Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Friday, 20 July 2018

Check Point! Pulau Kenawa, Pulau Paserang dan Pulau Belang, Nusa Tenggara Barat


Berbicara tentang Indonesia agaknya kita tidak akan habis-habisnya dan terus merindu. Indonesia mempunyai kadar candu yang cukup tinggi. Menarik segala penjuru untuk mendatanginya. Hidup rasanya percuma tanpa menatap betapa menakjubkannya tanah ibu pertiwi ini. 

Salah satu yang aku syukuri, ketika pemilihan wahana Internship, Lombok tidak begitu menarik untuk dipilih. Kalau tidak, aku tidak ada keinginan untuk menjalani Pulau Sumbawa. Sumbawa? Ya, yang awalnya ku kira salah satu bagian dari propinsi NTT atau paling tidak, dekat dengan Pulau Komodo. Tapi, sepertinya sejauh ini, menyesal tidak ada di kepalaku. Pulau Sumbawa punya kekayaan alam yang masih "gadis". Tidak begitu seterkenal Nusa Penida, Lombok, Labuhan Bajo. Pulau Sumbawa, si cantikk yang diam-diam begitu mempesona. Dan sepertinya Pulau Sumbawa membentuk mind set ku akan tempat kerja yang wajib dekat dengan tempat travelling. Huowoyooooow! 


Sebelum kita ke pelabuhan, Poto Tano sendiri mempunyai keadaan yang ciamiiiik! Padang savana yang kering dan gersang, pasir yang terbang-terbang, membuat Poto Tano terlihat lain dari beberapa pelabuhan yang pernah aku temui. Bahkan Pelabuhannya saja bisa jadi tempat wisata. Menurut ngana? Wkwkwk..



Banyak pulau di sekitar Pulau Sumbawa memberikan kesan private island. Salah satunya adalah 3 pulau yang baru beberapa hari yang lalu aku datangi yaitu, Pulau Paserang, Pulau Belang, dan Pulau Kenawa. Cantik, murni dan belum banyak turis. Aku bisa sebebas-bebasnya merasakan bahwa Tuhan terlalu baik mengizinkan aku menginjakkan tanah ini. Aku bisa menghirup wangi matahari yang menyengat di pori-pori kulitku. Dan sangkin menikmatinya, aku lupa mengoleskan sunblock, so dalam sehari penampakkanku sudah gelap dibeberapa bagian. No matter how, I might be enjoy it.



Sebelum terlalu jauh aku bercerita, waktu terbaik untuk naik kapal menuju Pulau Kenawa dan lainnya, adalah sekitar jam 10-11 siang. Kami ambil start jam 8 dari Sumbawa Besar menuju Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat. Perjalanan itu membutuhkan waktu sekitar 1,5-2 jam. But, I'm telling you, during due to Poto Tano you should be the witness of Indonesia's land in Sumbawa. Kanan kiri banyak ladang dan perbukitan yang sayang untuk ditinggal tidur. Hahaha... Di sana masih ada supermarket dan ATM kok, jadi kehidupan masih bisa dikondisikan.




Sebenarnya sempat beberapa kali gagal mau ke Pulau Kenawa dari alasan receh seperti telat bangun, jadwal jaga yang padat merayap, sampai memang ga punya kendaraan, membuat aku dan teman-teman menunda. Hahaha, But God's time is always better than your wants, guys. Ya, awalnya yang termasuk the highest curiosity of my bucket list selama internship adalah hanya Pulau Kenawa. Nyatanya, ketika merealisasikan liburan pendek ini, aku dan teman-teman ditawaran tiga pulau untuk sekali jalan. I never known Paserang island and Belang Island. It's totally out of my expectation. Dengan biaya IDR 550K untuk pulang-pergi pulau dan IDR 25K untuk penyewaan alat snorkeling, kami bisa langsung menikmatinya, tanpa batas waktu dalam sehari. Oh ya, biasanya kapal yang digunakan maksimal berisi 10 penumpang. Cuman, karena kami hanya 6 orang dan 1 nahkodanya, kami memakai speedboat. Sesampainya di sana, kami tidak bertele-tele, ketemu sama bapak nahkodanya, cocok harga, langsung pergi menuju 3 pulau itu.


