Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Sunday, 22 April 2018

Selera | Kopi Seperempat Abad #1



Key menepikan motornya. Hujannya cukup lebat, tidak ada alasan untuk menerjang jalanan sore itu, walaupun jika dia bawa mantel hujan. Satu-satunya tempat untuk berteduh, hanya ada sebuah kedai kopi tanpa nama. Key bukanlah penikmat kopi. Berulang kali dia gagal menikmatinya. Dia berharap sama seperti yang orang-orang lain rasain. Cuman, daripada dia duduk termangu di depan kedai itu, sementara orang lain berada di dalamnya. Key pun berencana masuk.

"Mbak, neduh di dalam saja. Di dalam juga ada minuman lain kok selain kopi", tukang parkir datang sambil bawa payung,"Biasanya, orang yang lama di depan kedai ini, karena ga begitu suka kopi. Nanti biar saya yang susun motor mbak", tambahnya lagi, ramah.

"Oooh iya pak, makasih", Key melangkah dan membuka pintu kedai itu. Lonceng selamat datang pun berbunyi. Tampaklah kedai kopi itu cukup ramai, apalagi sedang hujan. Godaan kopi hampir sama dengan godaan hangatnya mie rebus dengan telur setengah matang.

Key melihat daftar menu yang ditulis dengan kapur, terpampang di atas kasir. Huruf-hurufnya unik dan klasik. Kedai ini menyuguhkan banyak jenis kopi yang pasti tidak begitu familiar di lidah Key. Di list terakhir menu, Key mendapati teh sereh madu favoritnya. Masih terbilang jarang tempat nongkrong yang menawarkan teh sereh madu. Tanpa berpikir panjang, Key memesannya. Key mencari tempat duduk yang belum ada orangnya. Agak di sudut dan sedikit lebih gelap daripada meja yang lain.

"Sendirian aja?", Cokro, resident Bedah yang sudah akan sumpah dokter minggu depan. Cokro kebetulan praktek di satu rumah sakit yang sama dengan Key.

"Eh? Ya ampun ngagetin aja kamu bang", Key berbalik badan setelah mengambil laptopnya untuk menyelesaikan beberapa bagian thesisnya yang sudah direvisi.

"Iya maaf. Sendirian aja?", Cokro mengulang pertanyaan yang sama. Cokro langsung duduk saja tanpa minta permisi pada Key. Karena memang tidak ada lagi meja yang kosong. Mumpung Cokro agak kenal dengan Key, dia pun menarik kursi. Dia duduk pas di depan Key.

"Iya, kebetulan tadi aku kehujanan, soalnya ga bawa mobil", Key menghubungkan kabel laptopnya ke colokkan yang berada dibawah kursinya.

Suasana yang dingin dikelilingi oleh canda tawa orang-orang di kedai itu. Entah mereka memang sengaja janjian nongkrong atau tak sengaja bertemu seperti Key dan Cokro. Alunan musik indie dari penyanyi dalam dan luar negeri mengalir seraya segala pesanan mulai hilang kehangatannya. 

Seorang pelayan datang dan mengantarkan pesanan Key. Langsung Key cicip teh sereh madunya. Alis matanya naik, menandakan tubuhnya tidak begitu dingin lagi seperti sebelum masuk kedai ini. Diaduknya teh itu dengan batang serai, memastikan kembali madunya benar-benar menyatu sambil menunggu laptopnya restart.

"Lucu kamu", Cokro juga membuka laptopnya, bukan mau mengerjakan tugas, tapi mau numpang wi-fi untuk downlod film-film terbaru. Dia sudah lama vakum nonton film-film baru karena sibuk mempersiapkan ujian kompetensi.

"Apa yang lucu dengan aku?", Key memperhatikan penampilannya, kali saja ada kancing baju yang tidak tertutup atau rambutnya yang lepek karena hujan.

"Masa ke kedai kopi, mesannya teh gituan?", Cokro mulai nge-search website download film.

"Teh sereh madu?"

"Iya, itu maksudku."

"Orang kan beda-beda sih favoritnya apa".

"Kenapa? Pernah punya pengalaman buruk dengan kopi?"

"Enggak sih kayanya. Emang mesti ada pengalaman buruk dulu baru menjauh?"

"Biasanya gitu. Orang biasanya menjauh dari cinta karena pengalaman buruk."

"Cinta sama dengan kopi? Gitu maksudnya?"

"Iya..

Sebelum melanjutkan percakapan mereka, Key kembali menyeruput dua sampai tiga tegukkan teh sereh madunya. Sementara Cokro, belum berniat memesan. Selain mendownload film, Cokro sedang mencari website komik online.

"Emang contoh pengalaman buruk yang pernah abang rasakan?"

"Banyak wanita ga ngerti arti kata menunggu. Padahal yang pria lakukan juga buat dia".

"Wait, further explain, please.. Biar aku sebagai cewek ga salah menanggapinya"

"Gue ditinggal ditinggal, sebulan sebelum cincin lamaran yang gue pesan kelar",

"Kapan kejadiannya?"

"Tadi sore, sebelum hujan sederas ini."

"Hahahaha, mungkin ini karena abang, eh sorry.."

"Iya, gapapa. Biar langit saja yang mewakili. Dia ga ngerti arti berjuang sepertinya. Hidupnya terlalu dangkal, jadi ga pernah ngerasain bertahan dengan posisi mengambang dan dalam kondisi panik, itu bagaimana. Susah jadi pria", Cokro mau nangis, tapi malu karena ada Key.

"Dia pasti punya alasan atau abang ga ngasih kepastian", Key mencoba menebak alasan mengapa hubungan Cokro harus kandas begitu saja.

"Entah kepastian seperti apa yang diharapkan wanita. Apa karena orangtua mengharapkan dia segera menikah, lalu iya iya saja dengan pria lain pilihan orangtuanya, dia membumi hanguskan semua usaha?"

"Gue ga bisa mengomentari apa-apa. Rumit memang. Tapi pesan gue cuman satu bang, sesuatu yang sudah diambil, percaya saja akan digantikan dengan hal yang jauh lebih baik", "Btw, kok kita nyambung pula. Tadi awalnya ngomongin apa sih?"

"Itulah kopi. Banyak hal yang kita dapat dari kepahitannya", Cokro mulai berniat memesan minum.

No comments:

Post a Comment