Sharing Bucket Of Travelling, Beauty and Happiness

Sunday, 26 August 2018

Pengalaman Gempa di Lombok dan Sumbawa | Jilid 3



Wait, I recommend you to read post this while you listening Heal The World – Michael Jackson.

There's a place in your heart
And I know that it is love

Seperti yang kita tahu, sejak tanggal 29 Juli 2018, Pulau Lombok dan sekitarnya mengalami rentetetan gempa. Saat terjadi pertama kali gempa, aku sedang berdiri dan menutup mata untuk berdoa di Gereja, menyelesaikan rangkaian ibadah Minggu subuh. Tiba-tiba aku ngerasain goncangan, awalnya aku kira vertigoku kambuh karena belum sarapan. Aku membuka mataku dan mendapati dua vas bunga di dekat altar Gereja, bergoyang. Dan, memang pada saat itu, tidak aku saja yang menyadari bahwa itu gempa, bukannya vertigo berjamaah. Goyangan itu terjadi dua kali, semakin keras dan berdurasi agak panjang. Sepertinya, iman kami diuji satu per satu. Kalo Tuhan bisa berbicara saat itu, mungkin Dia akan bilang,"Hayooo, iman kalian kuat ga? Percaya ga samaKu, kalau Aku melindungi kalian sampai akhir jaman?". Enggak, imanku belum sekuat itu. Aku takut. Aku masih mikirin hal-hal duniawi, masih mikirin dosa-dosaku yang kayanya jadi tembok penghalang buatku untuk sampai ke surga.

Panik, ya aku panik. Aku langsung ambil tas dan Alkitabku, kalau-kalau bangunan runtuh, aku bisa lari secepat yang ku bisa. Cuman, malu juga sama jemaat-jemaat lain karena mereka belum berniat keluar dari Gereja. Tapi kami sudah saling lihat-lihatan. Kalian pergi, aku juga akan lari. Tanganku dingin, jantungku juga seakan mau beranjak duluan dari badanku. Wkwkwk.. Gempa mereda sampai ibadah selesai. Sepanjang doa syafaat, aku ga sadar air mataku ternyata jatuh. Cengeng aku ya? Dan semenjak saat itu, gempa-gempa kecil mulai menghantui kami.

Tepat seminggu kemudian, gempa besar terjadi, sekitar 7 SR. Saat itu aku sedang siap-siap mau jalan bareng sama teman-teman, mumpung lagi tidak jaga. Ya, aku baru siap mandi. Untungnya udah siap mandi ya guys! Wkwkwk.. Gempa yang cukup kuat terjadi. Hanya memakai handuk dan terpaksa pake jacket, aku keluar dari kamar kostan. Daripada aku jadi pemandangan non halal, ya kan? Hehehe.. Ketika gempa mereda, aku kembali masuk dan bergegas memakai pakaian lengkap. Misalkan pun bakalan ada gempa lagi, aku bisa bebas mengungsi sejauh mungkin. Aku menyalakan televisi dan melihat hampir semua stasiun tv menyiarkan berita yang senada. Ditambah lagi dengan peringatan waspada gelombang tsunami. Ketakutan dan kepanikan semakin sempurna terjadi. “Tuhan, aku suka laut. Tapi aku ga pintar berenang. Tenggelamlah aku ini nanti..”, aku dan sisi overthinking-ku. Aku menelfon orangtuaku, dan untungnya orangtuaku masih mengkhawatirkanku, menyarankanku untuk membeli persediaan makanan. Aku mencoba menenangkan mereka dengan tetap menjaga komunikasi dengan mereka. Begitupun aku dan teman-teman terdekatku. Setidaknya, walau sekarang hatiku masih betah single, masih ada yang memperhatikan kondisiku (Edisi pengen dikasihani, tapi ga usah dikasihani ya weee, nanti manja, wkwkwk..).

Jalan-jalan pun gagal, yang ada kami hanya pergi ke supermarket mencari cadangan makanan kalau nanti ada gempa lagi dan membuat macet pendistribusian makanan. Ketika pergi itu pun, kami sedang berada di mobil, dan kami terasa gempa susulan. Sungguh, kami sudah sensitif dengan gempa ya..

Tetap jaga walaupun di tenda pengungsian ya gengs!
Awalnya, aku belum pernah nge-download aplikasi info BMKG, ya karena dulu waktu di Medan, gempa tidak begitu sering, cuaca pun tidak begitu panas. Semenjak di Sumbawa, aku sedikit penasaran dengan suhu lingkunganya yang buatku kalo bisa di kost itu cuman pake daleman aja. Wkwkwk... Tapi semakin sah-lah aplikasi info BMKG di ponselku sejak gempa bertubi-tubi ini. Setiap ada getaran sedikit, pasti langsung cek kekuatan gempanya, potensi tsunami ga?