In other side, there's another important reason actually. Jadi menurut pengakuan bapak nahkodanya setelah kami selesai menyelesaikan perjalanan, alasan naik speedboat karena ombak cukup besar dan kalau pakai kapal yang agak besar, susah untuk melewati ombaknya dan sebenarnya lebih bahaya. Nah, selain naik speedboat, kami juga dari awal udah disaranin memakai baju pelampung.


Yup, setelah dipikir-pikir memang ombaknya cukup besar. Cuman, bapaknya heran, ini tamunya pada ketawa-ketawa aja kapalnya loncat-loncat membelah ombak. Memang antara bahagia dan bodoh ga tahu kenyataan bahwa sebenarnya resiko kapal terbalik, beda tipis. But well, walau sebenarnya dua-duanya bahaya, bukan takabur, aku bukan orang yang pandai berenang, tapi ketakutanku ketika naik pesawat jauh lebih tinggi daripada naik kapal. Wkwkwk... 

1. Pulau Paserang




Aku tidak begitu jelas kenapa Pulau Paserang menjadi tujuan pertama. Selama perjalanan, kami disajikan langit yang sangat cerah, beberapa pulau kecil yang ditumbuhi rerumputan dan ada karang-karang putih. Ombak yang cukup besar kadang-kadang menghantam speedboat. Naik turunnya kaya naik roller coaster. Semacam ga ada takutnya, kami tetap ketawa-ketawa. Belum apa-apa kami memang sudah basah di jalan. Cuman dalam 10-20 menit, kami merapat di dermaga kecil Pulau Paserang. Semakin dekat, semakin nampak degradasi warna biru gelap-biru agak gelap (hahaha) - biru agak muda (hahaha) - biru muda - putih pasir. Sorry mendesktripsikannya begitu.



Pulau indah dan tidak berpenghuni, akan benar-benar menarik untuk para pengabdi travelling yang tenang dan masih belum begitu tersentuh oleh tangan manusia, Pulau Paserang bisa jadi destinasi kalian. Rerumputan coklat yang kering mendominasi dan sebuah bukit panjang menjadi icon-nya.


Sedikit cerita mengenai Pulau Paserang. Pulau Paserang disebut juga Pulau Pasaran, karena konon katanya di sini sering dijadikan tempat transaksis jual beli ikan. Letaknya berada di Selat Alas, pemisah Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok.


Di sini, kami sempat snorkeling. Menurut arahan bapak nahkodanya, di sini juga ada karang-karang cantik, tapi ikannya ga begitu banyak macamnya. Dan kami pun membuktikannya. Tapi maaf, aku ga ada foto bagaimana keadaan di dalam air, soalnya aku lupa nge-charge batrai GoPro. Biarlah, kami saja yang menikmatinya. Kalian mau juga? Yuk datang ke sini.




Semua pemandangan hanya laut biru dan perbukitan pulau-pulau kecil yang tidak berpenghuni. Ada juga beberapa spot yang memaparkan puncak Rinjani.


Oh ya, di Pulau Paserang juga bisa menginap kok. Jadi, di sini ada beberapa rumah yang disewakan, cuman aku kemarin lupa nanya, berapaan harganya per malam. Sorry, membuat kalian jadi penasaran, hehehe..




2. Pulau Belang


Setelah puas merasakan alam Pulau Paserang, kira-kira setelah 1 jam lebih, Target perjalanan ke dua adalah Pulau Belang. Kami menempuh waktu sekitar 10 menit untuk mencapai Pulau Belang, dengan gelombang ombak yang cukup besar. Aku sempat khawatir, kalau-kalau sangkin besarnya ombak, bisa memecahkan bagian bawah speedboat. Apalagi, bapak nahkodanya sempat mengatur posisi duduk kami. Yang punya bobot tubuh paling besar, diletakkan di depan. Dalam pikiranku, mungkin agar speedboat-nya tidak mudah terbang ketika membelah ombak. Sempat speedboat-nya meloncat atau tidak seimbang, ya kami bisa terbalik saat itu juga. But, some with last shipping, kami kayanya menolak takut dengan teriakan. And for you to know, asumsi itu baru aja muncul ketika aku menulis postingan ini. Hahaha..



