seperti yang kubayangkan. Ini mungkin bukti "Tuhan mencukupkanmu. Tuhan memberi yang kau butuhkan". Tidak risau-risau amat, kok.



Lingkungan internship yang baik dan welcome sekali. Aku suka dengan lingkungan kerjaku. Punya hubungan partner kerja yang saling ngingetin dan berbagi pengalaman. Waliau kadang kesal dengan kedisiplinan  yang ada, toh lambat laun aku sadari, malah itu buatku jauh lebih baik. Lah, bukannya besi lebih berguna dan berharga setelah dibentuk? Ah, aku bersyukur berada di sini. Aku sesungguhnya benar-benar membutuhkan pengalaman yang begini. Hidupku sudah lama bertapa di zona nyaman. Hehehe.. 

Tapi, memang bawaan badanku sejak koas tidak berubah. Pasien banyak dan pasti ada saja pasien yang sangat gawat. Wkwkwk. Apa ini tanda aku cocok kerja di IGD? Kata kawanku, aku kaya patung kucing yang ada di tokok cina, manggil-manggil pelanggan. Hahaha. Mbuh, sakarep Gusti wae. pokok'e semoga Dia semakin menunjukkan dulu dimana aku bekerja dengan baik, kan gitu. Sejauh ini emang karakterku agak malas bekerja dikeadaan sangat genting, walau sering dilatih Gusti untuk menghadapi hal yang mendadak. Hahaha..



By the way, kurang dari sepuluh bulan lagi aku tinggal di sini, tapi sudah cukup banyak cerita yang ku bawa pulang nanti. Senang, lucu, sedih, kesal, deg-degan, bangga. Sumbawa, adalah keluarga baru yang entah bagaimana alasan aku bertemu mereka lagi nanti setelah aku kembali ke tempat asalku. Dua setengah bulan yang ajaib, yang kukira aku bakal kalah karena inilah pertama kali merantau beda pulau, beda zona waktu dari keluarga, atau bahkan banyak yang meragukan aku untuk pergi sejauh ini. 



Mungkin, ini awal aku merantau lebih jauh nantinya. Atau mulai berpikir, dekat keluarga adalah rindu yang tidak bisa ku obati dengan apapun walaupun kecanggihan teknologi merasa membuatku  tetap dekat dengan mereka. Pada akhirnya, semua keinginan, kriteria dan keegoisan akan kalah ketika kenyamanan hati menjadi tiang paling kuat. 

No comments:

Post a Comment