Ini Posko Tanggap Darurat di kantor Bupati Sumbawa
Hari-hari kami belum tenang sempurna. Sedikit goyang, kami keluar. Sampai-sampai kami sering tidak mengunci pintu kostan. Wkwkwk.. Ketika di rumah sakit pun, saat sedang poli pagi, gempa itu suka-sukanya datang. Saat aku sedang menunggu hasil ronsen pasien, aku sedang meletakkan kepalaku di atas meja, sambil memantau perkembangan gempa. Ga lupa juga, saat itu sudah mau jam pulang, waktu dimana seharusnya makan siang. Tiba-tiba, seperti ada yang mendorong aku dari belakang cukup kuat. Aku kira, aku yang mulai hipoglikemi karena udah laper. Aku lihat air di dalam gallon, bergoyang sendiri. Aku bilang gempa, serentak satu poli keluar. Dan rupanya satu rumah sakit keluar juga. Keras dan lebih lama. Aku langsung buka aplikasi info BMKG, ternyata belum update. Sesuai dengan kebiasaan jaman now, kalo ada apa-apa, update dulu baru bertindak, aku cek di twitter, dengan keyword “gempa”. Yes, ada gempa. Dan kalau ga salahku, pusat gempanya dekat dengan Pulau Sumbawa. Wajar terasa agak kuat.


Ini beneran candid, wkwkw.k... Sebenarnya udah takut juga kalo gempa lagi.

Rentetan gempa itu rasanya belum selesai. Masih ada kadang gempa-gempa susulan yang rata-rata kekuatannya sekitar 5 SR. Kadang, kalau malam sedang tidur, aku terbangun hanya goncangan. Ku cek info BMKG, rupanya bukan gempa, cuman tempat tidur yang goyang karena aku berubah posisi tidur. Kadang, kalau lagi mandi pun, takut tiba-tiba ada gempa dan tanpa sadar keluar, lupa pake handuk. Kadang juga, langit-langit kostan bunyi-bunyi, kirain karena retak-retak, tapi rupanya suara tikus lewat. Wkwkwk… Se-parno itu aku.


Semua pasien langsung dievakuasi keluar dari gedung.

Kondisi pagi hari.
Hingga suatu malam, dan itu hari Minggu juga, aku sudah siap tidur. Malam itu, aku terhitung agak cepat tidur daripada hari-hari biasanya. Memang karena aku kurang istirahat belakangan ini. Baru saja aku mencoba tidur, memeluk guling dan menutupi semua badanku dengan selimut, aku merasakan goyang yang agak keras. Awalnya ku kira teman sekamarku yang ketawa-ketawa sambil nonton drama korea, tapi dia bilang gempa. Aku yang setengah sadar, lompat dan mencampakkan selimutku. Kami berdua rebutan ingin membuka kunci kamar. Saat kami keluar, goncangan semakin kuat. Ada beberapa bagian teras kostan yang runtuh dan untung tidak mengenai kepala saat kami lari ke arah parkiran kostan. Aku terus nyebut,"Tuhan Yesus..Tuhan Yesus..”. Tapi ada juga kawan kostanku yang tetep main PUBG. Sungguh hebat iman kawanku ini.


Tenda pengungsian untuk pasien #1

Tenda pengungsian untuk pasien #2


Aku merasakan gempa terkeras dan terlama sepanjang hidupku. Aku lihat mobil bergoyang tanpa ada orang di dalamnya, hahaha… Aku lihat, tanah bergoyang. Aku lihat pohon bergoyang tanpa ada angin. Aku lihat, bahwa dengan cara seperti ini saja Tuhan menegur, kami sudah takut dan gemetar. Apalagi kalau sangkakala ditiup? Aku ingin memeluk orangtua, tapi apa daya jarak terlalu jauh. Ga ada yang bisa ku mintai ketenangan. Yang pertama kali dicari adalah Tuhan. Aku masih manusia yang takut dengan hal-hal seperti ini. Tapi, aku juga ga punya cara lain, selain pasrah.



Tenda pengungsian untuk pasien #2

Gempa susulan dengan ukuran besar masih terasa beberapa kali, kami masih enggan untuk masuk ke dalam kostan. Untuk beberapa jam, kami menggelar tikar di parkiran. Bersenda gurau sebisanya untuk menghiraukan rasa panik karena gempa.


To be continue...

1 comment:

  1. stay safe ya mba.. semoga Tuhan terus melindungi mba dan warga disana aamiin..

    ReplyDelete