Sebelumnya aku juga ga begitu tau gimana Pulau Belang ini. Namanya tidak sefamiliar Pulau Kenawa. Aku juga ga sempat mencari tahunya. Tapi, memang selama perjalanan menuju Pulau Belang, kita akan mendapati banyak pulau-pulau kecil dan hutan mangrove. Bisa ku simpulkan, Pulau Belang ini adalah gugusan pulau yang membentuknya menjadi kelihatan lebih luas daripada Pulau Paserang dan Pulau Kenawa. Ya memang, setelah aku browsing, menurut situs pemeerintahan Sumbawa Barat, luas Pulau Belang sekitar 492 ha. Besar juga yaaa...


Dari 3 pulau yang ku datangi, memang yang agak sedikit membingungkan untuk dijalani adalah Pulau Belang. Mungkin karena banyaknya pulau-pulau kecil yang jadi bagiannya. Tapi hutan mangrove terbesar ada di sini. Airnya di sekitarnya seperti kaca, benar-benar jernih. Langsung nampak bebatuan karang kira-kira 20 meter sebelum nyampai pesisir pantainya. Pemandangan pulau-pulau kecilnya menjadi daya tarik tersendiri buat para pendatang. Saran buat pemerintah sih dariku, bisa sepertinya dibangun semacam mercusuar atau menara pandang, agar tamu-tamu tidak hanya melihat lautan birunya, namun bisa lebih puas juga memandang gugusan Pulau Belang. Woyoooowww!!


Sepanjang mata memandang, di Pulau Paserang sepertinya tidak ada pondok ataupun penginapan. Jadi kalaupun mau bermalam, bisa kok memasang tenda di sini. Kami tidak terlalu lama di sini bukan karena waktu yang ga cukup tapi gelombang ombak yang cukup besar, sehingga setelah sekitar tidak sampai 1 jam bapak nahkodanya mengajak ssegera menuju Tujuan utama kami, Pulau Kenawa.


3. Pulau Kenawa


Guys, I am telling you, Pulau Kenawa itu beda dengan Pulau Kanawa. Pulau Kenawa berada di NTB, sementara Pulau Kanawa berada di NTT. Butuh waktu sekitar 15-20 menit kami menuju Pulau Kenawa dari Pulau Belang. Saat perjalanan ini, kami bisa melihat gugusan Pulau Belang. Airnya jernih sekali.


Pulau Kenawa berada paling dekat dengan Pelabuhan Poto Tano, makanya itu jadi alasan kenapa dia menjadi target terakhir, agar tidak lama perjalanan pulang nanti. Di Pulau Kenawa kami mendarat paling lama.


Nama Kenawa itu diambil dari salah satu nama kayu bakau yang dominan tumbuh di Pulau Kenawa. Pulau Kenawa sendiri adalah pulau paling kecil dari 3 pulau yang kami kunjungi. Luasnya sekitar 13 ha. Tapi Pulau Kenawa pulau yang paling eksotis menurut kebanyakkan orang. Dan kalau kalian check di instagram, google atau situs lainnya, pasti akan banyak mendapati review tentang Pulau Kenawa. Ga heran, Pulau Kenawa sering menjadi sumber penasaran para traveler yang sedang ke Sumbawa. Rasanya ga sah ke Sumbawa kalo belum ke Pulau Kenawa. Dan ekspektasiku pun sama dengan traveler kebanyakkan.


Memang Pulau Kenawa dikelilingi pantai putih dan birunya laut. Di sini juga ada beberapa warung yang menyajikan makan siang. Dan kami pun makan di sini. Menunya didominasi ikan yang digoreng dan dipanggang. Ya, namanya juga sedang jalan-jalan, ya seadanya saja. Cukuplah untuk menghindarkan kita dari perut begah karena kena hempasan angin laut dan juga tidak membuat sakit perut. Tapi maaf, ketika aku sudah selesai makan, aku baru melihat, ibu-ibu warungnya mengambil cucian piring dari air laut. Ya sudahlah, tak mengapa. Saran sih, lebih baik sepertinya membawa makanan sendiri.







Setelah kenyang, kami pun melanjutkan perjalanan menikmati Pulau Kenawa. Ada bagian yang cukup luas, semacam savana yang sedang mengering. Di sini instagramable untuk mengambil foto ala-ala. Di tengah savananya ada bukit kecil, kemudian ada turunan lagi untuk mencapai puncak tertinggi di Pulau Kenawa. Namun sayang, saat kami ke sana, Pulau Kenawa sedang gosong, entah dibakar atau terbakar oleh orang yang ga bertanggung jawab. Aku saran sih, karena memang daratannya sangat kering dan angin sangat kencang, jangan merokok atau menghidupkan api. Keadaannya mudah untuk menyulutkan api. Tapi Puji Tuhan, ketika kami di sana kamk melihat rumput-rumput hijau mulai tumbuh di kaki bukit. Kira-kira 3-4 bulan dari sekarang, Pulau Kenawa akan indah semestinya.


Sudah ku bilang tadi, anginnya sangat kencang. Bahkan badanku saja yang agak subur ini, bisa goyang. Hahaha.. Jadi hati-hati kalau kalian sedang selfie, handphone kalian bisa jatuh. Atau sedang foto dengan selendang Sumbawa, awas terbang selendangnya. Di puncak bukitnya, kita bisa melihat sekeliling Pulau Kenawa. Di belakang bukitnya terdapat hutan mangrove yang cukup lebat.



Di pinggiran pulau Kenawa juga ada beberapa rumah penginapan yang bisa dihuni. Cuman aku tidak begitu mengetahu berapa harga dan fasilitasnya. Tadinya memang kami ada keinginan untuk bermalam di sini, tapi memakai tenda. Karena menurut pengalaman teman-teman yang udah pernah ke sini, lebih indah memandang langit malam di) Pulau Kenawa. Bintang-bintangnya terang dan rame. Jadi sesekali, boleh dong tidur langsung dibawah langit.




Tidak hanya ke puncak bukit, kami juga snorkeling di Pulau Kenawa. Ekosistem bawah lautnya cantik. Banyak terumbu karang dan bermacam-macam warna ikan. Kalian bisa memancing kedatangan mereka dengan memberi roti atau nasi sisa makanan kalian. It's worth it to be seen, guys. Cuman ya gitu, GoPro-ku habis batrai, jadi ga bisa foto alam bawah lautnya.


Setelah hampir 5 jam perjalanan, ga mungkin ga pengen buang air ya kan? Di sana ada WC sih. Untuk buang air kecil, dipatok harga IDR 5K dan buang air besar IDR 15K. Kenapa bayar? Karena airnya pake air bersih di tong gitu. But, unfortunately, WC nya itu (maaf) super duper jorok. (maaf) masih ada kotoran orang dan botol-botol yang menumpuk. Sangkin (maaf) jijiknya aku, aku juga ga sanggup fotoin. Astaga. Aku lebih baik menahan untuk tidak buang air kecil atau bahkan pergi ke air laut untuk pipis. Pemerintah, tolong ini untuk jadi perhatian yaaa.. Memang, kata ibu-ibu warungnya, ada lagi WC lain, tapi aku lebih baik menahannya. Hahahaha.. Tapi untunglah, masih ada inisiatif warga untuk mengumpulkan botol-botol bekas dan menumpuknya di satu tempat. Semoga cepat diangkut yaa...



Sebenarnya, 3 Pulau yang telah aku datangi tadi, merupakan 3 dari 8 pulau-pulau besar dan kecil yang disatukan, kemudian diberi nama Gili Balu. Gili Balu sendiri artinya Pulau Delapan. 5 Pulau lainnya adalah Pulau Ular, Pulau Kambing, Pulau Mandiki, Pulau Kalong dan Pulai Namo. Hanya saja, 3 pulau ini yang lebih menarik dari pulau-pulau lainnya. Berminat? Jangan ga ke Pulau Kenawa kalau lagi di Sumbawa yaaaa...


No comments:

Post a Comment